
Dalam hidup, bagi seorang gadis biasa seperti Kiran Larasati, tentu-nya, wanita itu sama sekali tidak pernah dihadapkan dengan situasi segenting ini. Hidupnya selalu adem-ayem, walaupun gadis berusia dua puluh enam tahun itu, memiliki hubungan yang tidak baik dengan keluarga kandungnya. Rasa takut yang teramat sangat membuat Kiran, tak memperdulikan status dia, dan Rangga yang hanya sebatas menikah kontrak. Tubuh wanita itu begitu menempel pada Rangga, dan sama sekali tidak meninggalkan ruangan. Dan tanpa Kiran sadari, bukit kembarnya sudah begitu menempel di tubuh Rangga, dan tentu saja merusak fokus bagi Rangga sebagai pria normal.
"Mas...Aku takut, aku takut Mas," ujar Kiran, kala suara tembakan kembali menyapa mereka.
Dihadapkan dengan situasi seperti inu, tentu saja membuat Rangga was-was, apalagi saat ini dia tidak sendiri. Jadi tentu saja Rangga harus lebih hati-hati, agar dirinya dapat melindungi Kiran.
Tapi konsentrasi pria itu seketika terusik, saat bukit kembar milik Kiran, begitu menempel di tubuhnya. Tentu saja itu membuat Rangga sebagai pria normal, hilang fokus apalagi sejak kematian Rani, pria itu sama sekali tidak pernah merasakan bercinta dengan seorang wanita.
"Bisakah kau menjauh dariku?!" pinta Rangga. Nada suara pria itu terdengar kasar, saat melontarkan permintaannya.
"Apakah Mas sudah gila? Meminta aku menjauh dari Mas, aku belum mau mati Mas,"
"Ma..Ma..Maksud aku itu.." Dengan menjeda ucapannya, karena tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya.
"Itu apa Mas?" tanya Kiran balik. Wanita itu seketika menunjukkan wajah bingungnya, dengan permintaan Rangga yang sama sekali tidak dia mengerti.
"itu-mu, kiran.."
"Itu apa??" Nada suara Kiran sudah mulai meninggi, karena kesal uacapan Rangga, yang memang sama sekali tidak dia pahami.
DOORR! Suara tembakan kembali menyapa, yang membuat keduanya, kembali dilanda suasana tegang.
"Mas...Aku takut...Aku takut..." Kiran semakin menggenggam tangan Rangga, hingga kekenyalan benda itu semakin terasa untuk Rangga.
"Ya Tuhan..Kuatkan imanku," gumam Rangga dalam hati, saat gairah muncul dalam situasi segenting ini.
"Kamu tunggu di sini, aku akan membalas tembakan mereka!"
"Gak! Aku gak mau! Bagaimana kalau kamu mati, dan aku jadi janda!"
"Jadi kamu menyumpahi agar aku cepat mati!" Rangga nampak terlihat begitu kesal, mendengar apa yang baru saja Kiran kataan.
DOOR! Suara tembakan yang kembali menyapa mereka lagi, hingga membuat Kiran kembali berteriak menyeruhkan Rangga.
"Mas..."
Tanpa memperdulikan Kiran, Rangga segera ke luar dari persembunyiannya. Dengan berani-nya pria itu melangkah sedikit maju, dan menembak balik lawannya.
DOOR...DOOr..... Tembakan yang diberikan Rangga, membuat suasana semakin genting bagi seorang Kiran.
__ADS_1
Sesekali Kiran mengangkat wajahnya, berusaha melihat situasi, untuk memastikan kalau Rangga baik-baik saja. Tetesan bening menetes dari dua sudut mata gadis itu, saat mendapati darah yang terus menetes dari lengan Rangga, akibat tembakan hanya karena melindungi dirinya.
Gaun yang menjuntai Kiran sobek, dan dengan beraninya wanita itu ke luar dari persembunyiannya, hanya untuk menyambangi Rangga, walaupun tembakan masih saja terjadi, dan hampir saja mengenai gadis muda itu.
DOOR!
AUUWW! pekik Kiran, saat sebuah peluru hampir saja mengenai dirinya.
"Kiran, apa yang kamu lakukan?! Kenapa kamu datang kemari? Di sini sangat bahaya."
"Lenganmu terus mengeluarkan darah Mas," timpal Kiran, dengan langsung membalut luka Rangga, dengan serpihan kain dari gaunnya. Sekilas saling menatap, tapi wajah keduanya langsung berpaling dengan sedikit gugup.
"Terima kasih, dan jangan ke luar. Kau mengerti?"
"Iya Mas, dan semangat!" ucap Kiran dengan menyemangati Rangga, yang akan kembali menembak mereka. Dan tiba-tiba saja ada suara tembakan yang datang dari arah mereka, dan itu adalah Doni.
DOOR!
Tembakan yang diberikan Doni, berhasil melumpukan pria itu. Sekretaris berusia dua puluh delapan tahun itu, segera mengambil langkah panjangnnya, menghampiri pada pria, yang sedari tadi terlibat aksi tembak-menembak, dengan Tuannya. Topeng yang menutup kepala pria itu segera Doni lepas, agar dapat mengenalnya.
