
Wajah Mama Dila nampak begitu memerah. Terlihat jelas wanita paruh baya itu, nampak tidak suka dengan apa yang baru saja putra nya katakan.
"Kau sangat keterlaluan Rangga! Apakah sudah tidak ada perempuan lain lagi?!Jadi harus wanita itu, kau tetap kau pilih!"
Rangga mendesahkan napasnya berat. Tubuh itu dia sandarkan-pada sandaran kursi, dengan melemparkan sepasang pupil matanya pada sang Bunda, yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Maa.. Sekalipun itu dari Kiran, bukankah sama saja, toh anak yang akan tumbuh dalam rahimnyam, berasal dari benihku. Jadi apa bedanya, Maa? Dan kenapa harus dipermasalahkan?"
"Tapi tetap saja, Mama tidak menyukai Kiran, Rangga!" ujar Mama Dila dengan menekan kata-katanya.
"Maa..."
"Kalau kamu tetap memaksa untuk tetap bersama Kiran, ya! Mama akan menyetujuinya. Tapi Mama ingin kamu menikah lagi dengan wanita lain, dan wanita itu yang akan melahirkan penerusmu."
"Jangan paksa aku, Maa!" sambung Rangga, yang nampak sudah terlihat putus asa, dengan keinginan sang Bunda, yang tetap menginginkan, dia harus menikah lagi dengan wanita lain.
Mama Dila seketika beranjak dari duduknya, setelah satu tangannya, menyambar tas HERMES miliknya, yang dia letakkan di atas meja.
"Mama akan pulang, dan Mama harap kamu memikirkan apa yang Mama katakan tadi!" seru Mama Dila dengan sudah melangkahkan kaki itu, menuju arah pintu. Tapi langkah kaki itu tiba-tiba saja dia hentikan, saat teringat akan sesuatu.
"Oh, iya. Sebentar malam akan ada pesta, di rumah Tuan Hardi, dan Mama yakin kalau kamu pasti sudah mendapatkan undangannya. Pergilah! Siapa tahu, kamu akan menemukan wanita yang bisa menjadi menantu Mama," lanjut Mama Dila.
"Aku hanya akan memberi Mama cucu, tapi hanya dengan Kiran, bukan dengan wanita lain!" seru Rangga, dengan mempertegas kata-katanya.
Mama Dila tidak menanggapi apa yang putranya itu katakan. Hanya menatap tajam, dan kembali melanjutkan langkah kaki yang dia hentikan tadi.
Rangga mendesahkan napasnya yang panjangnya, saat sesak begitu menghimpit, di dalam dada. Dua matanya menerawang, dan teringat apa yang dia katakan pada sang Bunda tadi.
Senyum seketika membingkai di wajah tampan pria itu, yang merasa dirinya begitu konyol dengan ucapannya tadi, KALAU DIA HANYA AKAN MEMILIKI ANAK BERSAMA KIRAN.
Mengusap kasar wajah itu, merasa dirinya sungguhlah konyol.
"Apa yang aku katakan tadi?! Ini benar-benar gila! Aku sama sekali tidak mencintainya, jadibagaimana bisa aku memiliki anak bersamanya? Lagi pula, pernikahan ini akan berakhir satu tahun kemudian, dan setelah itu kami akan bercerai. Tapi, apa yang harus aku lakukan? Sementara Mama terus meminta Cucu," gumam Rangga, dengan resah yang tiba-tiba kembali melanda.
Pintu ruangan terbuka, dan menampikan sosok Doni Sekretaris pribadinya, yang datang dengan menggenggam sebuah map berwarna merah. Meletakkan map tepat berhadapan dengan Rangga, dengan lembaran kertas di dalam-nya.
"Mana yang harus aku tanda tangani?"
"Ini Tuan!" jawab Doni dengan menunjukkan di mana-mana saja, yang harus pria itu labuhkan tanda tangannya.
"Tuan.." panggil Doni kemudian, saat Rangga sedang sibuk mmbubuhi tanda tangannya, di mana di sana ada tertulis namanya sebagai pimpinan dari WIjaya Group.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Apakah sebentar malam, anda akan datang ke pesta yang diadakan oleh Tuan Hardi?"
"Tentu saja, aku pasti aku akan datang. Memangnya kenapa?"
"Meemm..." Dan Doni pun terlihat ragu.
"Ada apa Doni? Katakan saja, jangan buat aku penasaran!" tanya Rangga dengan nada yang terdengar kesal, saat Doni tak kunjung menyelesaikan kalimatnya.
"Apakah anda akan mengajak juga Nona Kiran? Karena bagaimana-pun, semua orang mengetahui kalau dia adalah Istri anda."
Berat hati itu, apalagi mengingat hubungannya dengan Kiran yang selalu saja, tidak baik. Tapi memikirkan apa yang baru saja Doni katakan sangat-lah benar. Semua orang mengetahui, kalau Kiran adalah istrinya.
"Ya. Tentu saja, aku akan mengajaknya."
"Apakah anda yakin, Tuan?"
Rangga menautkan dua alis-nya, menatap intens pada Doni-sang Sekretaris, saat mendengar pertanyaan pria itu, yang terasa aneh di telinganya.
