Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
KEMBALI MELUKAI


__ADS_3

Kaget menyelimuti seketika wajah gadis berusia dua puluh enam tahun itu, dengan dua pupil mata yang nyaris menyeruak dari tempatnya, setelah mendengar apa yang Rangga katakan barusan.


"Aku rasa Doni sudah memberikan, apa yang kau minta. Dan aku memberikan sebanyak satu miliyar sesuai keinginannya."


"Tapi Mas aku.."


Rangga menyela cepat, saat mendapati raut wajah Kiran yang terlihat ragu.


"Kalau memang kau keberatan, kau bisa mengembalikan uang itu padaku." Nada tegas, saat berucap pada Kiran.


Kiran membungkam. Dilontarkan dengan kalimat seperti itu, membuat tubuh wanita itu seperti kehilangan tenaganya. Bagaimana bisa dia mengembalikan, sementara dia sangat membutuhkan uang. Sepasang matanya nampak sudah berkaca-kaca, oleh tumpukan air mata yang sudah menggenang di dalamnya. Hanya menatap nanar pada Rangga, yang membentuk senyuman licik padanya.


"Keluarlah! Dan jangan pernah masuk ke tempat ini, tanpa ijin dariku lagi!" pinta Rangga tegas.


Air mata yang sedari tadi Kiran bendung, akhirnya lepas juga membasahi kedua pipinya. Terus memberikan tatapan itu pada Rangga-namun hanya ditanggapi pria itu dengan sikap tidak perduli. Mendapati sikap seperti itu, Kiran memutuskan untuk pergi.


****


Gelap semakin saja menenggelamkan, kala waktu semakin menghantarkan bumi pada penghujung tengah malam. Suara-suara keributan akibat aktifitas perlahan meredup, kala para penghuninya sudah tenggelam dengan mimpi indahnya.


Resah yang sedari tadi menyelimutinya, membuat dua mata itu belum dapat dia katupkan. Duduk membungkus tubuhnya di atas ranjang, dengan lemparan pandangan yang terus Kiran arahkan pada pintu kamar.


"Semoga saja, kami tidak jadi melakukannya. Karena dia melakukan itu denganku, karena marah padaku yang sudah masuk ke rumah itu tanpa minta ijin terlebih dahulu."


Memandang...Dan terus dia lemparkan dua matanya, pada pintu kamar. Besar harapan dalam diri Kiran, kalau Rangga mengurungkan niatnya untuk melakukan hubungan suami-istri dengannya malam ini. Dia yang menawarkan, tapi justru kini dialah yang berat untuk melakukannya.


Tenggelam dalam dunianya, dan terkesiap kala suara pintu terbuka, dengan langkah kaki yang terdengar di dalam kamar.


Pucat, serasa tercekat tenggorokanitu-saat Apa yang dia harapankan tidak terjadi. Sebab kini Rangga, sudah datang untuk meminta haknya sesuai kesepakatan mereka.


Temaram suasana kamar, membuat tak terlihat jelas tubuh itu. Hanya terdengar suara langkah kaki, yang kian membuat Kiran dilanda rasa takut.


Perlahan sosok itu kian mendekat-hingga wajah tampan lelaki berusia tiga puluh tahun itu terlihat jelas, oleh dirinya.


Kaos yang membalut tubuh itu- langsung Rangga lepas-hingga kotakan yang membentuk di dadanya, kembali terlihat.


Takut kian menggoroti diri Kiran, dengan Rangga yang memberi tatapan tajam padanya.


"Mas..." serunya pelan, dengan memberi tatapan nanarnya pada Rangga.


"Berhentilah mengeluarkan air mata buayamu, karena kau sendiri yang menawarkan tubuhmu padaku. Dan aku menginginkan mu malam ini.


"Bisakah kita menundanya, Mas? Sebab aku belum siap," pinta Kiran. Wajah wanita itu nampak sayu, kala memberi tatapan memohonnya pada Rangga.


"Bagiku tidak masalah, tapi asalkan kau memberikan kembali cek yang aku berikan tadi. Dan kau silahkan, menggadekan tubuhmu pada pria lain. Bagaimana?"

