
Suasana gaduh yang terjadi di dalam pesta itu, tentu saja mengalihkan tatapan orang-orang yang berada di sana, yang tengah larut dalam suasana pesta itu.
Termasuk dari keluarga, HARDI WINATA sendiri.
"Suara apa itu?" Papa Andi yang mendengar suara berisik dalam pesta miliknya, langsung melontarkan pertanyaan begitu dia mendengar suara keributan itu.
"Iya suara apa itu, Paa? Sepertinya suara bunyi pecahan," timpal seorang wanita paruh baya, yang masih terlihat cantik diusia-nya yang sudah tidak muda lagi, dan dia adalah Mama Sinta, Ibunda dari Rian.
"Aku akan melihatnya!" pamit Rian, dengan langsung mengambil langkah panjangnya, berlalu dari kedua orang tua-nya, yang tengah menikmati acara pesta itu.
Rian melangkahkan kakinya pada asal suara, di mana pria itu mendapati, ada beberapa tamu undangan, yang sedang berkerumun di sana. Mendapati akan hal itu, Rian semakin mempercepat langkah kakinya.
Menerobos masuk ke dalam kerumunan, pria itu mendapati sosok wanita, yang begitu tidak asing untuk-nya. Lemparan pandangan itu, terus dia arahkan sosok wanita itu. Semakin melangkah dekat, dengan tatapan terus dia fokuskan memastikan kalau apa yang dia lihat, tidak-lah salah.
"Kiran..." seru Rian, yang mengalihkan tatapan mata Kiran, yang tengah membantu Pelayan wanita, memungut pecahan-pecahan dari gelas kaca itu.
Membalikkan badan-nya pada asal suara. Wajah kaget seketika menyelimuti Kiran, saat wajah itu berpaling dia mendapati Rian, sahabat baiknya.
Tatapan mata yang berpaling pada arah lain, membuat Kiran tak memperhatikan kalau tangan-nya masih mengarah pada sebuah pecahan, hingga akhirnya tangan itu menyentuh pecahan kaca, dan berdarah.
"AUUWWW!"
Goresan luka kecil, membentuk di ujung jari Kiran dengan sedikit darah yang mengalir. Langkah kaki cepat segera Rian ambil, yang membawa pria itu menuju pada Kiran, yang masih dengan posisi duduk. Membantu wanita itu untuk bangun, dan menuntun-nya masuk ke dalam rumah.
"Ayo kita ke rumahku, aku akan mengobati lukamu!"
"Iya," jawab Kiran, dengan melangkah beriringan bersama Rian.
Suara keributan yang terjadi di dalam pesta itu, tentu saja mengalihkan tatapan semua yang berada di sana, apa lagi jatuh-nya gelas-gelas itu dari atas nampan, suara-nya cukup menggema.
"Suara apa itu?" tanya Rangga, dengan wajah yang dia palingkan pada asal suara. Tapi pria itu sama sekali tidak menyadari, kalau insiden kecil yang terjadi pada Kiran-Istrinya.
__ADS_1
Salah satu pria berpostur tinggi, yang baru saja bergabung dengan mereka, langsung menimpali apa yang Rangga tanyakan.
"Ohh..Itu, ada seorang wanita muda, yang tak sengaja menabrak nampan yang dibawa oleh seorang Pelayan."
"Benarkah?"
"Iya. Dan sepertinya wanita itu merupakan teman baik, dari anak Tuan Hardi Winata, karena yang saya lihat tadi Rian membawa wanita itu, masuk ke dalam rumahnya, sepertinya dia akan mengobati luka gadis itu, karena saat melangkah bersama Rian wanita itu seperti menahan kesakitan, dan terus memegang jarinya."
"Ohh...Begitu."
****
Kiran memang mengenal baik sosok Rian. Tapi wanita itu, sama sekali tidak mengetahui kalau Rian, pria yang dari dulu suka menggodanya itu, berasal dari keluarga kaya. Sebab Rian, adalah orang yang suka menyembunyikan jatih dirinya, dan ketika ditanya oleh sahabat-sahabatnya, kalau dia adalah anak dari pengusaha bernama HARDI WINATA, pria itu selalu saja menyangkalnya.
