Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
MENGADU PADA RANGGA


__ADS_3

Nyeri begitu terasa di pergelangan tangannya, dengan apa yang Kiran lakukan. Dan itu semakin menambah kebencian Mama Dilla, pada istri, putranya itu.


Dua pupil matanya Mama Dilla nampak begitu tajam, saat melemparkan tatapannya pada Kiran, akibat emosinya yang kian membuncah.


Menghembuskan napasnya yang kasar, berusaha meredamkan kobaran api dalam dirinya.


"Kau sudah sangat berani padaku! Ternyata ini hasil didikan orang tuamu!"


Kiran membentuk senyum di wajah-dengan sedikit memberkan tatapan mencemoohnya, mendengar apa yang Mertuanya katakan.


"Orang tuaku, selalu mengajarkan aku, untuk hormat pada orang yang lebih tua. Tapi kelakuan anda sendirilah, yang membuat aku tidak bersikap sopan pada anda!"


Mama Dilla semakin saja meradang, semakin saja dia membenci istri dari anaknya itu-mendengar kesekian kalinya kata-kata yang terucap dari Bibi Kiran, yang sangat begitu berani padanya.


"Kau sudah berani kurang ajar padaku, Kiran! Rani saja, tidak pernah berbuat seperti ini padaku!"


"Bukankah aku sudah bilang, kalau aku bukan Dokter Rani yang bisa anda injak-injak!"


"Aku akan mengadukan ini pada putraku Rangga, dan cepat atau lambat aku akan membuat Rangga, segera menceraikanmu!" sengit Mama Dilla. Dan tatapan mata itu, dia palingkan pada sosok laki-laki paruh baya, yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia.


"Pak Kasim! Ayo kita berangkat! Kau sudah lihatkan, bagaimana kelakukan wanita ini, padaku?! Dia sangat tidak sopan, pada Ibu kandung suaminya- sendiri, dan aku akan membuat putraku segera menceraikan, wanita yang tidak punya sopan santun ini!" hardik Mama Dilla, dengan berlalu dari tempat itu.


Lelah seketika menyeluruh di dirinya, hingga tubuh itu langsung Kiran amburkkan pada sebuah kursi panjang, yang tepat berada di belakangnya.


Mendung semakin saja menyelimuti wajahnya, hingga air mata yang sedari tadi dia bendung, akhirnya tumpah juga.


"Kiran...Kamu baik-baik saja?! Tadi kamu keren, banget lho!" ujar Dia, dengan langkah kaki yang dia ambil menuju sahabatnya itu.


Raut wajah sumringah, langsung meredup dengan wajah sayu, setelah mendapati Kiran, tengah menangis kecil di sana.


"Kiran..." panggil Dian pelan, dengan tubuh yang dia labuhkan di sisi, sahabatnya itu.


Kiran berusaha untuk tersenyum, walau butir-butir bening itu belum juga berhenti.


"Aku hanya tidak menyangkah, kalau akan terjadi sampai sejauh ini."


Dian mendesahkan napasnya yang dalam, dengan tatapan iba pada pada Kiran dengan wajah, yang nampak begitu muram.


"Sabar Kiran...Aku yakin, kalau kamu kuat. Dan aku juga tidak menyangkah, kalau Ibunda dari Tuan Rangga, sangat begitu kasar!"


"Dia memang sama sekali sudah tidak menyukaiku, sejak aku dan Mas Rangga, menikah. Dan seandainya saja dia juga tahu, pernikahan aku dan Mas Rangga sebenarnya, pasti dia akan segera meminta anaknya untuknya menceraikan aku, agar dia bisa mencari wanita lain untuk putranya itu!"


"Boleh aku tanya padamu?" tanya Dian, dengan raut wajah yang sudah berubah serius, saat melontarkan pertanyaan pada sahabatnya itu.


" Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Bagaimana hubunganmu, dengan Tuan Rangga? Sebab ini sudah hampir memasuki tiga bulan pernikahan kata. Sebab kata orang-seiring kebersamaan, bisa menimbulkan rasa cinta."

__ADS_1


Kiran membungkam. Pertanyaan yang dia dapat dari sahabat baiknya itu, tak langsung Kiran jawab. Hening, dengan menenggelamkan pada Dian, yang sedang menanti jawaban darinya.


"Kiran..."


Terkesiap, dengan panggilan Dian.


"I..Iya?"


"Aku tanya padamu, sejauh mana hubungan kau, dan suami satu tahunmu itu. Apakah sudah ada kemajuan? Atau masih jalan di tempat."


Menatap lagi pada Dian, yang masih menantikan jawaban darinya.


"Tidak! Dian tidak boleh tahu, kalau aku dan Mas Rangga sudah sering melakukan hubungan suami-isti, aku yakin karena dia pasti akan sangat marah sekali padaku," gumam Kiran dalam hati.


"Sikap Mas Rangga, akhir-akhir ini, sudah tidak dingin lagi padaku."


"Benarkah?" Lebih membulat kelopak mata Dian, setelah mendengar jawaban sahabatnya, yang membuatnya sedikit kaget.


"I..Iya. Hubungan aku, dan dia sudah jauh lebuh dekat."


"Ataukah mungkin Tuan Rangga, suda jauh cinta padamu?"


