
Pintu kontrakkan terbuka. Dian masih saja menampilkan wajah kesalnya, saat dua kaki itu melenggang ke dalam kontrakkannya, diikuti Kiran dari belakang.
"Sebenarnya kamu tidak boleh berbicara seperti itu, Dian! Apakah kamu tidak menyadari? Kalau itu akan membuat Mas Rangga semakin menjauh dariku," seru Kiran pelan.
"Stop, Kiran! Stop!!" Dengan membalikkan badannya- pada Kiran yang seketika membisu, mendengar seruan sahabatnya yang begitu lantang.
"Oke! Aku percaya, kalau kamu mencinta Tuan Rangga, karena disebabkan jantung Dokter Rani, yang ada dalam tubuhmu. Tapi apakah kamu, mau? Terus menyiksa dirimu. Dan kamu lihat tadi, dalam mobil.Jalan yang kita tempuh dari rumah sakit, sampai ke kontrakkan kita sedikit jauh, tapi pria menyebalkan itu, sama sekali tidak memperdulikanmu. Padahal, kalian duduk berdampingan. Dan itu membuat aku sebagai sahabatmu, sangat terluka."
Dua mata Kiran sudah berkabut. Genangan air mata, sudah mulai memenuhi kedua kelopak matanya, dan perlahan luruh membasahi kedua pipinya.
"Tapi aku mencintai, Dian....Aku sangat mencintainya...Aku sangat menderita dengan hal ini, tapi aku tidak bisa menahannya..Perasaan ini begitu kuat, Dian!" Keluh Kiran, dengan genangan air mata yang terus membasahi pipinya.
"Tapi dia, sama sekalu tidak mencintaimu. Bahkan tadi aku sengaja mengatakan akan mencomblangimu, dengan Dokter Devan saja! Mas Ranggu, itu! Nampak tidak perduli. Terus apa yang kamu harapkan, dari pria seperti itu? Mengharapkan sesuatu, yang tidak mungkin kamu dapatkan!"
"Ini takdir, Kiran! Dan semoga saja, Mas Rangga adalah jodohku,"
"Ya, semoga saja- karena melihat sikapnya tadi, aku sangat yakin, kamu akan terus sakit hati kalau kamu memaksa, agar dapat bersamanya."
"Maafkan aku..." lirihnya.
Dian menghembuskan napas panjangnya. Berusaha meredam emosi, akan kekehnya Kiran mendapatkan cinta pengusaha kaya itu. Bagai kapal yang terus berlayar, dan tidak tahu kapan akan berlabuh ke mana. Hening...Hening...membiarkan suasana sunyi menyelimuti keduanya, saat larut dalam lamunan masing-masing.
"Sekarang jauh lebih baik, kamu beristirahat. Ini sudah malam. Pulihkan kesehatanmu, dan mulailah hidup yang baru dengan jantung Dokter Rani itu. Di toko bunga tempatku bekerja, sedang membutuhkan tambahan karyawan. Dan aku ingin, kau bekerja di sana, setelah kondisimu benar- benar pulih." seru Kiran tiba-tiba, yang memecahkan kesunyian yang melanda.
Wajahnya menengadah, menatap lurus pada Dian setelah mendengar apa yang dia katakan.
"Apakah kau serius?" tanya Kiran, dengan bola mata lebih membulat.
"Tentu saja, aku serius."
"Tapi, Dian! Seperti yang kau tahu! Aku sama sekali tidak punya pengalaman bekerja. Apakah mungkin? aku bisa diterima bekerja di sana,"
"Bu Feli, memiliki kepribadian yang baik. Dan di sana, memang sedang membutuhkan karyawan, jadi aku yakin, kau pasti akan di terima. Dan mungkin saja dengan bekerja, kau tidak terlalu memikirkan Mas Ranggamu itu!"
"Mungkin saja, karena aku tidak yakin akan hal itu." jawabnya asal, yang membuat Dian mencibir pada sahabatnya.
****
__ADS_1
Satu Minggu Kemudian
Satu minggu telah terlewati. Dan banyak hal yang telah terlewati di dalam satu pekan ini.
Dan dalam satu minggu terakhir ini, Rangga di pusingkan dengan keinginan Ibunya, yang ingin dia segera melepaskan status dudanya, dengan menikahi Adisty. Dan tentu saja, Rangga selalu mencari seribu satu alasan, agar terhindar dari perjodohan ini, sebab dalam hatinya belum siap menghadirkan wanita lain, selain Rani istrinya. Dan sudah lima hari, terakhir ini! Kiran disibukkan dengan pekerjaannya sebagai pengantar bunga, di salah satu toko bunga.
Wijaya Group
Rangga menghembuskan napas beratnya. Pria itu nampak uring-uringan, dan wajahnya terlihat tidak secerah seperti biasanya, yang selalu menampakkan aurah dinginnya yang begitu melekat, pada seorang Rangga Wijaya. Rambut yang selalu tersisir rapi, kini terlihat acak-acakkan, dan wajah kusutnya.
"Pokoknya, Mama ingin kau segera menikah! Karena Mama ingin, segera menimang cucu. Dan bersiaplah, karena kau dan Adisty akan segera bertunangan." Dan jika sudah teringat akan kata-kata itu, Rangga hanya bisa menghembuskan napas panjangnya.
"Mama ingin aku segera, menikahi Adisty. Bagaimana mungkin? Aku wanita, yang tidak kucintai sama sekali." gumamnya.
Isi pikiran yang di penuhi dengan tuntutan Ibunya, membuat pekerjaan Rangga, jadi ikut terbengkalai. Hingga membuat beberapa proyek yang sementara dia tangani, tidak berjalan dengan lancar. Arah pandangnya tak sengaja, ter-arah pada ponselnya, yang dia letakkan di atas meja kerjanya. Sepasang mata Rangga terus menatap pada ponsel itu, yang akhir-akhir ini sudah jarang mendengarkan kicauannya.
