Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
BERTEMU DEVAN


__ADS_3

Mama Dilla, Mama Rati, dan Adisty- nampak tidak terima, jika Rangga akan menikahi Kiran. Kecuali kedua pria berusia senja- Papa Ifan, dan Papa Andi- yang walaupun kaget! Tapi mereka tetap bersikap tenang, dan tidak menampilkan amarahnya. Mama Dilla! Sepertinya memihak Adisty, hingga wanita paruh baya itu, menunjukkan keberatannya, saat putranya Rangga akan menikahi Kiran.


"Rangga. Kamu akan menikah dengan Adisty. Kenapa sekarang, harus kiran yang kau nikahi?"


"Maa...Bukankah Kiran juga, putri Tuan Andi? Jadi menurut Papa, sama saja." celah Papa Ifan.


"Tapi Paa...Mama lebih menyukai Adisty. Dan yang Mama tahu, hanya Adistylah yang menjadi menantu Mama."


"Mama minta, aku segera menikah. Dan sekarang, aku sudah memenuhi permintaanmu. Jadi! Suka, atau tidak suka! Aku dan Kiran, akan tetap menikah." Rangga mempertegas kata-katanya, saat sang Bunda menyampaikan keberatannya.


"Tapi Mas Rangga! Kau akan menikah denganku..." Dua mata Adisty nampak sudah berkaca-kaca. Impiannya untuk menjadi istri dari seorang Rangga Wijaya- harus kandas, hanya karena kehadiran saudara tirinya, hingga membuatnya nampak tidak puas- apalagi wanita itu adalah saudara tirinya sendiri. Wajahnya berpaling, dengan tatapan yang begitu membunuh pada gadis itu.


"Dan kau Kiran! Kau memang wanita, yang tidak memiliki hati! Apakah kamu sengaja melakukan hal ini, agar membalaskan semua rasa sakit hatimu padaku, karena Papa juga menyayangiku." Sorot mata Adisty begitu berapi-api, saat meluapkan amarahnya pada Kiran.


"Kak Adisty, salah. Aku tidak serendah itu-aku juga tidak tahu, kalau Kak Adisty akan dijodohkan dengan Mas Rangga." Kiran membela diri. Gadis itu segera menjawab cercaan saudara tirinya, yang sama sekali tidak benar.


"Suka, atau tidak suka- aku tidak bisa menikahimu, Adisty! Jadi, maafkan aku. Menggapai tangan Kiran, yang masih menampakkan wajah bingungnya, dengan semua yang terjadi.


"Ayo Kiran! Kita pergi dari sini," ajak Rangga dengan langsung menarik tangan gadis itu-hingga tubuh itu, ikut terseret oleh langkah kaki, pria itu.


"Rangga.....Rangga....." Mama Dilla, segera mengambil langkah panjangnya, menyusul sang putra yang sudah berlalu dari dalam rumah itu. Terus memanggil, tapi panggilan itu sama sekali tidak dihiraukan oleh, putra tunggalnya itu.


Besar harapan Adisty- agar Rangga tetap menikahinya, dan bukan menikahi saudara tirinya Kiran. Melihat Mama Dilla- hanya datang seorang diri, membuat gadis yang memiliki tatapan tajam itu, semakin dilanda rasa kecewa.


"Bagaimana, Nyonya Dilla?!" Mama Rati- segera melontarkan pertanyaan, saat Mama Dilla sudah kembali bergabung bersama mereka, di ruangan itu.


"Maaf, Mama Rati! Tapi Rangga sudah pergi."


Kecewa kian menyelimutinya, mendengar kalau Rangga sudah berlalu pergi, bersama saudara tirinya-Kiran. Air mata sudah tergenang, di dalam bola matanya, dan sedikit lagi- nyaris tumpah. Tak tahan dengan semua itu! Adisty memilih, untuk berlalu dari ruangan itu, tanpa memperdulikan keberadaan mereka di sana.


"Adisty! Adisty...." Mama Rati memanggil putrinya, yang sudah berlalu pergi dengan wajah yang sulit digambarkan. Dan saat dua kakinya- baru saja akan memulai langkahnya, Papa Andi seketika mencekal tangan istrinya.

__ADS_1


"Biarkan, dia sendiri dulu. Adisty butuh waktu, untuk menenangkan dirinya." pinta Papa Andi, yang membuat ayunan Kaki Mama Rati, seketika dia hentikan karena cekalan tangan suami.


"Maafkan kami, Tuan Andi! Nyonya Rati! Kami benar-benar tidak tahu, semuanya akan terjadi seperti ini."


****


Hening melanda dalam mobil. Saat mobil mewah itu, melewati jalan raya yang masih tersiram akan keramaian lalu lintas.


