
Senyum yang biasa menghiasi hari-harinya, menghilang dalam sekejap, kala cinta itu turut membawa senyuman. Hingga terlihat hanya guratan kesedihan, yang menyelimuti wajah tampan pria dengan tinggi 182cm itu.
Kedua kakinya mengayun pelan, melewati setip barisan anak tangga, di tengah suasana rumah yang sudah sepi. Memikirkan keingian Ibunya yang ingin segera dia menikah, membuat Rangga semakin dilanda kesedihan, karena harus membuka hatinya untuk wanita lain.
Jemarinya menjangkau gagang pintu, dan melebarkannya. Mengambil langkah panjang, menyusuri suasana kamar yang sunyi, dan hanya terdengar suara angin, yang menerbangkan tirai-tirai panjang itu. Menggapai kontak lampu, dan menyalahkannya. Suasana kamar yang sudah terang, seketika membuat arah pandang itu, mendapati sebua figura pernikihan dia, dan Rani yang tertancap di dinding kamarnya. Tersenyum getir, kala melihat senyuman bahagia istrinya, dalam bingkai foto itu.
"Kau selalu saja tersenyum, sekalipun ada kesedihan yang tengah kau rasakan. Dan katakan. Pantaskan aku tersenyum? Sementara aku baru saja kehilanganmu," gumamnya, saat senyuman palsu itu dia tampilkan.
Arah pandang itu teralih pada balkon kamar, dan segera mengambil langkah panjangnya, menuju ke sana. Menbentang tatapan tatapan mata itu, kala sorot matanya menatap lurus ke depan.
Hening, hening, membiarkan hati itu, larut dalam kesedihan yang tengah dia rasakan. . Suara nada panjang terdengar pada ponselnya, yang seketika memecahkan kesunyinan yang tercipta.
Jemarinya menelusup ke dalam saku celana, menggapai benda pipih itu. Mendapati nama Brigadir Anto, membuat Rangga segera menggeser icon hijau.
"Hallo,"
"Hallo, selamat malam Tuan Rangga! maaf, mengganggu."
"Tidak masalah. Lagi pula, aku hanya sedang bersantai-santai saja. Dan ada kepentingan apa, hingga anda menelponeku, Brigadir Anto?"
"Kami sudah mengetahui, siapa pelaku yang sudah memutuskan tali rem, mobil istri anda. Dan tadi kami hampir saja, berhasil menangkap pelaku."
Wajah yang tadi muram, seketika berubah tegang saat mendengar apa yang baru saja dikatakan anggota polisi itu.
"Apakah kau serius, Brigadir Anto?" tanyanya memastikan.
"Iya. Tapi alangkah jauh lebih baiknya, jika besok anda datang ke kantor polisi. Karena ada hal lain, yang perlu anda ketahui."
"Baiklah. Besok aku akan datang ke kantor anda." dengan langsung memutuskan, sambungan telepone itu.
Menghembuskan napas panjangnya, berusaha meredam emosi yang sudah mengusai diri.
"Siapapun, dia! aku tidak akan melepaskannya, jika aku sampai menemukannya." gumam Rangga, kala emosi itu seketika saja mengusai diri.
Usai melakukan panggilan telepone, ponsel kembali Rangga masukkan, ke dalam saku celananya. Tapi gerakan tangan itu terhenti, saat dia mendapati pesan masuk dalam aplikasi WAnya. Karena penasaran, jemari pria itu segera berlabuh pada aplikasi hijau itu.
Sorot mata itu lebih fokus, kala membaca pesan yang menunjukkan perhatian seseorang.
"Apakah wanita itu lagi?" bergumam, dengan sorot mata intens. "Di profilnya, pengguna nomor ini tidak mencantumkan fotonya." Karena penasaran ingin mengetahui siapa pemilik nomor ponsel itu, Rangga memutuskan untuk langsung melakukan panggilan VC.
__ADS_1
Baru saja panggilan VC itu masuk, sudah diterima oleh si yang punya nomor. Dan dia begitu kaget, kala mendapati wajah Kiran di sana.
"Kau?!" dengan raut wajah yang terlihat kesal. " Dari mana kau mendapatkan, nomor teleponeku?"
"Ia. Ini aku, dan maaf. Dan aku mendapatkan nomor telepone anda, dari Dokter Devan."
"Kau sedaang sakit, bukannnya istirahat, malah kau sibuk mengirimkan pesan buatku."
"Aku hanya khawatir padamu, Tuan! eh, maksudku Mas Rangga." dengan menampilkan senyuman di wajahnya.
"Waah!" dengan menggeleng-geleng pelan, seolah tidak percaya kala Kiran memanggilnya dengan sebutan Mas, karena terdengar seperti sudah lama saling mengenal. "Kau semakin membuatku gila, Kiran!"
"Maafkan aku," serunya menunduk, akibat rasa bersalahnya pada pria itu. "Tapi tapi aku sangat, merindukanmu,"
"Apa kau sudah gila?! Mengatakan rindu padaku. Memang aku ini siapamu?! Kekasih, ataukah suamimu?"