"Ke mana siwanita bodoh itu?! Kenapa sudah beberapa hari ini, dia tidak menghubungiku sama sekali? Tidak biasanya, dia akan seperti ini. Biasanya dia akan menanyakan. Mas, kamu sudah makan belum? Atau Mas! Kamu sedang apa? Atau, Mas kamu sudah pulang kantor, belum? Atau mungkin, dia akan menggangguku dengan telepone yang tak berkesudahan." gumam Rangga, dengan terus melemparkan tatapannya pada benda pipih itu.
Rangga seketika menggeleng cepat kepalanya, saat baru menyadari akan apa yang dia lakukan. Hingga membuat lelaki berusia tiga puluh tahun itu terkekeh, karena merasa konyol dengan apa yang dia pikirkan.
"Ha...ha....ha...Kenapa aku harus memikirkan, wanita itu? Memang siapa dia? Bukannya bagus, kalau dia tidak mengusik hidupku!"
"Ada apa, Doni?"
"Maaf, Tuan! Nyonya besaringin menemui anda."
"Mama..." Rangga memicingkan dua matanya, sebab tidak menyangkah Ibunya, akan mendatangi perusahaannya.
Mama Dilla segera melenggangkan kedua kakinya, ke dalam ruang kerja putranya, tanpa mendengarkan persetujuan putranya.
Tubuh tegap itu! Segera bangkit dari duduknya, setelah mendapati keberadaan sang Bunda dalam ruang kerjanya.
"Untuk apa Mama ke sini? Dan kenapa Mama tidak membuat janji denganku, terlebih dahulu?"
Mama Dilla menyeringai rendah, ketika tubuh itu sudah berlabuh pada sofa panjang.
"Membuat janji, agar kau bisa menghindar dari Mama! Itu'kan yang kau harapkan?! Dan buat apa, Mama harus membuat janji, dengan putraku sendiri." seru Mama Dilla, dengan memerah yang sudah merangkak pada wajah tuanya.
__ADS_1
Rangga menghela napas beratnya, berusaha mengusai emosi yang sudah mulai mencuat dalam diri pria tampan itu. Melabuhkan tubuhnya kembali- pada kursi kebesarannya- berusaha melunakkan diri dari amarah.
"Katakan! Apa yang Mama inginkan?"
"Bersiaplah, sebentar malam kita akan mengunjungi rumah Tuan Andi, untuk membicarakan pertunangan kau, dan Adisty."
"Sudah ku bilang, aku tidak bisa." jawabnya tegas, dengan menekan kata-kata itu, saat membicarakan keberatannya pada sang Bunda.
Mama Dilla tidak memusingkan, apa yang dikatakan putranya. Wanita paruh baya itu segera bangkit dari duduknya, dengan melemparkan tatapan tajamnya -pada putra tunggalnya, yang terus menatap padanya.
"Kau tidak berhak, membantah omongan Mama! Bersiaplah, sebentar malam kita akan ke rumah Tuan Andi, untuk membicarakan pertunanganmu dengan Adisty." seru Mama Dilla, dengan berlalu begitu saja -dari ruang kerja putranya.
"Mama....Mama....Mama....." panggil Rangga pada sang Bunda- tapi tidak di hiraukan oleh wanita tua itu.
"Sial...!!" Mengusap kasar wajahnya, dan menjatuhkan tubuhnya begitu saja, karena syok akan keinginan Ibunya.
****
Wajah cantik Kiran, tak henti-hentinya memberi senyuman, saat lift kantor-akan membawanya pada lantai dua puluh, dari Wijaya Group. Ditugaskan Ibu Feli, untuk mengantarkan bunga ke perusahaan Wijaya Group! Membuat Kiran begitu bahagia, saat akan mendatangi perusahaan milik seorang Rangga. Apalagi ketika dia tahu, bunga itu di pesan oleh pria yang begitu dia cintai.
"Mas Rangga pasti kaget, melihat kemunculanku di perusahaannya."
Pintu lift terbuka, saat Kiran sudah tiba di lantai dua puluh. Senyum melukis di wajah Kiran, saat sepasang matanya beradu dengan tatapan seorang wanita paruh baya, yang baru saja akan melangkah ke dalam lift.
"Siapa Tante, ini? Sudah tua, tapi masih terlihat cantik." gumam Kiran, dengan sekilas menoleh pada Mama Dilla yang sudah berada di dalam lift.
Kiran kembalu mengayunkan dua kakinya, setelah beberapa menit dia hentikan. Tiba di ruang sekretaris, dia tidak mendapati adanya Doni.
"Ini meja sekretaris, tapi Kak Doni nya, tidak ada. Apa aku langsung masuk saja ya?!" gumamnya, dan kembali melanjutkan langkah itu.
Kiran memberi ketukan pintu dengan pelan, akibat sedikit gugup saat akan bertemu kembali dengan seorang Rangga Wijaya.
"Intinya! Aku sudah mengetuk pintu terlebih dahulu, sebelum aku nyelonong masuk."
Pintu ruangan terbuka. Dengan memberanikan diri, Kiran meng-ayunkan kedua kakinya ke dalam ruang kerja itu. Sepasang kakinya, Kiran pijakkan! dengan arah pandang melempar pada Rangga, yang sama sekali tidak menyadari kedatangannya.
"Mas Rangga...." panggil Kiran pelan.
__ADS_1
Wajahnya berpaling pada asal suara. Keningnya mengkerut, merasa tidak percaya mendapati sosok Kiran dalam ruang kerjanya.
"Kiran..."