
Tidak memberontak, atau pun marah. Kiran tetap membiarkan tangannya ditarik, saat pria itu membawa dirinya dengan ayunan kaki yang tergesa-gesa. Tidak tahu apa yang akan terjadi padanya, Kiran tetap membiarkan dirinya di bawah ke mana yang dia sendiripun tidak tahu.
"Mas..." panggilnya pelan, saat keduanya melewati lorong.
Tidak mengindahkan. Memalingkan wajahnya, menatap tajam pada Kiran- yang membuat gadis itu seketika mengatupkan bibirnya, tanpa bersuara lagi.
Ayunan kaki yang melangkah dengan cepat, segera Rangga hentikan. Saat mendapati suasana sedikit sepi, dan hanya ada beberapa petugas dan pengunjung yang berlalu lalang.
"Kenapa kau membawaku, ke sini Mas? Apakah ada hal yang penting, yang ingin kau bicarakan denganku?" Wajah diselimuti rasa penasaran, hingga dua mata itu menatap pada Rangga dengan intens.
Menghembuskan napas kasarnya! Berusaha meredam emosi yang sudah menyelimuti. Kotakan dadanya naik turun, saat emosi yang sedari tadi dia bendung, kembali memuncak dalam diri seorang Rangga Wijaya.
"Mas...." panggil Kiran sekali lagi, kala Rangga tak kunjung menjawab apa yang dia tanyakan.
"Diam kau Kiran...!" teriakan tiba-tiba yang ke luar dari mulut pengusaha tampan itu, terdengar begitu menggema akibat emosi yang teramat sangat.
Menunduk, dengan wajah sudah berubah pucat dan tak berani memberi tatapannya pada Rangga, yang menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Maafkan aku, aku hanya khawatir padamu." ucapnya pelan.
"Khawatir?!" Seringai renda di wajah tampan Rangga, saat dua mata itu menatap pada Kiran dengan tatapan tidak suka.
"Iya, Mas! Aku khawatir padamu. Sangat khawatir. Mangkanya! Saat aku tahu di story IGnya, Kak Doni kalau kau tertembak, aku langsung ke mari." Kiran memberi setengah senyumnya, saat memberi alasan pada pria itu. Tapi senyum itu seketika memudar! Saat Rangga masih memberi tatapan membunuh, padanya.
"Kau tahu! Kau itu, semakin membuatku gila dengan kelakuanmu. Apa kata orang-orang nanti, melihat apa yang kau lakukan padaku tadi. Pasti mereka mengirah, kalau aku sudah menjalin hubungan denganmu, saat istriku, Rani! Masih hidup."
"Maafkan aku, Mas! Maafkan aku. Tapi aku mohon, tolong jangan paksa aku untuk menjauh darimu, karena itu- membuat aku begitu terluka," Kiran memberanikan dirinya, menatap pada Rangga, yang masih dipuncak emosi. Sepasang matanya, nampak sudah berkaca-kaca, kala harus berusaha membunuh rasa cinta, yang semakin kuat pada lelaki yang sama sekali tidak mencintainya.
"Apakah kau sadar dengan apa yang kau katakan, Kiran?"
"A.aku sangat sadar, Mas! Yang aku tahu, aku selalu ingin dekat denganmu."
"Tapi sayangnya, aku sama sekali tidak tertarik padamu." jawab Rangga, dengan menekan kata-katanya.
Kiran tersenyum miris. Kata-kata yang baru saja ke luar dari bibir Rangga, bagai anak panah yang menembus tepat di jantungnya. Rangga adalah adalah cinta pertamanya, tapi harus merasakan patah hati! Sebelum dia merasakan indahnya cinta itu. Tapi inilah takdir. Karena dia tiba-tiba saja cinta itu tumbuh pada seorang Rangga Wijaya, saat jantung mendiang istri pengusaha itu bersemayam dalam dirinya. Dan dirinya yakin, suatu saat cinta itu akan terbalaskan.
__ADS_1
"Aku percaya, kalau semua ini adalah takdir. Aku juga tidak menginginkan hal ini, karena ini sungguh menyakitkan. Tapi aku sangat yakin, kalau Tuhan sudah menyediakan hal indah buatku. Dan aku akan menunggu sampai dia datang, dan mengatakan- kalau dia juga mencintaiku." bathin Kiran.
Hening, hening. Membiarkan suasana sepi menyelimuti keduanya, ketika sepasang mata itu saling menatap dengan dalam. Membiarkan diri itu, tenggelam dengan apa yang mereka pikirkan.
"Aku mencintaimu, Mas Rangga! Sangat mencintaimu. Maafkan aku, kalau selalu membuatmu bingung dengan semua ini. Tapi percayalah, cintaku ini sangat tulus untukmu," bathinnya.
Suasana hening masih menyelimuti Rangga, dan Kiran. Hanya terdengar langkah kaki, orang-orang yang melewati keduanya. Nada panjang tiba-tiba saja terdengar pada ponsel, Kiran! Hingga kesunyian yang tercipta yang keduanya, terpecah.
