Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
SEBAGAI SAUDARA


__ADS_3

Langsung membalikkan tubuhnya, usai berbicara pada Rangga. Tak mau lagi jika mungkin saja Rangga akan kembali melayangkan pertanyaan padanya, selimut yang justru hanya menutupi sebagian tubuhnya saja, Kiran tarik hingga menutup keseluruh tubuhnya, dan hal itu ternyata tak luput dari pantauan Rangga, yang terus melemparkan pandangannya pada apa yang Kiran lakukan.


Seringai kecil, membingkai di wajahnya, dan kembali berucap.


"Apakah kau benar-benar sudah tidur?"


Di dalam selimut itu Kiran membuka matanya, tak menjawab dan berusaha menutup dua matanya, walaupun nyatanya itu sangat sulit.


"Ternyata dia sudah benar-benar tidur," gumam Rangga kemudian.


Malam kian merayap, menenggelamkan waktu yang akan kembali menjemput pagi. Waktu yang terus memutar, akhirnya membuat dua mata Kiran yang tadi bersinar bak lampu senter, akhirnya perlahan meredup dan dapat menjemput mimpi indahnya.


****


Sinar matahari pagi kembali tersenyum ceria, dengan bunga-bunga yang merebakkan wanginya, kala bermekaran. Burung-burung ikut bersenandung, dengan cuaca cerah yang begiu indah hari ini.


Dia sudah bangun, dengan bersandar pada kepala ranjang tapi tatapan mata itu, terus dia arahkan pada Kiran, yang masih lelap dengan tidurnya.


Menyeringai kecil, saat mengingat tujuan Kiran yang meminta untuk tidur di kamarnya, agar bisa mengurus dirinya.


"Apakah ini yang dia bilang, akan membantu semua kegiatanku? Aku sudah bangun, tapi dia masih saja setia dengan tidurnya."


Suara ketukan menyapa pada pintu kamar Rangga, yang mengalihkan perhatian pria itu pada badan pintu.


"Masuk..." ucap Rangga dengan setengah teriakan.


Pintu kamar melebar, dan di sana muncul sosok Doni, dan juga Bibi Ijah yang membawa sarapan pagi untuk Rangga.


Saat kedua orang itu melangkahkan kakinya ke dalam kamar, mereka dibuat kaget saat mendapati sebuah tubuh yang tertutup selimut yang utuh.


"Apakah itu??" tanya Doni. Bertanya pada sang Majikan, tapi dia terlihat ragu untuk melanjutkannya.


"Iya itu Kiran."


"Ini sarapan anda Tuan! Dan apakah saya perlu membangunkan Nona Kiran, Tuan?"


" Tidak usah. Biarkan saja dia tidur."


Mendesahkan napasnya yang panjang, dengan tatapan terus Bibi Ijah arahkan pada Kiran, yang masih terlelap di atas sofa panjang. Iba dengan keadaan Kiran, yang berstatus sebagai Istri tapi tidak dianggap sama sekali oleh suaminya.


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Bibi Ijah, dengan melangkahkan kakinya, ke luar dari dalam kamar.

__ADS_1


Usai perginya Bibi Ijah dari dalam kamar, Rangga langsung memalingkan wajahnya pada Sekretarisnya Doni.


"Apakah kau sudah membawa ponselnya?"


"Sudah Tuan! Ini ponsel milik Nona Kiran." Mendengar apa yang MajIkannya tanyakan, Doni langsung mengeluarkan sebuah HP bermerek APPLE, dari dalam tas kerjanya.


"Berikan pada dia. Dan apakah kau sudah memasang langsung dengan kartunya?"


"Sudah Tuan,"


"Letakkan disampingnya, agar dia bangun tidur dia langsung bisa melihat HP itu."


"Baik Tuan," jawab Doni dengan langsung bangkit dari duduknya, dan melangkah mendekat pada Kiran yang masih tertidur.


Doni kembali ke tempat duduknya, yang berada disamping ranjang. Dua mata itu mengedar kesegalah arah, dan mendapati foto-foto kemesraan Rangga, dan Istrinya Rani yang masih setia terpasang di dinding. Tatapan mata itu dia lemparkan pada Kiran, yang masih terlelap di sana.


"Tuan.."


"Ada apa?"


"Apakah anda tidak bisa mencintai Nona Kiran? Karena yang saya lihat, dia begitu mencintai anda."


"Jangan menanyakan hal yang sulit untuk aku jawab. Sebab tidak semua wanita, seperti Rani."


