Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
MULAI LULUH


__ADS_3

Terbaring lemah di atas bed hospital, dan raut wajahnya yang masih sangat terlihat pucat. Di dalam kamar VIP Kiran nampak seorang diri. Tak ada Rangga, mau pun siapa yang menemaninya.


Hal yang terjadi hari ini, tentu saja sangat menguras pikirannya. Kembali memutar memory itu, saat mengingat kejadian-demi kejadian, di mana pria yang selama ini begitu baik pada-nya, ternyata adalah seseorang yang bersembuny dibalik tubuh tua itu, dan punya tujuan demi membalaskan dendamnya. Larut dalam apa yang dia pikirkan, hingga sedetik kemudian Kiran baru tersadar dengan kondisi janinnya. Bagaimana keadaan calon anaknya? Masih baik-baik saja-kah di di dalam sini? Atau dia sudah..


Hingga lamunan yang dipenuhi dengan kekhawatiran mengenai kandungannya, membela tak kalah terdengar suara pintu terbuka.


"Kamu sudah sadar?" tanya Devan, dengan langkah kaki yang dia ambil membawa tubuhnya, pada tepian ranjang.


Kekhawatirannya memikirkan janin yang berada di dalam kandungan-nya, membuat Kiran segera melontarkan pertanyaan pada Devan, sahabat suami-nya itu.


"Dokter, bagaimana keadaan bayi, dalam kandungan saya?" tanya Kiran, sembari memalingkan wajahnya pada Devan, yang berdiri ditepian ranjang.


Seyuman kecil mengukir di wajah Devan, mendengar pertanyaan yang diajukan Kiran padanya. Dan dia bisa memaklumi kekhawatiran wanita muda itu, mengingat kejadian tadi sungguh ekstrim. " Bayi dalam kandungan kamu, cukup kuat, dan dia baik-baik saja."


Jawaban yang terucap dari bibir Dokter Devan, bisa membuang kehawatiran dalam diri Kiran, mengenai janin yang dia kandung. Hening melanda keduanya, dan mereka masing-masing sibuk dengan pikirannya. Hingga ucapan Dokter Devan, berhasil membela suasana hening dalam ruangan itu.


"Kiran..."


"Iya Dokter," sahutnya.


"Aku minta maaf."


"Maaf?" Menautkan kedua alisnya, saat mendengar kata MAAf yang terucap dari bibir, Dokter muda itu.


"Iya. Aku minta maaf, atas kelakuan saudaraku. Gara-gara kebenciannya, membuat semuanya jadi seperti ini."


"Kau tidak perlu minta maaf Dokter, lagi pula semuanya sudah terjadi. Dan Dokter, di mana Rangga? Suamiku baik-baik saja-kan?" tanya Kiran, yang menunjukkan rasa khawatirnya, yang teramat sangat.

__ADS_1


"Rangga sedang di kantor Polisi."


Kaget menyelimuti wajah Kiran, setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Dokter muda itu.


"Suamiku di tahan?"


Devan terseyum, mendapati ekspresi panik, dan juga kaget dari Kiran. " Tidak. Dia di sana, hanya untuk memberikan keterangan." Dan beberapa detik kemudian, Devan kembali melanjutkan ucapannya. "Tadi aku sudah memberi kabar pada keluargamu, dan aku yakin sedikit lagi mereka pasti sudah datang. Gunakan kesempatan ini, untuk membuat orang tuamu, luluh pada Rangga.


Kiran menautkan kedua alisnya, mendengar ucapan Devan yang sangat sulit dia pahami. "Aku sudah tahu, persoalan yang kau hadapi dengan Rangga, dalam hubungan kalian. Dan kau bisa memanfaatkan situasi ini, kalau Rangga-lah yang sudah menyelamatkan dirimu dari para penculik, dengan begitu aku rasa Ayah-mu yakin, kalau memang Rangga benar-benar mencintamu. Kau sudah mengerti maksudku, kan? Dan maaf, mungkin kau harus menutupi kejadian sebenarnya, dari keluargamu."


Senyuman kecil Kiran ukir di wajah. Dan dia tahu, maksud dari Dokter Devan, agar Rangga diterima oleh Ayahnya.


"Terima kasih Dokter. Dan semoga saja, Papaku akan luluh saat mengetahui, kalau Mas Rangga yang sudah menyelematkanku."


Keduanya pun tersenyum, larut dalam suasana. Hingga tiba-tiba saja suara pintu terbuka, mengalihkan tatapan mereka berdua. Dan di sana nampak Adisty, dan juga Papa Andi yang masuk ke dalam ruangan, dengan raut wajah yang penuh rasa khawatir.


