Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
KEMATIAN MAMA RATI


__ADS_3

Mama Rati terlihat panik, mendengar apa yang baru saja Mama Dilla katakan. Dan hal yang membuat dia panik, jika saja perselingkuhannya-ini, sampai ke telinga suaminya.


Adisty yang masih merasa kesal dengan sang Bunda-yang merasa sudah mengkhianati Ayahnya, justru sama sekali tidak perduli apa yang dikatakan Mama Dilla.


Wanita berusia dua puluh sembilan tahun itu masih menunjukkan murkanya, dengan apa yang dilakukan sang Bunda, dibelakang Papa tirinya.


"Katakan, padaku. Sejak kapan, Mama menjalin hubungan dengan laki-laki ini?!" Nada terdengar tegas, saat dia melayangkan pertanyaan.


"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan!" ujar Jack, dengan nada tegas.


Tertawa rendah, dengan memberi tatapan mencemoohnya pada Jack, saat dia mendengar ucapan pria lansia, yang masih terlihat atletis dengan umurnya, yang tentunya sudah tidak muda lagi.


"Memang apa yang tidak sesuai dengan apa yang aku pikirkan?!"


"Aku..." Belum selesai Jack menyelesaikan ucapannya, Mama Rati sudah menyela, sebab wanita lansia itu sangat tidak mau, jika putrinya sampai mengetahui, siapa Jack sebenarnya.


"Aku mohon jack, jangan katakan!" pintanya cepat, dengan tatapan penuh harap, pada kekasih gelapnya itu.


Mendengar ucapan, dan gelagat sang Bunda yang mencurigakan, membuat Adisty semakin dilanda rasa penasaran. Dan dia semakin meyakini, kalau ada hal yang disembunyikan Ibunya.


"Katakan. Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku?!" tanya Adisty, dengan nada suara yan terdengar menuntut.


"Aku adalah..." Dan lagi-lagi Mama Rati, menyela ucapan Jack, dengan tatapan memohonnya pada pria itu, agar tidak mengatakan kebenarannya, pada putri mereka Adisty.


"Jack..." ujarnya penuh harap, sembari mengatupkan tatapan memohonnya pada pria lansia itu.


"Katakan, Maa! Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan?! Katakan. Aku mohon katakan!" pinta Adisty, dengan nada suara yang terdengar tegas, namun memberi tatapan penuh harap.


"Sudalah Rati, mau sampai kapan kita sembunyikan ini terus?? Toh, cepat atau lambat dia juga akan mengetahui kebenarannya," sungut Jack, dengan raut wajah yang terlihat lelah.


Kening Adisty mengkerut, dengan tatapan penuh selidik menatap pada sang Bunda, setelah mendengar apa yang pria itu katakan.


"Maa..Katakan. Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan?!" tanya Disty dengan setengah teriakan, karena kesal saat Ibunya terus menyela apa yang dikatakan kekasih gelapnya, itu.


"Aku, adalah Ayah kandungmu," jawab Jack, dengan menekan kata-katanya.


Adisty tertawa renyah, merasa sangat tidak mungkin, dengan ucapan pria lansia itu. Mana mungkin Ayah kandungnya masih hidup, sebab selama ini yang dia tahu dari Ibunya, kalau Ayah kandungnya-itu, sudah meninggal.


"Bohong! Kau pasti berbohong!" Sepasang pupil mata Disty nampak sudah berkabut, akibat genangan air mata yang sudah menumpuk, didua kelopak matanya.


"Aku tidak berbohong. Itulah kenyataannya. Aku adalah Ayah kandungmu!"


Adisty masih nampak tidak percaya. Dua matanya sudah menumpakkan air mata. Sedih, dan juga kecewa bercampur jadi satu, sebab selama ini yang dia tahu, kalau Ayah biologisnya itu, sudah meninggal.


"Maa...Katakan! Ini semua tidak benar! Katakan, kalau dia bukan Ayah kandungku!" ujar Disty, dengan air mata yang terus saja tumpah, membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


Mama Rati hanya menangis, dia tak bisa berkata-kata lagi. Dan yang dia takut, kalau putrinya itu akan sangat membencinya. Dan melihat tangisan kekasih gelapnya, membuat Jack merasa bersalah, dan juga terselip penyesalan yang sudah membongkar kebenaran ini.


"Itu memang benar. Selama ini kenapa Mamamu tidak mau mengatakan keberadaan-ku, karena kau terlahir dari hubungan di luar nikah. Aku seorang Nara Pidana, dan juga mantan pengedar Narkoba. Karena tidak mau membuat kau malu dengan lingkungan sosial, Mamamu terpaksa berbohong tentang kebenaran semua ini," ujar Jack panjang lebar.


"Cukup Jack....Cukup..." teriak Mama Rati, saat mendapati tangidan putrinya.


"Tidak...Ini tidak mungkin. Ini sama sekali tidak mungkin!" tangis Adisty, yang nampak masih belum mau terima, tentang kenyataan siapa diri-nya?


"Maafkan Mama Disty...Maafkan Mama. Mama melakukan semua ini, semata-mata agar kau bahagia. Mama hanya tidak mau membuat kau malu, dan orang mengatai diri-muanak haram!" lirih Mama Rati, dengan butir-butir bening, yang terus membasahi dua pipinya.


"Cukup!"bentak Adisty dengan nada suara menggema. Sakit hati yang begitu dalam, saat mengetahui bagaimana dia bisa ada? Dan juga kebenaran tentang Ayah kandungnya yang merupakan seorang napi, membuat dadanya, terasa nyeri. "Aku benci Mama...Aku benci kalian semuanya!" ujarnya dengan teriakan yang sangat menggema, dan segera berlari ke luar dari dalam restorant.


