Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
PENASARAN KIRAN


__ADS_3

Kiran membungkam seketika. Apa yang baru saja ditanyakan oleh pengusaha berusia dua puluh tahun itu, tak langsung dijawab oleh wanita itu. Rangga yang sudah bertelanjang dada, begitu menarik perhatian Kiran. Dan sebagai wanita dewasa, melihat petakan-petakan yang membentuk indah di dada pria itu membuat Kiran sangat ingin menyentuhnya. Hingga sepasang pupil ata indahnya, terus dia arahkan ke dada Rangga. Terus menatap, dan menatap. Hingga tatapan mata itu dia hentikan, pada sebuah luka, yang terdapat di perut pria itu. Begitu menarik perhatiannya, membuat tatapan mata itu begitu dia intenskan pada luka itu, karena rasa penasarannya.


Sangat hanyut dengan apa yang dia lihat, membuat Kiran sama sekali tidak menyadari, kalau Rangga kini sudah berada di depannya.


"Kau belum menjawap apa yang aku tanyakan. Kenapa kau masuk ke dalam kamarku?" tanya Rangga tiba-tiba, yang membuat Kiran terjaga dari lamunan itu.


Wajah itu langsung Kiran dongakkan, menatap pada Rangga yang tengah menatap balik padanya, dengan tajam. Suasana yang temaram, dan hal-hal yang baru saja Kiran ketahui tentang Rangga, membuat tatapan pria itu bak sebuah pisau yang siap membunuh.


"Aku bertanya padamu. Buat apa kau datang ke kamarku?!" Lagi-lagi Rangga melayangkan sebuah pertanyaan, saat Kiran masih saja hanyut dalam apa yang dia pikirkan.


"Aku...Aku..." jawab Kiran. Karena takut, dan juga gugup yang dia rasakan membuat kalimat yang terucap dari bibir Kiran, tak berjalan dengan baik.


"Aku, apa?! Apakah kau sudah lupa dengan status pernikahan kita? Hingga dengan beraninya, kau masuk ke dalam kamarku."


Mungkin Rangga berpikir kalau Kiran masih mengharapkan balasan cinta darinya. Hingga dengan percaya dirinya pria itu, mengingatkan lagi pada Kiran tentang status pernikahan mereka. DIA MEMANG MASIH MENCINTAI, TAPI DIA AKAN BERUSAHA MEMBUNUH CINTA ITU.


"Maafkan aku. Tapi ini tidak seperti yang Mas pikirkan. Aku memang sangat mencinta Mas, tapi aku tidak mau mengharapkan cinta ini, untuk Mas balas. Dan kalau setidaknya selama aku tinggal di sini, kita bisa menjadi teman."


Apa yang baru saja terucap dari bibir Kiran, tak mampu membuat Rangga menjawab apa yang wanita itu, ucapkan. Netra matanya begitu intens, saat dia memberi tatapan pada sepasang bolamata Kiran.


"Mas..." panggil Kiran, yang membela lamunan pria itu.


"Ada apa?"


"Aku yang mesti bertanya padamu. Ada apa? Kenapa Mas menatapku seperti itu?"


"A..Aku tidak menatapmu," sanggah Rangga. Dan ujung jarinya, menjangkau kemeja yang masih menggelantung di lengannya, hendak untuk menurunkan. Dan saat pria itu berusaha melepaskan, Kiran langsung mencegah.


"Biar aku saja Mas!"


"Biar aku yang melakukannya!" tolak Rangga.

__ADS_1


"Biar aku saja yang melakukannya Mas..Dan kau tenanglah, karena aku tidak mungkin melakukan hal buruk tentangmu."


"Maksudmu??" Dua alis Rangga bertaut, sorot mata pria itu nampak jauh lebih tajam setelah mendengar apa yang Kiran katakan.


"Mungkin kau pikir, kalau aku akan mengambil kesempatan ini agar dapat lebih dekat denganmu. Itu sama sekali tidak benar," ucap Kiran. Senyuman kecil dia bingkai di wajah, dengan perlahan menurunkan kemeja, dari tangan Rangga.


"Oh iya Mas. Mana baju yang harus aku pakaikan untukmu?"


"Tuh, yang ada di atas kursi sana!" jawab Rangga. Arah pandang pria itu berpaling, dan melempar pada arah pada sebuah kursi, di mana tersimpan sebuah baju kaos.


Arah pandang Kiran ikut berpaling arah, mengikuti arah pandang Rangga. Ayunan kaki itu segera dia langkahkan, menuju sebuah kursi di mana tersimpan kaos oblong berwarna hitam. Saat dua kaki itu melangkah kerahnya, tatapan mata Kiran menelusuri setiap sudut kamar Rangga, yang dapat terjangkau oleh dua matanya.


