Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
PENASARAN AKAN SOSOK


__ADS_3

Semakin emosi saja diri pria berusia tiga puluh tahun itu, setelah mendengar apa yang baru saja Sekretarisnya katakan.


Dan tentu saja itu semakin memancing keinginan Doni, untuk membuat api kecemburuan, dalam diri Tuannya semakin bertambah.


"Tuan..." panggil Doni tiba-tiba, kala mendapati Rangga-tenggelam dalam dunianya sendiri.


"Ada apa?!" Nada yang terdengar kasar, akibat emosi yang masih menyelimuti diri pria itu.


Seringai rendah nyaris tak terlihat di wajah Doni, mendapati jawaban dengan nada yang sedikit kasar, saat Tuannya menyambut ucapan pria itu.


"Anda tidak mencintai Nona Kiran, dan berencana akan menceraikan dirinya-setelah satu tahun nanti. Ini sudah dua bulan lebih, tinggal sembilan lebih lagi, Nona Kiran sudah resmi menjadi janda dari seorang Rangga Wijaya," ujar Doni pelan.


"Jadi apa maksudmu?" tanya Rangga cepat, yang penasaran dengan kata-kata yang baru saja terucap dari bibir Sekretarisnya itu.


"Sepertinya Tuan semakin saja terbakar cemburu," bathin Doni kala, melihat memerah yang makin menyeruak dari wajah seorang Rangga.


"Begini maksud saya... Sebagai mantan suami dari Nona Kiran.." Belum menyelesaikan apa yang akan dia katakan, Rangga sudah menyela.


"AKu masih suaminya bodoh! Bukan mantan suaminya!" celah Rangga, dengan nada yang sedikit kasar, saat memprotes ucapan Doni.


Doni memberi senyum kikuknya, setelah mendengar kata-kata Tuannya-yang serasa menggelitik untuk dirinya.


"Saya ralat, kata-kata saya Tuan...Maksud saya, jika nanti kalau sembilan bulan lebih ke depan anda sudah menjadi mantan suami Nona Kiran."


"Katakan yang cepat! Jangan membuat aku penasaran!" pinta Rangga tegas.


"Pasti anda ingin Nona Kiran mendapat pengganti anda, yang merupakan laki-laki yang baik. Dokter Devan, dan Tuan Rian andalah dua sosok laki-laki yang sempurna. Dokter Devan sama sekali tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun, dan juga tidak pernah, melakukan kejahatan sama sekali."


"Apakah kau sedang menyindirku?!" tanya Rangga, yang merasa kalau Doni, tengah menyindirnya yang merupakan seorang mantan Mafia.


"Sa..Saya tidak menyindir anda Tuan..Bukankah saya hanya mengatakan yang sebenarnya?"


"Tapi aku rasa kau sedang menyindirku Doni! Bukankah kau pun tahu, kalau adalah seorang mantan Mafia?"


"Maafkan saya Tuan..Saya tidak tahu, kalau anda tersinggung!" jawab Doni, dengan memberi senyum tanpa dosanya.

__ADS_1


"Terus apa lagi, yang ingin kau katakan?"


"Dan kalau Tuan Rian, adalah seorang pria yang berprestasi, dan juga pewaris tunggal dari kekayaan Ayahnya."


"Bukankah aku sama dengannya? Aku juga adalah pewaris tunggal, dari kekayaan Ayahku."


"Tapi kalau Nona Kiran menikah dengannya, setidaknya Nona Kiran menikah dengan laki-laki yang masih perjaka, dan bukan duda seperti anda."


"Jadi kau membela si Rian brengsek itu?!" Dengan intonasi suara, yang mulai meninggi, yang sepertinya tidak terima dengan ucapan Sekretarisnya.


"Saya tidak membelanya Tuan...Saya hanya mengatakan yang sebenarnya. Dan menurut saya Nona Kiran adalah wanita yang


beruntung, karena dicintai oleh dua pria yang sangat sempurna. Dan seandainya di dunia ini seorang wanita bisa memiliki dua suami sekaligus-saya akan meminta Nona Kiran menikahi, Tuan Rian-dan Dokter Devan."


"Mereka berdua sangat tidak cocok untuk Kiran!" ujar Rangga cepat.


"Jadi menurut anda pria mana yang cocok untuk Nona Kiran, Tuan?"


"Yang jelas bukan Devan, apalagi Sibrengsek Rian!"


Kaget seketika menyelimuti wajah Rangga, setelah mendengar apa yang baru saja Doni katakan, yang membuat emosi yang sudah ada, semakin saja meluap.


"Kau...Apakah kau mau aku membunuhmu, Doni?!"


"Maafkan saya Tuan.." jawab Doni dengan mengulum senyum.


