
Setelah melewati beberapa proses, Kiran kini telah dipindahkan ke ruang rawat, di lantai empat rumah sakit itu. Ruang VVIP, dengan kelas khas hotel bintang lima, itu-lah gambaran kamar rawat, dari seorang Kiran Larasati. Tak ada sanak keluarga yang menemani. Kedua keluarga besar mereka, sudah pulang untuk beristirahat, dan berjanji akan kembali lagi nanti. Hingga kini hanya tinggal Rangga seorang, yang menunggui istrinya di rumah sakit.
Kiran nampak berbaring di atas ranjang, sebab tubuh itu masih terasa pascah operasi. Sementara Rangga-suaminya, sedang sibuk dengan gawai miliknya. Lelaki tampan itu tak kunjung selesai membalas rentetan pesan masuk dari para sahabat, mau pun para rekan bisnisnya, yang mengucapkan selamat, atas kelahiran putra pertamanya.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri, Mas?" tanya Kiran, saat mendapati senyuman yang tak luntur, dari wajah suaminya.
Rangga yang tengah duduk disalah satu sofa tunggal, segera mengangkat wajahnya, begitu mendengar pertanyaan yang diajukan oleh istrinya..
"Aku bahagia. Ternyata begini, rasanya menjadi orang tua," jawab Rangga. Dan melihat dari ekspresinya, pria berusia tiga puluh satu tahun itu, nampak bangga dengan statusnya, yang kini sudah menjadi orang tua.
Kiran tersenyum. Dia pun membenarkan apa yang suaminya katakan. Sekarang dia dan Rangga, sudah memasuki fase berbeda dalam kehidupan mereka. Menjadi orang tua, dan tentu saja mereka telah memiliki tangggung jawab, bukan hanya untuk membesarkan, tapi juga mendidik anak mereka, agar tumbuh menjadi anak yang baik, taat beragama, dan takut pada Tuhan.
Namun tiba-tiba saja raut wajah wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu berubah serius, saat teringat nama sang bayi, yang belum ada untuk putra mereka.
"Mas..." panggil Kiran tiba-tiba, kala keheningan melanda dia, dan suami beberapa menit, setelah obrolan singkat tadi.
"Ada apa?"
"Apakah kau sudah menyiapkan nama untuk anak kita? Bukankah Mas bilang, kalau Mas yang akan memberikan nama untuk-nya?"
Rangga tersenyum, mendapati pertanyaan seperti itu, dari istrinya.
"Aku sudah menyiapkan nama untuk anak kita, jadi kau tenang saja."
"Boleh aku tahu, siapa namanya Mas?"
Rangga akan menyambut pertanyaan istrinya, namun tatapan mata dia, dan Kiran teralihkan saat tliba-tiba saja suara pintu terbuka, dan menampakkan seorang Dokter, dan juga perawat wanita, dengan bayi mungil dalam gendongan perawat wanita itu.
Kiran, dan Rangga saling melemparkan pandangan, kemudian tersenyum. Sejak dari tadi pasangan suami-istri itu, memang sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan anak mereka.
"Hallo Nyonya Wijaya! Bagaimana keadaan, anda" tanya Dokter wanita itu, sembari berdiri ditepian ranjang, dan tangannya memeriksa infus, yang tertanam pada punggung tangan Kiran.
"Perut saya yang terasa nyeri Dokter, mungkin karena dampak obat bius, yang sudah mulai hilang perlahan."
"Nanti kami akan memberikan obat, agar luka-nya cepat mengering. Dan kami datang, untuk mengantarkan bayi Nyonya. Dan apakah anda ingin, menggendong bayinya? Atau diletakkan saja di ranjang bayi? Atau mungkin, mau digendong Papa-nya?" ujar Dokter wanita itu, tersenyum.
"Apakah dia bangun Dokter?"
"Tidak Tuan..Putra anda sedang tidur."
__ADS_1
"Berikan pada saya. Saya akan mencoba menggendongnya." Rangga meletakkan ponselnya di atas meja, dan sembari melangkahkan kakinya mendekat pada Perawat, yang tengah menggendong bayinya.
Rangga mengukir senyum hangatnya, saat mendapati buahatinya, yang tidur dengan sangat pulas, dalam dekapan Perawat itu. Kulitnya yang masih memerah, dan bibirnya sesekali mengecap-ngecap, seolah dalam mimpinya, dia sedang mendapatkan asih Ibunya., dan itu membawa suasana bahagia tersendiri, di dalam diri Rangga.
"Kemarikan putraku!" pinta Rangga, dengan menyodorkan tangan-nya.
Dengan sangat hati-hati, suster wanita itu menyerahkan bayi mungil itu ke tangan Rangga.
"Hati-hati Mas.." Kiran memperingati Rangga, saat tangan suaminya berusaha meraih mungil itu dari gendongan sang Perawat. Akhirnya dengan sangat hati-hati, bayi laki-laki itu kini telah berpindah pada Rangga.