Mama Rati, dan Jack segera berlari mengejar putri mereka. Sebab melihat bagaimana sikap Adisty yang nampak sulit untuk menerima kenyataan ini, kedua orang lansia itu, takut jika putri mereka, akan melakukan hal yang nekat.


Mama Rati terus mengejar putrinya-sebab takut jika Adisty berbuat nekat, sama sekali tidak menyadari kalau adanya sebuah mobil, yang datang dari lawan arah. Hingga kecelakaan pun tak bisa terhindar, karena mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi.


"Rati awas..." teriak Jack, pada Mama Rati yang akan menyebrang jalan, mengejar putrinya-Adisty.


Memalingkan wajahnya, dan betapa kagetnya dia, saat mendapati sebuah mobil, yang melaju cepat ke arahnya, hingga kecelakaan tak bisa terhindar.


BRAAK! Mama Rati terpental jauh dari tempatnya memijakkan kakinya, dan langsung meninggal di tempat.


"Rati..." teriak Jack yang histeris, saat mendapati kekasih gelapnya, terkapar tak berdaya.


Adisty yang mendengar suara keras, seketika langsung berbalik-pada asal suara. Dan betapa terkejutnya wanita itu, saat mendapati Ibunya yang sudah tidak sadarkan diri, dan berlumuran darah.


****


COMPANY GROUP


TING! Pintu lift terbuka lebar, saat diri wanita lansia itu sudah berada di lantai dua puluh, di mana ruang kerja anaknya berada. Dengan gayanya yang angkuh-yang sangat melekat pada dirinya, Mama Dilla melangkahkan dua kakinya dengan anggun, menuju ruang kerja putranya.


"Doni..." panggil Mama Dilla, saat pria muda itu tengah sibuk dengan tumpukan berkas, di atas meja.


Doni mendongakkan wajahnya, saat mendengar seseorang menyeruhkan namanya. Dan sedikit kaget, saat mendapati Ibunya Tuannya.


"Nyonya Besar!"


Menyeringai rendah, mendapati sikap Doni yang terkejut, melihat keberadaannya.


"Tuanmu, ada? Maksud saya, putra saya ada?" tanya Mama Dilla, dengan mempertegas ucapan, dipenghujung kalimatnya.


"Tuan Ada, Nyonya!" jawabnya, sebab sangat sudah memahami, kalau Mama Dilla datang ke kantor putranya, pasti akan berujung perdebatan antara keduanya.


"Baiklah, kalau begitu saya akan menemuinya sekarang," ujar Mama Dilla, dengan melangkahkan kakinya menuju ruang kerja putranya.

__ADS_1


Rangga yang tengah disibukkan dengan pekerjaan, langsung teralihkan tatapan mata itu, setelah mendengar suara pintu terbuka. Raut wajah biasanya, seketika berubah tegang, saat mendapati keberadaan sang Bunda.


"Untuk apa Mama kemari?!" tanya Rangga, dengan nada yang terdengar tegas. Sebab sudah tahu, kalau sang Bunda datang ke kantornya pasti akan menimbulkan keributan antara keduanya.


Tak menjawab, Mama Dilla terus melangkan kakinya dengan anggun, dan mendaratkan tubuhnya, disalah satu kursi kursi tunggal.


"Katakan. Untuk apa datang kemari?! Kalau Mama ingin menjodohkan aku lagi, dengan wanita pilihan Mama lagi, maka sebaiknya Mama ke luar!"


Mendengar ucapan putranya yang nampak seperti mengusir dirinya, Mama Dilla nampak sangat tidak terima.


"Kamu memang anak kurang ajar Rangga! Aku Mamamu, tapi tega kamu mengusirku!" sungut Mama Dilla, dengan sedikit teriakan.


Menghembuskan napasnya yang dalam, berusaha membendung emosi dalam dirinya.


Dan Rangga pun berucap, dengan nada suara yang pelan.


"Kalau begitu katakan padaku. Tujuan apa Mama datang kemari?!"


Tersenyum, seraya bangkit dari duduknya, melangkah menghampiri putranya, yang tetap duduk di kursi kebesarannya.


"Coba kamu nonton ini! Apakah kamu masih mau, menjadi bagian dari keluarga yang punya skandal ini?!" Dengan mengarahkan video rekaman itu, tepat di depan putranya.


Rangga yang menyaksikan perdebatan Adisty, satu lelaki asing, dan juga Mama Rati, dibuat terkejut. Namun sedetik kemudian perhatiannya teralihkan, saat nada panjang menyapa gawainya, dan itu ternyata panggilan telepone dari sang istri, Kiran.


"Hallo, ada apa Kiran?"


"Mas..." Dengan isak tangis, yang terdengar di sana.


Rangga terlihat panik, mendengar tangis sang istri. Sebab yang membuat dia takut sekarang adalah, Istrinya yang tengah mengandung anak mereka.


"Katakan. Ada apa Kiran? Dan kenapa kau menangis?"


Melihat raut wajah panik putranya itu, membuat Mama Dilla juga dilanda rasa penasaran.


Tapi dia setia membungkam, dengan rasa ingin tahunya.


"Mama Rati meninggal Mas...Mama Rati meninggal karena kecelakaan!"


"Apa meninggal??"


"Iya Mas."


"Ya, sudah kamu tenanglah. Nanti aku akan ke sana." Dengan langsung memutuskan sambungan teleponenya.


"Siapa yang meninggal , Rangga?" Mama Dilla langsung melayangkan pertanyaan, akibat rasa penasarannya yang sudah dia tahan.

__ADS_1


"Mama Rati, Maa.. Ibu tiri dari Kiran. Dan kejadiannya, di restorant yang ada dalam rekaman ini," jelas Rangga..


__ADS_2