
Satu persatu para pelayat, mulai meninggalkan lokasi pemakan setelah hampir satu jam, jenasah Dokter Rani sudah di kemubimikan. Ifan, dan Dila yang tak lain adalah orangtua dari Rangga Wijaya, memutuskan untuik segera meninggalkan makam menantunya.
"Bagaimana kalau kita segera pulang, Papa? karena Mama masih, punya urusan." Ajak mama Dila, pada suaminya.
"Baiklah. Karena sepertinya putra kita, belum berkeinginan untuk meninggalkan makam istrinya."
"Iya. Sepertinya begitu, Pa!"
Kedua kaki Papa Ifan, mengayun pada putranya yang masih larut dalam suasana dukanya.
"Rangga!" panggilnya pelan.
"Ada apa Pa?" dengan menengadakan kepalanya ke atas, menatap pada sang Ayah yang tengah menatap padanya.
"Papa, dan Mama akan segera pulang. Sebentar malam, baru kami berkunjung ke rumahmu."
"Baiklah, Pa! dan hati-hati di jalan."
Memukul-mukul kecil pundak putranya, dengan menyimpullkan senyum di wajah.
"Pa yakin! kamu pasti kuat." serunya, dengan alunan kaki berlalu dari makam menantunya.
Berada sedikit jauh dari makam Dokter Rani, dengan tatapan mata yang terus menatap pada Rangga Wijaya, yang sedang seorang diri di samping makam istrinya.
"Ayo kita pulang, Kiran!" ajak Dian, kala sahabatnya masih berpijak di bawah naungan bunga kamboja.
"Aku ingin menemuinya, Dian!"
Wajah kaget seketika menyelimuti wajah Dian, kala mendengar apa yang baru saja dikatakan teman baiknya.
"Apa kamu sudah gila, Kiran! kamu seperti tergila-gila pada Tuan Rangga. Ingat! kamu itu bukan siapa-siapanya. Dirinya mengenalmu, hanya sebatas pasien dari istrinya. Apakah kamu sudah tidak punya harga diri lagi, sebagai seorang wanita?" nada yang teedengar kesal, saat kata-kata itu keluar dari mulutnya.
"Tapi aku sangat mencintainya, Dian! dan melihatnya seperti ini, membuat aku terluka," dengan volume suara mulai meninggi.
"Bagaimana kamu bisa mencintainya? sementara saja, kamu baru mengenalnya. Dan apa kata Tuan Rangga nanti? dan pasti dia akan sangat membencimu. Karena kamu seperti orang yang nampak begitu terobsesi padanya."
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak terobsesi dengannya, Dian! tapi aku benar- benar mencintainya. Bahkan sangat mencintainya,"
"Kau membuatku bingung, Kiran! bagaimana kau bisa mencintai seorang pria? Bahkan sangat mencintainya, padahal kalian baru saling kenal. Dan jelas-jelas kau tahu! kalau dia adalah suami dari Dokter yang sudah merawatmu, dan juga mendonorkan jantungnya untukmu. Apa ini bukan di namakan, aneh!"
Airmata menetes dari kedua sudut mata kiran. Mendengar perkataan sahabatnya yang sepenuhnya adalah benar. Dan itu membuat hati KIran, sangat terluka saat dia harus dihadapkan pada kenyataan siapa dirinya.
"Ya! ini memang sangat membingungkan. Bagiaman bisa tiba-tiba aku mencintai seorang pria, yang baru saja aku kenal, dan jelas-jelas tidak mencintaiku."
Dian seketika menatap dengan intens pada sahabatnya, melihat Kiran yang sampai meneteskan airmata, membuat gadis berambut pendek itu dilanda keheranan. Bagaiaman bisa? sahabatnya itu, tiba-tiba mencintai seorang pria yang baru saja dia kenal, dan belum tentu juga, aja mencintainya.
"Kiran! kau menangis?"
Memalingkan wajahnya pada sahabat baiknya itu, dan mengusap cepat airmata yang terus menetes. Dag, dig, dug, detakan jantungnya kembali bergejolak, hingga tangan itu kembali berlabuh kembali di atas dadanya, dengan arah pandang mata berpaling penuh ada Rangga Wijaya.
"Aku mencintaimu, Tuan Rangga! bahkan sangat mencitaimu. Rasa ini sulit sekali aku bendung, dan melihatmu terluka, akupun juga turut merasakannya." membathin, meratapi akan perasaan cintanya itu. Dan tanpa meminta persetujuan Dian, Kiran segera berlalu menghampiri pada pengusaha kaya itu.
