Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
MENGHIBUR ADISTY


__ADS_3

Awan biru semakin menghitamkan wajahnya, kala waktu semakin bergerak menuju penghujung tengah malam. Suasana dukka sangat begitu terasa dikediaman Papa Andi, dengan kenyusian sangat begitu terasa, setelah meningalnya Mama Rati, akibat kecelakaan siang tadi. Tak terdengar adanya aktifitas di sana, semuanya nampak larut dalam dunia-nya masing-masing.


Begitu pun, dengan apa yang dilakukan Kiran. Wanita muda itu, tengah bersantai dalam kamar-nya, sembari memainkan gawainya yang sedari tadi terus mendendangkan, nada pendek. Rupanya Kiran sedang berkirim pesan dengan Rangga, hingga walau-pun duka tengah menyelimuti, tapi wanita berusia dua puluh enam tahun itu, masih nampak bahagia.


"Jadi jam berapa Mas datang ke rumah? Baby-nya, kangen.." Kiran senyum-senyum sendiri, saat memakai alasan calon bayinya, agar sang suami, dapat menemui-nya malam ini.


Sedetik kemudian, nada pendek kembali menyapa gawainya-yang tadi kembali terlihat gelap layarnya.


"Sedikit lagi Sayang...Dan kamu ingin dibawakan apa?"


Hati Kiran serasa berbunga-bunga, saat Rangga menuliskan kata SAYANG, dalam pesan singkatnya yang terkirim diponselnya. Dia begitu bahagia, dan tersenyum memeluk erat benda pipih itu, seolah itu adalah Rangga suaminya. "Aku sangat mencintaimu Mas...Sangat mencintaimu. Semuanya serasa mimpi saat ini, karena Mas Rangga membalas cintaku," gumamnya tersenyum, dan Kiran kembali memainkan jarinya membalas pesan dari Rangga.


"Baby-nya, tidak menginginkan apa-apa, Mas...Dia hanya ingin dipeluk kamu saja," balasnya, dengan langsung mengklik tanda anak panah.


Namun sedetik kemudian, Kiran bergik ngeri merasa dirinya begitu sangalah mesum-pada suami tampan-nya itu.


"Kenapa aku jadi seperti ini?" gumamnya, namun pikiran itu teralihkan, saat terdengar suara ketukan pintu.


"Siapa..." tanya Kiran, dengan setengah teriakan.


"Ini saya, Nona..."


Mendengar suara Bibi Surti, Kiran segera beranjak dari atas tempat tidur.


"Ada apa, Bibi?" tanya calon Ibu muda itu, saat daun pintu sudah dia lebarkan.


"Nona... Makan malam sudah siap!"


" Apakah Papa, dan Kak Disty juga sudah berada di bawa?"


Bibir Surti menggeleng pelan, sebagai perwakilan jawabannya, atas pertanyaan dari Kiran.


"Terus di mana mereka, Bibi?" tanya-nya kemudian.


"Tuan sedari tadi berada di kamar-nya, begitu pun juga dengan Nona Disty. Tuan Besar, sedari tadi nampak sangat murung, dan dia sepertinya masih sangat terpukul dengan apa yang terjadi, dan juga saat mengetahui kalau selama ini, Nyonya Rati sudah...: Dengan tak dapat menyelesaikan, ucapannya.


Kiran mendesahkan napasnya yang dalam, menyesap sesak yang seketika dia rasakan.

__ADS_1


"Bibi...Sebaiknya makan malamnya, disimpan saja dulu. Aku akan menemui Papa, dan juga Kak Adisty."


"Baik Nona..." jawab wanita lansia itu, dengan langsung melangkahkan kakinya, menjauh dari kamar Kiran.


Setelah berlalunya Bibi Surty dari kamarnya, Kiran memutuskan untuk menyambangi kamar Kakaknya-Adisty, setelah merapatkan daun pintu kamarnya.


Saat dua kakinya sudah memijak di depan kamar Kakak tirinya itu, calon Ibu itu sedikit ragu saat akan melayangkan ketukan pada pintu kamar Kakak-nya, mengingat bagaimana hubungan keduanya selama ini. Cukup lama Kiran berdiam, dan berperang dengan kata hatinya, akhirnya wanita itu memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar, Kakaknya.


"Siapa..." teriak Adisty, dari dalam kamarnya.


"Ini, aku Kiran, Kak!" jawabnya dengan nada sedikit ragu.


"Untuk apa kau datang ke kamarku?!" Dengan nada yang terdengar kesal, saat menyambut ucapan adiktirinya Kiran.


"Aku ingin bicara denganmu," jawabnya pelan.


Tak ada suara selanjutnya, usai jawaban yang terucap dari bibir Kiran, menyahuti ucapan Kakaknya. Beberapa menit dirinya berdiri di depan pintu, akhirnya wanita itu memutukan untuk kembali ke kamarnya, setelah yakin kalau Kakak tirinya itu, tidak mau membukakan pintu kamar untuknya. Tubuh itu Kiran balikkan-bermaksud, untuk melangkah meninggalkan kamar Kakaknya. Namun saat Kiran baru mengambil beberapa langkah, terdengar kembali suara Adisty dari dalam kamar, yang memintanya untuk masuk.


