
Sedikit lama Kiran berperang dengan kata hatinya, saat ragu masih melanda dirinya. Cukup lama dia menimang, akhirnya wanita berusia dua puluh enam tahun itu, memutuskan untuk pergi ke kamar Rangga. Menjangkau sebuah blaser cokelat yang menggelantung di kursi, dan berlalu dari dalam kamar.
Saat akan melewati batasan pintu, Kiran tak langsung ke luar dari dari dalam kamar. Dua matanya berpindah kekiri, dan kanan, memastikaan tidak ada siapapun di sana yang melihatnya, mengingat penampilannya yang terlihat sangat seksi saat ini. Dua kakinya sudah melewati satu persatu anak tangga, yang akan membawa wanita beranik hitam itu pada lantai tiga. Baru saja dipertengahan jalan, Kiran dikejutkan dengan kemunculan Doni, yang datang dari lantai tiga. Panik. Itulah gambaran dari diri Kiran saat ini. Tak ingin Doni melihat penampilannya yang begitu terbuka, dengan cepat Kiran membalikkan tubuh itu kearah tembok.
Netra matanya terfokus pada layar ponsel. Saat wajah itu dia angkat, raaut wajah pria berusia dua delapan tahun itu seketika berubah bingung, saat mendapati sikap aneh dari istri, Tuannya.
"Nona Kiran...Apa yang anda lakukan? Kenapa anda menatap ke tembok itu?" tanya Doni, dengan terus memberi tatapannya pada Kiran.
Wajah Kiran berubah pias. Dan sangat tidak mungkin, wanita muda itu, membalikkan tubuhnya menghadap pada Doni, yang terus melangkah mendekat padanya.
"A..Aku sedang mencari sesuatu di dinding ini," jawab Kiran terbata, dengan kalimat kebohongan yang dia ucapkan.
Bukannya melanjutkan langkahya, Doni malah menghentikan ayunan kakinya, tepat di belakang tubuh Kiran-dan tentu saja itu semakin membuat wanita muda itu menjadi cemas.
"Mencari apa Nona? Aku tidak melihat apa-apa di situ?" Raut wajah pria itu semakin saja terlihat penasaran, sebab dia tidak menemukan sesuatu di dinding rumah.
Semakin pias saja wajah itu, setelah mendengar apa yang baru saja Doni katakan.
"Ta...Tadi ada sesuatu yang masuk di dinding ini." Memberi jawaban pada Doni, yang akan mungkin terdengar aneh di telinga pria itu.
Baru saja mulut pria itu akan kembali bersuara, tiba-tiba saja nada panjang menyapa pada gawai miliknya.
"Baiklah..Aku akan ke sana sekarang," ujar pria itu, pada penelpone diseberang sana.
"Lanjutkan kegiatan mencarinya Nona...Semoga saja anda mendapat apa yang anda cari." Senyuman kecil membingkai di wajah Doni, dengan dua kaki yang kembali melanjutkan langkahnya.
Dua mata Kiran ikut berlalu pergi mengikuti arah perginya Doni, dengan tubuh yang perlahan dia balikkan. Menghembuskan napasnya yang panjang, merasa sudah lolos dari sesuatu yang tentu saja akan membuatnya sangat malu sendiri.
"Haah...Hampir saja. Untung saja tadi aku cepat membalikakan badanku, kalau tidak Doni akan melihat penampilanku."
__ADS_1
Memalingkan wajahnya pada lantai tiga, dan langkah kaki itu kembali Kiran lanjutkan.
Tak langsung memberi ketukan pada badan pintu. Dua kaki itu masih setia Kiran pijakkan di depan kamar Rangga, merenung apa yang akan dia lakukan, agar pengusaha tampan itu mau bersedia menemui Ayahnya. Beberapa menit berada di depan kamar itu, akhirnya dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
TOK...TOK...TOK..." Tiga kali dia memberi ketukan, tapi tidak ada suara, yang menyambut ketukan itu.
Mencoba untuk membukanya, mungkin saja tidak dikunci. Membungkuskan tangannya pada gagang pintu, dan sekali hentakan pintu kamar itu langsung terbuka.
Suasana temaram menyambut kedatangan seorang Kiran Larasati, saat diri itu sudah berada di dalam kamar Rangga Wijaya.
"Mas....Mas Rangga....." panggil Kiran pelan. "Di mana orangnya?" gumamnya, dengan langkah kaki yang terus dia ayunkan, dan memalingkan wajahnya kekiri, dan kanan guna mencari keberadaan pria berusia tiga puluh tahun itu.
