Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
MEMBERI PASPOR PADA KIRAN


__ADS_3

Emosi begitu mengusai diri pria itu, dengan terlihat jelas raut wajahnya yang begitu memerah-hingga simpulan dasi, yang menyimpul sempurna di krabaju lehernya, Rangga sedikit mengurainya. Doni yang tengah menyetir kendaraan hanya membungkam, dan membiarkan emosi Tuannya, terluapkan.


"Seandainya saja kalau bukan memikirkan dia Ayah dari Kiran, mungkin aku sudah mem..." sungut Rangga yang kian emosi, namun ucapan itu tak jadi dia lanjutkan mengingat kebersaan dia, dan Doni saat ini.


Doni memlih tetap membungkam, dengan terus melakukan kegiatan menyetir mobil Tuannya. Mendapati emosi Tuannya yang begitu meluap-luap, membuat pria berusia dua puluh sembilan tahun itu, tak berani untuk bertanya. Melaju pelan dalam keheningan, membiarkan amarah Bosnya, ter-arah mengikiti alurnya. Setelah cukup lama dia membungkam, akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.


"Tuan.." panggil Doni, dengan nada suara yang pelan.


Hanya melirik lewat kaca spion mobil, yang mempertemukan tatapan matanya, dan Doni. "Apa yang akan anda lakukan sekarang? Karena sepert yang saya lihat, Papa dari Nona Kiran tetap bersikeras, tidak ingin Nona Kiran kembali pada anda."


Rangga mendesahkan napasnya yang dalam- kaca mobil yang tertutup rapat, sedikit dia turunkan, hingga angin yang menembus masuk, membuat suasana hati pria itu, sedikit jauh lebih baik.


"Tidak ada cara lain," ujar Rangga, setelah lama dia membungkam.


Mendengar apa yang dikatakan Tuannya, membuat raut wajah Doni seketika berubah serius-sebab terselip akan rasa penasaran di dalamnya, dengan apa yang baru saja Tuannya katakan. Dan Doni meyakini, kalau Bosnya itu memiliki sebuah rencana.


"Maksud anda?" tanya Doni, dengan raut wajah yang kian semakin penasaran saja.


"Ayah Mertuaku, akan mengirimkan Kiran ke Inggris. Tidak ada cara lain, selain aku menculik istriku sendiri!" balasnya dengan menekan kata-katanya.


Sedikit kaget wajah pria itu, setelaah mendengar apa yang Rangga, barusan. Memang bukan ini hal baru lagi bagi Tuannya, tapi Doni sama sekali tidak menyangkah Tuannya akan sampai melakukan hal sejauh ini, agar dapat bersama istrinya kembali.


"Apakah anda yakin Tuan?" tanya Doni, yang ingin memastikan ucapan pria berisia tiga puluh tahun itu.


"Ayah Mertuaku begitu sangat membenciku, sejak dia tahu perniakahan aku, dan Kiran sebenarnya. Bahkan kehamilan anaknya saja, sama sekali tidak membuat dia luluh. Jadi kalau memang itu hanya satu-satunya cara agar aku dapat kembali bersama Kiran, mau tidak mau harus aku lakukan."


"Dan apakah Nona Kiran tahu?"


"Tidak! Dan aku juga tidak mau memberitahukan ini padanya. Dia akan tahu, setelah aku berhasil menculiknya."


"Dan anda akan membawa Nona Kiran ke mana, Tuan? Aku yakin, kalau ke rumah, Tuan Andi pasti akan kembali mengambil anaknya."


"Ke vila. Aku akan membawa Kiran bersembunyi di vilaku. Setidaknya sampai Ayah Mertuaku, dapat merestui kembali hubungan aku, dan Kiran. Dan aku akan menculik Kiran, saat dia dalam perjalanan menuju bandara, saat dia akan ke Inggris nanti."


Perbicangan itu pun berakhir, setelah Doni memilih membungkam, dan Rangga yang melemparkan pandangannya ke arah luar, membiarkan tiupan angin terasa oleh sedikit wajahnya.


****

__ADS_1


Kiran hanya bisa menangis, mengeluarkan sebuah kesedihan yang dia pikul. Mendapati penolakan sang Ayah terhadap Rangga-suaminya, membuat wanita itu semakin sedih, dan tentu saja kian terpuruk dengan kondisinya yang tengah berbadan dua. Bukan hanya memikiran bagaimana nasip pernikahan dia, dan Rangga yang berada diujung tanduk? Tapi dia memikirkan juga, bagaimana nasip bayi dalam kandungannya. Dan tentu saja, anaknya akan terlahir tanpa seorang Ayah.


Suara pintu yang terbuka dengan kasar, mengalihkan tatapan mata Kiran seketika. Dan di depan pintu, dia mendapati sosok Kakak tirinya-Adisty, dan juga Ibu t Mama Rati.


Adisty bersedekap, dengan memberi tatapan menceooh pada Kiran, yang terus menatap padanya.


"Hei Kiran!" Nada suara Adisty begitu melengking di dalam kamar itu, akibat emosi yang sudah sedari tadi dia tahan pada adik tirinya itu.


Air mata yang mengalir membasahi kedua pipinya, Kiran usap cepat dengan tangis yang berusaha dia redam. Dan dia tahu, kalau kedatangan Kakak tirinya, dan Ibu trinya Mama Rati, apa


lagi kalau bukan, mencecar dirinya.


"Kalau kalian datang hanya untuk marah-marah, jauh lebih baik kalian segera pergi! Aku ingin istirahat, dan tidak punya waktu untuk meladeni ucapan kalian!"