Airmata seketika menetes dari kedua sudut mata Kiran, kala Rangga mengelurkan kata-kata yang begitu menyakiti hatinya.
"Bahkan kau, menangis." dengan senyuman mencemooh, mendapati Kiran sudah menitikkan airmata.
"Kau menyakiti hatiku, Mas Rangga! jangan tanyakan kenapa? Karena aku sendiripun tak tahu."
"Aku hanya ingin, selalu berada di dekatmu. Itulah yang aku inginkan, saat ini."
"Kau benar-benar sakit jiwa, Nona Kiran! kau membuatku semakin gila. Aku baru saja kehilangan wanita yang kucintai, terus kau menambah beban didalam pikiranku, dengan sikap anehmu itu. Apa kau tidak menyadari? Kalau sikapmu itu, membuatku semakin bertambah sterss."
"Maafkan aku, maaf. Dan apakah kau sudah makan?" Kiran seketika menampilkan senyumnya, walaupun Rangga tengah menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Tentu saja aku sudah makan, bodoh! apakah kau tidak menyadari, kalau sekarang sudah jam berapa?" dengan wajah kesalnya, kala mendapati wajah Kiran yang tengah menampilkan senyuman.
"Aku senang. Kau tahu, Mas! aku sangat-sangat, mengkhawatirkan dirimu."
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku, karena aku bukan anak kecil, dan aku sanggup mengurus diriku sendiri."
Kiran hanya tersenyum. Gadis cantik itu terus saja menampilkan senyuman, sekalipun Rangga berkata kasar padanya.
"Setiap kali jantungku berdetak, aku selalu merindukanmu, Mas! dan terima kasih karena sudah menelponeku."
"Aku menelponemu, karena aku ingin mengetahui nomor HP siapa ini, jadi kau jangan besar kepala."
__ADS_1
"Tidak masalah, Mas! yang jelas, kerinduanku sudah sedikit terobati. Dan selamat malam, Mas Rangga! mimpi yang indah, dan jangan lupa jaga kesehatannya." dengan langsung memutuskan sambungan telepone itu.
"Dasar wanita, gila! dengan kelakuan anehnya itu, dia membuatku semakin frustasi saja." gumam Rangga, dengan wajah kesalnya.
****
Tubuhnya bersimbah keringat, kala pukulan, dan tendangan terus Rangga layangkan, pada sebuah samsak yang mengelantung di ruang olahraganya.
"BUUGG, BUUGG," pukulan yang begitu keras, saat tenaga itu dia keluarkan semuanya.
Napasnya terengah-engah, dengan cucuran keringat yang semakin banyak membasahi tubuhnya. Jemarinya mengulur panjang, menggapai pada handuk putih kecil, guna menghilangkan keringat yang membasahi dirinya. Meneguk air mineral, dengan sisahan yang dia hempaskan pada wajah tampannya.
"Selamat pagi, Tuan!" terdengar suara sapaan tiba-tiba, yang membuat arah pandang itu teralihkan.
"Pagi. Apa jadwalku hari ini, Doni?"
"Pagi ini, anda ada janji dengan Brigadir Anto."
"Hampir saja, aku lupa. Tunggulah sebentar, aku akan segera bersiap-siap." dengan mengambill langkah panjangnya, menuju arah tangga.
****
RUMAH SAKIT
Sorot mata Dian terus menatap pada sahabatnya, yang terlihat begitu gelisah dengan tatapan mata terus tertuju pada layar HPnya.
"Kau menunggu telepone, atau pesan darinya?" tanya Dian tiba-tiba, yang seketika mengalihkan tatapan Kiran dari layar ponselnya.
"Ntahlah.." jawabnya tersenyum getir.
"Aku adalah sahabatmu. Dan aku tidak mau, kau terluka nantinya. Jujur. Aku sangat biingung dengan ini semua. Tiba-tiba saja, bagaimana bisa kau mencintai pria? Yang baru saja kau kenal. Dan jelas-jelas kau tahu, Tuan Rangga itu adalah seorang Presdir, dan juga berasal dari keluarga kaya. Seandai,nyapun kalau dia mau mencari pengganti Dokter Rani, pasti wanita itu harus setara dengannya. Ya! salahsatunya seperti Dokter Rani, yang cantik, dan juga terpelajar."
"Kau membuatku terluka, dengan kata-katamu, Dian!"
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, aku hanya tidak mau kau terluka. Sekarang yang perlu kau lakukan adalah, melupakan dia, dan menata hidupmu yang baru. Setelah kau hidup, dengan jantung Dokter Rani."
Detakan jantung itu kembali berdetak, dag, dig, dug, hingga membuat tangan itu seketika berlabuh di sana.
"Sayangnya, tidak bisa. Semakin aku memaksa, semakin membuat aku terluka. Dan ntah kenapa? Akupun juga tak tahu," gumamnya, dengan menerawang jauh.
__ADS_1