"Kiran... Kiran...." panggil Dian pada Kiran, yang sudah berlalu pergi. " Ya Tuhan, Kiran! kau membuatku gila! semoga saja Tuan Rangga tidak memarahimu." gumamnya, dengan mata terus menatap pada Kiran yang sudah berlalu menuju pengusaha kaya itu.
Langkah kakinya mengayun dengan pelan, menghampiri pada Rangga Wijaya, yang duduk di samping makam istrinya.
"Tuan," panggilnya pelan.
Sorot mata yang tadi menatap pada nisan istrinya, seketika berpaling pada asal suara.
"Kau!" dengan sorot mata menatap intens, pada gadis di depannya. "Apa yang kau masih lakukan di sini?" nada itu terdengar kesal, saat bertanya.
"A..aku, aku," jawabnya gugup. "Aku hanya masih ingin menemanimu," serunya kemudian.
Wajah serius, dan tatapan tajamnya kala mendengar apa yang di katakan Kiran.
"Apa kau sadar, dengan apa yang kau katakan?"
Wajahnya seketika menunduk, meratapi perasaan yang tiba-tiba saja muncul dalam dirinya, pada pengusaha berusia dua puluh delapan tahun itu.
"Aku sangat sadar dengan apa yang aku katakan, Tuan!"
__ADS_1
Rangga seketika melepaskan tawanya, sebab merasa lucu dengan apa yang dikatakan wanita di depannya.
"Semalam kau menanyakan, aku sudah makan, dan kau mengatakan juga, kalau kau mengkhawatirkan aku. Dan baru saja kau mengatakan lagi, kalau kau ingin menemaniku. Apakah kau tidak menyadari? kalau aku ini, adalah suami dari Dokter yang sudah merawatmu! dia baru saja meninggal, dan sebelum meninggal, diapun mendonorkan jantungnya padamu. Bahkan sekarang kau bisa bertahan hidup, berkat jantung istriku. Dan sekarang kau mengatakan hal-hal aneh, yang membuatku semakin muak saja padamu, Nona Kiran!"
Tatapan matanya menatap dengan intens pada pengusaha kaya itu, dengan linangan airmata akan rasa cintanya yang begitu dalam pada seorang Rangga Wijaya.
"Aku juga tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi, Tuan? Karena aku juga bingung. Aku sangat merindukanmu. Bahkan melihatmu terluka, aku juga ikut terluka. Jangan tanyakan kenapa? Karena akupun, tak tahu." jawabnya dengan menggeleng pelan kepalanya.
"Diam kau, Nona Kiran!" dengan nada membentak. "Seandainya saja istriku mendengar akan hal ini! apakah kau pikir dia akan menyukainya?" tatapan tajamnya, kala menatap pada Kiran yang tengah menangis.
"Maafkan, aku! aku juga tidak mengerti, semua ini terjadi begitu saja,"
Debat antara keduanya seketika terhenti, kala tiba-tiba saja Dian menghampiri keduanya.
"Tuan! maafkan sahabat saya," seru Dian pada Rangga Wijaya, yang tengah menatap pada Kiran dengan murka.
"Urus sahabat baikmu, itu! agar dia tidak berbicara yang aneh-aneh." dengan nada kesal, dan tatapan mencemoohnya pada Kiran yang hanya menunduk.
"Iya, Tuan!" jawab Dian tersenyum kikuk. Dan merangkul penuh pundak sahabatnya.
"Ayo Kiran! kita pergi. Kamu sudah lama, meninggalkan rumah sakit." dengan melangkahkan kaki bersama Kiran, meninggalkan makam Dokter Rani.
Arah pandang Rangga terus menatap lurus pada Kiran, yang sudah berlalu pergi bersama sahabat baiknya.
"Dasar wanita aneh! dan dia membuatku gila! dengan kata-katanya."
****
KEDIAMAN ANDI HERMAN
Matanya menatap lurus ke depan, dari lantai dua rumahnya. Raut wajah itu nampak tidak tenang, kala rasa penasaran masih menyelimuti diri.
Pikiran yang tadi terfokus pada satu arah, terbuyarkan kala terdengar suara telepone pada ponsel miliknya. Menelusupkan jemarinya ke dalam saku celana, dan mendapati nama Jack, yang tak lain adalah kekasih gelapnya. Matanya menatap kekiri, dan kekanan memastikan tidak adanya orang, di sekitarnya. Mengayunkan langkahnya pada sudut balkon, untuk menjawab telepone itu.
PERCAKAPAN
__ADS_1
"Hallo! untuk apa kau menghubungiku? Bukankah sudah kubilang, jangan menghubungiku kalau aku sedang berada di rumah," nada yang terdengar kesal kala berbicara pada Jeck.