Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
KECEWA PADA RANGGA


__ADS_3

Sepasang netra mata Rangga, seketika berpaling pada asal suara, begitu pria itu mendengar suara Kiran. Tatapan mata yang tadi-nya biasa, kini nampak jauh lebih intens, setelah pria itu mendapati Kiran, yang terlihat begitu menawan, dengan gaun yang dia beli.


Dia begitu terpukau, karena selama ini Rangga mengenal sosok Kiran, sebagai wanita yang selalu berpenampilan sederhana. Lekuk tubuhnya yang selama ini bersembunyi di balik pakaian longgarnya, kini sangat jelas terlihat, saat gaun berwarna marun itu membalut sempurna di tubuh gadis itu.


Terus memandang...Dan memandang, dengan tatapan tak teralihkan sedikit pun dari Kiran, yang tengah menuruni satu persatu anak tangga.


"Mau sampai kapan, kau menatapku terus, Mas? Bukankah tadi kau memintaku untuk cepat?" Kiran yang sudah berada dengan jarak yang dekat dengan Rangga, segera melontarkan pertanyaan pada pria itu, kala Rangga hanya diam membisu, walau Kiran sudah berada di depannya.


Terkesiap, tapi Rangga berusaha menyembunyikan rasa kagum itu, dan menampilkan wajah biasanya, seolah dia sama sekali tidak terpengaruh dengan cantiknya Kiran malam ini.


"Siapa yang menatapmu? Kau terlalu percaya diri!" hardik Rangga.


"Ya sudah ayo kita berangkat!"


"Ayo!"


****


Melaju dalam keheningan, dan tidak ada yang bicara antara keduanya, saat kendaraan roda empat itu membela jalan, dengan keramian lalu lintas yang masih padat, di malam hari. Duduk berjauhan, dengan menyisahkan kursi tengah sebagai pembatas antara Pasangan Suami-Istri itu. Masing-masing sama-sama bungkam, dan tenggelam dalam apa yang mereka tengah pikirkan.


"Tuan..." Suara Doni yang menyeruhkan nama Tuan, mengalihkan tatapan mata Rangga seketika, yang sedang menikmati keindahan kota Jakarta lewat kaca jendela mobil.


"Ada apa?"


"Apakah besok Tuan akan mengunjungi makam, Nona Rani?"


Iris hitam itu, namopak jauh lebih intens, menatap pada Doni yang membingkaikan senyuman kecil di wajah, saat pria itu menatap balik Tuann lewat kaca spion dalam mobil.


"Mungkin anda sudah lupa, Tuan! Kalau besok adalah hari ulang tahun Nona Rani."


Rangga mendesahkan napasnya panjang, saat pria itu baru menyadari, kalau besok adalah hari ulang tahun mendiang Istrinya, setelah dia diingatkan oleh Doni. Senyuman kecil menyapa di wajah tampannya, kala rindu pada sang Istri, tiba-tiba saja hadir.


"Persiapkan semuanya, besok aku pasti akan bersiarah ke makamnya."


"Baik Tuan,"


Hanya menjadi pendengar setia, tapi Kiran sama sekali tidak menanggapi topik perbincangan kedua pria itu.


Kaget! Tentu saja. Karena Kiran pun baru mengetahui, kalau besok adalah hari ulang tahun, dari wanita yang sudah mendonorkan jantung untuknya.


"Jadi besok adalah ulang tahun, Dokter Rani? Bagaimana pun besok aku harus pergi ke makamnya, karena aku sudah berhutang nyawa pada Dokter Rani. Tapi aku akan mencari waktu yang tepat, agar tidak berpapasan dengan pria menyebalkan ini!" gumam Kiran dalam hati.


Arah pandang yang menatap lurus ke depan, kini berpindah pada Kiran, yang sedari tadi setia membungkam mulutnya.


"Apakah ada yang melarangmu untuk berbicara? Jadi sedari tadi kau diam saja."

