Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
MENCARI RANGGA


__ADS_3

Kerinduan yang teramat Rangga rasakan pada sang istri, membuat tubuh Kiran, terus dia penjarakan dalam pelukannya, tanpa memperdulikan sekarang mereka sedang di mana, atau Kiran yang merasa sesak akibat pelukan yang begitu erat.


"Mas...Mau sampai kapan kau memelukku terus? Apakah kau tidak menyadari? Kalau sekarang, kita sedang berada di kamar mandi."


Tersenyum, dan senyuman itu tak luput dari tatapan mata Kiran, yang merasa langkah dengan senyuman Rangga. Pelukan itu dia urai, dan menanyakan kondisi Kiran, pasca muntah-muntah.


"Apakah kau masih merasa mual-mual?"


"Sudah berkurang Mas...Tapi ini normal untuk wanita hamil."


Hanyut suasana romantis, hingga membe;a saat terdengar suara Papa Andi yang menyeruhkan nama putrinya, sembari menggedor-gedor pintu kamar.


"Kiran....Kiran...."


Kaget, dan juga panik itu-lah gambaran wajah pasangan suami-istri itu. Apa lagi Kiran yang tentu saja jauh lebih panik, takut jika sang Ayah, mengetahui keberadaan Rangga, di dalam kamarnya.


"Mas...Bagaimana ini?" gumam Kiran, yang terlihat panik, dan juga bingung.


"Kiran....Kiran...." Dan kembali terdengar suara Papa Andi yang kembal menyapa.


"Mas...Aku takut, jika Papa mengetahui kalau kamu berada di kamar ini," ujar Kiran, dengan wajah kian gusar.


"Tenangkan dirimu. Kalau kamu panik, dan gugup Papamu pasti akan mencurigai."


"Iya Mas," jawab Kiran, dengan berusaha tenang, walaupun nyatanya, saat ini, dirinya begitu risau.


Dan lagi-lagi terdengar kembali suara Papa Andi, yang menyeruhkan nama putrinya.


"Pergi temuilah dia, kalau kamu semakin lama, maka Papa akan curiga."


"Baik Mas..." Mendesahkan napasnya, berusaha menetralkan lajuan, janntu yang memacu dengan cepat. Melangkah kakinya, namun langkah kaki itu kembali Kiran urungkan, dan kembali membalikkan tubuhnya menghadap pada Rangga


"Kamu tetap di sini yaa, Mas? Dan jangan ke mana-mana!" ujar Kiran memperingati.


"Iya. Aku akan tetap di sini, dan pergilah!"


"Kiran....Kiran...." Mendengar suara yang kembali terdengar, Kiran segera berlalu dari dalam kamar mandi itu, meninggalkan Rangga begitu saja.


Mendesahkan napasna yang panjang, berusaha menormalkan sikapnya. Saat sudah merasa jauh lebih baik, baru Kiran membuka pintu kamar itu.


"Ada apa Paa?" tanya Kiran, dengan posisi tetap menghalang depan pintu.


"Kenapa kamu lama sekali?"


Sedikit gugup, saat Papa Andi melontarkan pertanyaan seperti itu padanya.


"Kiran..." panggil Papa Andi, saat mendapati sang putri tengah melamun, dan tak kunjung menjawab apa yang dia tanyakan.


"I...Iya Paa.." jawabnya terbata.

__ADS_1


"Kenapa wajahmu jadi gugup begitu?" tanya Papa Andi, dengan tatapan penuh selidik.


"Gugup??" Dan dia pun tersenyum. " Aku tidak gugup kok, Paa..Mungkin hanya perasaan Papa saja," jawabnya tersenyum kikuk.


Papa Andi menjinjitkan dua kakinya, saat merasa kalau putriya tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Dan kecurigaannya kian bertambah, saat mendengar sebuah benda jatuh. BRAAK!


"Apa itu Kiran?" tanya Papa Andi, dengan langsung melangkah masuk ke dalam kamar putrinya, tanpa meminta ijin.


Panik seketika, dengan raut wajah sudah berubah pias, khawatir jika sang suami, mengetahui keberadaanya.


"Papa...Tidak ada-ada apa di sana.." ujar Kiran dengan setengah teriakan, saat Papa Andi menelusuri setiap sudut kamarnya.


Dan tentu saja Papa Andi tidak se-gampang itu percaya. Apa lagi melihat ekspresi gugup dari putrinya, membuat pria lansia itu semakin yakin, kalau putri tunggalnya, tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Dan kini dia mencari tahu, di kamar mandi. Dan itu kian menambah kepanikan Kiran, yang takut jika sang Ayah menemukan keberadaan Rangga di dalam kamar mandi.


"Mas Rangga ke mana? Kenapa di dalam kamar mandi sini, tidak ada?" gumam Kiran yang turut mencari keberadaan sang suami, yang tidak dia temui di dalam kamar mandi.


Dan Papa Andi masih meyakini, kalau putrinya pasti menyembunyikan sesuatu darinya-hingga kini, pria tua itu sudah berada di balkon kamar. Saat tidak menemukan siapa pun di sana, baru dia kembali ke dalam rumah. Dan itu semakin memancing rasa penasaran Kiran, yang tidak mendapati keberadaan Rangga.


"Mas Rangga sembunyi di mana ya? Di dalam kamar sini sama sekali tidak ada?Apakah dia sudah pulang?"