Kiran tertawa renyah, setelah mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Dian, yang serasa menggelitik untuknya.


"Mana mungkin, dia jatuh cinta padaku?"


Kiran membalikkan wajahnya seketika, saat mendengar ada suara seseorang yang menyapa padanya.


"Selamat siang juga, Tuan Corisoon.." Kiran yang begitu kaget dengan kedatangan pria, yang pernah memberikan tip yang begitu banyak padanya.


****


COMPANY GROUP


Rangga begitu intens, saat menyaksikan presentasi yang dilakukan salah satu karyawannya, mengenai pemasaran yang akan dilakukan perusahaan mereka, melalui pasar luar negeri. Heningnya suasana, saat semua tatapan fokus pada apa yang diterangkan gadis muda itu, membela setelah terdengar suara seorang wanita, yang begitu memekikkan telinga.


"Lepaskan saya! Lepaskan! Apa kamu mau saya melaporkan kamu, ke anak saya! Saya ibu dari pimpinan, perusahaan ini!" Mama Dilla begitu meradang, saat dia akan masuk ke dalam ruang rapat untuk bertemu dengan anaknya, dirinya dicekal oleh salah satu petugas keamanan.


Suara keributan yang terdengar hingga ke dalam ruang rapat, menghentikan seketika kegiatan yang terjadi di dalam ruang rapat itu.


Doni melangkah pelan menghampiri Tuannya-yang tengah melemparkan pandangan padanya.


"Tuan..Di luar ada Nyonya Besar!" ujar Doni, dengan setengah berbisik.


Kaget begitu menyelimuti diri Rangga, dengan langkah kaki yang segera dia ambil setelah berpamitan pada salah satu rekannya.


"Tuan Arman, maaf saya ke luar sebentar!"

__ADS_1


"Iya Tuan.."


Saat sudah berada di luar ruangan, Rangga sangat dibuat kaget, setelah mendapati Ibunya, sedang memarahi salah satu laki-laki muda, yang merupakan petugas keamanan di kantornya.


"Mama..." panggil Rangga.


"Rangga! Dari tadi Mama ingin masuk, tapi ditahan sama laki-laki ini. Pecat saja dia Rangga!"


Wajah pria muda itu hanya menunduk, saat menyampaikan sesuatu pada Tuannya.


"Maafkan saya Tuan...Saya hanya menjalani tugas."


Rangga mendesahkan napasnya yang dalam, mendengar keluhan, dan kekacauan yang ditimbulkan oleh Ibunya itu.


"Kamu kembalilah bekerja, dan Mama..Ayo kita ke ruang kerjaku sekarang!"


"Kamu tidak memecat dia, Rangga! Kamu tidak melihat, apa yang sudah dia lakukan pada Mama tadi?!" ujar Mama Dilla, yang nampak tidak terima dengan keputusan anaknya.


"Itu memang sudah tugasnya Maa..Jadi jangan menyalahkannya. Dan ayo kita ke ruang kerjaku!" ajak Rangga dengan langsung melangkahkan kakinya, yang membuat Mama Dila akhirnya mengikuti langkah kaki putranya, dengan diikuti sopir pribadinya dari belakang.


Rangga sudah melabuhkan tubuhnya di atas kursi, dengan tatapan mata yang dia arahkan pada sang Bunda.


"Katakan sebenarnya ada keperluan apa? Mama mencariku."


"Ceraikan Kiran!"


Raut wajah frustasi akibat kekacauan yang ditimbulkan oleh sang Bunda, seketika berubah serius, dengan posisi yang dia tegakkan, dan melemparkan tatapan begitu intens.


"Ceraikan Kiran?!"


"Iya. Segera ceraikan Kiran! Kamu lihat, tangan Mama, memerah begini! Ini hasil perbuatan istri kamu itu!"


Semakin penasaran saja, raut wajah Rangga saat ini, setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan Ibunya.


"Apakah tadi Mama ke tempat kerja, Kiran?" tanya Rangga, yang mencoba untuk menebak.


"Iya Mama ke sana. Dan anak itu, dengan tega menyakiti Mama, saat Mama bicara baik-baik dengannya! Dan kalau kamu tidak percaya, kamu tanyakan saja, pada Pak Kasim! Iyakan Pak kasim?" sengit Mama Dilla, dengan melemparkan tatapan matanya, pada sopir pribadinya itu.


"I..Iya Tuan Muda, tadi istri anda tega menyakiti Nona, padahal Nyonya Besar bicara baik-baik dengannya."


Rangga yang awal mulanya ragu dengan apa yang baru saja dikatakan Ibunya, seketika meradang setelah keraguan itu, dipastikan dengan pembenaran dari sopir Ibunya.


"Kamu suaminya. Sudah menjadi tugas kamu, untuk mendidik istrimu itu, Rangga! Mama tidak menyangkah dia tega, berbuat kasar sama Mama."


Melihat kemarahan pada wajah putranya, membuat Mama Dilla nampak begitu bahagia. Dan dia yakin, kalau putranya pasti akan memberi pelajaran pada istrinya itu.


" Rasain kamu, Kiran! Aku yakin, anak saya pasti akan memberimu pelajaran, dan segera menceraikan kamu!"

__ADS_1


__ADS_2