"HOOAAAMMMM!" Mendengar suara menguap membuat Rangga, dan Doni langsung memalingkan wajah mereka seketika.


Wajah bantal membentuk sempurna di wajahnya. Duduk, tapi mata itu masih setia terpejam. Terlihat begitu bodoh, dan juga lucu. Dan melihat tingkah konyol Kiran, tanpa Rangga sadari wajah itu membentuk sebuah senyuman.


Memalingkan wajah itu, dan betapa kagetnya Kiran saat mendapati Rangga sudah bangun.


"Mas...Kau sudah bangun?!" Wajah itu nampak pucat, dan sedikit kaget.


"Sudah dari tadi. Bahkan sarapan pagiku pun, sudah berada di kamar."


"Ma..Maafkan aku Mas," jawab Kiran terbata, akibat merasa bersalah pada Rangga.


"Nona Kiran.."


"Ada apa Doni?"


"Coba kau lihat di belakang tubuhmu, ada apa di sana!"

__ADS_1


Kiran langsung membalikkan tubuh itu seketika, begitu gadis itu mendengar apa yang Doni katakan. Mendapati sebuah ponsel, langsung Kiran gapai. Dan saat membalikkan HP itu, betapa kagetnya Kiran ketika melihat gambat setengah apel pada HP itu.


"Ini untukku Mas?" tanya Kiran. Mendapati HP bermerek itu, membuat KIran masih bisa belum percaya, kalau Rangga menggantikan ponselnya yang biasa, dengan harga yang sangat mahal.


"Ya itu, untukmu. Dan apakah kau menyukainya?"


"Sangat suka Mas, dan aku akan memamerkan pada teman-temanku."


"Kau bisa memakainya langsung, karena disitu sudah ada kartunya."


Senyuman kecil, dan Kiran langsung menarikan jarinya pada layar HP itu.


"Kau akan menghubungi siapa?"


"Aku akan menghubungi sahabatku Mas," jawab Kiran tanpa menatap pada Rangga.


Rangga sama sekali tidak mengetahui kalau yang Kiran hubungi kali ini, adalah Rian. Dan betapa kagetnya pria itu, setelah mendengar Kiran menyeruhkan nama pria itu.


"Hallo Rian..."


"Rian.." gumam Rangga, dengan langsung berubah raut wajah itu.


"Rian apa yang kau lakukan?"


"Aku baru saja bangun."


"Baru bangunpun, kau terlihat sangat tampan. Bahkan sangat-sangat tampan," ucap Kiran tersenyum.


Bisa dibayangkan saja, bagaimana eksperesi wajah Rangga saat ini. Pria itu, sudah bagai seekor hewan buas, yang siap menerkam mangsanya. Apalagi mendapat senyuman Kiran, semakin saja membuat Rangga terbakar oleh api amarah.


"Kiran...!!" Dengan teriakan, yang membuat Doni, dan Kiran yang berada di dalam kamer tersentak kaget.


"Rian...Nanti baru kita lanjut lagi yaa? Saudaraku memanggil," ucap KIran dengan langsung memutuskan sambungan teleponenya begitu saja.


Rangga terkekeh pelan. Wajah pria itu nampak seperti tidak percaya, saat Kiran mengucapkan kalau dia adalah saudaranya.


"Bahkan dia mengatakan, kalau aku adalah saudaranya," gumam Rangga tak percaya.


Mendapati teriakan Rangga yang begitu terdengar menakutkan di telinganya, membuat Kiran langsung mengayunkan langkahnya cepat pada pria itu.


"Ada apa mas? Apakah kau membutuhkan sesuatu? Apakah kau mau aku membuatkanmu kopi? Atau kau mau, aku menyiapkan air, mungkin saja kau mau mandi? Atau menggantikan bajumu?" Beruntun pertanyaan langsung Kiran lontarkan, saat wanita itu mungkin mengirah Rangga membutuhkan sesuatu hingga dia berteriak seperti itu.

__ADS_1


"Tadi kau mengatakan pada Rian, aku siapamu?"


"Mas, kalau aku bilang kalau Mas adalah suamiku, aku rasa itu sangat tidak mungkin, karena kenyataannya Mas, bukanlah suamiku. Aku tidak mau mengatakan hal itu, karena nyatanya Mas bukan milikku. Bukankah semalam sudah aku katakan, kalau kita tidak bisa menjadi suami-istri setidaknya kita bisa menjadi teman. Iyakan Doni? Sebab mengharapkan sesuatu yang tidak pasti itu, sangat tidak enak Mas!"


__ADS_2