Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
BERTEMU DEVAN


__ADS_3

Cukup lama diam, akhirnya Dokter Devan bersuara.


"Rangga adalah seorang mantan, Mafia," ucap Devan tiba-tiba, yang membela suasana hening sedari tadi yang menyelimuti keduanya.


Kiran langsung memalingkan wajahnya, dengan raut wajah sudah berubah serius, setelah mendengar apa yang Devan katakan.


Hening, dan dia tidak menjawab apapun, membiarkan Dokter Devan melanjutkan ucapannya.


Mendesahkan napas itu, dan kemudian dia kembali bersuara.


"Rangga dulu adalah seorang mantan Mafia yang berbahaya. Membunuh, atau apapun bukan hal baru untuknya."


Kaget! Itulah, yang terlihat jelas di wajah Kiran.


"Membunuh?? Bahkan Mas Rangga, sampai membunuh?" Bola mata Kiran nyaris saja menyeruak, kala mendengar kenyataan pria yang dia cintai.


"Iya. Dan Rani, yang membuatnya sadar dan meningalkan dunia hitam itu."


"Dokter Rani?"


"Iya. Karena itulah, kenapa dia sangat mencintai Istrinya, walaupun pernikahan mereka yang sudah beberapa tahun dilalui tak memiliki keturunan, dan juga tak mendapat restu dari Ibunda, Rangga. Tapi Rangga sama sekali, tidak pernah berniat untuk menceraikan istrinya, ataupun berselingkuh dengan wanita lain. Bagi dia, hanya Rani pemilik hati itu."


Kiran mendesahkan napasnya yang panjang, menatap hamparan keindahan taman bunga yang berada di depannya, cukup lama dia memandang, dan kembali kedunia yang sebenarnya kala Devan bersuara.


"Tapi aku yakin, seiring berjalannya waktu, kau pasti dapat memiliki hatinya."


Kiran tersenyum miris. Kabut sudah nampak di bening mata itu, namun dia usap cepat.


"Tidak mungkin Dokter! Itu sangat mustahil, karena dia hanya mencintai Dokter Rani. Bahkan setelah aku mendengar apa yang kau katakan ini, aku semakin yakin kalau hanya Dokter Rani, wanita satu-satunya yang Mas Rangga cinta."


Devan membentuk senyuman tipis di wajah, menatap hangat pada Kiran yang hanya menunduk.


"Perlahan, kau akan bisa mencairkan hatinya. Karena tidak muda, meluluhkan hati seseorang yang hanya mencintai satu wanita, apalagi wanita yang dia cintai itu sudah pergi, dan wanita itu sangat berjasa dalam hidupnya."


"Ntalah Dokter, aku tidak tahu. Aku hanya menjalani saja, kapan Mas Rangga menceraikanku, maka aku akan pergi dari hidupnya."


"Dan apakah kau ingin tahu, bagaimana mereka bisa bertemu?" tanya Dokter Devan tiba-tiba, yang membuat sedih di wajah berganti dengan wajah antusias.


"Apakah kau mengetahuinya Dokter?!"


"Tentu saja. Karena aku adalah sahabat baik dari Rani. Rangga yang saat itu terluka parah, ditangani oleh Rani, dan disitulah kedekatan keduanya. Awalnya Rani sangat kaget, juga mau mengakhiri hubungannya dengan Rangga saat dia mengetahui, siapa kekasihnya itu. Tapi itu dia urungkan, mungkin karena cintanya yang begitu besar pada Rangga. Sangat sulit, dan banyak tantangan yang mereka lewati, apalagi Tante Dilla sama sekali tidak merestui Rani. Tapi diam-diam, hubungan keduanya tetap terjalin, dan merekapun menikah. Tapi menikah di luar negeri."


"Begitu ya Dok! Sangat romantis, aku saja tidak pernah di ajak jalan-jalan. Di ajak ke pesta, malah di tinggalin."


"Sabar saja, aku yakin dia pasti akan membalas cintamu nanti."


Kaget, dengan tatapan mata jauh lebih tajam kala mendengar apa yang Devan katakan.


"Dokter tahu, aku mencintainya?"


"Ya. Dian yang memberitahukan padaku."


"Memalukan!" ucap Kiran kesal.


"Apanya yang memalukan? Bukakankah mencintai itu, adalah hal yang wajar?"

__ADS_1


"Ntalah tapi mencintai Mas Rangga, adalah hal yang paling menderita. Dan semoga saja, aku bisa mencintai pria lain. agar dia tahu, siapa Kiran sebenarnya!"


"Dia akan mencintaimu, aku yakin itu."


"Aku tidak pernah bermimpi seperti itu, Dokter! Karena aku takut, nanti aku akan lebih sakit hati."


"Nona..." Seruan seseorang, berhasil mengalihkan perhatian Devan, dan juga Kiran.


"Ada apa Bibi Surti?" Dengan setengah teriakan.


"Tuan sudah selesai berobat, Nona! Sudah saatnya kita pulang."


"Papamu sedang sakit, Kiran?"


"Iya Dokter, keasyikan bicara dengamu aku sampai lupa. Dan a kalau begitu aku permisi dulu. Sampai ketemu Dok!"


"Sampai ketemu juga Kiran!" jawab Devan tersenyum, dengan terus menatap pada Kiran yang sudah berlalu.


Kiran langsung menjangkau pegangan kursi roda, dan mendorong Papa Andi yang berada di sana.


"Siapa dia Kiran?" tanya Papa Andi penasaran.


"Dia adalah Dokter yang sudah melakukan operasi tranpalasi jantung pada Kiran, Paa! Namanya Dokter Devan," jawab kiran, dengan terus mendorong kursi roda itu.


