Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
TIDAK MUDAH PERCAYA


__ADS_3

Langkah mereka yang semakin mendekat, Kiran dibuat kaget saat mendapati wajah, yang tentu saja sangat tidak asing untuknya. Sosok laki-laki tua-yang masih terlihat tampan diusianya, yaitu MR CORISOON, yang sering membeli bunga di tempat dia bekerja. Kiran terus menatap padanya dengan langkah yang terus dia ayun, dan dibalas senyuman oleh pria tua itu.


Genggaman tangan itiba-tiba Kiran eratkan, hingga memalingkan wajah Rangga, dan menanyakan kenapa?


"Kau kenapa?" tanya Rangga setengah berbisik.


"Apakah itu yang bernama Tuan Corisoon?" tanya Kiran, memastikan.


"Iya. Dia itu Corisoon, orang yang akan menjalin kerja sama denganku."


Bangkit dari duduknya, saat Rangga sudah berada didekatnya.


"Selamat siang Tuan, maaf, kami sedikit terlambat," ujar Doni.


Hanya menjawab dengan senyuman, dan mengulurkan tangannya pada Rangga, yang tengah menatap padanya.


"Selamat siang Tuan... Kenalkan saya CORISOON, CORISOON DAVISOON."


Menyambut uluran tangan pria itu, dengan memberi sedikit senyum di wajah.


"Rangga, Rangga Wijaya," sahut Rangga, dengan membalas uluran tangan pria lansia itu.


Melemparkan tatapannya pada Kiran, yang terus menatap padanya.


"Hallo Nona...Kita bertemu lagi," ujarnya.


"I..Iya Tuan..Dan bagaimana kabar anda?" tanya Kiran, dengan raut wajah yang sedikit gugup, karena Rangga melemparkan tatapan tajam padanya.


"Baik, bahkan sangat-sangat baik."


Mendapati perbincangan Kiran, dan Corisoon yang terlihat sedikit akrab, membuat seorang Rangga Wijaya tiba-tiba dianda rasa ingin tahu.


"Kalian..." Rangga tak dapat menyelesaikan ucapannya, saat Corisoon menyela cepat.


"Saya sering berbelanja di toko bunga, tempat istri anda bekerja. Dan saya sangat salut pada istri anda, Tuan WIjaya-walaupun dia seorang istri dari pengusaha kaya, tapi dia masih mau bekerja, sebagai karjyawan disebuah toko bunga."


Tangannya sudah melingkar di pinggang Kiran. Dan mendengar kalimat pujian dari pria lain untuk istrinya, membuat rasa cemburu Rangga tiba-tiba saja hadir.


"Karena sikapnya itulah, yang membuat saya memutuskan untuk menikahi dia," jawab Rangga tersenyum.


"Mas...Bisakah kau melonggarkan sedikit pelukanmu? Ini sakit.." rintih Kiran, setengah berbisik.


Tersenyum, setelah mendengar apa yang dikatakan Rangga padanya.

__ADS_1


"Kalau begitu silahkan duduk!"pinta Corisoon, dengan melabuhkan tubuhnya kembali di kursi, yang di-ikuti mereka yang lainnya.


"Bisakah saya melihat berkas-berkas, di mana berisi proyek-proyek pembangunan itu?" tanya Rangga, dengan tubuh bersandar pada sandaran kursi.


"Andrew..."


Sudah mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Tuannya, Andrew segera meletakkan sebuah map berwarna merah, dengan memposisikan tepat di depan Rangga.


"Silahkan di baca Tuan..."


Menjangkau ujung map, dengan dua mata menelusuri setiap tulisan, dalam beberapa lembar berkas di dalam sana.


"Apakah anda sama sekali tidak mau memberi masukan pada suami anda, Nona?" tanya Corisoon tiba-tiba, saat mendapati Kiran hanya diam membisu.


"Saya tidak begitu pahan dengan hal-hal seperti ini, Tuan..Dan saya yakin suami saya, mungkin jauh lebih mengerti."


"Bagaimana Tuan...Apakah anda tertarik dengan kerja sama kita ini? Karena ini merupakan proyek besar, dan saya yakin kalau proyek-proyek ini, bisa memajukan perusahaan kita."


Mendesahkan napasnya dalam, dengan kembali menutup map, dan meletakkan kembali di atas meja.


"Bolehkah saya tahu, kenapa anda begitu tertarik untuk bekerja sama dengan saya? Karena kita baru saja saling mengenal, dan anda merupakan orang asing di negara saya." Tatapan penuh selidik, saat Rangga melontarkan pertanyaan pada pria asing itu.


Sekilas dia tersenyum, dengan menatap pada Rangga, yang tengah menatapnya dengan intens. "Sepertinya tidak mudah, untuk menjatuhkan dia. Aku harus lebih pintar, agar dia dapat masuk dalam perangkapku," gumam Corisoon dalam hati.


