Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
TETAP MENOLAK


__ADS_3

Gelap yang menyelimuti, kini tak terlihat lagi, saat mentari kembali memberi senyum indahnya, dengan hadirnya hari yang baru.


Mentari sudah bersinar tinggi, namun darah cantik berusia dua puluh enam tahun itu, masih setia memejamkan dua matanya, seolah tak rella untuk menyudahi mimpi indah yang menguasainya. Matanya mengerjap, kala cahaya matahari memberikan sedikit sinarnya, pada wajah yan masih berbaring di atas bantal. Berusaha untuk tetap tidur, namun dua mata itu tak mampu menghalau cahaya yang terus memberi sinarnya.


Detik, demi detik kemudian, akhirnya dua mata itu terbuka pelan.


Memalingkan wajahnya kesamping, dan mendapati sisi sebelahnya yang sudah kosong. Namun raut wajah Kiran berubah kaget, saat mendapati adanya dua buah benda, yang tak lain adalah ponsel, dan juga Hp, dengan bergambar apel yang hanya sebagian.


Saat satu tangannya akan menjangkau dua benda itu, Kiran menemukan secari kertas, yang berada disamping ponsel itu. Membuka lipatannya, dan menemukan tulisan tangan Rangga.


"Jangan sampai Papamu tahu, tentang ponsel ini-aku sengaja memberikan buatmu, agar komunikasi kita berdua tetap berjalan. Dan pakailah uangnya itu, nomor pinnya tanggal, bulan, dan tahun pernikahan kita.


Tubuh yang masih berbaring, Kiran tarik dan bersandar pada kepala ranjang.


Layar ponsel yang masih terlihap gelap-Kiran usap, dan menemukan fotonya, dan Rangga di sana, yang digunakan pria itu, sebagai walpaper. Mencoba untuk mengingat kembali, kapan dia tidur dalam pelukan Rangga, dan pria itu mengambil gambar mereka berdua. Namun saat menelusuri latar dalam gambar itu, Kiran menemukan suasana yang sangat tidak asing untuknya. Dan kini dia baru menyadari kalau Rangga mengambil gambar itu, saat diatengah terlelap dalam tidurnya.


Namun tiba-tiba Kiran mendesahkan napasnya yang berat, saat teringat akan kembali nasip pernikahan dia, dan Rangga yang ditentang keras oleh sang Ayah.


Menerawangkan jauh tatapan matanya begitu jauh, hanyut dalam apa yang tengah dia pikirkan. Hingga tiba-tiba suara ketukan yang menyapa pada pintu kamarnya, membela lamunan wanita itu.


"Siapa?" tanya Kiran dengan setengah teriakan, dan tentu saja dengan segera menyembunyikan dua benda yang diberikan oleh Rangga itu.


"Ini saya Nona..Bibi Surti."


Memastikan dua benda itu sudah dalam posisi yang tak terlihat, dua kaki Kiran segera menghampiri pada pintu kamarnya.


"Ada apa Bibi?" tanya Kiran, saat pintu kamar sudah dibuka olehnya.


"Nona..Ayo ke luar! Di depan ada Tuan Rangga, suami Nona."


"Apaa?? Mas Rangga ada di depan?" tanya Kiran. Raut wajahnya nampak menunjukkan rasa terkejutnya yang teramat sangat, setelah mendengar apa yang wanita lansia itu katakan.


"Iya Nona, dan baru saja datang."

__ADS_1


"Iya Bibi! Kalau begitu aku cuci muka, dan sikat gigi dulu, setelah itu aku turun ke bawa," ujar Kiran, dengan segera berlalu cepat ke dalam kamar mandi.


****


Jangan ditanya lagi, bagaimana raut wajah Papa Andi saat ini. Dingin, dengan tatapannya yang begitu tajam, yang dia berikan pada pria di depannya. Terlihat jelas, kalau pria lansia itu masih sangat membenci Rangga, dengan apa yang sudah di lakukan pria itu, pada putrinya.


Tak bersuara. Keduanya sama-sama diam, seolah mencari kata-kata yang tepat, yang akan mereka ucapkan. Dan menghadapi sikap sang Ayah mertua seperti ini, membuat Rangga yang biasanya berani menghadapi sesuatu, jadi sedikit menciut, sebab tidak menyangkah Ayah kandung istrinya itu, akan memperlihatkan kembali sikapnya yang datar. .


"Katakan. Untuk apa kau kemari?!" Nada datar, saat pria lansia itu melontarkan pertanyaan, setelah sedikit lama, keduanya sama-sama diam.


Mendesahkan napasnya tegas, sembari kembali melemparkan tatapan matanya, pada Papa Andi.


"Aku hanya mau mengatakan. Kalau sampai kapan pun, aku tidak akan mau berpisah dengan Kiran!"


Papa Andi tertawa rendah, dan kali ini terselip amarah yang kian mendalam pada seorang Rangga Wijaya.