Jadi disaat pria itu membawa Kiran ke dalam rumahnya, jujur saja! Kiran masih bingung dengan semua ini. Karena yang dia tahu, kalau Rian adalah laki-laki biasa.
"Duduk-lah, aku akan mengobati lukamu!"
"Rian..."
"Aku tahu, kamu pasti kaget. Dan maaf, kalau selama ini tidaka aku tidak jujur padamu. Aku hanya tidak mau, kalau orang mengetahui aku sebagai anak dari seorang HARDI WINATA." Saat menjawab apa yang Kiran tanyakan. Rian tetap memfokuskan dua mata itu, pada luka kecil Kiran, dengan membalutkan hansapalast pada goresan di tangan sahabatnya.
"Sudah selesai," ucap-nya kemudian, dengan kembali memasukkan perban, obat merah, dan juga sebuah plester ke dalam kotak P3K.
Kedua-nya sama-sama bungkam. Kiran terlihat sangat tidak nyaman. Wanita itu sesekali membentuk senyuman kikuk di wajah, saat Rian terus menatap padanya dengan sebuah senyuman kecil.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Kiran tersenyum kikuk, seraya memperbaiki cara duduknya.
"Aku yang sebenarnya bertanya padamu. Kenapa kau jadi gugup begitu? Kau seperti tengah menghadapi perang, atau apa saja yang berhapan dengan maut."
"Aku hanya malu."
__ADS_1
"Malu kenapa?" Kening Rian mengkerut, dengan bola mata yang nampak jauh lebih tajam, saat memberi tatapan matanya pada Kiran.
"Aku hanya merasa minder saja, karena kau ternyata adalah anak dari seorang pengusaha terkenal."
"Ha...Ha...Ha..." Tawa lepas sontak ke luar dari bibir Kiran, setelah pria lulusan salah satu universitas di Amerika itu, mendengar apa yang Kiran baru saja katakan.
"Kiran...Kiran. Aku ini tetap Rian... Rian, yang selalu saja mengusik hidupmu dari dulu. Dari jaman kita SMA, dan sampai saat ini."
Kiran membentuk sebuah senyuman. Kontak mata yang sedari tadi dia hindari dengan Rian, kini berani wanita itu adukan.
"Terima kasih Rian..Aku tidak membayangkan, kalau tidak ada kau di sini. Jujur aku sangat malu, dan maaf! Karena sudah membuat keributan di pesta kalian."
"Tidak masalah, aku bisa mengerti. Dan katakan padaku. Bagaimana kau bisa datang ke pesta yang diadakan Papaku ini? Karena aku sama sekali tidak mengundang teman-teman sekolah kita. Kebanyakan tamu yang datang, adalah tamu dari Papa, dan Mamaku."
"Aku..." Kiran ragu, saat akan menjawab apa yang Rian tanyakan padanya. Tapi baru saja bibir itu akan bersuara, tiba-tiba saja ada salah satu pria ber-jas yang menghampiri pada-nya.
"Maaf Tuan! Tuan Besar Hardi, memanggil anda."
"Memanggilku?"
"Iya Tuan!"
Rian langsung beranjak dari duduknya. Dan tanpa meminta persetujuan dari Kiran-sahabatnya, pria itu langsung menarik tangan Kiran membawa wanita itu bersamanya.
"Rian! Apa yang kamu lakukan? Lepaskan tanganku, Rian! Lepaskan!" Kiran memberontakkan tangannya dalam genggaman Rian, saat pria itu terus melangkahkan dua kakinya kembali menuju area pesta.
"Aku akan mengenalkan kau, dengan Papa dan Mamaku!" Wajah sumringah, dengan langkah kaki yang terus dia ayunkan.
Kiran sangat begitu terkejut, setelah dia mendengar penuturan pria itu. Semakin memberontakkan tangannya agar terlepas, tapi Rian justru semakin menggenggamnya dengan kuat.
"Rian... Lepaskan tanganku! lepaskan Rian!" Kiran semakin memberontakkan tangannya ager terlepas, mereka sudah kembali memasuki area pesta.
__ADS_1