Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
SAKIT HATI KIRAN


__ADS_3

Jangan ditanya! Bagaimana raut wajah Kiran saat ini. Kaget, bercampur kecewa yang memenuhi wajah cantik gadis malang itu. Sepasang matanya- menatap Rangga dengan penuh , yang terlihat tenang, dan tak menunjukkan sedikit beban di wajahnya.


"Mas...Apakah kau serius dengan apa yang kau katakan?!" Keheningan yang menyelimuti kamar itu, memecah saat tiba-tiba saja Kiran bersuara.


"Aku sangat serius, dengan apa yang aku katakan."


Air mata dia berusaha bendung- agar tak mengalir ke luar, tapi apa daya- akhir-nya ada buliran bening, yang tumpah juga saat diri itu begitu kecewa, mendapati pria yang dia cintainya hanya memberinya pernikahan palsu.


"Jika aku tahu, pernikahan ini- hanya pernikahan kontrak! Aku tidak mungkin mengetujui pernikahan gila ini, sekalipun aku mencintaimu- Mas Rangga!"


"Maafkan aku, yang sudah memanfatkanmu. Anggap saja ini sebagai balas budi, Kau padaku! Karena istriku, Rani! Sudah mendonorkan jantungnya, untukmu. Dan aku rasa apa yang sudah di lakukan Rani, tidak sebesar dengan pengorbanannya. Karena berkat dia-lah, kau masih ada di sini."


Bak gelas kaca yang di banting dengan sangat kuat- itu-lah gambaran seorang Kiran saat ini. Dia sungguh tidak.menyangkah- pria yang begitu amat dicintainya- tega memanfaatkan cinta-nya yang begitu tulus, hanya untuk menghindari perjodohan itu. Kiran hanya bisa menunduk malu, bahkan untuk menatap pria itu-pun, rasa-nya dia sudah tidak memiliki muka. Sebenarnya dia harus menyadari siapa dirinya? Mana mungkin seorang pria, sekelas Rangga Wijaya, mau mencintainya yang tak sebanding dengan mendiang istrinya, Rani! Yang sangat cantik, dan tentunya pintar.


"Aku begitu bodoh! Cintaku yang begitu besar padamu, sudah membodohkan akal sehatku. Dan aku terlalu percaya diri, kalau kau tulus akan menerima cintaku. Sebenarnya aku harus berpikir terlebih dahulu, mana mungkin orang seperti dirimu, mau mencintaiku." seru-nya pelan.

__ADS_1


Rangga hanya bisa menghembuskan napas panjangnya. Ada sedikit sesak di dadanya, mendengar kata-kata Kiran yang sedikit menyentuh hati itu. Kilatan mata yang sedari tadi nampak berkobar- seketika sayu, saat iba seketika mencuat dalam diri lelaki kaya itu. Tapi dengan cepat -Rangga menepisnya, karena takut jika akan ada perasaannya dalam diri pria itu.


"Cepat tanda tangan di situ. Kau tidak perlu khawatir, selama satu tahun ini aku akan tetap membiayai hidupmu. Dan aku minta jaga sikapmu, karena aku sama sekali tidak mau -ada gosip di luar sana-yang buruk tentangmu. Setidaknya jagalah sikapmu, selama satu tahun ini- karena orang mengetahui, kalau kau adalah istriku."


Berkeping-keping hatinya saat ini. Tapi Kiran, tetap berusaha untuk tetap tegar, di depan pria yang begitu dia cintai. Dag-dig-dug- getaran cinta kembali dia rasakan- pada Rangga, yang tidak membalas cinta itu.


Melukis senyum palsu-nya karena sesungguhnya hati itu tengah menangis, dengan tampilan yang untuk mememuhi itu semua. Dua mata yang sudah berkaca-kaca, menatap pada Rangga akan cinta-nya yang ter'amat sangat. Tapi pria itu, hanya menampilkan sikap acuhnya.


"Mas...." panggil Kiran, saat tinta hitam itu- akan dia goreskan, di mana di lembaran kertas itu, sudah tertulis nama diri-nua sebagai pihak kedua.


"Tanda tanganlah, aku tidak punya banyak waktu. Ini sudah malam, dan aku harus segera istirahat. Kau pun tahu, kalau hari ini sangat melelahkan." jawab Rangga, yang tak ingin berlama-lama bersama gadis itu.


