
Ayunan kaki itu terasa berat bagi Kiran, kala diri itu menyusuri jalan raya d diwaktu yang sudah memasuki senja. Terus mengayunkan kakinya menyusuri bibir jalan, dengam mendung yang tengah menyelimuti hati.
Begitu tenggelam dengan apa yang dia pikirkan, membuat Kiran sama sekali tidak menyadari adanya sebuah kendaraan beroda empat, yang terus mengikutinya dari belakang. Dan gadis itu sangat terkejut, kala suara bel terdengar beberapa kali di belakangnya. Menyentuh dada yang melaju dengan cepat, seraya melemparkan pandangan itu.
"Rian! Kamu?" gumam Kiran, setelah mendapati keberadaan sahabatnya itu.
"Kamu apa- apa-an, bikin aku kaget saja!" lanjutnya kemudian, dengan wajah kesalnya.
"Kamu itu, yang apa-apa-an! Kebanyakan melamun, sampai tidak menyadari kalau ada mobil di belakang kamu. Untung saja, aku bukan seorang penjaha, dan kalau begitu ayo naik! Karena aku datang kemari untuk menyusulmu."
Tak langsung memenuhi, apa yang Rian pinta-Kiran masih setia memijakkan dua kakinya di sana, dengan terus memberi tatapannya pada Rian, yang kini menatapnya dengann tatapan heran.
"Kiran..Ayoo! Mau sampai kapan kamu disitu?" Dengan setengah teriakan.
Terkesiap-seraya menampilkan senyuman kikuknya, dengan langkah kaki yang dia ayunkan menuju arah mobil.
****
Kondisi sang Ayah yang tengah sakit-juga perekonimian keluarganya yang tengah merosot, membuat Kiran lebih banyak diam, dan tak bersuara sama sekali, saat kendaraan tengah melaju. Wanita berusia dua puluh enam tahun itu, sangat hanyut dengan apa yang menjadi beban pikirannya saat ini.
"Tadi aku masih sempat ke tempat kerjamu, dan Dian bilang kau ke rumah orang tuanya, makanya aku menyusul kemari." Lama keduanya sama-sama membungkam, akhirnya Rian pun bersuara, yang turut membela suasana sepi di dalam mobil.
"Maaf, karena aku tidak menghubungi lewat telepone."
"Tidak masalah! Tapi apakah ada sesuatu yang penting, hingga membuat kamu datang ke rumah orang tua-mu? Bukankah sudah lama sekali kamu tidak ke sana? Sebab yang aku tahu, kalau kau tidak memiliki hubungan yang baik dengan Ibu tiri, dan juga saudara tirimu, Adisty." Menjeda sejenak ucapannya, dan melanjutkan lagi.
"Maf, kalau mungkin aku terlalu ikut campur."
Tak langsung menjawab. Sekilas sepasang bola mata Kiran, dia lemparkan pada Rian, yang masih menantikan jawaban darinya. Membiarkan beberapa menit berlalu, dan dia pun kembali bersuara.
"Aku sangat merindukan Papa, jad aku memutuskan untuk berkunjung."
Rian tersenyum. Netra mata yang tadi dia lemparkan pada Kiran, kembali pria itu fokuskan ke depan jalan raya.
"Aku lihat kamu sedari tadi banyak melamun. Dan aku tidak tahu apa yang tengah terjadi padamu. Tapi jauh lebih baik, kalau kita ke pantai dulu, biar bisa mengusir kejenuhan, mungkin juga mengurangi beban. Bagaimana?"
"Baiklah, aku mau," Jawab Kiran tersenyum.
****
Duduk berdampingan di kursi panjang, dengan tatapan lurus ke depan-menikmati indahnya sunset, yang sudah perlahan mulai menghilangkan sinarnya.
Hening suasana melanda Rian, dan Kiran, saat keduanya larut dalam pikiran masing-masing, dan hanya terdengar suara angin, dan juga ombak yang menggulung begitu kuat.
" Sebenarnya ada hal yang ingin aku katakan padamu, makanya aku mengajakmu kemari." Rian tiba-tiba bersuara, yang membela suasana sepi sedari tadi.
Menyeduh sedikit kopi hangat yang berada dalam genggaman, dan dia pun brsuara.
"Apakah itu serius?"
"Iya. Dan ini mengenai Rangga suamimu."
Bola mata Kiran kini nampak jauh lebih lebar, setelah wanita itu mendengarkan apa yang Rian katakan barusan.
"Mengenai Rangga?"
"Iya."
"Apakah kau benar-benar mencintainya?"
