
Ternyata sedari tadi gerak-gerik sang Bunda, ternyata tak luput dari pantauan Adisty, yang menatap pada Ibunya dengan tatapan penuh curiga.
"Maa..."
"I..Iya,"jawab Mama Rati. Menghadapi ancaman dari Jack-kekasih gelapnya, membuat wanita lansia itu terlihat sangat frustasi, akibat takut jika putrinya Adisty akan tahu mengetahui kebenaran tentang, Ayah kandunnya yang sebenarnya.
"Mama baik-baik saja? Kenapa Mama wajah Mama jadi pucat begitu? Dan tadi siapa yang menelpone berkali-kali? Dan kenapa, Mama tidak mengangkat teleponenya?" tanya Adisty, dengan tatapan penuh selidik, pada sang Bunda.
" Itu bu..Bukan siapa-siapa!" jawabnya Mama Rati, dengan senyuman kikuknya, berusaha menutupi raut wajahnya yang terlihat pucat pasih.
Wanita yang akan menginjak usia tiga puluh tanun itu, nampak belum sepenuhnya percaya dengan apa yang sang Bunda katakan, hingga lagi-lagi Adisty melontarkan pertanyaan pada Mama Rati, guna meyakini dirinya sendiri, kalau Ibunya, tidak menyembunyikan sesuatu darinya. "Apakah Mama yakin, tidak menyembunyikan swsuatu dariku?"
"Iya Sayang...Lagi pula guna apa Mama membohongimu," jawab sahut Mama Rati, dengan berusaha meyakinkan putrinya, saat dia dapat melihat dengan jelas, kalau Adisty tengah menaruh rasa curiga padanya.
Adisty terlihat percaya dengan ucapan Mama Rati, dan itu bisa membuat wanita lansia itu, dapat bernapas lega-sebab putrinya tidak menatapnya lagi, dengan tatapan curiga. Namun sampai kapan, dia menyembunyikan semua kebohongan ini dari putrinya? Yang Adisty tahu, kalau Ayah kandungnya sudah meninggal, dan terlahir dari kedua orang tua yang sudah menikah. Namun semua itu sangatlah tidak benar. Ayah kandungnya Jack, adalah mantan seorang pengedar Narkoba-juga Nara Pidana, dan terlahir dari sebuah kesalahan.
"Seandainya Adisty tahu, bagaimana dia bisa ada? Dan seperti apa sosok Ayah kandungnya, pasti dia akan sangat membenciku, dan juga pasti akan sangat sedih, sebab selama ini, aku sudah membohonginya," .gumam Mama Rati dalam hati.
****
Apa yang terjadi pada rumah tangganya, dan Rangga membuat raut wajah Kiran, terlihat sangat tidak bersemangat. Dan suasana hati itu semakin diperburuk, dengan janin dalam kandungannya-yang mungkinkah akan terlahir tanpa seorang Ayah? Dan itulah yang ada dalam pikiran, wanita berusia dua puluh enam tahun itu.
Larut dalam dunia lamunannya hingga tiba-tiba memory itu teringat pada gawainya, yang diberikan sang suami.
"Kenapa aku tidak berpikir untuk menghubungi Mas Rangga?" gumam Kiran, dengan langsung bangkit dari duduknya.
Langkah kaki itu Kiran ayunkan menuju sebuah lemari besar, yang terletak tak jauh dari ranjang king sizenya. Melebarkan daun pintu itu, dengan tangan yang menyusup masuk ke bawa tumpukan pakaiannya, dan menjangkau benda pipih itu.
Kembali melabuhkan tubuhnya di tepian ranjang, dan tentu saja dengan pintu kamar, yang sudah dia kunci.
Membuka aplikasi WA, dan mulai memainkan jari-jarinya pada barisan huruf, yang tertata rapi.
"Mas..." Satu kata pendek, yang Kiran tuliskan.
****
COMPANY GROUP.
Duduk bersandar pada kursi kebesaran, dengan raut lesuhnya. Mengingat pada sang Ayah Mertua, yang tetap kekeh ingin memisahkan dia, dan sang istri, membuat Rangga, tak dapat fokus kerja-hingga tumpukan berkas yang berada di atas meja, di-abaikan pria itu.
Doni yang duduk diseberang sana, hanya menatap dalam diam pada Tuan-nya, dan tentu saja dia tak berani bersuara-karena takut, bisa-bisa dia yang akan menjadi pelampiasan Bosnya. Heningnya suasana dalam ruang kerja memecah, saat tiba-tiba saja nada pendek menyapa gawai milik Rangga, yang tersimpan di atas meja. Satu tangan pria itu mengulur panjang, guna menjangkau benda pipih itu. Raut wajah yang sedari tadi nampak muram, seketika menampilkan rona bahagianya, saat mendapati pesan masuk, yang ternyata dikirim, oleh Kiran istrinya.
__ADS_1
"Yaa..." Dan saat dia menuliskan pesan itu, ternyata tak luput dari pantauan Doni, yang memberikan tatapan heran, kala mendapati raut wajah Bosnya, yang sudah berubah bahagia.
"Mungkinkan itu pesan yang dikirim oleh Istrinya? Hingga membuat Tuan tersenyum bahagia," gumam Doni dalam hati.
Dan beberapa detik kemudian, nada pendek kembali menyapa gawai milik Tuannya.
"Mas sebentar malam datang lagi yaa... Ada ahal yang ingin aku bicarakan."
"Tentang apa Kiran?"
"Pokoknya Mas datang saja, aku tunggu."
"Baiklah, nanti malam aku datang."
