Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
MENYELINAP MASUK


__ADS_3

Tak bergairah sama sekali, dan hingga tumpukan berkas yang sedari tadi berada di depannya diabaikan oleh pria berusia tua puluh tahun. Sesekali dia melemparkan pandangannya ke arah pintu, dan sesekali dia menatap pada jam tangan, yang melingkar di pergelengan tangannya.


Mendesahkan napasnya yang panjang, merasa Doni begitu lama.


"Kenapa dia begitu lama? Apakah sulit dia mengintai, dan mencari tahu di kamar mana Kiran tempati," gumamnya dengan raut wajah, yang terlihat resah.


Sekian lama berperang dengan keresahan hatinya, akhirnya suara pintu terbuka, menyapa daun pintu ruang kerjanya.


Rona bahagia memudar seketika, begitu yang dia dapati bukannya kedatangan Doni sekretarisnya, melainkan Mama Dilla.


"Mama..." gumamnya, dengan tubuh yang seketika bangkit dari duduknya. "Untuk apa Mama ke sini?" tanya Rangga, dengan raut wajah penasarannya, namun diabaikan oleh Mama Dilla, yang seger mendaratkan tubuhnya dengan gayanya yang manis di atas kursi.


Mengukir senyum manisnya pada Rangga, yang terus menatap padanya.


"Kenapa wajahmu tampak lusuh begitu Rangga?" tanya Mama Dilla, dengan memberi senyuman mencemooh pada putra tunggalnya itu.


"Aku yang bertanya pada Mama. Kenapa Mama balik bertanya?!" tanya Rangga, dengan nada suara yang menekan.


"Mama hanya mau menyampaikan, segera ceraikan Kiran! Karena kau akan bertunangan dengan Della."


Rangga tersenyum. Senyuman yang terselip rasa tidak suka di dalammya.


"Aku sudah menduga, pasti ini yang akan Mama bicarakan. Apa lagi kalau bukan menjodohkan aku dengan wanita-wanita pilihan Mama."


"Wajarlah kalau Mama mencarikan mu jodoh, kamu mencari istri saja tidak bisa!"


"Aku masih memiliki istri Maa...Dan Kiran adalah istriku!"


Mama Dilla tertawa pelan, setelah mendengar apa yang putra katakan barusan.


"Dan dia itu hanya istri kontrakmu. Bahkan Mama sangat kaget, kalau selama ini, kalian bahkan tidur terpisah. Kalau memang kamu tidak mau menikah dengan Adisty, tinggal bilang saja, Mama bisa mencarikan wanita lain untukmu. Tapi untuk saat ini, Mama mau hanya Della saja yang menjadi menantu Mama."


Rangga yang mendesahkan napasnya yang dalam, membuang sesak yang begitu menghimpit dadanya, setelah mendengar keinginan sang Bunda, yang mau dia menikah dengan Della.


"Mama benar-benar mau Della, yang menjadi anggota keluarga kita?" tanya Rangga santai.


"Iya. Karena hanya dia yang pantas buat kamu. Pendidikannya juga bagus, ya..Setidaknya setara dengan keluarga kita."


Lagi-lagi dia menghembuskan napasnya yang panjang, setelah mendengar alasan sang Bunda, yang begitu menyukai Della. Membungkam sedikit lama, akhirnya dia pun bersuara.


"Kalau Mama ingin Della menjadi bagian dari keluarga kita, kenapa Mama tidak meminta Pap saja, yang menikah dengannya. Kenapa harus aku?" ujar Rangga, dengan sengaja memelankan intonasi suaranya.


Bagai sebuah bom yang meledak, amarah Mama Dilla menyembur ke luar. Wanita lansia itu, sama sekali tidak menyangkah, kalau putranya itu, berani berkata seperti itu padanya.


"Apa kamu sudah gila Rangga?! Papa itu suami Mama, ayah kandungmu. Anak macam apa kamu, yang meminta agar Papanya menikah lagi!" Akibat emosinya yang teramat sangat pada sang putra, membuat suara Mama Dilla mengusai seluruh dalam ruang kerja. Dan tentu saja hal itu, bukan hal baru bagi seorang Rangga Wijaya, yang sudah sangat tahu, bagaimana sifat Ibunya.

