Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
KIRAN MENELPONE


__ADS_3

Duduk menunggu dengan wajah gelisahnya, dengan jemari menarik ulur sebuah tali, yang akan dia pakai untuk membunuh Siti.


Matanya menatap kiri, dan kanan, untuk memastikan situasi aman, saat di akan melenyapkan nyawa Siti nantinya.


"Kenapa wanita itu lama sekali? " Jack bertanya pada diri sendiri, dengan wajah gelisahnya saat yang di tunggu belum juga menampilkan batang hidungnya.


Tatapan Jack terus saja melempar kiri, dan kanan, memastikan sudah datang, atau belumnya pelayan wanita itu. Dan saat tubuh itu mencondong kerah timur, Jack mendapati Siti dengan ayunan kaki yang nampak tergesa-gesa saat menghampiri padanya.


Seringai jahat di wajahnya, dengan menarik panjang tali itu, untuk mempersiapkan apa yang sudah dia rencanakan.


Kala dari jauh Siti sudah mendapati keberadaan Jack. Dan saat mendekat, wanita itu langsung meraih tangan kekar Jack, dan membawanya sedikit jauh dari tempat tadi dia berpijak, tanpa ada rasa curiga sedikitpun.


"Ada apa? Kenapa kau membawaku ke sini?" dengan tatapan bingungnya, hingga hal yang sudah pria itu rencanakan, seketika buyar kala mendapati gelagat aneh dari Siti.


"Tuan Jack! kau harus mengetahui hal ini." dengan nada berapi-api, kala berucap pada pria itu.


Tali yang membungkus dalam genggamannya, segera dia masukkan ke dalam saku celana, kala mendengar ucapan Siti yang begitu menarik perhatiannya.


"Ada apa?" dengan tatapan intensnya, pada wajah wanita muda itu.


"Apakah kau yang sudah memutuskan, tali rem mobil milik Nyonya Rani?' tanyanya dengan raut wajah serius, saat menatap pria itu dengan tatapan penuh selidik.


Keningnya mengkerut, dengan sorot mata menatap dengan intens pada wanita di depannya.


"Bukankah aku meminta kau yang, memutuskannya! kenapa kau menanyakan kembali padaku?"


"Aku tidak jadi melakukannya. Karena hampir di semua tempat, di rumah Tuan Rangga Wijaya, terpasang CCTV." raut wajahnya terlihat begitu serius, dengan nada yang meyakinkan.


Sorot mata Jack semakin menatap dengan intens pada Siti, mendengar ucapannya yang membuat Pria itu begitu kaget.


"Jadi, kalau bukan kau! siapa yang memutuskan tali rem nya? karena bukan aku juga, yang melakukannya."


Siti, dan Jack saling menatap dalam kebingungan, atas misteri kematian Dokter Rani yang sulit terpecahkan.


"Aku sangat yakin, kalau ada orang yang sudah ingin membunuh Nyonya Rani, jauh sebelum kita merencanakan hal ini. Dan bisa saja, orang itu menaruh dendam pada keluarga Wijaya." seru Siti denga penuh keyakinan.


Jack nampak menimang apa dikatakan Siti barusan. Dan memikirkan apa yang dikatakan pelayan berusia sekitar dua puluh lima tahun itu, menurutnya sangatlah masuk diakal. Bagaimana dia mendengar dari Rati, kalau yang menyebabkan Dokter Rani mengalami kecelakaan, diakibatkan karena mobil remnya putus.

__ADS_1


"Kalau bukan Siti yang melakukan hal itu, lalu siapa? Aku sangat yakin, ada orang yang sudah merencanakan pembunuhan pada istri dari Rangga Wijaya, jauh sebelum Rati memintaku unruk menyingkirkan Dokrer itu." Jack membathin, dengan meyakinkan diri sendiri.


"Baiklah. Tapi Ingat! jangan membocorkan ini pada siapapun. Kalau tidak! kau yang akan, aku habisi." dengan menekan kata-katanya, kala berucap pada wanita muda itu.


Wajah Siti seketika berubah pucat, mendengar kata-kata, yang baru saja dilontarkan Jack, padanya.


"Tentu saja, Tuan Jack! tidak mungkin, aku akan mengatakan ini pada siapapun. Bisa-bisa kita akan masuk penjara, walaupun tidak membunuh Nyonya Rani."


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." pamitnya, dengan berlalu begitu saja.


****


Waktu yang terus melangkah, membuat malam kian bertambah gelap. Kala semua penghuni sudah menutup matanya terlelap dalam mimpinya yang indah, Kiran masih saja belum dapat tidur, saat wajah Rangga Wijaya terus melintang di depannya.


Dag, dig, dug. Detakan jantung itu kembali terasa, hingga membuat rasa rindu seketika kembali melanda diri.