"Oh Tuhan...Apa yang harus kulakukan? Ini sangat menyakitkan. Aku begitu mencintainya, bahkan sangat mencintainya. Hingga hati ini begitu luka, kala dia mengatakan, kalau pernikahan ini, hanya pernikahan kontrak." bathin Kiran.


"Kenapa kau diam saja? Cepat tanda tangan! Aku tidak punya banyak waktu, aku ingin istirahat. Aku sangat lelah, Kiran..." Rangga meninggikan volume suaranya, mendapati Kiran yang tak kunjung membubuhi tanda tangan-nya.

__ADS_1


Berat. Sangat berat tangan itu, saat akan mengarah pada sebuah pena, yang berada di samping map itu. Perlahan tangan itu- menggapai pena ! Dan sepasang mata itu, ter-lempar pada Rangga, yang tetap menampilkan sikap dinginnya. Mendapati sikap acuh, dan dinginnya Rangga, membuat hati Kiran- semakin terluka. Menghembuskan napas tegas-nya, dan segera membubuhi tanda tangannya di sana, sebab sedari tadi Rangga terus menampilkan sikap tidak sabarannya.


"Sudah Mas...Aku sudah menandatangani surat kontrak-nya."


"Terima kasih. Dan sekali lagi, maafkan aku- yang sudah membuatmu terjebak dalam situasi sulit, yang kuhadapi di kelurgaku. Tapi ini salah satu caranya- agar aku bisa terbebas, dari perjodohan ini. Begitu satu tahun berlalu, aku akan segera menceraikanmu, jadi kau bisa kembali melanjutkan hidupmu."


Kiran melukis senyum palsunya. Hatinya kembali sakit, saat Rangga mengatakan -akan menceraikan dirinya, setelah satu tahun kemudian pernikahan mereka, padahal saat mengucapkan janji suci, dia sangat mengharap-kan ini pernikahannya yang terakhir, karena hanya seorang Rangga-lah yang diq cintai.


"Apakah kau tidak bisa, belajar mencintaiku-Mas?" Jarak yang sedikit jauh- dia memandang wajah tampan di sana. Besar harapan dirinya, agar Rangga memberi membuka hati untuk-nya, walaupun hanya secelah.


"Maafkan aku. Tapi cinta ini, hanya untuk istriku, Rani. Karena begitu besar-rasa cinta-ini, membuat aku melakukan pernikahan gila ini. Yaitu menikahimu, agar terhindar dari pernikahanku, yang sebenarnya dengan Adisty." Rangga mempertegas kata-katanya. Walau-pun dia tahu Kiran sangat kecewa padanya, tapi dia tidak punya pilihan lain, selain memanfaatkan gadis itu. Tidak ingin berlama-lama berada di kamar istri kontraknya- Rangga segera mengambil langkah panjangnya, menghampiri pada meja di mana tadi dia letakkan, surat kontrak pernikahan itu.


Menggapainya, dan berucap pada Kiran- sebelum berlalu dari tempat itu.


"Istirahatlah, ini sudah malam. Aku tahu, kau pasti lelah. Dan mulai hari ini, kamar ini adalah milikmu. Lakukan apa-pun sesukamu, dan beritahu aku apa yang kau butuhkan. Karena selama satu tahun ke depan, kita akan melakukan drama sebagai sepasang suami istri." seru Rangga, dan berlalu begitu saja- dari kamar gadis malang itu.

__ADS_1


Remang-remang kembali menyelimuti suasana kamar, saat ada cahaya yang menerobos dari luar- saat pintu kamar terbuka. Tangisan yang sedari tadi Kiran bendung, akhirnya pecah juga- setelah kepergian Rangga Wijaya dari kamarnya.


"Aku sangat mencintaimu, Mas! Bahkan sangat mencintaimu...Kenapa harus sesakit ini? Padahal cinta ini, begitu tulus untukmu Mas Rangga...Oh Tuhan, takdir macam apa ini?! Kenapa engkau memberi rasa cinta, yang teramat sangat? Padahal kau tahu! Cinta itu, tidak akan pernah terbalaskan." gumam Kiran, saat air mata itu sudah mengalir deras membasahi ke dua pipinya.


__ADS_2