Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
MENEMANI


__ADS_3

Memikirkan kondisi sang istri yang tengah berbadan dua, tentu saja membuat seorang Rangga Wijaya, sangt khawatir jika saja ada apa-apa dengan kandungan istrinya, yang masih sangat rentan untuk keguguran. Hingga setelah sudah menyelesaikan urusannya di kantor polisi, Rangga yang ditemani oleh Sekretarisnya Doni, segera memacuh mobilnya dengan kecepatan tinggi, menuju rumah sakit, di mana Kiran dirawat. Tak memikirkan wajahnya yang memiliki beberapa luka lebam, Rangga tetap melangkahkan kakinya dengan setengah berlari, menuju kamar di mana Kiran dirawat, tanpa memikirkan orang-orang, yang menatapnya dengan heran.


Dan ketika dua kakinya sudah memijak di depan kamar, daun pintu itu segera Rangga lebarkan, dan menghampiri ranjang hospital yang ditempati sang istri, dengan langkah cepatnya.


"Kiran..Kau baik-baik saja? Dan bagaimana dengan kandunganmu, Sayang?" Beruntun pertanyaan yang Rangga lontarkan pada istri, dan tentu saja dengan kekhawatiran yang terlihat sangat di wajahnya.


"Aku baik-baik saja Mas.." jawabnya pelan, sembari menatap lekat wajah sang suami, yang terlihat membiru, dan juga ada luka kecil.


"Kiran baik-baik saja. Dan semoga kau menyadari, kalau di sini bukan hanya ada kau, dan Kiran saja," celah Devan, yang sengaja menyadarkan Rangga, kalau di dalam ruangan ini ada Ayah mertuanya.


Rangga segera mengalihkan pandangannya pada asal suara. Rasa canggug menyelimuti diri pria itu seketika, saat mendapati keberadaan sang Ayah mertua, ang juga berada di dalam kamar rawat itu.


"Pa..Pa!" ujarnya dengan sedikit gugup, dan raut wajah yang sudah berubah pias, karena malu tak menyadari ada-nya sang Ayah mertua, di dalam ruangan.


"Maafkan aku, yang sama sekali tidak menyadari adanya Papa, di sini," lanjutnya dengan canggung.


Mendapati eksperesi lucu sahabatnya, serasa menggelitik untuk Devan. Hingga hal itu, tentu saja menjadi bahan candaan bagi Dokter muda itu.


"Ternyata seorang Rangga Wijaya, bisa gugup, dan mati kutu juga, dihadapan Ayah Mertua.


Rangga tak menyambut ucapan sahabatnya, dia hanya melemparkan tatapan tajamnya pada Devan, yang tengah menertawainya, namun kemudian tawa itu Devan hentikan seketika.


Papa Andi mengukir senyumnya, mendengar candaan dari Devan, pada menantunya itu. Dan melihat semua yang terjadi hari ini, tidak alasan bagi pria tua itu, untuk menolak Rangga, sebagai menantunya, dan dia sangat yakin kalau Rangga benar-benar mencintai, anaknya-Kiran.


Tatapan tidak suka yang biasa dia berikan pada Rangga, setelah mengetahui kenyataan tentang pernikahan putri-nya yang sebenarnya, kini telah berganti dengan senyuman penuh kehangatan, pada pengusaha tampan itu.


Papa Andi mengambil langkah kecilnya, yang membawa tubuh lelaki tua itu, mendekat pada Rangga.


"Bagaimana keadaamu?" tanya Papa Andi, sembari menatap lekat wajah Rangga, yang terlihat memar.


"Baik Paa!" jawab Rangga dengan senyuman kecil, yang dia ukir di wajah.


Papa Andi mendesahkan napasnya yang dalam, setelah mendengar apa yang menantunya katakan barusan. Dan dia sangat berterima kasih, sebab Rangga sudah menolong anaknya dari tangan para penculik.


"Terima kasih, dan maafkan Papa. Dan semoga permintaan maaf Papa ini, sama sekali tidak terlambat."


Raut wajah yang tadi nampak biasa, seketika menampilkan wajah seriusnya, setelah mendengar apa yang baru saja, Ayah mertua-nya katakan.

__ADS_1


Dan Papa Andi hanya tersenyum, dengan ekspresi dari menantu-nya itu.


"Selamat datang dikeluarga Wirawan, Rangga! Dan sekarang, kau benar-benar adalah menantuku!" ujar Papa Andi tersenyum.


Apa yang baru saja dikatakan oleh Ayah mertuanya, serasa angin segar buat Rangga. Laki-laki berusia tiga puluh tahun itu, sangat terkejut, dan juga sangat bahagia, setelah mendengar ucapan Ayah mertuanya.


"Papa serius?" tanya Rangga memastikan, kalau yang dia dengar dari bibir Ayah mertuanya, bukan hanya bualan semata.


"Iya," jawab Papa Andi tersenyum, seraya mengangguk kecil.


Rangga segera menghambur memeluk Ayah mertuanya itu, dengan rasa bahagia yang tak bisa dia utarakan, dengan kata-kata. Dan ternyata apa yang menimpah Kiran-istrinya hari ini, ada hikmah yang sudah Tuhan siapkan.


"Terima kasih Paa..Terima kasih. Aku janji akan selalu membahagianka,n putrimu,"


Papa Andi membalas pelukan itu, kemudian mengurainya setelajh beberapa menit.