"Sendainya saja dia menerima aku sebagai Istrinya, pasti kamar ini yang aku tempati," gumam Kiran dalam hati, dengan dua kaki yag terus dia ayunkan. Melangkah, dan terus melangkahkan kaki itu, dan Kiran menjumpai beberapa bingkai foto, kemesraan Rani dan Rangga yang tersimpan di dalam kamar. Mendesahkan napasnya yang panjang, saat sesak kembali dia hadirkan. Jujur saja, saat ini hatinya bersedih, sebab sulit baginya untuk memiliki hati seorang Rangga.


"Kau hanya mengambil bajuku, dan sangat dekat jaraknya. Tapi seperti baju itu kau ambil, di kamar yang lain."


Kiran terkesiap, dengan apa yang baru saja Rangga katakan. Kemeja oblong yang berada di atas kursi langsung dia gapai, dan melangkahkan kakinya kembali ke arah Rangga.


"Sebaiknya, kau harus meminum susu untuk meninggikan badanmu." Rangga melukis senyuman kecil di wajah, dan itu membuat Kiran begitu sangat kesal, sebab ucapan Rangga sangat begitu merendahkan dirinya.


Kembali tersenyum, dan menundukkan sedikit tubuhnya-mensejajarkan tingginya dengan Kiran.


Semakin berjarak dekat dengan Rangga, tentu saja membuat Kiran begitu gugup. Apalagi Rangga melukis senyuman-nya, yang begitu manis.


Tegukan luda itu dia telan, dengan terus menatap pada Rangga.


"Dia sangat tampan, dan aku sangat begitu mencintanya, tapi sayang, aku bukan pemilik hatinya. Dan semoga saja perlahan perasaan ini, bisa aku bunuh," gumam Kiran dalam hati.


"Mau sampai kapan kau menatapku seperti itu?" Pertanyaan yang Rangga lontarkan, membuat lamunan itu buyar.


"Maaf!" Tatapan keduanya bertemu, tapi dengan cepat langsung Kiran palingkan, dengan dua tangan memasukkan kaos itu, ke dalam tubuh Rangga.

__ADS_1


" Sudah selesai," jawab Kiran dengan wajah yang sedikit gugup.


Rangga mengayunkan langkahnya panjang, membawa tubuh itu ke ranjang miliknya.


Tinggal beberapa langkah lagi, langkah itu mendekat, ayunan kaki itu seketika dia hentikan, kala Kiran berucap yang membuatnya sedikit kaget.


"Mas..Aku akan tidur di sini."


Membalikkan tatapan mata itu, menatap tajam pada Kiran.


"Jangan salah sangkah!" ucap Kiran cepat, saat wanita itu sudah tahu apa yang Rangga pikirkan tentang dirinya. "Aku di sini, hanya untuk membantumu dalam melakukan sesuatu, karena Mas begini karena aku. Mas tenang saja, aku sudah tidak mau memaksakan perasaan ini pada Mas lagi. Dan aku akan tidur di sana," lanjut Kiran. Dan sudut ekor matanya berpaling pada sebuah sofa panjang, yang berada dekat dengan pintu masuk.


"Baiklah, terserah kau saja. Kalau begitu selamat malam."


"Selamat malam juga Mas.." balas Kiran. Langkah kaki segera dia ambil, yang membawa tubuh wanita itu pada sofa panjang.


Kegelapan kian menyelimuti bumi. Suara burung hantu, tersamar mulai terdengar, saling bersahutan, dengan diiringi bunyi hewan-hewan kecil yang mendendang dimalam hari.


Malam yang semakin menjemput, kian menenggelamkan para penghuninya, ke alam mimpi yang begitu indah.


Keindahan alam mimpi yang sudah dijemput para penghuninya, belum mampu dijemput, oleh sepasang mata gadis berusia dua puluh enam tahun itu.


Semua yang terjadi sangat mengusik hati itu, termasuk sebuah luka yang baru saja dia temui di tubuh Rangga.


"Semakin kesini, aku semakim yakin kalau Mas Rangga menyembunyikan sesuatu yang tidak aku ketahui. Dan sepertinya luka itu, seperti sebuah luka yang terkena sayatan pisau. Apakah Mas Rangga pernah ditikam, ataukah Mas Rangga pernah dioperasi?" gumam Kiran dalam hati.


Dua mata yang menatap pada langit-langit kamar, dia lemparkan pada arah ranjang, dan betapa kagetnya dia, saat mendapati Rangga yang tengah menatap padanya. Hingga membuat wajah itu, langsung berpaling.


"Sepertinya ada yang kamu pikirkan. Dan aku yakin, itu sangat mengganggu pikirkanmu, hingga membuatmu tidak dapat tidur."


"Gak kok, Mas! Dari tadi aku sudah tidur, dan karena haus maka-nya aku kaget bangun, dan selamat malam," ucap Kiran, dengan langsung membalikkan tubuh itu, menghadap kearah tembok.

__ADS_1


__ADS_2