
Awan biru yang membentang indah di atas sana, perlahan melunturkan warna-nya yang indah, kala sang mentari meredupkan sinarnya, saat malam kembali menyapa bumi dengan ditemani jutaan bintang, dan juga bulan yang bersinar terang di atas sana.
Suara deru mesin mobil terdengar memasuki kediaman mewah pengusaha kaya Ifan Wijaya, diwaktu yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Senyum terus merekah di wajah, yang sudah menunjukkan garis-garis kecil itu, saat dua kakinya melangkah dengan ringan memasuki rumah miliknya.
Langkah kaki yang tengah Mama Dilla ayunkan harus terhenti, saat terdengar suara bariton, yang ditujukan untuknya.
"Mama dari mana saja? Kenapa baru pulang jam begini?" tanya Papa Ifan, tanpa bangkit dari duduknya, namun tatapan mata itu tetap dia arahkan pada sang Istri.
Mendapati sang suami yang tengah duduk seorang diri di ruang keluarga, wanita lansia itu segera melenggangkan dua kakinya, mendekat pada Papa ifan, dengan senyuman yang makin mengembang di wajahnya, dan tentu saja hal itu membangunkan rasa penasaran lelaki tua itu, saat mendapati sang Istri yang nampak sedang bahagia.
"Sepertinya Mama sedang bahagia. Katakan pada Papa. Apa yang membuat Mama senyum-senyum sendiri?"
Senyuman lepas menguar dari wajah Mama Dilla, membayangkan dirinya yang akan segera memiliki cucu, sebentar lagi.
"Kau tahu Papa... Mama sangat-sangat bahagia," ujar wanita tua itu, dengan menekan kata SANGAT-SANGAT.
Apa yang dikatakan Istrinya, kian membuat lelaki paruh baya itu semakin bertambah penasaran. Sebab selama ini, yang dia tahu istri-nya hanya sering berkeluh kesah padanya dan juga marah-marah sebab tidak menyetujui pernikahan anaknya, dan Kiran.
"Katakan pada Papa. Apa yang membuat Mama bahagia?!" tanya Papa Ifan, dengan nada suara yang terdengar menuntut.
"Kita akan segera memilki cucu, Paa..."
"Cucu??"" Sorot mata nampak jauh lebih tajam, setelah mendengar apa yang Istrinya katakan barusan, yang sedikit membuatnya terkejut.
"Iya. Kita akan segera memiliki cucu."
"Apakah Rangga, menghamili anak orang?!" tanya Papa Ifan, dengan intonasi suara mulai meninggi akibat kesal, yang berpikir kalau Rangga sudah menghamili seorang wanita.
"Maksud Papa?"
"Maksud Papa..Apakah Rangga menghamili seorang wanita, rekan bisnis-nya atau mungkin teman wanitanya?"
Mencebik kesal, setelah mendengar apa yang Papa Ifan katakan.
"Dia memang menghamili wanita, dan wanita itu adalah putri sahabatmu," jawab Mama Dilla dengan enteng, namun membuat Papa Ifan sangat terkejut.
__ADS_1
"Kiran?? Bukankah mereka berdua hanya menikah kontrak?" tanya Papa Ifan, yang masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan Istrinya barusan.
"Ciih! Papa memang terlalu naif. Papa...Anak kita itu seorang duda, dan sudah tahu bagaimana kenikmatan hubungan suami-istri itu, jadi mana mungkin dia akan membiarkan Kiran begitu saja.." sahut Mama Dilla, memberi penjelasan pada suaminya.
"Terus, apakah Andi sudah tahu tentang kehamilan anaknya?"
"Sudah. Tapi sepertinya, dia tetap kekeh tidak mau menerima anak kita, atas apa yang sudah dilakukan Rangga."
Papa Ifan mendesahkan napasnya yang panjang. Lelaki lansia itu, sama sekali tidak menyangkah akan seperti ini akhirnya, rumah tangga putranya bersama putri sahabatanya. Dan sekarang yang membuat semuanya semakin rumit adalah, karena Kiran tengah mengandung Cucu mereka.
"Paa..." panggil Mama Dilla, yang membela lamunan panjang suaminya, yang sedang tenggelam dalam dunianya sendiri.
"Yaa..."
"Apakah Andi, tetap ingin Kiran pergi ke Inggris, dan tidak mau Rangga bersama Kiran lagi?"
"Iya. Dia memang sama sekali tidak mau menerima Rangga, menjadi menantunya lagi. Karena dia begitu marah, saat mengetahui kalau Rangga hanya memanfaatkan putrinya saja."
"Tapi Paa...Bisakah Papa memberi pengertian pada sahabat-mu? Mungkin saja dia mau memaafkan kesalahan putra kita," bujuk Mama Dilla, dengan tatapan penuh harap pada sang suami.
"Aku tidak yakin Maa.." jawab Papa Ifan, dengan nada putus asa.