__ADS_1


Rangga tersenyum. Pria berusia tiga puluh tahun itu, tetap menunjukkan sikap tenangnya, dalam menghadapi kemarahan sang Bunda, yang begitu membuncah.


"Begitu pun juga, denganku. Aku masih beristri, tapi Mama memaksa aku menikah dengan wanita lain."


"Tapi bukankah kalian hanya menikah kontrak? Jadi salahnya di mana? Kalau Mama meminta, kamu menikah dengan Adisty!"


"Ya, memang aku hanya menikah kontrak dengannya, dan bahkan kami tidak menempati satu kamar. Tapi setelah dengan kejadian ini, aku baru menyadari kalau aku jatuh cinta padanya."


"Apa?? Kamu mencintainya?!" tanya Mama Dilla, yang begitu sangat terkejut, dengan apa yang baru saja putranya katakan.


"Iya. Itulah kenyataanya. Aku jatuh cinta pada Kiran, hanya dia satu-satunya yang bisa menggeser posisi Rani, dalam hatiku."


Mama Dilla langsung bangkit dari duduknya. Terlihat jelas api amarah yang berkobar-kobar dalam diri wanita itu, yang nampak sangat tidak terima, dengan apa yang baru saja dia dengar dari bibir putranya.


"Ingat Rangga! Sampai kapan, pun?! Mama tidak akan menerima Kiran menjadi menantu Mama. Tidak akan pernah!" Dengan menekan kata-katanya, dan berlalu pergi begitu saja, setelah menjangkau tasnya, yang dia simpan di atas meja.


Dan ternyata sedari tadi perbincangan pasangan Ibu, dan anak itu didengar oleh Della, yang ternyata akan juga menemui Rangga. Terlihat jelas api amarah dalam diri wanita itu, yang begitu dendam.


"Sampai kapan pun, hanya aku saja yang akan memiliki kamu Rangga, tidak ada wanita mana pun, yang akan kubiarkan bersamamu.," gumamnya dan segera berlalu dari depan pintu ruangan itu.


****


Awan gelap kembali menghantam di atas sana, dengan udara dingin yang kembali terasa, saat malam kembali menyelimuti bumi. Melamun dalam kesendirian, dengan tatapan mata yang terus dia arahkan pada alat tes kehamilan, yang berada dalam genggamannya.


Lamunan dunia itu membela, saat terdengar suara berisik di depan pintu kamar, menuju balkon.


Tak kunjung mendapatkan jawaban, dengan berani Kiran melangkah menghampiri pintu kamarnya. Tiba-tiba saja, pintu kamar itu terbuka. Meyakini kalau itu adalah maling, Kiran yang bersembunyi dibalik pintu itu, langsung menghantamkan sapu kearah pria itu.


"Dasar maling...Aku akan membunumu...Aku akan membunuhmu..." ujar Kiran dengan terus memukulkan sapu itu, ke tubuh pria itu.


"Kiran...Hentikan, ini aku Rangga...Ini aku Rangga.." ujar Rangga, dengan berusaha melindungi kepalanya, dari pukulan sapu itu.


Mendengar suara yang sangat tidak asing untuknya, Kiran segera menghentikan kegiatannya. Dan betapa kagetnya dia, saat mendapati Rangga suaminya.


"Mas Rangga...Kamu?" gumamnya seolah tidak percaya, dengan apa yang dia lihat. "Bagaimana kamu bisa masuk ke sini Mas?"tanyanya kemudian.


"Bukankah kamu sudah mengetahui siapa aku? Jadi masuk menyusup masuk ke dalam rumah orang bukan hal baru lagi untukku!" ujarnyanya bangga.


Kiran membungkam, setelah ucapan Rangga barusan. Ntah apa yang terjadi? Saat ini, tiba-tiba saja dia merasa gugup, dan juga malu setelah dia tahu, kalau ternyata Rangga juga mencintainya.


"Kenapa kamu diam saja? Apakah kamu tidak menyukai kalau aku datang kemari?" tanya Rangga, dengan tatapan intensnya.


"Meemm..." Dan dia pun tersenyum, dengan wajahnya yang merona. "Aku hanya mau bilang, terima kasih karena Mas sudah mau melakukan hal ini, hanya agar dapat menemuiku."