"Memamg ada yang salah?"
Doni tersenyum kikuk, setelah mendapati pertanyaan balik dari Tuannya.
****
Waktu melangkah-dan terus melangkah, hingga sudah menghantarkan cuaca, yang menuju senja. Sebuah sedan mewah berwarna hitam, terparkir sedikit jauh dari toko bunga, di mana Kiran bekerja.
Rangga terlihat mulai kesal. sudah hampir setengah jam dia menunggu di dalam mobil, tapi Kiran belum juga menampakkan batang hidungnya, sampai saat ini.
"Kau bilang, mereka akan menutup tokohnya jam setengah lima! Tapi kenapa ini sudah hampir jam lima? Kiran belum pulang juga!"
Doni menampilkan senyum kikuk di wajah, saat menghadapi pertanyaan dari Tuannya, yang sepertinya tengah menahan amarah pada-nya.
"Maafkan saya, Tuan! Mungkin sebentar lagi."
"Ya! Semoga saja itu benar, karena kau sendiri yang mengatakan padaku, kalau Kiran pulang kerja pukul setengah lima sore."
Setelah menampilkan gantungan yang bertuliskan kata, CLOSE pada pintu kaca itu, Kiran dan Dian segera melenggangkan dua kaki-nya berlalu dari dalam toko bunga.
Dian menghampiri motor maticnya, yang terparkir di halaman depan. Menghidupkan mesin motor itu, dan menghampiri pada Kiran yang sudah berdiri di bibir jalan raya.
__ADS_1
"Apakah kamu masih menunggu Rian?"
"Ayolah! Kami hanya berteman, dan bukan apa-apa!" jawab Kiran dengan wajah memelas, saat lagi-lagi menghadapi pertanyaan Dian yang selalu saja menggodanya.
"Setidaknya dia menyukaimu, Kiran! Dan dia adalah laki-laki yang baik. Akan jauh lebih baik kalau bersama dia, dari pada harus bersama SiRangga itu!"
"Kita lihat saja nanti, karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya."
"Yang jelas! SiWijaya itu, akan menceraikanmu satu tahun kemudian, dan setelah dia menceraikanmu, dia akan bebas dari tuntutan orang tuanya yang selalu memintanya, untuk menikah."
"Kamu kebanyakan bicara, Dian! Dan semakin membuatku pusing. Dan pergilah!"
"Baiklah. Tapi apakah kamu yakin, tidak akan pulang bersamaku?"
"Aku yakin, aku akan pulang sendiri saja."
"Baiklah," jawab Dian, dengan langsung melajuhkan kendaraan roda duanya, meninggalkan Kiran yang masih setia berdiri di pinggiran jalan raya.
Kiran menerawangkan tatapan matanya jauh, kemudian gadis muda itu, mulai melangkahkan kakinya, menyusuri tepian jalan raya. Dia begitu hanyut dalam dunia-nya, hingga wanita itu begitu kaget, saat sebuah mobil berhenti tepat disampingnya.
Tak tahu, siapa yang berada di dalam mobil itu? Membuat wajah Kiran seketiika dilanda tanda tanya, siapa pemilik mobil mewah ini?
Rangga menurunkan setengah kaca mobilnya, yang membuat Kiran begitu kaget, sebab tidak menyangkah pria yang berstatus suaminya itu, akan datang ketempat kerjanya.
"Rian!" Dan Kiran langsung mengatupkan bibirnya, dan kembali melanjutkan ucapan itu, saat baru menyadari kalau dia menyeruhkan nama yang salah.
"Eh maaf, maksudku Mas Rangga!"
Cuaca sudah sore, tentu saja udara dingin mulai menyeruak, dan pasti sangat terasa di kulit. Tapi tidak dengan seorang Rangga. Suhu tubuh pria itu terasa begitu panas, akan api amarah yang sudah berkobar, setelah dia mendengar Kiran salah menyebut namanya.
"Ayo masuk!" pinta Rangga, kesal.
Mengingat sikap Rangga tadi pagi, tentu saja Kiran menolak tegas permintaan pria itu.
"Maaf, aku tidak mau!"
"Aku bilang masuk, Kiran!" pinta Rangga, dengan nada suara yang sudah mulai meninggi.
"Sekali lagi aku tegaskan, Tuan Rangga! Aku sama sekali tidak mau!" jawab Kiran dengan menekan kata-katanya, dan berlalu begitu saja meninggalkan Rangga, yang masih berada di dalam mobil mewahnya.
"Mungkin Nona Kiran, masih kesal dengan sikap anda tadi pagi Tuan!" seru Doni tersenyum.
__ADS_1
Emosi Rangga kian membuncah. Dengan sedikit kasar dia membuka pintu mobil, dan melangkahkan kakinya cepat menuju Kiran yang sama sekali tidak menyadari akan adanya Rangga, di belakangnya. Dan saat sudah mendekat dengan Kiran, pria itu langsung menggendong Kiran begitu saja, yang membuat wanita itu begitu terkejut.
"Mas...Lepaskan aku! Lepaskan!" pinta Kiran dengan berusaha melepaskan diri, dari gendongan Rangga.