__ADS_1


Perkataan Rangga, serasa sebuah tamparan bagi gadis berambut panjang itu. Dihadapkan dengan ketidakberdayaan, itulah yang Kiran alami saat ini. Seandainya dia tidak dihadapkan dengan kondisi sang Ayah yang sedang sakit, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Dan dia tidak harus menyerahkan dirinya, pada Rangga.


"Bagaimana Nona Kiran? Karena aku salah satu orang, yang tidak suka tawar-menawar. Kalau kau tidak mau, tidak masalah! Kau bisa kembalikan cek itu, dan setelah itu semuanya beres. Bagaimana?"


"Tidak ada cintakan Mas?"


"Tentu saja Tidak! Bukankah kau pun tahu, kalau di hatiku ini hanya untuk Rani?"


Senyuman palsu Kiran bingkai di wajah. Lagi-lagi mendapati kata-kata yang terucap dari bibi Rangga, yang mampu menombak hatinya. Air mata yang menggenang di pipi, dia usap cepat, dengan memberi senyum palsunya pada Rangga.


"Masih tersisa sepuluh bulan lagi, kau bebas menikmati tubuhku, Mas! Setelah itu aku akan pergi dari hidupmu, dan kita akan menjalani hidup sebagai orang asing," ucap Kiran tersenyum miris.


Dua mata Rangga menatap begitu dalam pada Kiran-terlihat jelas luka di wajah wanita itu, saat mengucapkan apa yang baru saja dia katakan.


Kiran tersenyum menatap pada Rangga, yang terus menatap padanya. Rambut yang menggulung-dia geraikan hingga sutra hitam itu, membetang dengan indah mencapai pinggangnya.


Satu persatu kancing baju dia lepaskan, hingga bukit kembar itu terlihat nyata oleh Rangga, yang masih bersembunyi di balik bra hitam.


Senyuman kembali Kiran ukir di wajah, saat mendapati dua mata Rangga, yang menatap tak berkedip pada dadanya yang kini sudah terlihat nyata.


"Mas..." panggilnya pelan, yang langsung mengalihkan tatapan pria itu.


Rangga menatap, dan hanya membungkam tak bersuara. Kiran perlahan membaringkan tubuh itu, disusul Rangga yang merangkak naik di atas tubuhnya. Kecupan-kecupan Rangga berikan pada wanita itu, hingga dua pasang manik mata itu, menatap penuh gairah. Kiran tersenyum kala Rangga terus menatap padanya. Dua tangan itu dia angkat, dan melingkar di leher Rangga. Ciuman panjang pun tak terlewatkan antara keduanya. Kehangatan, dan kelembutan yang Kiran berikan padanya semakin membangkitkan gairah pria itu, apalagi Kiran pun turut membalas sentuhannya, kala tubuh keduanya sudah sama-sama polos. Setiap inci tubuh sang istri, tak terlewati sama sekali oleh Rangga. Mengecup, dan memberi tanda merah di setiap tempat yang membangkitkan gairah Kiran. Melakukan, dan terus melakukannya hingga *******-******* kenikmatan lolos dari bibi pasangan suami-istri itu yang baru melakukan malam pertama mereka, di hampir dua bulan lebih pernikahan mereka.


Lelah yang begitu terasa, membuat Kiran langsung tertidur tanpa menggunakan apapun, untuk membalut tubuhnya yang polos. Rangga menguap kasar wajahnya, gairah kembali melanda pria itu-saat mendapati tubuh Kiran dengan posisi terlentang, tanpa menggunakan apapun.


Dua mata itu mengerjap, dan samar-samar pupil matanya mendapati Rangga yang sudah kembali dengan pakaian lengkapnya, dan sudah akan kembali meninggalkan kamar.


"Mas..." Suara panggilan menghentikan langkah kaki itu seketika, kala dia akan mengayun menuju arah pintu.


Tak memalingkan wajah sama sekali, dan menjawab dengan datar.


"Aku akan kembali ke kamarku, dan kita hanya sebagai partner ranjang," jawab Rangga, kemudian langkah kaki itu dia lanjutkan.


Butiran bening, kembali menetes dari kedua kelopak matanya. Sakit hati itu, lagi-lagi Rangga kembalinya memberi diaa luka. Namun kemudian dia tersenyum, dan segera mengusap air mata itu.