Rangga mengukir senyum kecil di wajahnya. Dua kakinya melangkah mendekat pada Kiran, dan memberi tatapan dalam pada wanita itu, yang membuat degup jantung Kiran memacu kian cepat.

__ADS_1


"Aku merindukanmu Kiran...Sangat merindukanmu. Semalam saat menghubungi ponselmu sudah tidak aktif lagi, membuatku tidak dapat tidur, bahkan kerja pun membuatku tak fokus. Kini baru aku menyadari, kalau aku telah benar-benar jatuh cinta pada istriku, Kiran Larasati."


Mata kiran berkaca-kaca. Wanita itu begitu nampak begitu bahagia, saat lagi-lagi dia mendengar kalimat cinta dari bibir suaminya. "Aku juga sangat mencintaimu Mas...Sangat mencintaimu."


Rangga tersenyum, tubuh ramping itu langsung dia tarik, dan membenamkan dalam pelukannya.


"Aku janji, akan membawamua kembali ke rumahku. Kita akan kembali bersama, seperti dulu lagi."


Kiran tersenyum, dan dia begitu merasa bahagia. Pelukan itu kian dia eratkan, seolah tidak mau Rangga pergi darinya.


Tak wajahnya berpaling, dan menemukan sebuah benda pipih di atas meja kecil. Karena dari kejauhan, pandangannya tak terlihat jelas.


"Apa itu?" tanyanya, dengan wajah yang berpaling ke-arah alat tes kehamilan.


Kiran ikut memalingkan wajahnya, menuju arah pandang Rangga. Dan dia baru menyadari kalau alat tes kehamilan itu, dia letakkan di atas meja. Dengan cepat dia melepaskan pelukan itu, dan menjangkau benda pipih itu, dan menyembunyikan dibelakang tubuhnya, dan hal itu tentu saja memancing rasa penasaran Rangga.


"Apa itu Kiran?"tanyanya, dengan langkah kaki, yang mendekat pada sang istri.


"I...Ini bukan apa-apa?" jawabnya dengan sedikit gugup.


Rangga menyeringai, dengan tatapan kian tajam dan langkah kaki, yang dia ambil, semakin mendekat pada kiran, hingga tubuh wanita itu, terhimpit dengan meja kecil itu.


"Kamu tidak bisa mengelabuiku Kiran! Apa yang kamu sembunyikan dariku?!" tanya Rangga, dengan menekan kata-katanya.


Bibir yang akan bersuara, kembali gagal saat mual kembali menyerang. Ingin menahan muntah yang hampir ke luar, membuat Kiran dengan otomatis melepas benda pipih itu, dan berlari ke dalam kamar mandi.


Rasa penasaran dengan apa yang Kiran sembunyikan, membuat Rangga tak menyusul istrinya. Tatapan matanya beralih pada benda kecil itu, dan menjangkaunya.


Kaget, dan juga bahagia, bahkan sangat-sangat bahagia saat melihat dua garis, pada alat tes kehamilannya.


"Kiran sedang mengandung anakku," gumamnya, dengan terus menatap pada benda pipih itu. Karena terlalu bahagia, membuat tanpa dia sadari, ada butir bening, yang membasahi pipinya.


Tersenyum, dengan air mata yang dia usap cepat, dan melangkah menyusul Kiran di dalam kamar mandi. Senyuman yang menghiasi wajahnya memudar, saat mendapati sang istri terus saja memuntahkan isi perutnya. Mengambil langkah pelan, dan mengusap-ngusap tengkuk sang istri.


"Mas Rangga..." ujar Kiran, yang terkejut saat mendapati sang suami, sudah berada di dekatnya.


"Terima kasih.." jawabnya tersenyum.


"Kau bahagia Mas?"tanya Kiran, setelah membasuh mulutnya, dengan kuncuran air yang terus mengalir.


"Kenapa kau menanyakan hal itu, Kiran? Tentu saja aku sangat bahagia."


Kiran kembali meneteskan air matanya, dan berhambur dalam pelukan Rangga.


"Aku mengirah kau akan menolak kehadirannya, Mas..Karena dia ada, tanpa rencana kita berdua."

__ADS_1


"Aku tidak sejahat itu Kiran...Karena bagaimana pun, dia adalah anakku," sahut Rangga, dengan merangkul penuh tubuh istrinya.


__ADS_2