"Oh Tuhan.. kenapa denganku? Kenapa kau harus memunculkan perasaan ini, tiba-tiba? Aku sangat merindukan dia, Tuhan! bahkan sangat merindukannya." gumamnya dengan tatapan menerawang jauh, kala rasa rindu itu, kembali menyiksa dirinya.


Memalingkan wajahnya pada nakas, yang di mana tersimpan ponsel miliknya. Jemarinya mengulir panjang di sana, menggapai pada benda pipih itu.


Berpikir, dan berpikir, mempertimbangkan apa yang harus dia lakukan.


Detak jantungnya kembali berdetak, dag, dig, dug yang membuatnya kembali menerawang jauh, dengan menyentuh dadanya.


"Aku sangat merindukanmu. Bahkan sangat merindukanmu. Jangan tanyakan kenapa? Karena akupun tak tahu. Perasaan ini begitu menyiksaku, Tuan! dan maafkan aku, Dokter Rani! maafkan aku, karena harus jatuhcinta pada suamimu." gumam Kiran, dengan mulai mencari nomor ponsel mendiang Dokter Rani, kala dia meyakini ponsel milik wanita itu ada pada suaminya.


****


Kedua kakinya mengayun pelan, menuju pada balkon kamarnya. Tatapan matanya melempar jauh ke depan, menatap keindahan taman di bawah balkon kamarnya, yang sudah tertutup gelapnya malam.


"Siapa yang sudah tega, melakukan ini padaku? Sampai harus menghilangkan nyawa wanita yang aku cintai. Siapapun dia, tidak akan aku biarkan dia hidup tenang, jika sampai suatu saat aku menemukannya." gumam Rangga dengan kepalan tangan yang membungkus, saat emosi itu sudah meluap.


Kembali menerawangkan tatapannya jauh ke depan, kala rasa rindu pada mendiang sang istri, seketika menyelimuti diri.


"Aku merindukanmu, Rani! sangat merindukanmu." senyuman miris di wajah, meratapi apa yang kini terjadi padanya.


"Kau membawa cintaku pergi bersamamu, Sayang! kau membawa hatiku, ikut bersamamu." serunya kemudian, dan mengusap cepat airmata yang sudah menetes tanpa dia sadari.

__ADS_1


Tatapan mata itu seketika teralih, kala tiba-tiba saja terdengar nada panjang pada ponsel milik Rani.


Menggapai benda pipih itu, dan mendapati tulisan yang tertulis pada layar ponsel itu, dengan nama ADIK ANGKATKU KIRAN.


"Untuk apa wanita ini menelpone? Apakah dia tidak tahu, kalau istriku sudah meninggal?" dengan raut wajah kesalnya, dan memilih mengabaikan telepone masuk itu.


Dan seketika kembali terdengar telepone masuk, dan mendapati nama yang sama. Dengan rasa kesal, akhirnya dengan terpaksa Rangga Wijaya menjawab telepone dari Kiran.


"Hallo! ada apa?!" nada yang tidak bersahabat, kala dia menyapa pada penelpone di seberang sana.


"Hallo, Tuan Rangga! ini aku Kiran." nada ramah, kala bibirnya berucap.


"Aku tahu. Terus! untuk apa kau menelpone? Bukankah kau sudah tahu! kalau istriku sudah meninggal,"


"Aku tahu, dan aku minta maaf. Aku juga sama sekali tidak tahu, kalau Dokter Rani akan mendonorkan jantungnya padaku."


Seringai di wajahnya, mendengar apa yang baru saja Kiran katakan.


"Bukannya kau senang! karena nyawamu bisa terselamatkan, berkat jantung istriku."


"Maafkan aku, aku tidak tahu akan terjadi seperti ini." dan hening seketika melanda, kala tak ada yang berbicara antara keduanya. Dan dipecahkan saat tiba-tiba saja, Kiran memanggil pria itu. "Tuan..." panggilnya pelan.


"Ada apa?!"


"Kau sudah makan?" sepenggal rasa cinta Kiran, yang dia tunjukan lewat perhatian kecil pada pengusaha kaya itu.


Wajah serius seketika menyelimuti wajah tampan Rangga, kala mendengar pertanyaan Kiran, yang seperti bentuk perhatian padanya.


"Kau menanyakan apa tadi?" tanyanya, yang ingin memperjelas apa yang dia dengar tidaklah salah.


"Aku... aku..." suara itu terdengar ragu. "Aku mengkhawatirkan kau, Tuan! jangan tanyakan kenapa? Karena aku sendiri tidak tahu kenapa." dengan langsung memutuskan sambungan telepone.


KIRAN, DAN RANGGA.



8

__ADS_1


__ADS_2