"Kenapa kau tanyakan itu padaku? Bukankah kau pun sudah tahu jawabannya- aku memang mencintainya, tapi sayangnya, cinta itu tak ada balasan."
__ADS_1
Rian mendesahkan napasnya tegas, dan pria dua puluh tujuh tahun itu kembali melanjutkan ucapannya yang tadi dia hentikan tentang Rangga.
"Aku tidak tahu banyak tentang Rangga, tapi apakah kau mau terus bersama pria yang mungkin saja bisa membuat nyawamu berbahaya jika terus bersama? Dan buat apa kau terus berada di sampingnya, bukankah dia tidak mencintaimu?"
Apa yang terucap dari bibir Rian barusan, sangat menarik perhatian Kiran. Hingga sorot mata wanita itu, nampak jauh lebih tajam, setelah mendengar apa yang Rian katakan tadi.
"Apakah kau mengetahui sesuatu tentang Rangga, yang tidak aku ketahui?"
"Ntah ini benar, atau tidak, tapi yang aku dengar kalau Rangga adalah mantan seorang Mafia."
"Mafia?" Kaget di wajah Kiran, setelah mendengar penuturan Rian barusan.
"Iya. Tapi Rangga adalah seorang Mafia yang pintar menyembunyikan semua kejahatannya, hingga tidak ada banyak orang yang tahu tentang masa lalu pria itu."
Hening kembali melanda, kala Kiran kembali membungkam-saat memory itu kembali menghantarkan Kiran, pada hal-hal yang sudah terjadi sebelumnya. Mulai dari penembakan yang terjadi malam itu, dan bagaimana lihainya Rangga dalam menghadapi musuhnya, bekas luka, tato, maupun rumah kecil itu membuat Kiran semakin yakin, dengan ucapan Rian walaupun dia belum membuktikan secara langsung. Dan rumah kecil itu, bisa menjawab rasa penasarannya.
Hanyut dalam dunianya sendiri, dan membela kala merasakan sentuhan dari Rian, membuatnya terkesiap.
"Rian.." gumamnya, kala sepasang netra mata itu menatapnya dengan dalam.
"Tanpa aku berucappun, aku tahu kalau kau mengetahui perasaanku padamu, Kiran!"
"Rian..Aku.." Kiran tak dapat melanjutkan ucapannya, saat Rian membuat dia menghadapi posisi seperti ini tiba-tiba.
"Tidak usah menjawab, kalau itu masih membuatmu ragu. Tapi aku akan memberi, yang Rangga tiak pernah berikan padamu."
"Maaf Rian...Tapi ini terlalu cepat!"
"Aku tidak meminta kau menjawabnya sekarang. Tapi aku juga tidak ingin kau menjauh dariku, setelah kau mendengar ini."
"Tentu, dan terima kasih karena sudah mengerti."
****
Langkah kaki yang dia ayunkan pelan, saat diri itu kembali tenggelam dengan apa yang terjadi hari ini. Hingga membela, saat seseorang menyeruhkan namanya.
"Nona..."
Membalikkan tubuh itu pada asal suara, dan mendapati Doni yang tengah menghampiri padanya.
"Doni.." gumamnya.
"Anda dari mana saja, Nona? Kenapa baru pulang jam begini?"
"Bukankah pulang atau tidaknya-aku, Tuanmu tetap tidak akan mencariku?"
"Tuan Rangga sudah sedari tadi menunggu anda, Nona!"
"Bukankah ada banyak pelayan di rumah ini?"
"Ayolah Nona! Tapi tetap saja, dia mau anda yang mengurusnya. Karena anda sendirilah, yang menawarkan bantuan itu."
"Baiklah...-Baiklah, aku akan menemuinya sekarang," jawab Kiran, dengan melanjutkan langkah kakinya menuju arah tangga.
Usai membersikan diri, Kiran memutuskan untuk menyambangi kamar Rangga, yang berada di lantai tiga.
Saat akan melabuhkan ketukan pada badan pintu, dia teringat kembali akan perkataan Rian, tentang siapa Rangga dimasa lalu. Lama berdiam, akhirnya gadis muda itu mantap memberi ketukan pada badan pintu.
"Masuk!" teriak Rangga dari dalam kamar.
Membuka, dan mendapati Rangga yang tengah berbaring tanpa memakai baju. Otot-otot pria itu membentuk begitu sempurna, dengan sebuah luka panjang yang menggores di perutnya.
__ADS_1
Suasana yang temaram, dan juga hembusan angin yang meniup sedikit kencang, membuat bulu kuduk Kiran serasa merinding, saat kembali teringat perkataan Rian, kalau Rangga adalah seorang mantan Mafia dimasa lalu.
