Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
BERTEMU DELLA


__ADS_3

Rangga, dan Kiran sudah kembali di rumah mereka, setelah perjalanan yang memakan waktu hampir lima belas menit. Selama dalam perjalanan pulang, dan sudah kembali berada di rumah, Rangga lebih banyak diam. Apa yang terjadi tadi, begitu mengusik pikiran pria berusia tiga puluh tahun itu.


"Apakah dia benar-benar masih hidup? Dan sengaja memalsukan kematianya, agar dapat kembali membalaskan dendamnya padaku? Lalu sebenarnya siapa, yang saat itu dimakamkan? Sebab jelas-jelas hanya Davin yang berada di dalam mobil itu."


"Mas..Aku masuk!" ujar Kiran, saat keduanya sudah berada di lantai dua.


Terlalu memikirkan kematian Davin yang penuh misteri, membuat Rangga langsung mengiyahkan permintaan istrinya, tanpa ada kata-kata yang lain lagi.


Kiran segera melenggangkan kakinya, menuju arah kamar. Saat akan melangkah masuk, wanita berusia dua puluh enam tahun itu kembali mengurungkan niatnya, dengan dua mata yang dia lemparkan pada Rangga yang sudah melewati satu persatu anak tangga, menuju lantai tiga.


"Sepertinya apa yang terjadi tadilah , yang menajadi penyebab Mas Rangga nampak tidak bersemangat. Sedari tadi dalam perjalanan, dia lebih banyak diam, dan sama sekali tidak bicara," gumam Kiran. Terus menatap pada Rangga, sampai sosok itu benar-benar hilang dari penghilatannya.


Semua yang terjadi tadi, membuat Kiran sedikit syok, dan juga lelah sebab secara tidak langsung pikiran itu, sudah terbebani dengan sendirinya. Masuk ke dalam kehidupan Rangga, dan menemukan hal yang tidak pernah dia temui sebelumnya.


Sweater yang membalut tubuhnya-dia lepas, dan melemparkan ke atas kursi. Tak sengaja memalingkan wajah itu, dan mendapati sebuah HP, yang tersimpan di atas meja samping ranjang, dan Kiran meyakini kalau itu adalah milik suaminya.


Segera menjangkau benda pipih itu, dan memutuskan untuk mengantarkan ke kamar Rangga.


Melewati satu persatu anak tangga, menuju lantai tiga. Sudah memijak di lantai tiga itu-dan akan melanjutkan langkahnya. Namun langkah itu kembali Kiran urungkan, saat tiba-tiba saja ponsel beubah terang, dan menemukan satu buah pesan yang masuk.


Memberi tatapannya pada gawai itu, dan sedikit kaget saat mendapati tulisan pada layar benda pipih itu, yang bertuliskan KIRAN, dengan tinta berwarna biru.


Mengucek-ngucek matanya, agar semakin mempertegas penglihatannya.


"Apakah aku tidak salah lihat? Di layar HPnya, ada tulis namaku? Apakah itu diriku, ataukah wanita lain?" Raut wajah penasaran, dengan terus menatap pada layar HP itu.


"Hei...Apa yang kau lakukan dengan ponselku?" Suara teriakan Ranga, mengalihkan wajah Kiran, yang begitu kaget.


"Kembalikan!" Dengan langsung menjangkau benda pipih itu, dari tangan istrinya.


"I...Itu.." ujar Kiran dengan terbata. Sebab dalam hatinya dia sangat ingin menanyakan apakah yang tertulis namanya, ataukah nama wanita lain.


"Apa?!" tanya Rangga cepat, dengan dua mata yang begitu tajam.


"Tidak! Aku tidak boleh bertanya. Nanti kalau dia bilang itu bukan Kiran, yaitu diriku, bukan berarti aku sendiri yang akan jauh lebih malu?" gumam Kiran dalam hati.


"Apa yang ingin kau katakan?"tanya Rangga, membela lamunan Kiran seketika.


"Tadi itu ada pesan masuk di ponselmu. Dan jangan salah sangakah dulu, karena aku datang ke sini mau mengantarkan HP milikmu."


Raut wajah itu berubah kaget, setelah mendengar apa yang Kiran katakan. Dan Rangga meyakini, kalau Kiran sudah melihat tulisan nama di layar HPnya itu.


"Aku yakin, kalau dia pasti sudah melihat namanya dalam layar HPku," gumam Rangga dalam hati.


"Nama Kiran di muka bumi ini sangat banyak, bukan kau sendiri pemiliknya."


"Aku tidak bertanya, kenapa Mas mengatakan padaku?"

__ADS_1


Gugup, dengan wajah yang merona karena malu.


"Aku hanya mengatakannya, agar kau tidak besar kepala! Dan mengirah..." Belum menyelesaikan ucapannya, Kiran suda h menyela.


"Kalau begitu selamat malam, dan aku akan kembali ke kamarku," jawab Kiran, dengan tubuh itu dia balikkan, dan bersiap untuk melangkah. Namun langkah itu kembali dia hentikan, saat Rangga bersuara.


"Tidurlah di kamarku," pintanya dengan setengan teriakan.


"Tidak!" jawab Kiran tegas dengan menunjukkan wajah kesalnya, dan segera kembali melanjutkan langkah kaki itu.


Terus menatap pada Kiran, yang sudah berlalu kembali ke kamarnya.