"Aku baik-baik saja Paa.." jawab Kiran dengan suara paraunya, dibingkai pula senyuman kecil, mellhat raut wajahkhawatir Ayahnya.


"Kami kira, kau sudah akan mendarat di Inggris. Tapi mendengar kau masuk rumah sakit, karena penculikan membuat aku, dan Papa sangat terkejut. Dan bagaimana keadaanmu bayimu?" tanya Adisty.


"Dia baik-baik saja. Syukurlah, kandungan Kiran cukup kuat," celah Dokter Devan, yang menjawab apa yang Adisty tanyakan.


Papa Andi langsung membalikkan tubuhnya, pada asal suara. Dan pria tua itu merasa malu sendri, sebab sedari tadi dia, dan putri tiri-nya Adisty, sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Dokter muda itu.


"Maaf Dokter, terlalu mengkhawatirkan putri saya, sampai saya tidak memperdulikan keberadaan anda di sini," ujar Papa Andi. Lelaki tua itu nampak tidak enak hati, saat sedari tadi berada di kamar, dia sama sekali tidak memperdulikan keberadaan, Dokter muda itu.


Dokter Devan tersenyum. Jika di sini yang sepatutnya minta maaf adalah dirinya. Sebab gara-gara perbuatan saudaranya, Kiran harus sampai dirawat di rumah sakit. "Tidak apa-apa Paman, saya bisa mengerti. Seandainya saja saya diposisi anda, pasti saya akan melakukan hal yang sama."

__ADS_1


"Papa Dokter Devan ini, temannya Rangga. Dan Dokter ini Papa saya, dan ini Kakak perempuan saya Adisty," ujar Kiran memperkenalkan, Ayah-nya dan juga Adist pada Dokter muda itu, setelah beberapa menit berada di dalam ruangan, mereka belum saling mengenal.


Setelah berjabat tangan dengan Papa Andi, Dokter Devan segera mengulurkan tangannya pada Adisty, yang disambut oleh wanita itu dengan senyuman.


"Adisty!"


"Devan!"


Papa Andi mengedarkan pandangannya, dan sedari tadi berada di dalam ruangan dia sama sekali tidak mendapati keberadaan Rangga, menantunya.


'Kiran..Di mana suamimu?" tanya Papa Andi tiba-tiba.


Kiran melemparkan tatapan matanya pada Dokter Devan, dan Devan yang sudah memahami maksud Kiran, segera menjawab apa yang Papa Andi, tanyakan.


"Rangga masih berada di kantor Polisi, Paman..Mungkin sedikit lagi, dia sudah kemari. Polisi masih meminta keterangannya, atas kasus penculikan tadi," jelas Devan panjang lebar.


Papa Andi mendesahkan napasnya yang dalam, membuang sesuatu yang mengganjal di sana. "Seandainya saja tidak ada Rangga, Papa tidak tahu apa yang akan terjadi padamu, Kiran!" ujar laki-laki tua itu. Dan dari raut wajah yang dia tunjukan, terlihat rasa penyesalan yang teramat sangat di sana.


Senyuman kecil Kiran ukir di wajahnya. Jemari itu menyentuh punggung tangan Papa Andi, berusaha membuang rasa bersalah Ayahnya, pada suaminya itu. "Tidak perlu bicara seperti itu Paa..Lagi pula, aku baik-baik saja," ujar Kiran menenangkan.


"Rangga sangat mencintaimu Kiran..Dan Papa bisa melihatnya, hari ini. Dia bahkan rella mengorbankan nyawanya, hanya untuk menolongmu," lirih Papa Andi, dan bisa terlihat jelas, raut wajah rasa bersalah itu.


Kiran melemparkan tatapannya sekilas pada Dokter Devan, yanh juga balik menatap padanya. Ada rasa bersalahnya pada Ayah kandungnya itu, mengingat hal dasar yang membuat dirinya diculik. Dan dia minta maaf, untuk itu. Tapi setidaknya dengan kejadian ini, Papanya bisa meluluhkan hatinya, untuk menerima Rangga.


"Maafkan aku Paa..Maafkan aku. Maafkan aku, yang sudah berbohong kejadian sebenarnya padamu. Tapi aku sangat mencintai Mas Rangga, dan tidak bisa berpisah darinya," gumam Kiran dalam hati.


Saat semua-nya larut dalam dunia mereka masing-masing, tiba-tiba saja mereka dibuat kaget, dengan suara pintu terbuka. Dan di sana nampak Rangga, dan Doni. Rangga yang terlihat begitu mengkhawatirkan istrinya, segera menghampiri.

__ADS_1


"Kiran...Kamu baik-baik saja?"


__ADS_2