Suasana hening kamar itu, membela saat tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka, dan menampilkan sosok seorang wanita cantik, yang berada di depan pintu.
"Della!" gumam Rangga, yang sedikit kaget dengan kedatangan teman masa SMAnya, itu.
Senyuman manis Della ukir di wajah, dengan dua kaki yang masih dia pijakkan di depan pintu.
"Bolehkah aku masuk?"
"Tentu saja, kenapa tidak?!"
"Maaf Tuan, saya permisi dulu," pamitnya dengan berlalu begitu saja, tanpa memperdulikan Della, yang menatapnya dengan tatapan tidak suka, sebab pria itu menunjukkan sikap acuhnya pada Della.
"Duduklah, Della!" pinta Rangga, saat wanita berusia dua puluh sembilan tahun itu, masih setia memijakkan kakinya.
"Iya," jawabnya tersenyum, dengan langkah kaki yang dia ambil, menuju salah satu sofa tunggal.
Saat Della sudah melabuhkan tubuhnya di atas kursi, Rangga segera melontarkan pertanyaan pada wanita itu, sebab sesungguhnya dia sangat penasaran, untuk apa wanita itu datang menemuinya di kantor.
"Maaf, kalau boleh tahu tujuan apa kau datang menemuiku?"
"Apakah aku tidak boleh datang menemuimu, Rangga?" tanya Della balik, yang merasa tersinggung dengan pertanyaan dari pria itu.
"Tentu saja boleh, kenapa tidak! Tapi aku hanya penasaran, kenapa kau datang menemuiku?"
Mendesahkan napasnya yang dalam, berusaha membuang sesak, akibat rasa tidak sukanya, dengan pertanyaan dari Rangga.
"Maaf, kalau aku bertanya. Bagaimana hubunganmu, dengan istrimu, Kiran? Karena yang aku tahu, kalau Kiran sudah kembali ke rumah orang tuanya."
__ADS_1
"Yang jelas hubungan kami-kami baik-baik saja."
"Apakah kau yakin, mau bertahan dengan wanita itu terus?" Menjeda kalimatnya, "Maaf, maksud aku Istrimu. Sementara Papanya, tetap bersikeras tidak mau Kiran kembali padamu. Dan kenapa sekarang kau berubah pikiran? Bukankah kau sama sekali tidak mencintainya? Bahkan kalian hanya menikah kontrak!" tanya Della, yang tentu saja mencoba untuk mencari tahu, hubungan Rangga, dan Kiran.
"Aku memang tidak mencintainya, hingga kami hanya menikah kontrak," ujar Rangga menjeda, dan itu membuat senyuaman bahagia di wajah Della seketika nampak. "Namun setelah berpisah darinya, aku baru menyadari kalau ternyata aku mencintai istriku," lanjutnya lagi, dan itu membuat senyuman di wajah Della memudar seketika, dan berganti dengan raut wajah penuh emosi.
"A...Apa kau yakin, kau mencintainya Rangga? Sementara kalian menjalin hubungan rumah tangga, baru berapa bulan."
Rangga tersenyum kecil, mendengar pertanyaan yang dilontarkan sahabatnya itu.
"Tapi itu memang kenyataannya, aku telah jatuh cinta pada Kiran. Bahkan sangat mencintainya. Dulu saat kematian Rani, aku mengirah tidak ada wanita yang sanggup menggantikan posisi Rani di hatiku. Tapi ternyata aku salah."
Dellaa berusaha untuk tersenyum, walau nyatanya diri itu tengah terbakar api amarah, setelah dia mengetahui kalau ternyata Rangga, mencintai Istrinya.
"Aku turut bahagia, jika kau memang telah menemukan pengganti Rani. Dan semoga saja, rumah tangga-Mu, sampai mau memisahkan."
"Terima kasih Della, dan semoga saja kau juga dapat menemukan jodoh yang tepat"
"Semoga, dan aku ingin seperti dirimu Rangga. Baik, dan dewasa. Namun sayangnya, aku terlambat."
Rangga hanya mengukir senyuman di wajahnya, setelah mendengar apa yang dikatakan cinta lamanya itu. Hingga Della kembali bersuara.
"Oh..Ya Rangga. Dua hari lagi, aku berulang tahun. Dan aku ingin mengundangmu."
Sorot mata Rangga berubah tajam, setelah mendengar apa yang Della, sampaikan.
"Ulang tahun?"
'"Iya. Dan aku ingin kau datang."
"Di mana kau akan merayakannya?"
"Di apartemenku. Dan aku sangat berharap kau dapat datang."
"Baiklah. Aku pasti akan datang."
Senyuman bahagia membingkai penuh di wajah Della, setelah mendengar apa yang Rangga katakan.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu, dan ingat! Jangan sampai tidak datang nanti!" ujar Della, dengan langsung berlalu begitu saja.
****
__ADS_1
Rasa lapar yang menyerangnya tiba-tiba, membuat Doni memutuskan untuk makan seorang diri, tanpa Bosnya, yang biasa kedua lakukan. Alunan kaki yang melangkah dengan normal, seketika pria pelankan saat melihat Della ke luar dari dalam perusahaan.
Terus memandang, hingga ada sebuah pemandangan yang membuat Doni, seketika dilanda rasa penasaran. Memutuskan untuk bersembunyi dibalik sebuah mobil, dan dari jauh Doni nampak sangat kaget, saat mendapati MR CORISOON yang berbincang dengan Della, dan mereka nampak terlihat akrab. Tak ingin melewatkan kesempatan ini, Doni memutuskan untuk merekam kegiatan mereka, dan menyerahkan pada Bosnya.