****


KEDIAMAN PAPA ANDI.


Usai membaringkan Papanya di atas tempat tidur, Kiran memutuskan untuk langsung pulang. Obat-obat yang berada berada dalam tasnya dia letakkan di atas meja kecil.


"Paa..Papa tidak usah memikirkan semua kebutuhan di dalam rumah ini. Aku sudah mengurusnya. Dan sedikit uang belanja, dan gaji Bibi Surti sudah aku berikan. Tapi maaf, aku tidak bisa memberi pada Mama Rati, dan juga Kak Adisty."


"Papa mengerti perasaanmu Nak! Dan maafkan Papa, yang sudah merepotkanmu."


"Tidak usah dipikirkan, Paa! Lagi pula, ini tanggung jawab aku sebagai seorang anak."


"Apakah Rangga yang memberimu uang, Kiran?"


"Kalau bukan suamiku, terus siapa lagi Paa?"


"Rangga adalah pria yang baik, seandainya kalau Papa mati, Papa tidak khawatir padamu lagi."


"Apa yang kau bicarakan Paa?"


"Suatu saat itu akan terjadi, Kiran! Dan Papa sangat ingin bertemu dengan menantu Papa."


Wajah keget menyelimuti seketika wajah Kiran, setelah mendengar apa yang baru saja sang Ayah katakan.


"Bertemu dengan Mas Rangga? Papa ingin bertemu dengan suamiku?" tanya Kiran memastikan.


"Kenapa wajahmu jadi kaget begitu Kiran?! Memang salah, kalau Papa ingin bertemu dengan menantu Papa?" tanya Papa Andi dengan memandang heran, pada anak tunggalnya.


Kiran melepas tawanya, berusaha menutupi gugup di wajah itu.


"Ha...Ha...Ha...Tentu saja tidak salah, Papa! Bukankah Mas Rangga adalah menantumu?!"

__ADS_1


****


Kiran mengayunkan langkahnya pelan, menyusuri satu persatu anak tangga, yang akan membawanya pada lantai bawa. Keinginan sang Ayah untuk bertemu dengan Rangga sangat mengusik pikirannya, mengingat bagaimana sebenarnya pernikahan dia, dan Rangga.


Membuyar lamunan itu, dengan suara Mama tirinya, dan juga Kakak tirinya-Adisty.


"Apakah Tuan putri, dan perebut calon suami orang ini sudah akan pulang?"


Kesal, dengan memberi tatapan tidak sukanya pada Ibu tiri, dan juga Kakak tiriny itu.


"Tentu saja aku sudah harus pulang Kak Adisty...Karena aku harus mempersiapkan tenagaku untuk melayani mantan calon suamimu, sebentar malam," ucap Kiran tersenyum, dengan memberi tatapan mencemoohnya.


"Kau!!" Adisty terlihat begitu sangat meradang, setelah mendengar ucapan Kiran.


"Sudalah Adisty! Kau lihat saja, sebentar lagi Rangga akan menceraikannya, saat pria itu bosan!"


Tidak memperdulikan ucapan pasangan Ibu, dan anak itu Kiran memilih untuk berlalu pergi.


****


COMPANY GROUP


Tatapan matanya begitu Rangga fokuskan pada layar laptopenya, dan sesekali tatapan mata pria itu dia arahkan pada sebuah lembaran kertas, yang berisi data-data penting di sana.


Suara pintu yang terbuka, mengalihkan tatapan pria itu seketika.


Doni segera mengambil langkah panjangnya-yang membawa pria itu mendekat pada Tuannya. Melabuhkan tubuh itu di salatu kursi tunggal, dengan memberi tatapannya pada Tuannya, yang tengah menatapnya dengan intens.


"Katakan informasi apa yang kau dapat hari ini. Apa-apa saja, yang Kiran lakukan. Apakah dia bertemu dengan siKurang ajar itu?!"


"Tidak Tuan! Nona Kiran saat dari rumah, dia langsung ke rumah orang tuanya."


"Terus apa-apa saja yang dia lakukan?"


"Ayah Nona Kiran sedang sakit, dan sudah beberapa bulan tidak bekerja. Dan saya rasa, Nona meminta uang pada Tuan, untuk membantu penyembuhan Papanya, dan juga mengatasi sementara kebutuhan di keluarganya."


Rangga membungkam. Apa yang baru saja Doni katakan, membuat pria itu kaget. Dia sama sekali Kiran rella, memberikan diri padanya, hanya untuk keluarganya.


"Jadi itu alasannya, kenapa dia sampai meminta uang padaku?" gumam Rangga dalam hati.


"Dan ada satu lagi, Tuan!" ucap Devan tiba-tiba.


Raut wajah serius, dengan memberi tatapan penasaran pada Sekretarisnya.


"Apa lagi?!" tanya Rangga, dengan ekspresi tidak sabaran.


"Nona Kiran, bertemu dengan Dokter Devan. Dan melihat dari gaya bicaranya, saya yakin kalau Dokter Devan menaruh hati pada Nona Kiran."


"Apakah kau yakin, Devan menaruh hati pada Kiran istriku?"


"Sepertinya begitu Tuan! Dan saya yakin, kedua pria yaitu Dokter Devan, dan Tuan Rian pasti sudah tidak sabar agar Nona Kiran segera menjadi janda," ucap Doni dengan mimik seriusnya, padahal dalam hati pria itu tengah menertawakan Tuannya, yang sudah terlihat emosi.


"Sudah cinta, masih saja menyangkal. Biar saja dia emosi sendiri," gumam Doni dalam hati.


tak

__ADS_1


__ADS_2