Kiran lebih memilih diam. Gadis berambut panjang itu, masih nampak bingung dengan semua yang baru saja terjadi. Bagaimana bisa? Dirinya sama sekali tidak mengetahui, kalau saudara tirinya Adisty! Akan dijodohkan, dengan pria yang begitu dia cintai. Dan ada satu hal-yang membuat dia tidak mengerti. Kenapa Rangga tiba-tiba saja mengajaknya menikah?! Bukankah pria itu, sama sekali tidak menyukainya? Bahkan sering berkata kasar-dan juga bersikap dingin padanya.


"Persiapkan dirimu. Dua hari lagi, kita akan menikah." Rangga berseru tiba-tiba. Bibir yang sedari tadi enggan bersuara, seketika berbicara mendengar ucapan Rangga yang membuatnya, semakin dilanda kebingungan.


"Mas...Apakah Mas gak salah? Mengajak aku menikah."


Rangga terkekeh. Jemarinya menekan sebuah tombol, mendendangkan musik melow yang semakin menenggelamkan dia dalam suasana.


"Bukannya kamu harus senang, karena sebentar lagi-aku akan menjadi suamimu. Selama ini kamu berharap, agar aku menerimamu setelah kematian Rani. Tapi sekarang..Jauh dari yang kamu duga. Aku akan menjadi suamimu."


"Aku memang menyukaimu. Bahkan aku begitu tergila-gila padamu. Tapi aku hanya bingung, kenapa tiba-tiba Mas Rangga mengajakku menikah?!"


"Baiklah, Mas! Terserah kau saja. Aku hanya masih bingung dengan ini semua. Karena, menurutku ini sangatlah mustahil."


Rangga melukis senyum kecilnya. Arah pandangannya kembali dia fokuskan ke depan, melajukan kendaraan roda empatnya.


"Kau sudah makan?!" Tanya Rangga tiba-tiba, yang kembali membela kesunyian setelah tadi, melewati perdebatan kecil mereka.


"Belum..." jawabnya pelan, saat sekilas mata itu menatap pada Rangga.


Kiran kembali menenggelamkan diri, dalam dunianya sendiri. Dan n'tah kenapa? Tiba-tiba saja, ada perasaan curiga dalam dirinya, pada pria itu.


"Kenapa tiba-tiba aku berpikir buruk tentang Mas Rangga? Karena tidak mungkin, tiba-tiba dia mau menikahiku." bathin Kiran, saat gelisah itu seketika menerjang dirinya.

__ADS_1


Mobil yang membawa keduanya, berputar arah. Dan berhenti di sebuah restorant mewah, yang menawarkan masakan Perancis.


"Kita mau ngapain di sini, Mas?!" tanya Kiran tiba-tiba, saat lajuan mobil itu tiba-tiba berhenti.


"Tentu saja, untuk makan Kiran! Tidak mungkinkan, kita tidur di restorant ini...!"


"Maaf. Aku hanya merasa tidak percaya saja, kalau Mas Rangga, mengajakku makan di restorant ini."


Belt yang memenjarakan tubuhnya, Kiran lepaskan. Arah pandang itu, tak sengaja berpaling pada arah depan. Memicingkan kedua matanya, dan senyuman seketika memejuhi wajah Kiran- saat mendapati keberadaan Dokter Devan.


"Dokter Devan..." gumamnya, yang seketika mengalihkan tatapan Rangga, pada arah pandang Kiran, saat dia nampak sibuk melepaskan sabuk pengaman itu.


"Mas! Ada Dokter Devan. Ayo turun," pinta Kiran dengan segera membuka pintu mobil, dan berlalu pergi.


"Dokter...Dokter Devan..." panggil Kiran, dengan sedikit teriakan.


Jemari yang baru saja menggapai gagang pintu, seketika dia lepaskan. Arah pandang itu berpaling pada asal suara. Senyum melukis di wajahnya, mendapati keberadaan gadis, yang merupakan mantan pasiennya.


"Kiran..." gumamnya pelan, dan mengambil langkah panjangnya, menghampiri pada Kiran yang terus melempar senyum padanya.


"Hallo Kiran! Lama tidak bertemu." Memberi senyum tipis di wajah, kala menyapa pada gadis muda itu.


"Tentu saja kita sudah jarang bertemu, Dokter! Karena aku sudah tidak sakit lagi, dan bukan pasienmu, lagi."


"Ini semua berkat dia, Kiran!"


Kiran tersenyum getir. Saat memory itu kembali diingatkan, akan sosok Rani- yang membuatnya dapat sembuh dari penyakit jantung.


"Kau baik-baik saja, Kiran!" tanya Devan tiba-tiba, mendapati Kiran yang nampak melamun.


Kiran tersenyum kikuk. Disibukkan dengan dunianya sendiri, membuatnya melupakan Devan yang tengah bersamanya.

__ADS_1


"A..Aku baik-baik saja." jawabnya terbata.


"Sedang apa kau di sini? Dan kau datang bersama siapa?"


__ADS_2