"Apakah kamu tidak sadar dengan apa yang kamu katakan? Kamu bilang tidak mau berpisah dengan anak saya? Bukankah kamu, dan dia hanya menikah kontrak? Bahkan selama beberapa bulan pernikahan kalian, kamu dan anak saya tidur di yang kamar terpisah. Dan saat saya ke rumahmu, saya mendapati banyak foto mendiang istri kamu, yang terpajang di sana. Kamu menikahi anak saya, hanya untuk menghindari perjodohan dengan Adisty, Kakaknya. Toh bukannya cepat atau lambat kalian berdua akan berpisah. Jadi apakah kamu tidak salah bicara?"


Sesak menghantam dada Rangga, setelah mendengar kalimat panjang dari Papa Andi.


Mama Rati, dan Adisty yang sedari tadi menguping pembicaraan itu sangat terkejut, setelah mendengar apa yang baru saja Rangga katakan, kalau KIRAN SEDANG MENGANDUNG.


"Wih Maa..Kiran ini murahan banget! Hanya menikah kontrak, tapi dia memberikan dirinya pada pria itu!" cecar Adisty, dengan raut wajah kesalnya.


"Anak itu, hanya bikin malu keluarga kita saja," balas Mama Rati, yang tak kalah kesalnya.


Terkejut, bahkan sangat-sangat terkejut. Dada Papa Andi terasa nyeri, namun pria itu berusaha menahannya. Dia sama sekali tidak menyangkah, kalau Kiran putrinya akan memberikan dirinya pada pria, yang sudah memberikan dia pernikahan kontrak.


Cukup lama Papa Andi membungkam, berusaha menormalkan dirinya, dan kemudian kembali bersuara.


"Kamu sudah mempermainkan harga diri anak saya, selama ini. Dan saya tidak menyangkah, kalau putri saya akan mengandung anak kamu. Dan kamu pikir saya akan memberikan putri saya, setelah saya tahu dia mengandung? Jawabannya, tidak!" jawabnya tegas.


"Saya sama sekali tidak akan memberikan Kiran pada kamu! Sekali pun,dia sedang mengandung darah dagingmu. Walaupun saya tidak sekaya keluargamu, tapi saya masih sanggup memberi makan anak, dan cucu saya!" lanjut Papa Andi dengan nada tegas.

__ADS_1


Kiran yang sedari tadi hanya menguping pembicaraan Rangga, dan Papanya, seketika meneteskan air matanya, setelah mendengar bagaimana kekehnya sang Ayah, yang tetap tidak mau menerima Rangga, sekalipun dia sedang mengandung.


"Papa..." ujar Kiran, yang mengejutkan Rangga, dan juga Papa Andi dengan kedatangan wanita berusia dua puluh enam tahun itu.


"Kiran..." Papa Andi.


"kiran..." Rangga.


Kiran melangkahkan kakinya mendekat pada Papa Andi, namun baru saja tubuh itu kian mendekat, Papa Andi sudah bersuara dengan keras.


"Masuk kamu Kiran!" pintanya, dengan tegas.


Kiran mulai terisak di sana. Calon Ibu itu, tidak menyangkah, kisah cintanya dan Rangga akan jadi serumit ini. Mengatupkan dua tangannya, dengan memberi tatapan memohonnya pada sang Ayah.


"Paa..Aku mohon, biarkan aku kembali bersama Mas Rangga, Paa.. Biarkan aku kembali bersama Mas Rangga. Aku mencintainya Paa...Aku mencintainya..." lirih Kiran dengan air mata, yang terus menetes.


"Papa bilang masuk! Sejak kapan kamu jadi pembangkang seperti ini?!"


"Tapi Paa...." Suara Kiran terdengar parau, dan terlihat dia mulai putus asa dengan sikap sang Ayah.


"Papa bilang masuk!" tegas Papa Andi.


"Kiran...Masuklah..." pinta Rangga dengan nada suara, yang pelan.


"Tapi Mas..."


"Masuklah, dan percayalah padaku."


Kiran hanya mengusap air matanya. Menatap nanar pada sang Suami, 'yang tersenyum lembut padanya. Sedikit lama dia memijak di sana, akhirnya Kiran berlalu pergi bersama Bibi Surti, namun wanita itu terus menangis.


"Saya tetap pada pendirian saya, sampai kapan pun saya tidak akan menerima kamu, menjadi menantu saya. Apa yang kamu lakukan Kiran, benar-benar membuat saya terluka."


Rangga segera bangkit dari duduknya, dengan melemparkan tatapan matanya pada Papa Andi, yang juga sudah bangun dari duduknya.

__ADS_1


"Sekuat apa pun Papa berusaha memisahkan aku, dan Kiran tetap saja, aku akan membawa Kiran kembali dalam pelukanku!" Dan tatapannya beralih pada Doni, yang berada disebelahnya. "Ayo Doni! Kiata pergi dari sini!" ajak Rangga, dengan langsung berlalu dari dalam rumah itu.


__ADS_2