__ADS_1


"Aku hanya sedang tidak ingin, bicara saja. Memang apa yang harus aku bicarakan denganmu?"


"Apakah kau tidak menyadari, kalau berkat jantung istriku kau masih hidup sampai saat ini, Kiran?"


Kiran mendesahkan napasnya seketika. Kesal seketika dia rasakan pada Rangga, kala lagi-lagi pria itu berhasil mengusik ketenangan diri-nya, dengan pertanyaan yang kembali mengungkit masalah jantung Dokter Rani.


"Sampai kapan-pun, aku tidak akan pernah lupa Mas..Aku tidak akan pernah lupa, kalau berkat jantung dari Nona Rani, aku masih bisa hidup sampai saat ini."


"Baguslah, kalau memang kau tahu." Menarik sudut bibir itu, dan kembali melemparkan tatapan matanya ke depan, dengan hening yang kembali melanda dalam mobil, setelah perbincangan singkat mereka tadi.


****


Laju-nya kendaraan roda empat-yang semula melaju dengan cepat, perlahan memelankan jalan-nya, setelah kendaraan roda empat itu, sudah memasuki area sebuah rumah mewah, yang merupakan kediamana dari seorang pengusaha kaya, berhama Hardi. Gebang besar yang sengaja ditutup rapat guna menyangkut keamanan, melebar seketika, saat Doni menyembunyikan bel mobil itu, beberapa kali.


Doni sudah memarkirkan kendaraan roda empat di sebuah area parkir, yang sengaja disiapkan oleh pemilik pesta, untuk para tamu undangan.


Sabuk pengaman yang melingkar di pinggangnya-Kiran lepaskan, bersiap untuk ke luar dari dalam mobil. Baru saja wanita itu, akan memijakkan dua kakinya pada halaman depan, tiba-tiba saja Rangga bersuara, yang membuat dia menjeda seketika.


"Ingat! Yang hadir di pesta ini, berasal dari kalangan Pejabat, Artis, dan juga Pengusaha. Jadi jaga sikapmu!" seru Rangga tegas.


Raut wajah Kiran yang tadi-nya terselimuti wajah bahagia, memudar ntah ke mana, ketika mendengar kata-kata Rangga, yang membuat rasa kesal menyelimutinya tiba-tiba.


"Aku memang bukan dari kalangan yang sama denganmu, Mas! Tapi aku tahu, bagaimana cara membawa diri, dan tentunya tidak akan membuatmu malu, jadi kau tidak perlu khawatir!" jawab Kiran, berlalu dari dalam mobil.


"Bisakah kau tidak memandang rumah ini, seperti itu?! Karena hanya akan, membuatku malu saja!" seru Rangga pelan, tapi dengan nada suara yang terdengar kesal.


Sedikit kaget, tapi berusaha tetap tenang. Dan lagi-lagi Kiran, dibuat kesal dengan sikap dari Rangga, yang selalu merendahkan dirinya. Hanya diam, tanpa melakukan pembelaan diri.


"Ayo kita masuk!" pinta Rangga. Tapi pria itu mengarahkan tangannya, agar Kiran mengandengnya.


"Untuk apa Mas?"


"Yang benar saja, kau tidak tahu apa ini?!"


"Memangnya, aku harus menggandengmu?!"


"Ya. Karena aku tidak mau, orang berbicara buruk tentangku!"


Kesal, dan lagi-lagi Kiran hanya bisa menyanggupi keinginan Rangga. Dan tanpa bertanya lagi, wanita itu langsung menggandeng Rangga.


"Senyum!" titah Rangga lagi, saat mendapati wajah Kiran yang sedikit tegang, dan tentu saja akibat kesal pada pria itu.


"Senyum, bagaiamana Mas? Memang aku gila apa?! Senyum-senyum sendiri!"


"Sudahlah! Terserah kamu saja. Tapi jangan terlalu membuat wajahmu tegang seperti itu, nanti orang mengirah kalau aku selalu bersikap buruk padamu."