"Kapan kamu pergi dari rumah ini?!" tanya Adisty dengan nada yang terdengar, menahan amarah.


Kiran terkekeh pelan, menatap tidak percaya pada saudara wanita berambut hitam itu, setelah mendengar apa yang dia tanyakan.


"Apa kamu tidak salah bicara, Adisty?!"


"Kalau Papa selama ini tidak pernah mempermasalahkannya, kenapa jadi kamu, yang marah-marah? Bukankah selama ini, kamu yang lebih banyak menghabiskan uang Papaku?!"


"Kamu!" Dengan ingin memberikan sebuan tamparan di pipi Kiran, namun ayunan tangan itu hanya bisa melayang di udara, saat Papa Andi bersuara.


"Adisty!"


"Papa.." ujar Mama Rati yang nampak sangat kaget, saat mendapati kedatangan suaminya.


"Papa..." gumam Adisty, dengan raut wajah yang sudah berubah pias, dan menampilkan senyum kikuknya.


"Apa yang kalian lakukan di kamar Kiran?!" tanya Papa Andi, dengan intonasi suara tegas.


"Kami tidak melakuan apa-apa Paa...Mama, dan Adisty hanya datang ke sini, hanya untuk menanyakan usia kehamilan Kiran."


"Kalau begitu kalian ke luarlah, Papa ingin bicara berdua dengan Kiran."


Tentu saja keduanya tak ingin pergi, namun melihat tatapan Papa Andi yang terus mengarah pada mereka, membuat pasangan Ibu, dan anak itu mau tidak mau mengiyahkan keinginan pria lansia itu.

__ADS_1


Tanpa bersuara, akhirnya Mama Rati, dan putrinya melenggangkan kakinya, menjauh dari dalam kamar wanita berusia dua puluh enak tahun itu. Memastikan anak, dan istrinya sudah berlalu jauh, Papa Andi segera menutup pintu kamar putrinya.


Membalikkan tubuh itu, dengan menatap intens pada Kiran, yang hanya menunduk, tanpa berani menatap padanya. Kiran menyadari kesalahannya, hingga yang bisa dia lakukan hanya menundukkan wajahnya, tanpa berani menatap pada sang Ayah.


"Maafkan aku, aku melakukan hal itu dengannya, mungkin karena aku terlalu begitu mencintai Mas Rangga. Cinta sudah membutahkan mataku, hingga aku tidak berpikir sebenarnya bagaimana pernikahan kami. Tapi jika Papa meminta aku untuk menggugurkan anak ini, maaf aku tidak mau!" seru Kiran, dengan mempertegas ucapannya, dipenghujung kalimat.


"Maaf. Kalau memang Papa sudah membuatmu, sangat terluka. Tapi Papa tidak bisa menerima Rangga, menjadi menantu Papa lagi. Karena Papa merasa, dia sudah terlalu begitu menginjak harga dirimu, dan juga harga diri Papa sebagai orang tuamu." Menyerahkan sebuah buku kecil berwarna hijau lumut, yang diterima oleh Kiran dengan wajah bingungnya.


"Apa ini Papa?" tanya Kiran, dengan mendongakkan wajahnya menatap pada sang Ayah, yang hanya berdiri sedari tadi.


"Itu paspor. Papa sudah menghubungi Bibimu, di sana. Tiga hari lagi kamu berangkat."


"Apa?! ujar Kiran, yang begitu sangat terkejut. " Apakah ini tidak terlalu cepat, Paa?" tanya Kiran yang merasa tidak terima.


"Lebih cepat, lebih baik. Karena Papa ingin, kamu segera pergi jauh dari hidup Rangga- jadi kamu bisa mulai mengemasi barang-barang-mu, dari sekarang," tegas Papa Andi, dengan segera berlalu dari dalam kamar putrinya.


Wajah itu kian menambah sayunya, setelah menedengar ucapan ayahnya, yang membuat dunia Kiran terasa gelap.


"Ya Tuhan...Apakah ini akhir hubungan aku, dan Mas Rangga?" gumam Kiran, dengan wajah frustasinya.


****


Melangkah beriringan bersama putrinya, menuju lantai bawa, Mama Rati dibuat stress dengan nada panjang pda gawainya, yang sedari tadi terus mendendangkan nadanya, dan tentu saja Mama Rati tidak berani mengangkatnya, karena itu dari kekasih gelapnya, yang tak lain adalah ayah kandung dari Adisty.


"Siapa yang menelpone Maa? Kenapa teleponenya terus di putus?" tanya Adisty, dengan melemparkan tatapan penasarannya pada sang Bunda, saat keduanya menuruni setiap anak tangga.


"Bu..Bukan siapa-siapa!" jawab Mama Rati, dengan raut wajah yang sedikit gugup.


"Kalau bukan siapa-siapa, kenapa wajah Mama jadi pucat begitu?" tanya Adisty, dengan tatapan penuh selidik, dan menghentikan langkahnya pada dasar lantai, akibat rasa penasaran yang kian mendalam.


Kian memucat wajah Mama Rati, hingga nada pendek yang menyapa, mengalihkan tatapan mata wanita lansia itu pada layar ponselnya.


Dan ternyata pesan itu, dikirim oleh Jack.


"Kapan kamu akan mengenalkan aku, pada Adisty sebagai Ayahnya? Apakah kamu mau, kalau aku langsung mendatangi rumahmu? Dan mengatakan pada Adisty, kalau Ayahnya masih hidup, dan belum meninggal."


"Kamu tunggu di kosmu. Sedikit lagi, aku akan datang." Membalas pesan cepat pesan itu, dan tentu saja itu semakin memancing rasa penasaran Adisty.

__ADS_1


__ADS_2