"Mau sampai kapan kau terus menatapku? Apakah kau tidak mendengar apa suara telepone pada ponselmu?!"
Lamunan itu memecah, dengan merona yang sudah merangkak di wajahnya, mendengar apa yang baru saja dikatakan Rangga.
"Aku terima teleponenya, Mas!" pamit Kiran, saat akan melangkah sedikit menjauh dari pria itu.
"Jawab saja! Kenapa harus memberitahuku?"
Melukis senyum kecilnya, dan dua kakinya melangkah sedikit jauh dari Rangga.
"Hallo..." Kiran menyapa, saat benda pipih itu sudah menempel pada gendang telinganya.
"Tapi bisakah, kau tidak berteriak? Karena aku sama sekali tidak tuli."
"Baiklah, kalau begitu cepatlah datang sebelum aku marah." Dengan memutuskan sambungan teleponenya, begitu saja! Yang membuat Kiran hanya bisa menghela napas beratnya.
Kembali berpaling pada Rangga, yang masih setia berdiri di tempatnya. Kiran memicingkan kedua matanya- saat mendapati darah yang sudah menembus dari perban.
Segera mengambil langkah panjangnya, menghampiri pada Rangga yang sama sekali akan hal itu.
"Mas...Lenganmu, kembali mengeluarkan darah!" Wajah Kiran nampak ketakutan, saat darah masih menembus dari balik perban itu. Panik! Itulah yang terlihat di wajah, Kiran! mendapati darah masih menembus perban itu.Menelusup jemarinya ke dalam tote bag, mengobrak-abrik isi dalamnya. Dan semakin membuat wajah itu kian memucat, saat tidak menemukan sesuatu di sana.
Mengulurkan panjang tangannya, menggapai tangan pria itu.
"Ayo Mas! Kita kembali ke ruangan bedah, untuk mengobati lukamu."
"Tidak usah! Aku yakin, darahnya akan berhenti." tolak Rangga, saat Kiran ingin dia kembali mengobati lukanya.
__ADS_1
"Tapi Mas..." Sepasang mata Kiran! Menatap penuh harap, agar Rangga mau memenuhi keinginannya.
"Jangan memaksaku, Kiran!" Membentak, yang membuat genggaman tangan itu kembali Kiran lepaskan.
Kiran masih saja diselimuti rasa khawatirnya. Menoleh ke kiri, dan kanan mencari sesuatu yang dapat mengobati luka pria itu. Seketika jemari itu menyentuh lehernya, saat baru menyadari ada helaian kain yang melingkar di lehernya.
"Apa yang akan kau lakukan?"Rangga melototkan dua matanya, saat Kiran mulai membalut lengannya dengan pecahan sobekan kain itu.
"Tentu saja, untuk menghentikan darahnya. Karena kamu begitu keras kepala Mas.." Melukis senyum kecilnya, saat kedua pasang mata itu saling bertemu.
"Terserah kau saja!" jawabnya kesal.
"Sudah selesai." Memberi senyumnya, tapi dengan cepat Rangga memalingkan wajahnya, agar bisa terhindar dari tatapan mata itu.
"Ayo Mas! Kita kembali, aku yakin mereka sedang menunggu kita."
"Baiklah!"
Rangga, dan Kiran melangkah beriringan kembali menghampiri pada Dian, dan Doni yang tengah menantikan kembali datangnya, mereka. Rahang yang tadi menegang- berbalut dengan amarah, kini musnah, dan yang terlihat, hanya wajah tenang yang menyelimuti diri. Tidak ada yang berbicara dari keduanya, saat melewati lorong itu. Hanya terdengar gesekan kaki, yang membawa tubuh keduanya pada tempat yang mereka tuju.
Dian menyerngitkan dahinya. Kedua alisnya pun bertaut, saar mendapati pemandangan beda dari sahabatnya, dan seorang Rangga Wijaya.
"Tadi Tuan Rangga menariknya dengan kasar, dan wajahnya seperti- hewan buas yang siap menerkam mangsanya. Tapi kenapa sekarang jadi berubah? Bahkan mereka nampak seperti pasangan, yang baru saja habis berkencan." bathin Dian
Doni mengambil langkah panjang, menghampiri pada Tuannya! Yang sudah berada dekat dengan mereka.
"Maaf, Tuan? Apakah kita segera pulang sekarang?"
"Kita pulang sekarang saja. Sebab masih ada yang perlu aku bereskan." Dan arah pandangnyq, berpaling pada Kiran! Yang hanya diam membisu. "Kalian datang ke mari, menggunakan apa?"
"Takxi, Mas!"
"Kalau begitu, ayo kita pulang. Sekalian kami akan mengantarkan kalian."
"Tidak usah, Mas! Karena aku tidak mau, merepotkanmu," tolak Kiran.
__ADS_1
"Anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku. Ayo..!"