"Baiklah, Papa akan mencoba untuk membujuk Andi, semoga saja dia mau menerima kembali putra kita, sebab saat ini Kiran juga sedang mengandung."
Senyuman bahagia terukir di wajah Mama Dilla, mendengar apa yang baru saja suaminya, katakan.
"Baiklah, kalau begitu Mama mandi dulu, setelah itu Mama akan menyiapkan makan malam, untuk Papa," pamit Mama Dilla, dengan langkah kaki yang dia ambil, menuju arah tangga.
****
Menghempaskan tas Gucci-nya ke atas ranjang, sembari melepaskan sweater rajut, yang menutupi tubuhnya. Memutuskan untuk langsung membersikan diri-dari penatnya akitifitasnya yang panjang hari ini. Langkah kaki yang dia ambil ke kamar mandi. Sudah mengambil beberapa langkah, namun harus dia hentikan saat nada panjang menyapa gawai miliknya.
Satu tangan Mama Dilla menelusup masuk ke dalam tas miliknya, dan mendapati nama Della pada layar HPnya.
"Della..." gumamnya, sebab tidak menyangkah gadis itu akan menelponenya.
__ADS_1
Nada panjang yang terus mendendang pada gawainya, ber-akhir saat Mama Dilla memutuskan untuk menjawab panggilan dari gadis itu.
"Hallo Tante..."
"Hallo Dilla..." jawabnya dengan nada suara yang berat.
"Tante, bisakah besok bisakah kita bertemu? Sebab ada hal penting yang ingin aku bicarakan tentang Rangga."
Mama Dilla mendesahkan napasnya yang panjang. Memikirkan Kiran yang sedang mengandung Cucunya saat ini, wanita lansia itu memutuskan untuk memberitahukan pada Della, dan meminta gadis itu agar berhenti mengejar putranya, sebab dia tidak mau kehilangan Cucunya, dan membuat Kiran pergi dari kehidupan anak laki-lakinya.
"Della...Tante minta maaf."
"Maaf? Maaf, untuk apa Tante?" tanya Della, dengan nada suara yang terdengar penasaran, saat mendengar kata MAAF, wanita lansia itu.
Mendesahkan napas-nya yang tegas, sebab nyata-nya dia pun berat, kalau harus mengatakan hal ini. Apa lagi dari awal, dia-lah yang meminta agar gadis itu, dekat dengan putranya.
"Tante..." Suara Della terdengar diseberang sana, saat Mama Dilla tak kunjung bersuara padanya.
"Della..Bisakah kau berhenti menyukai putraku?" pinta Mama Dilla, dengan nada suara penuh harap.
"Maksud Tante, apa? Bukankah Tante sendiri yang meminta aku dekat dengan Rangga?"
"Kiran tengah hamil, dan Tante sudah menerima dia menjadi menantu Tante. Bagaimana pun, janin yang berada dalam kandungan-nya, itu adalah Cucuku, jadi Tante minta kau mengerti." ujar Mama Dilla, dengan nada suara yang terdengar pelan, sebab dia sangat yakin, apa yang dia katakan ini sudah pasti menyakiti hati Della. Namun setelah mengatakan keinginan-nya itu, sambungan telepone begitu putus begitu saja. Dan Mama Dilla hanya bisa menghela napasnya yang berat, dan dia yakin kalau Della pasti saat ini, sangat marah padanya.
"Maafkan Tante, Della...Maafkan Tante," gumam Mama Dilla, dengan raut wajah penuh penyesalan.
****
APARTEMEN
Terlihat sangat frustasi, hingga gelas kaca yang berisi WINE menjadi beberapa bagian, akibat kemarahannya yang teramat sangat.
Dadanya naik turun, akibat emosinya yang kian memuncak-hingga otot-otot pipinya terlihat sangat menegang. Della merasa harga dirinya begitu terinjak-injak, setelah mendengar penuturan dari Mama Dilla, yang memintanya untuk tidak mengusik putranya lagi.
"Dasar wanita tua! Bukankah dia sendiri yang meminta aku, untuk mendekati anaknya! Tapi malah sekarang dia sendiri, yang meminta aku menjauhinya. Bahkan sekarang, dia berpihak pada wanita itu!" sungut Della, yang nampak sangat tidak terima, dengan keputusan Mama Dilla.
__ADS_1
Larut dalam suasana penuh kemarahan, mereda saat Della teringat akan pertemuannya dengan Rangga besok, di apartemennya. Tubuh yang berada di atas lantai, dia bangkitkan dengan menganyunkan langkah, menuju meja riasnya. Satu tangan Della ulurkan menarik gagang laci, dan menjangkau sebuah bungkusan yang berada di kolong laci itu. Seringai jahat membingkai penuh di wajahnya, saat sepasang netra matanya, menghunus tajam pada bungkusan yang berupa serbuk itu.
"Kita lihat saja, apakah setelah mendapati video panas aku, dan anakmu, apakah menantumu itu, masih mau menerima putramu lagi?"