Rasa hangat menjalar dalam diri pria itu, saat bayi laki-lakinya kini telah berada dalam gendongannya. Rasa yang sangat sulit, diungkapkan dengan kata-kata, yang pasti dia sangat-sangat bahagia. Selama bertahun-tahun pria itu, mengharapkan kehadiran buahati bersama Rani, dalam pernikahan mereka. Dan Tuhan baru mewujudkan keinginannya itu, setelah pernikahan keduanya.
Dengan hati-hati Rangga melabuhkan tubuh-nya di salah satu sofa tunggal, dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya.
"Anakku.." gumam Rangga tersenyum, sembari mencolek pipi putranya, hingga bayi itu seketika menggeliat kecil, sebab merasa terusik dengan tidurnya, dan itu kian senyuman di wajah pria itu.
"Kalau begitu kami permisi dulu. Dan kalau ada apa-apa, kabari kami Nyonya!"
"Baik Dokter, dan terima kasih."
Setelah perginya sang Dokter, Kiran segera melontarkan pertanyaan pada suaminya, yang tengah mencolek-colek putra mereka, hingga membuat bayi kecil itu, tak henti-hentinya menggeliat, karena merasa terusik.
"Dia sangat menggemaskan, Kiran!" jawab Rangga, sembari melemparkan senyuman pada istri-nya.
Kiran pun turut mengembangkan senyuman di wajahnya, mendengar apa yang suaminya katakan. "Mas.. Terus apa nama anak kita?"
"Angga Sanca Wijaya. Bagaimana? Apakah kau suka?"
"Suka! Nama yang bagus," jawab Kiran tersenyum.
Usai perbincangan singkat itu, keduanya kembali sama-sama bungkam. Kehadiran sang buahati mereka, membuat Rangga lebih memfokuskan diri-nya pada bayi-nya. Pria itu sesekali mengecup lembut pipi putranya, atau mencolek wajah putranya, dan dia terlihat begitu bahagia, dengan apa yang dia lakukan pada bayi mungil itu.
Tiba-tiba saja suara pintu terbuka, yang mengalihkan pandangan suami-istri itu.
"Maaf, karena baru datang. Aku baru saja kembali dar luar kota!" Devan dengan wajah sumringah, namun juga bercampur lelah , kala melangkahkan kakinya, masuk ke dalam kamar rawat itu.
Rangga menyunggingkan senyuman sinis disudut bibirnya, saat mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh sahabat Dokter-nya itu.
"Aku pikir, kau sudah tidak bekerja di rumah sakit ini lagi."
__ADS_1
"Aku ada seminar di luar kota. Dan untuk kau, Kiran! Selamat!" Devan meletakkan sebuah bucket bunga, dan juga kado yang dia bawa, untuk menyambut kelahiran Baby Boy itu.
"Iya Dokter..Dan terima kasih, untuk kadonya," sahut Kiran, dengan senyuman.
"Bolehkah aku tahu, apa isi kadonya?"
"Kamu bicara apa-an sih Mas?!" sungut Kiran, yang kesal dengan pertanyaan suaminya.
"Suamimu memang sangat menyebalkan, Kiran! Dan aku bisa mengerti."
Rangga tersenyum. Tersenyum puas, melihat raut wajah kesal sahabatnya. Namun tiba-tiba saja senyuman di wajah memudar, saat tiba-tiba saja bayi-nya menangis.
"Oeek...Oeek..." Dan pria itu sedikit panik.
"Kiran! Bagaimana ini?"
"Berikan dia padaku, Mas.."
"Berikan dia pada Kiran! Tidak mungkin-kah, kamu yang memberinya ASI?!" ujar Devan desertai tawa kecil-nya, dan tentu saja membuat Rangga sangat kesal, dengan ucapan sahabatnya itu.
****
Senja mulai menyapa, dengan seiring waktu yang terus melangkah, dan tidak terasa oleh para penghuni, yang menikmatinya.
Guna melepaskan lelah yang menyelimuti tubuhnya, Rangga menikmati waktunya senggangnya dikantin di rumah sakit, bersama Devan, dengan menikmati minuman hangat.
"Aku akan ke penjara besok," ujar Devan, saat sedari tadi keduanya melewati dengan perbincangan biasa.
"Kau ingin menjenguk Davin?"
"Iya. Dan semoga saja, kali ini dia mau menemuiku."
Kata-kata yang terucap dari bibir Devan, seketika menarik rasa ingin tahu Rangga lebih dalam lagi.
"Apakah kau pernah menemui dia sebelumnya?" tanya Rangga, yang mencoba untuk menebak.
"Iya. Tapi saat itu dia sama sekali tidak mau menemuiku. Aku hanya bertemu dengan Andrew, saat itu."
"Katakan padaku. Jenasah siapa, yang saat itu dikuburkan?"
__ADS_1
"Andrew mengatakan, kalau itu adalah jenasah anak buah Davin. Saat perjalanan ke vila, dia masih menemui anak buahnya. Dan saat kecelakaan itu, Davin langsung melompat ke luar dari dalam mobil, hingga mobil itu berakhir dengan terbakar. Dan sejak saat itu, dia memalsukan kematiannya, agar bisa membalaskan dendamnya padamu, dan menyamar menjadi laki-laki tua. Termasuk ingin menghancurkan mu, lewat Della."