Angin meniup begitu kencang-membuat udara dingin begitu terasa di kamar itu. Rambut panjangnya yang sengaja dibiarkan tergerai, berlari indah mengikuti tiupannya. Memalingkan wajah ke arah balkon, dan dari jauh dua mata iKiran mendapati sosok Rangga, yang terlihat tampan dengan hanya menggunankan kemeja putih dan juga celana kain berwarna hitam. Aurah ketampamnan kembali menyeruak dalam diri pria itu, membuat Kiran kembali terpana dengan kesempurnaan seorang Rangga Wijaya.
"Mau sampai kapan kau terus menatapku seperti itu?" tanya Rangga dengan dibingkai pula sebuah senyuman, dan membuat Kiran terkesiap.
"A...Aku tidak menatapmu!" jawab Kiran terbata, membuat tawa rendah lolos seketika di bibir pria itu.
"Kau terlihat cantik malam ini."
Memantapkan hati untuk sudah tidak mau mencintai lagi, tentu saja pujian yang Rangga berikan, sama sekali tidak berarti bagi seorang Kiran.
"Apa kita akan langsung melakukannya?"
Sorot mata Rangga nampak jauh lebih intens, setelah mendengar apa yang baru saja Kiran tanyakan.
"Langsung melakukannya?"
Tak menyahut pertanyaan balik itu, Kiran justru melepaskan blaser yang membalut tubuh mungilnya, hingga bentukan di tubuhnya semakin terlihat nyata oleh Rangga. Langkah kaki itu perlahan dia ambil, yang membawa dirinya semakin dekat dengan Rangga.
__ADS_1
"Ya Tuhan...Kenapa aku jadi mengerikan begini? Aku terlihat seperti seorang wanita penggoda," gumam Kiran dalam hati, dengan langkah kaki yang terus dia ayunkan. Ragu sempat menghinggapi diri wanita muda itu, tapi berusaha dia tepis demi mengabulkan keinginan sang ayah.
"Demi Papa.." gumamnya kemudian.
Rangga mengkerutkan keningnya, saat mendapati perubahan sikap Kiran, yang menurutnya sangat aneh. Dan pria itu sangat terkejut, saat Kiran akan membuka celananya.
"Hei...Apa yang kau lakukan?" Dengan menghentikan kegiatan Kiran, yang akan membuka celananya.
Kiran seketika menarik diri, dengan memberi tatapan herannya pada Rangga, setelah mendengar apa yang pria itu tanyakan.
"Bukankah Mas bilang kita akan melakukannya?"
"Tapi bu..bukan berarti kau..." Jujur saja dengan apa yang dilakukan Kiran padanya, mampu membuat seorang Rangga gugup.
Kiran menyeringai jahat. Tubuh itu semakin dia dekatkan pada Rangga, hingga tak ada satu sisipun yang membatasi tubuh keduanya. Seenyuman menggoda dia lukis di wajah, dengan mendekatkan bibirnya ke telinga Rangga, dan membisikkan kalimat sensual yang membuat pria itu sangat kaget.
"Malam ini aku akan memberi pelayanan yang tidak dapat kau lupakan seumur hidupmu, Mas.." Kembali menarik diri dengan senyuman yang menggoda, saat dua pasang mata itu saling bertemu.
Rangga sama sekali tak bersuara. Pria itu terlihat seperti orang bodoh, dan membiarkan Kiran melakukan apa pada dirinya. Menjangkau tangan Rangga, dan membawa pria itu menuju ranjang. Dan saat sudah berada di tepiannya, Kiran langsung mendorong tubuh pria itu ke atas ranjang.
"Hei...Kenapa kau jadi aneh begini? Kita memang akan melakukannya? Tapi bukan berarti harus seperti ini..." protes Rangga.
Baru saja pria itu, akan kembali bersuara, volume yang akan ke luar dari mulutnya berganti dengan suara kenikmatan, saat merasakan sensasi kenikmatan pada miliknya. Kiran begitu lihai memainkan miliknya, yang membuat Rangga begitu melayang.
"Menjijikan..Tapi mau gimana lagi?" gumam Kiran dalam hati, dengan terus memainkan milik suaminya dengan mulutnya itu.
"Bagaimana Mas? Kau suka?" tanya Kiran dengan mengukir senyumnya, pada Rangga yang terlihat lemas.
"Kiran aku..." Belum selesai Rangga menyampaikan apa yang ingin dia katakan, wanita muda itu kembali melahap bibirnya dengan rakus. Rangga yang awalnya sangat kaget dengan apa yang dilakukan istrinya, lambat laun mulai menikmati permainan yang Kiran berikan.
__ADS_1
Permainan kali ini, dipimpin Kiran. Rangga sangat begitu menikmatinya, pria itu tak sanggup berkata-kata saat sang istri berhasil membuatnya puas dengan malam panas mereka malam ini.