"Papa yakin, kalau kau pasti tidak akan mengecewakan Papa. Dan maafkan Papa, yang sudah sempat meragukanmu."


Rangga tersenyum, dan mengangguk kecil di sana. Dia kembali menghampiri sang istri, dan mereka semua di dalam sana, turut larut dalam suasana bahagia, yang dirasakan pasangan suami-istri itu.


****


Hari-hari yang dilewati wanita itu begitu bahagia dengan masa kehamilannya yang kian membesar.


Waktu yang terus bergulir yang tidak terasa oleh penikmatnya, dan itu juga, berlaku bagi pasangan suami-istri, Kiran, dan Rangga yang tengah menantikan kelahiran calon buahati mereka, yang berjenis kelamin laki-laki.


Dan detik-detik yang dinantikan pun tiba. Di ruang operasi, Rangga tengah menemani sang istri, yang akan melahirkan secara caesar.


"Mas..Kamu baik-baik saja kan? Kenapa wajahmu pucat begitu?" tanya Kiran, kala mendapati wajah memucat, dan juga ada tetes-tetes bening, pada dahi suaminya.


"Apakah kau tidak takut, Kiran? Perutmu akan dibela," tanya Rangga, yang merasa ngeri, sebab pria itu merasakan nyeri kala membayangkan Dokter akan membela perut istrinya.


"Aku baik-baik saja Mas..Dan lagi pula, aku yang dioperasi, kenapa kau yang takut?" tanya Kiran, yang merasa lucu dengan ekspresi suaminya itu.


"Tuan..Nyonya..Kita akan memulainya operasinya sekarang!" seru salah satu Dokter, yang mengalihkan perhatian pasangan suami istri itu. "Dan apakah anda siap, Nyonya?" tanya-nya kemudian.


Kiran hanya mengangguk kecil, dan di susul lampu operasi yang telan dinyalahkan. Dan saat melihat pisau yang diangkat Dokter wanita itu, membuat raut wajah Rangga berubah kian pucat.

__ADS_1


"Ada apa denganku? Padahal bukan kali pertama, aku melihat hal seperti ini, dalam hidupku," gumam Rangga dalam hati, dan tentu saja lelaki tampan itu berusaha kuat, selama proses caesar berlangsung.


****


Semua yang berada di depan ruangan terlihat cemas, menunggu detik-detik kelahiran sang anggota keluarga baru. Tapi yang terlihat lebih cemas, adalah Mama Della. Wanita itu terlihat sangat gelisah. Hingga sedari tadi dia hanya mondar-mandir, bak seterika pakaian, yang tak bisa diam.


"Maa..Bisa diam tidak?!" tanya Papa Ifan, yang terlihat kesal dengan sikap istrinya, yang menurutnya sangat berlebihan.


Dua kaki itu dia hentikan seketika, sembari menatap tajam suaminya.


"Bagaimana bisa diam Papa?! Sementara, operasinya belum selesai!" sahutnya dengan raut wajah kesal, namun terselip cemas yang teramat sangat di dalamnya.


Tiba-tiba saja terdengar suara tangisan bayi, yang menggema hingga mencapai luar ruangan, dan itu membuat mereka semua yang berada di sana, tak henti-henti-nya mengucap syukur. Setelah beberapa menit pintu ruangan terbuka, dan menampakkan seorang Dokter wanita, yang menangani operasi pada Kiran.


Dan Mama Della yang sedari tadi sudah tidak sabaran untuk mengetahui keadaan Cucu, dan menantu-nya segera menghampiri, Dokter wanita itu.


"Dokter..Bagaimana keadaan menantu, dan Cucu saya?"


"Cucu, dan menantu anda selamat. Tapi anak anda sempat pingsan, saat tadi kami membela perut istrinya," jawab Dokter wanita itu, dengan senyuman kecil di wajah, dan itu membuat mereka yang berada di sana terkejut.


Dan tak berapa lama pun, Rangga ke luar dari dalam ruangan, dengan wajahnya yang terlihat pucat memucat, dan pria itu segera menghempaskan tubuhnya ke kursi yang berada di depan ruangan.


"Rangga kamu baik-baik saja, Nak?"tanya Mama Della dengan raut wajah khawatirnya, sembari menatap lekat wajah putranya.


"Aku baik-baik saja Maa.." sahut Rangga, dengan suara-nya yang masih terdengar lemah.


Bukannya kasian, Mama Della justru memukul kepala anaknya dengan sangat kuat.


"BUUHG!"


"Maa..Mama kenapa main pukul segalah?!" tanya Rangga sembari memegang kepalanya, yang terasa nyeri akibat pukulan sang Bunda.


"Kamu itu yah, Rangga! Yang dioperasi siapa, yang pingsan dan takut siapa! Kamu bikin Mama malu saja! Bagaimana kalau nanti Kiran melahirkan lagi?! Apakah kamu bisa, menemaninya di ruang operasi?! Kali ini kamu pingsan, nanti selanjutnya kamu meninggal di sana!" hardik Mama Della dengan raut wajah kesal.


"Mungkin karena mereka akan membela perut istriku!" sahut Rangga, yang nampak tidak terima dengan ucapan Ibunya.


"Alaahh..Tetap saja, kamu bikin Mama malu. Kalau Devan sampai tahu, pasti dia akan menertawakan kamu!" sahut Mama Della, yang nampak kian kesal dengan apa yang terjadi pada putranya.

__ADS_1


__ADS_2