"Apakah kau mengenalnya?" tanya Rangga. Langkah kaki pria itu dia ayunkan, menghampiri pada Doni yang sudah berada dekat dengan pelaku, yang sudah tewas.
"Tidak Tuan, dan saya yakin kalau dia adalah orang suruhan."
Melihat apa yang terjadi hari ini, dan bagaimana Rangga menghadapi hal semacam itu, membuat Kiran yakin kalau ada hal tentang Rangga yang dia tidak ketahui. Mungkinkah? Rangga seorang mafia, atau ada orang yang ingin membunuhnya. Berjuta pertanyaan tiba-tiba bersarang dalam diri Kiran, membuat wanita itu bergidik ngeri.
"Yang benar saja, kalau suami satu tahunku ini, adalah seorang penajahat, atau mantan mafia," gumam Kiran dalam hati.
"Mau sampai kapan, kau terus berada di sana?" tanya Rangga tiba-tiba, yang membela lamunan Kiran seketika.
"I..Iya Mas," jawab Kiran terbata, dan langsung melangkahkan kakinya, menuju kearah Rangga, dan Doni.
"Apakah dia sudah meninggal Mas?"
"Untung saja kau bertanya padaku, kalau kau bertanya pada orang lain, pasti orang akan menertawakanmu. Kalau dia belum mati, mana mungkin aksi tembakan ini selesai bodoh!" seru Rangga dengan menjitak pelan, kepala Kiran.
"Sakit Mas! Apakah kau pikir kepalaku ini, bola?!" umpat Kiran kesal, dengan memberi tatapan tajamnya pada Rangga, yang hanya ditanggapi pria itu dengan sebuah senyuman.
****
__ADS_1
RUMAH SAKIT
Satu tangan Rangga begitu dia pegang erat pada tepian ranjang, saat Devan berusaha mengeluarkan peluru dari dalam lengannya, yang tidak terlalu dalam.
"Kau selalu saja seperti ini. Kalau Rani masih ada, pasti dia akan sangat marah padamu."
"Aku sudah benar-benar melupakan hal itu. Ada orang yang ingin membunuhku, dan aku yakin kalau dia adalah orang yang sama dengan orang yang membunuh Rani."
"Sekarang pikirkan siapa-siapa musuhmu."
"Banyak. Tapi yang paling membenciku, adalah kembaranmu. Dan aku tidak tahu, kenapa kalian berdua sangat berbeda. Kau adalah pria yang alim, bahkan memilih untuk menjadi seorang Dokter, tapi dia.." Rangga tak dapat melanjutkan ucapannya, saat Devan menyela.
"Dia sudah tenang di alam sana, jadi jangan mengungkit lagi," seru Devan. Tapi tiba-tiba saja pria itu meringis kesakitan, saat Devan berhasil mengeluarkan tima panas, dari dalam lengannya.
"Aaahhhhhh" Jeritan panjang Rangga, membuat Kiran yang sedari tadi setia menunggu di luar langsung berlari masuk.
Pintu yang tertutup rapat, langsung Kiran lebarkan hingga menimbulkan suara keriburtan, dan mengalihkan tatapan kedua pria itu, dan juga salah satu perawat.
BRAAKK!
Tak memperdulikan keributan yang dia timbulkan, Kiran segera mengambil langkah panjangnya, membawa tubuh itu ke arah ranjang, di mana Rangga berbaring.
"Mas..Kau baik-baik saja?! Kau tidak apa-apakan?"
Senyuman kecil, Devan lukis di wajah, mendapati bagaimana paniknya Kiran, pada suami mendiang dari Rani.
"Suamimu baik-baik saja, Kiran! Jadi kau tidak perlu khawatir. Sebab hal seperti ini, bukan hal baru baginya."
"Apa yang kamu bicarakan?!" hardik Rangga, dengan menampilkan tatapan tidak sukanya.
"Maaf!" Senyuman kecil mengukir di wajah Devan, yang merasa bersalah dengan ucapannya.
Senyuman kecil mengukir di wajah Kiran. Tapi nyatanya senyuman itu, dia lukis palsu. Penasaran lagi-lagi dia rasakan, dengan apa yang baru saja diucapkan Dokter Devan barusan.
"Kenapa kamu melamun?" tanya Rangga tiba-tiba, yang membela lamunan Kiran seketika.
"Tidak Mas!" Dengan berusaha menyamarkan raut wajah itu, dengan sebuah senyuman. "Dan bagaimana apakah masih sakit?" tanya Kiran kemudian.
"Tidak seperti tadi lagi, saat pelurunya masih berada di dalam."
__ADS_1
Kiran tersenyum. Dua mata itu dia begitu tenggelamkan, kala tatapan matanya dia hanyutkan pada Rangga, melihat pria itu meringis saat Devan membalut luka tembaknya.
"Aku yakin, kalau ada hal lain tentang Mas Rangga, yang tidak aku ketahui, dan aku akan mencari tahu, untuk itu," gumam Kiran dalam hati.