"Mau sampai kapan kau berdiri di situ?!"
Terkesiap! Dan langsung kembali melanjutkan langkahnya, tapi ayunann kaki itu dia jeda, saat Rangga kembali bersuara.
"Tutup pintunya!"
Memucat, dan tak langsung melakukan apa yang Rangga titahkan.
"Aku bilang tutup pintunya Kiran!" Nada penuh penekanan, yang membuat Kiran langsung melakukan apa yang pria itu titahkan.
"Mau sampai kapan kau berdiri di sana? Dan kenapa kau baru pulang jam begini?!" Dengan suara yang datar.
"Aku baru saja bersama Rian..Eh maksudku, aku baru saja bersama Dian, dan kami baru saja dari pantai."
Terkekeh pelan, dengan memberi tatapan tajamnya.
"Romantis sekali. Duduk berduan, sambil memandang keindahan sunset disore hari."
"Aku bersama Dian, Mas!"
"Dan aku tidak perduli, kalau kau bersama siapapun!"
Nada pendek menyapa tiba-tiba gawai milik Kiran. Menelusupkan tangannya ke dalam saku celana, dan mendapati satu buah pesan yang dikirim oleh Bibi Surti.
"Nona..Penyakit Tuan kambuh lagi, dan obatnya sudah habis. Kalau tidak segera diobati, Bibi takut akan bertambah parah!"
Mendapatkan pesan yang baru saja Bibi Surti kirim, membuat dunia Kiran seperti diterjang badai yang besar, hingga wanita itu melupakan siapa yang tengah bersamanya saat ini. Terus menatap pada Rangga, yang menyeringai padanya.
"Kenapa kau terus menatap padaku?! Apakah ada yang salah dengan wajahku?" Nada datar, kala dia melayangkan pertanyaan pada gadis muda di depannya.
"Aku ingin meminta uang padamu," seru Kiran tiba-tiba.
Dua alis Rangga bertaut. Tatapan mata jauh lebih tajam, kala mendengar apa yang Kiran katakan barusan.
"Apakah kau sadar dengan apa yang kau katakan?"
"Aku sangat sadar, kalau aku tidak pantas meminta uang padamu. Mengingat status pernikahan kita seperti apa. Aku membutuhkan uang yang sangat banyak, dan aku akan membayarnya dengan tubuhku. Kau bebas menikmati kapanpun kau mau, tanpa menganggap aku istri, dan pernikahan kita ini bisa berakhir disatu tahun nanti, seperti yang kau mau."
Tawa lepas lolos begitu saja dari mulut Rangga. Pria berusia tiga puluh tahun itu sangat terkejut, dengan apa yang Kiran katakan barusan. Tapi mendengar tawaran Kiran yang menarik, juga lekuk tubuh wanita itu, membuat seringai jahat membentuk di wajah pria itu. Dan tentu saja, dia menginginkannya.
"Berapa yang kau butuhkan?"
"Aku membutuhkan uang yang banyak. Dan aku tidak bisa, menafsirkan nominalnya berapa."
"Baiklah, aku akan memberikanmu satu miliar, dan kapanpun aku menginginkan dirimu, kau harus siap melayaniku. Dan satu tahun kemudian, aku akan menceraikanmu. Bagaimana?"
"Baiklah, aku mau!"
"Dan apakah kau tidak takut, akan semakin sulit melupakan aku? Bukankah kau sangat mencintaiku Nona Kiran?!"
"Tidak! Karena aku sudah memutuskan, untuk membunuh perasaan ini. Aku tidak mau mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin."
Tidak mencintai, tapi ntah kenapa ada rasa tidak suka dalam dari diri Rangga, setelah mendengar ucapan Kiran barusan.
"Dia ingin berhenti mencintaiku, tapi dia memintaku uang, dan sebagai imbalannya, dia membebaskan aku untuk menikmati tubuhnya kapan saja. Aku sangat yakin, pasti ada hal yang memaksa dirinya, hingga membuat dia, melakukan penawaran gila ini," guman Rangga dalam hati.
"Kau bisa kembali ke kamar, karena aku sudah jauh lebih baik. Nanti aku akan meminta Doni, mengantarkan cek ke kamarmu, karena aku ingin berjalan-jalan sebentar."
Hal yang baru saja Rangga katakan, sangat menarik perhatian Kiran. Hingga ingatan wanita itu langsung dia hantarkan pada sebuah rumah kecil, yang terdapat dipingriran hutan.
__ADS_1
"Aku sangat yakin, kalau Mas Rangga akan pergi ke rumah itu," gumam Kiran dalam hati.