Membungkam sedikit lama, dan Rangga kembali bersuara setelah beberapa menit.


"Saya adalah orang yang sangat teliti, saat akan menjalin kerja sama dengan seseorang. Jadi saya akan menghubungi anda nanti, jika saya mau menjalin kerja sama dengan anda Tuan Corisoon!"


CORISOON mendesahkan napasnya yang panjang. Emosi dalam diri pria itu tiba-tiba hadir, namun berusaha untuk dia bendung. Dan kembali tersenyum, berusaha untuk menutupi raut wajah kecewanya.


"Saya akan dengan sabar, menunggu telepone dari anda."


Merasa tidak perlu ada yang dibicarakan lagi, Rangga segera bangkit dari duduknya, yang dikuti oleh Kiran, dan juga Doni.


"Maaf, sepertinya saya tidak bisa makan siang bersama anda, kali ini. Sebab saya masih memiliki acara, bersama istri saya, jadi saya minta anda memakluminya."


"Tidak masalah, dan terima kasih karena anda sudah menyempatkan waktu, untuk memenuhi undangan saya kali ini."


"Sama-sama." Dan tatapanya beralih pada Kiran, dan juga Doni. "Ayoo!" ajak Rangga, dengan langsung menjangkau tangan Kiran, dan berlalu dari tempat itu.


Mendesahkan napasnya yang panjang, dengan lemparan pandangan yang terus Corisoon arahkan pada Rangga, yang sudah berlalu pergi dari dalam restorant.


"Sepertinya dia mencurigai kita Tuan..."

__ADS_1


"Sepertinya, sangat sulit untuk menghancurkan dia!"


****


Melaju pelan membela keramaian lalu lintas, disiang hari. Memilih diam, sepanjang perjalanan mereka kembali ke perusahaan. ******* napas itu dia tarik berat, dengan lemparan pandangan Rangga arahkan ke luar jendela mobil, setelah menurunkan sedikit kacanya.


Hening yang sedari tadi menguasai, membela saat Doni menyeruhkan Tuannya.


"Tuan..."


"Ada apa?" Memalingkan wajahnya, menatap pada Doni yang tengah menyetir kendaraan.


"Kenapa anda tidak mau menjalin kerja sama, dengan Tuan CORISOON?" tanya Doni, sembari melirikkan tatapan matanya, lewat kaca spion mobil dalam mobil.


"Aku sedikit mencurigai dia. Sebab banyak perusahaan besar di negara ini, tapi kenapa dia lebih tertarik mengajak kerja sama dengan kita? Dan aku ingin kau mengecek, apakah betul akan ada proyek-proyek, yang dibangun di daerah-daerah ini?"


"Daerah-daerah di mana Tuan?"


"Tadi aku sempat memotret lewat kamera ponselku. Nanti aku akan mengirimkan gambar-gambar itu padamu." Dan tatapan matanya beralih pada Kiran, yang sedari tadi hanya diam membisu. " Dan untuk kau, sebaiknya menjaga jarak dengan pria tadi!" Dengan mempertegas kata-katanya, dipenghujug kalimat.


"Tapi dia sangat baik denganku, Mas..Bahkan dia sering memberikan aku uang tip yang banyak, saat dia berbelanja di toko bunga tempatku bekerja."


Menarik sudut bibirnya, dengan memberi tatapan tidak sukanya pada Kiran, setelah mendengar apa yang istrinya katakan.


"Bahkan aku bisa memberi uang yang jauh lebih banyak, dari yang dia berikan padamu!"


Tidak menjawab, Kiran justru memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela mobil, memilih untuk mengabaikan ucapan suaminya. Dan itu memancing emosi Rangga, yang merasa diabaikan oleh istrinya.


"Doni..."


"Iya Tuan.."


"Kita langsung ke perusahaan."


Wajah Kiran langsung berpaling, begitu mendengar apa yang Rangga katakan barusan.


"Apa-an ini Mas...Bukankah Mas tadi sudah janji, setelah dari restorant, Mas akan langsung mengantarkan aku kembali ke toko bunga?"


Rangga tersenyum, dan mendempetkan tubuhnya ke Kiran, yang membuat wanita itu sedikit kaget, dengan sikap suaminya yang aneh.


"Aku ingin sepanjag hari ini, kita melewatinya dengan bercinta. Bukankah ini sudah dua hari, kita tidak melakukannya?" Senyuman, kala suara itu dia bisikkan di telinga Kiran.


"Tapi Mas..."lirihnya.

__ADS_1


"Jangan menolakku Kiran!" Dengan menggigit kecil telinga sang istri, yang membuat Kiran bergidik ngeri dengan sikap mesum Rangga padanya.


__ADS_2