"Masuklah... Pintunya, tidak dikunci," pintanya dengan setengah teriakan.


Saat daun pintu sudah terbuka lebar, wanita berambut panjang itu disambut dengan suasana yang temaram, temaram dari dalam kamar, akibat cahaya yang mencuri masuk, usai daun pintu terbuka. Tatapan matanya beralih pada sosok Adisty yang duduk ditepian ranjang, dan sesekali dia mendengar isak kecil.


"Apakah kau datang, hanya untuk menertawakanku nasip-ku? Atau mau mengusirku, dari rumah ini!" sarkas Adisty, dan itu membuat Kiran sedikt kaget sebab tidak menyangkah kalau Kakak tirinya itu, akan berpikir begitu buruk tentangnya.


Tangannya melempar kesamping, menjangkau sesuatu di dinding, yang menempel dekat dengan kerangka pintu. Hingga suasan gelap yang tadi menyeluruh di dalam kamar itu, seketika berganti dengan penuhnya cahaya.


"Apakah aku terlihat buruk di matamu? Sampai kau berpikir kalau aku akan melakukan hal itu, padamu?"


Adisty tersenyum, senyuman yang memaksa, meratapi dirinya yang terlihat sangat menyedihkan.


"Sekarang Mamaku sudah meninggal, dan aku yakin kalau kau pasti sudah mengetahui tentang Mama-ku."


"Aku sudah tahu, dan aku tidak memperdulikannya!"


Air mata yang sedari tadi mencoba untuk dia bendung, kembali tumpah, menumpakan semua kesedihan yang masih yang masih tersisa di hatinya. Adisty kembali terisak, memikirkan apa yang tengah terjadi-apa lagi dia melihat dengan jelas, kalau Ayah tirinya, seperti menyimpan kekecewaan pada Ibunya, yang ternyata selama ini, sudah berselingkuh darinya. Dan hal itu-lah yang membuat-nya takut, jika Papa Andi akan mengusirnya, dari rumah ini.


"Aku takut Kiran...Aku takut..." lirihnya, dengan air mata yang terus saja tumpah.

__ADS_1


"Apa yang kau takutkan?" tanya Kiran, dengan mengambil beberapa langkah, mendekat pada Adisty.


"Aku takut Papa akan mengusirku, setelah dia tahu kalau selama ini ternyata Mama sudah mengkhianatinya. Apalagi aku bukan siapa-siapanya, dan tidak memiliki hubungan darah dengan kalian. Aku tidak mau hidup bersama Papa kandung, Kiran...Aku tidak mau..." lirihnya, dengan terus menumpakan air matanya.


Senyuman kecil, terukir di wajah Kiran-senyum yang penuh dengan kelembutan, dan kasing sayang.


Dua kakinya mengambil beberapa langkah, yang membawa tubuhnya pada arah ranjang, dan melabuhkan tubuhnya di tepian.


"Siapa bilang, kau boleh pergi! Kau adalah Kakakku, dan sampai kapanpun, kau akan tinggal bersama kami."


Wajah yang menunduk dalam tangisan, segera Adisty angkat, dan memberi tatapan lekat-nya pada Kiran.


"Apakah kau serius, Kiran?"


"Tentu saja aku, serius!" jawabnya, dengan senyuman hangat, menyambut ucapan Adisty.


Begitu terharu dengan ucapan adiktirinya, Adisty segera berhambur ke dalam pelukan Kiran.


"Terima kasih Kiran...Terima kasih...Dan maafkan aku, yang selama ini sudah selalu bersikap se-enaknya padamu," ujarnya, sembari mengusap air mata, yang kembali menetes, saat tahu Kiran tidak membenci-nya.


Kiran mengurai pelukan mereka. Senyuman hangat kembali dia lukiskan di wajah, sembari ibu jarinya menyapu cairan bening yang membasahi kedua pipi Adisty.


"Sudalah jangan menangis. Kau akan sangat jelek, jika terus mengeluarkan air mata!" canda Kiran dengan menampilkan sedikit mimik cemberutnya, hingga membuat wajah Adisty yang sendu, sedikit terukir senyum.


"Nah..Gitu dong senyum! Kan cantik!"


"Apa-an sih kamu! Aku lagi sedih juga!"


Kiran langsung beranjak dari duduknya, sembari satu tangannya sudah memegang satu tangan Adisty.


"Mau ke mana?" tanya Adisty, sembari mendongakkan wajahnya, menatap Kiran yang juga balik menatap padanya.


"Aku lapar..." jawab Kiran, dengan nada yang terdengar manja.


"Apakah Baby-nya di dalam sini, sudah memberontak?" Dengan mengelus-ngelus perut rata Kiran, sembari tersenyum.


"Sudah! Jadi, ayo kita makan..." Kiran sediki merajuk pada Kakak tirinya, sembari menarik kecil tangan wanita itu, yang membuat Adisty yang sangat tidak berselah untuk menyentuh makanan, mau tidak mau harus bangkit dari duduknya.

__ADS_1


__ADS_2