Baru saja Papa Andi akan melangkah kembali ke dalam kamar, pria lansia itu dibuat terkejut, saat kucing kesayangannya melompat dari atas rumah.


Keriputan menumpuk di wajah tua Papa Andi, setelah meyakini kalau suara keributan itu, berasal dari Kucing kesayangannya. . "Meoong...Apa yang kamu lakukan di atas sana? Ayo kita ke luar!" Ajak Papa Andi, dengan langsung meraih tubuh putrinya, dan berlalu dari dalam kamar Kiran.


Setelah memastikan sang Ayah sudah berlalu jauh, Kiran segera mengunci pintu kamarnya, dan menelusuri setiap sudut kamar mencari keberadaan Rangga.


"Mas...Mas Rangga..." panggilnya, dengan langkah kaki, yang terus dia ambil.


"Pasti kamu sudah pulang, padahal aku masih kangen Mas.." lirihnya, dengan wajah sendu.


Tiba-tiba saja terdengar suara berisik di belakangnya, dan Kiran seketika membalikkan tubuh itu. Dan betapa kagetnya Kiran, saat mendapati Rangga di sana.


"Mas Rangga!"


Rangga menaruh jari telunjuknya di bibir, memberi isyarat agar Kiran memelankan suaranya.


"Mas...Kamu sembunyinya di mana? Kok cepat banget, hilangnya?" tanya Kiran degan raut wajah penasarannya.


"Aku sembunyi di atas atap rumah kamu."


"Apaa??" Mata Kiran membulat lebar, dengan suara yang sedikit keras-namun mulut itu, langsung dibekap cepat oleh Rangga.


"Apakah kamu mau Papamu, tahu keberadaank di sini?"


Menggeleng pelan, dan Rangga kembali menurunkan tangannya itu.


"Tapi kok bisa cepat gitu ya, Mas? Perasaan kamu tadi di kamar mandi?"


"Aku sudah bersembunyi, saat aku mendengar Papamu tak henti-hentinya bertanya."

__ADS_1


"Aku kira, Mas-nya sudah pulang."


"Kenapa? Kamu, masih kangen?" tanya Rangga, dengan tatapan mesumnya.


"I..Iya," wajah yang sedikit merona, saat dia melontarkan pertanyaan itu.


"Udara di luar sangat dingin, ayo kita kembali ke dalam!" ajak Rangga, dengan merangkul penuh pinggang sang istri, dan melangkah beriringan ke dalam kamar.


Bersandar pada dada sang suami, dengan pelukan yang erat dalam sebuah selimut tebal, yang menutup tubuh keduanya.


"Tidurlah...Ini sudah larut malam."


"Apakah kau sudah akan pulang?" tanya Kiran seraya mengangkat wajah itu, saat mendengar ucapan sang suami.


"Aku akan pulang, setelah memastikan kau sudah tidur."


"Mas... Setelah ini, kapan kau akan datang menemuiku lagi? Karena Papa akan mengirimku, ke Inggris."


Kaget menyelimuti raut wajah pria itu, setelah mendengar apa yang baru saja Rangga Kiran, katakan. "Ke Inggris?' tanyanya memastikan.


"Iya Mas..Papa ingin aku tinggal di sana, bersama Bibi ku."


"Apakah dia saudara dari Papamu?"


"Tidak Mas...Dia adalah adik dari Mama."


Rangga mendesahkan napasnya yang panjang, setelah mendengar ucapan panjang lebar suaminya. Jelas terlihat api amarah di wajah pria itu, setelah mengetahui Ayah Mertuanya tetap kekeh memisahkan dia, dan Kiran.


"Mas..." panggil kiran, saat mendapati Rangga yang tengah melamun.


"Yaa..."


"Apakah kau marah?" tanya Kiran pelan, setelah mendapati Rangga hanya diam membisu, setelah mengetahui kalau Ayahnya, akan mengirimnya Ke Inggris.


Mendesahkan napasnya yang panjang, membuang sesak yang begitu menghimpit dada itu. "Aku marah, karena bagaimana pun kau adalah istriku. Apa lagi, sekarang kau sedang mengandung anakku, Kiran! Tapi di sini aku sadar, semua ini terjadi karena kesalahanku."


Mendengar jawaban Rangga-Kiran seketika mengangkat wajahnya. " Apakah kau tidak akan memperjuangkan lagi aku, dan anakmu, Mas?"


"Tentu saja tidak Kiran..Besok aku akan datang menemui Papamu. Dan apakah dia sudah mengetahui kalau kau sedang mengandung?"


"Belum," jawab Kiran dengan menggeleng pelan-kan, kepalanya.


"Besok aku akan menemui Papamu, dan mengatakan kalau kau sedang mengandung anakku."


Lebih membulat mata Kiran, setelah mendengar apa yang Kiran katakan, karena terkejt.


"Kau serius Mas?"


"Tentu saja, Kiran! Aku sama sekali tidak takut pada Papamu. Seandainya saja Papamu, seperti TIGER, pasti aku tidak akan berani padanya. Dan kalau tidak menghargai dia sebagai Mertuaku, mungkin kau sudah aku culik!"

__ADS_1


"Dasar menyebalkan!" ujar Kiran dengan mimik cemberut, dan kembali membenamkan kepalanya di dada sang Suami.


__ADS_2