__ADS_1


"Bukankah itu benar?! Kalau kamu memang selalu bersikap seenaknya padaku!"


"Sudahlah! Ayo kita masuk!" jawab Rangga, dengan melangkahkan kakinya masuk ke dalam area pesta, dengan Kiran yang setia berada disampingnya.


Suasana meriah menyambut, kala pasangan Suami-Istri yang terikat kontrak pernikahan itu memasuki area pesta, yang menyunsung GARDEN PARTY.


Kiran mengedarkan sepasang pupil matanya kesegalah arah, kala lagi-lagi wanita itu, dia buat terpana dengan kemewahan dekorasi pesta, yang begitu indah.


Bunga-bunga i menghiasi di mana-mana, dengan ditemani pancaran cahaya lampu hias, yang memancarkan cahaya indahnya disegalah penjuru arah.


Walaupun tatapan mata itu sibuk berputar ke mana-mana, tapi gandengan tangan itu, tak Kiran lepaskan sama sekali dari Rangga.


Tapi tiba-tiba saja-tautan tangan keduanya terlepas, setelah kedatangan seorang wanita, yang memisahkan tangan mereka.


"Rangga..." seru wanita muda itu dengan wajah bahagia, tanpa memperdulikan adanya Kiran, yang tengah menatapnya dengan kesal, akibat sikapnya.


"Dila!" Wajah kaget, begitu Rangga mendapati keberadaan sahabatnya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Rangga kemudian.


"Tentu saja, karena aku diundang. Apakah kamu pikir, hanya bisa kamu saja yang diundang oleh pengusaha kaya, sekelas Tuan Hardi?!" Dilla menampilkan mimik kesalnya, saat melontarkan pertanyaannya pada sahabatnya itu.


Tersenyum, sebelum berbicara. "Maafkan aku."


"Sudah lama kita tidak bertemu Rangga, kamu terlihat makin tampan saja."


"Terima kasih, kau memang pintar sekali memuji Dilla!"


"Oh, Iya. Ayo kita ke sana! Di sana, ada teman-teman yang lain juga."


"Benarkah?" tanya Rangga memastikan.


"Makanya, ayo kita temui mereka!" jawab Dilla, dengan langsung menggandeng tangan Rangga, dan berlalu begitu saja, tanpa memperdulikan adanya Kiran di sana.


Rangga benar-benar melupakan kehadiran Kiran, Istri-nya. Bahkan pria itu sudah nampak tak perduli lagi, dan lebih menikmati waktu bersama teman-temannya. Berada di tempat seperti itu, tentu saja sangat asing untuk Kiran. Memalingkan wajahnya kekiri, dan kanan, guna mencari keberadaan Doni, tapi keberadaan Sekretaris itu tak dia dapati.


Sepasang pupil mata Kiran, sudah nampak berkaca-kaca, dengan kelakuan Rangga yang menurutnya, sangat keterlaluan. Apalagi melihat tawa lepas pria itu bersama teman-teman-nya, dan Dilla yang selalu setia menggandengnya, membuat hati Kiran semakin sakit.


"Aku tahu, kalau kamu tidak mencintaiku. Aku juga tidak berharap lagi, kalau cinta ini akan kamu balas. Tapi setidaknya jangan lakukan ini padaku!' gumam Kiran, dengan menerarawangkan tatapan matanya, pada Rangga yang tengah tersenyum.


Suasana hati yang buruk, membuat dia tidak fokus dengan situasi, hingga tanpa sengaja Kiran menabrak seorang Pelayan, hingga nampan yang berada di dalam genggaman Pelayan itu ambruk ke bawa.


"BRAAK!!"


"Maafkan saya Mba...Maafkan saya..." seru Kiran dengan langsung membantu Pelayan wanita itu, mengangkat serpihan kaca-kaca yang bercecer.

__ADS_1


__ADS_2