"Buat apa aku harus menangis untuk laki-laki seperti dia! Bukankah aku sudah berjanji pada diri sendiri, untuk membunuh perasaan ini?"


****


Embun pagi kembali membasahi rumput-rumput, mau pun daun-daun yang menggelantung di ranting-ranting kecil. Mentari sudah kembali bersinar dengan cerah, kala hari baru kembali menyapa pada bumi, dengan cerah.


Rangga begitu menikmati sarapan paginya. Makan dalam diam, dan sesekali tatapan mata itu dia lemparkan pada kursi Kiran yang masih kosong.


"Kenapa dia belum turun juga? Apa yang masih dia lakukan di kamar?" gumam Rangga dalam hati, dengan berbagai rasa penasarannya pada sang istri kontrak-yang belum menunjujkan wujudnya.

__ADS_1


Kiran mengayunkan langkah kakinya pelan, saat satu persatu anak tangga dia lewati, menuju lantai bawa. Tatapan mata itu dia lemparkan pada ruang makan, dan mendapati suaminya Rangga, tengah menikmati sarapan paginya. Mendesahkan napasnya yang berat, dan berusaha menguatkan hati itu-dan menunjukan pada Rangga kalau dia baik-baik saja.


"Selamat pagi semuanya..." sapa Kiran setengah teriakan.


Raut wajah Rangga langsung berubah, begitu dia mendengar suara Kiran. Kiran melabuhkan tubuhnya di kursi, tanpa memperdulikan Rangga yang juga ada di sana.


Rangga sesekali melemparkan pandangan pada Kiran, yang terlihat acuh-dan seolah tidak terjadi apa-apa-padahal semalam keduanya, baru saja melakukan penyatuan.


"Kenapa aku yang jadi grogi seperti ini? Bahkan dia terlihat baik-baik saja. Kenapa aku sendiri yang seperti merasa, sementara dia terlihat santai saja?" gumam Rangga dalam hati, dengan sudut ekor mata yang dia lemparkan pada Kiran, yang tengah tersenyum, kala berbincang pada Bibi Ijah.


"Nona...Kenapa leher anda banyak tanda merahnya?" tanya salah satu Pelayan muda, tiba-tiba.


Rangga yang tengah mengunyah makanannya, langsung tersedak dan batuk-batuk, saat pelayan wanita itu melayangkan pertanyaan seperti itu, pada Kiran.


"Air...Air..." seru Rangga, sembari memegang lehernya yang terasa sakit.


"Ini Tuan..." seru Doni dengan langsung menyodorkan segelas air, yang langsung diminum hingga tandas oleh Rangga.


"Nona kenapa leher anda??" tanya Pelayan muda itu lagi, kala Kiran tak kunjung menjawab apa yang dia tanyakan.


Sekilas dia menatap Rangga, yang melemparan lirikan mata padanya.


"Oh ini..Semalam digigit seranggah yang besar."


Raut wajah Rangga berubah serius, setelah mendengar apa yang Kiran ucapkan barusan.


"Seranggah?" ucap pelayan muda itu, yang semakin dilanda rasa penasaran.


"Kau tahu, Iyam! Seranggahnya sangat KURANG AJAR! Selasai menggigitku, dia meninggalkan aku begitu saja!" Kiran menekan kalimat kurang ajar, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Rangga.


"Dasar laki-laki brengsek! Kau lihat saja, aku akan membalasmu nanti," gerutu Kiran dalam hati.


"Mas..." panggil Kiran dengan nada suara yang pelan.


"Ada apa?!" jawab Rangga dengan ketus.


"Bisakah aku meminjam salah satu mobilmu hari ini?"


"Maaf, tidak bisa. Doni akan mengantarmu, ke manapun kau pergi."


Mendesahkan napasnya yang tegas, menatap pada Rangga-yang menyeringai padanya.


"Tidak masalah, kalau Mas tidak mau meminjamkan aku mobil. Aku akan meminta, pada Kak Rian saja," jawabnya tersenyum.


Emosi tiba-tiba saja datang dalam diri Rangga, dan menatap pada Kiran, yang hanya tersenyum padanya.

__ADS_1


"Kiran!!" bentak Rangga, yang membuat mereka semua di sana sangat terkejut.


__ADS_2