"Apakah aku salah bicara? Karena sepertinya dia sangat marah padaku," gumamnya.


Membuka pintu kamar, dan melangkah dalam keheningan, akibat hati yang terusik. Kecewa jelas terlihat, sebab mencintai.


Menghempaskan diri ke atas ranjang, hingga tubuh itu sedikit menggelinjing.


Mendesahkan napasnya yang berat, menatap kosong pada langit-langit kamar, yang sedikit kelabu sekelabu hatinya.


"Apakah Mas Rangga sudah memiliki kekasih, yang bernama Kiran juga?" gumam Kiran.


****


Waktu kian merangkak naik, menjemput malam yang sebentar lagi akan membawa bumi menyambut kembali hari yang baru.


Melangkahkan dua kakinya menyipkan tubuh itu, saat keramaian menyambutnya, dengan kelap-kelip lampu disco, d dan suara musik yang begitu menggelegar.


"Malam. Apakah dia sudah datang?"


"Sudah Tuan! Dia suah menungguh anda, dari tadi.


"Maaf, karena aku masih sedikit ada urusan. Dan ayo kita temui dia!" ajak CORISOON, dengan langkah kaki yang segera dia ambil.


Pintu ruangan terbuka lebar. Sosok cantik yang sedari tadi duduk santai, seketika beranjak dari duduknya, setelah mendapati kedatangan seseorang, yang membuatnya sedari tadi sudah menunggu.


Senyuman mengukir di wajahnya, yang sudah menampakkan sedikit keriputan.


Melangkah mendekat pada Dilla, dan segera melabuhkan kecupan dipunggung tangan wanita itu, dengan memberi tatapan penuh arti.


"Selamat malam Nona Dilla, maaf buatmu menunggu."


Tersenyum, dengan lirikan mata yang tak kalah menggoda.


"Tidak masalah Tuan," jawabnya tersenyum, dan kembali melabuhkan tubuhnya.


Suasana hening menyelimuti saat ada seorang pelayan wanita yang masuk, dan menuangkan WINE, ke dalam dua gelas kaca itu,

__ADS_1


"Apakah kita saling kenal? Hingga anda mengajakku untuk bertemu," tanya Dilla, sebagai pembuka pembicaraan mereka.


Senyuman kecil COROSOON ukir di wajah, dengan sedikit membasahi tenggorokannya.


"Tidak! Kita sama sekali tidak pernah saling mengenal."


Kening Dilla mengkerut, dengan sorot mata jauh lebih tajam karena penasaran.


Tapi tetap sebisa mungkin tenang, dengan gayanya yang anggun.


"Jadi untuk apa, anda mengajak saya bertemu? Karena saya yakin, kalau pertemuan kita kali ini sedikit, atau mungkin saja serius," ucapnya dengan sedikit menyelipkan candaan.


"Aku ingin mengajak anda bekerja sama. Dan kita sama-sama menguntungkan."


Semakin penasaran Dilla dengan uacapan pria di depannya.


"Benarkah?"


"Iya. Karena saya tahu, kalau anda mungkin, atau masih menaruh hati padanya."


Sorot mata jauh lebih tajam, dengan rasa ingin tahu semakin dalam.


"Apa itu?"


"Rangga Wijaya. Aku ingin kau mendekatinya. Karena yang aku dengar, kalian pernah menjalin hubungan dekat, dan aku juga yakin kalau kau masih memiliki rasa pada pria itu. Dan aku akan membayarmu berapa pun."


Dilla mengukir senyuman di wajah. Sejujurnya dia masih memiliki rasa pada Rangga, sampai saat ini. Tapi Dilla, sama sekali tidak berniat, untuk mendekati pria itu. Tapi mendengar tawaran yang menggiurkan, membuatnya sangat tertarik. Sebab siapa pun, sama sekali tidak menolak uang. Apa lagi dia hanya ditugaskan, untuk mendekati Rangga.


"Apakah hanya itu? Dan bagaimana kalau aku sampai merebut dia, dari istrinya?" Tatapan penuh arti. kala dia melayangkan pertanyaan pada CORISOON.


"Ha...Ha...Ha..Itu terserah kau Nona! Asalkan kau melakukan tugasmu."


"Anda berani membayarku berapa pun?" tanya Dilla memastikan.


"Berapa pun." Kembali menegaskan, apa yang Dilla tanyakan.


"Baiklah, kalau memang anda akan membayarku berapa pun. Dan aku akan mulai melakukan aksiku, besok jika anda sudah mengirimkan uangnya. Bagaimana?"


"Aku akan membayarnya sekarang."


"Baiklah, karena lebih cepat lebih baik."


Arah pandang CORISOON beralih pada orang suruhannya. Andrew yang sudah mengerti apa yang dimaksud Tuanya, segera meletakkan satu buah cek di depan wanita itu.


Sangat ingin tahu berapa nominalnya, Dilla segeran menjangkau benda pipih itu. Matanya lebih membulat penuh, saat mendapati angka yang tertulis di dalam lembaran kertas itu.


CORISOON seketika mengeluarkan tawa rendahnya, melihat ekspresi terkejut dari wanita di depannya.

__ADS_1


"Ha...Ha...Ha...Bagaimana Nona? Apakah kau setuju dengan kerja sama kita?" tanya CORISOON tersenyum.


"Tentu saja Tuan... Siapa yang sanggup menolak, uang sebanyak ini," jawabnya tersenyum.


__ADS_2