"Pergi kau dari dalam ruang kerja ini! Sebelum aku melemparkan kau dengan miniatur ini!" titah Rangga dengan memegang miniatur berbentuk manusia, yang berbahan jati.


Nyali Doni menciut juga, mendapati Tuannya yang sudah memegang miniatur, dan mengarahkan benda itu kearahnya. Langsung bangkit dari duduknya, dan berlalu dari dalam ruangan itu, setelah berpamitan dari bosnya.


" Sekali lagi maafkan saya Tuan..Dan kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Doni, dengan melangkahkan kakinya cepat berlalu dari dalam ruangan.


Menutup pintu dengan pelan, seraya terkikik di luar sana, karena sudah berhasil mengerjai Tuannya.


"Biar saja Tuan semakin emosi, dengan begitu dia bisa segera menyadari perasaan cintanya pada Nona Kiran," gumam Doni, dengan langkah kaki yang dia ambil, menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


Tubuh itu segera Rangga hempaskan pada sandaran kursi. Udara tiba-tiba serasa panas bagi Rangga. Jas hitam yang melekat di tubuh kekarnya, segera dia lepas-dan ikut melonggarkan dasi yang menyimpul di kra bajunya.


Menjangkau remot ace, dan menekan sebuah tombol, agar menambah suhu dingin di dalam ruang kerjanya.


"Kenapa tiba-tiba udaranya terasa panas begini?" gumam Rangga, seraya melipatkan kemeja putih, hingga kesudut tangannya.


Hening..Hening...saat pria berusia tiga puluh tahun itu begitu hanyut, dengan apa yang tadi Doni katakan.


"Apa aku menelpone dia saja? Dan meminta dia datang kemari," gumam Rangga, dengan menjangkau benda pipih miliknya, yang berada di atas meja kerjar. Namun sekejap, ada peperangan dalam kata hatinya. "Tapi apa alasan yang harus aku katakan, kalau dia menanyakan, UNTUK APA AKU MEMINTA DIA DATANG KE PERUSAHAAN. Tidak mungkin kan, kalau aku menjawab aku menginginkan tubuhnya lagi," gumam Rangga.


Cukup lama Rangga berperang dengan kata hatinya sendiri, akhirnya ponsel yang berada dalam genggaman dia simpan kembali dia simpan di atas meja.


"Buat apa aku memintanya untuk datang, bukankah aku tidak mencintainya?"


****


Bulan kembali bersinar terang di atas sana, menyinari bumi yang sudah tertutup gelap, dengan ditemini jutaan bintang, yang bertebaran disekitarnya.


Sebuah sedan mewah melaju dengan pelan-membela jalan, dikeramaian lalu lintas yang masih terlihat ramai dimalam hari.


Suasana sepi begitu menyelimuti dalam mobil, yang hanya terdengar suara musik melow yang terus bersenandung di dalamnya. Rangga menurunkan sedikit kaca mobilnya, saat kendaraan roda empat yang membawa dia, dan Doni sudah berhenti di lampu merah.


Tatapan mata itu tak senjaga dia palingkan menelusuri setiap jejak kota dimalam hari. Matanya langsung terfokus pada satu titik, kala sepasang netra matanya-menangkap sosok yang sangat tidak asing untuknya. Dan Rangga sangat yakin, kalau dia tidak salah lihat. Tanpa berpamitan pada Doni-Rangga langsung berlalu dari dalam mobil, dan dengan setengah berlari dia menghampiri pada sosok pria yang sedang berada di depan sebuah restorant mewah. Baru saja diri itu akan semakin dekat dengan sosok itu, sosok itu sudah berlalu dengan mobil mewahnya.


"Aku yakin, kalau yang tadi aku lihat. Aku yakin, itu Davin! Bukan Devan!" gumam Rangga, meyakinkan diri sendiri. Mengusap kasar wajahnya, dengan terus memandang pada mobil yang sudah berlalu pergi. Sedikit lama Rangga memijakkan dua kakinya di sana, dan akhirnya Rangga memutuskan, untuk kembali menghampiri pada Doni.


Membuka pintu mobil, dan langsung menghempaskan tubuh itu ke dalam sana, dengan wajah lelahnya.


"Tuan...Ada apa? Apa yang anda lihat tadi?" tanya Doni, yang sedari tadi sudah menyimpan rasa penasarannya.


Tak langsung menjawab. Dua mata itu dia arahkan pada kaca spion mobil, di mana Doni tengah melemparkan pandangan padanya.


"Aku yakin kalau aku tidak salah lihat! Pria itu, adalah Davin-bukan Devan!"


"Apakah anda yakin, Tuan?"

__ADS_1


"Aku sangat yakin, Doni! Dan ini seperti misteri, karena yang kita tahu, kalau Davin sudah meninggal dalam kecelakaan."


__ADS_2