
Matahari kembali memamerkan senyum indahnya pada bumi, kala pagi kembali menyapa dengan dengan datangnya hari yang baru.
Dua mata-nya menikung tajam, menatap diri-nya lewat pantulan cermin, di mana dia teringat kembali pada Kiran, yang menerima telepone dari seseorang, dan Rangga meyakini itu pasti kekasih, dari Kiran. Hingga dasi yang akan dia simpulkan di kra bajunya, Rangga hentikan seketika.
Menghirup udara dengan tegas, saat sesak begitu dia terasa di dadanya, akibat kesal.
Hal yang tiba-tiba mengusik pikiran-nya, segera dia tepis, dan memastikan cinta itu hanya untuk mendiang istri-nya, Rani.
Kembali melanjutkan kegiatan memakai dasi yang sempat dia hentikan seketika, memastikan dirinya sudah terlihat tampan.
Tubuh itu Rangga balikkan, dan mendapati senyuman manis Rani pada sebuah bingkai foto yang berada di atas meja berbahan jati.
Menenggelamkan tatapan mata itu, menatap penuh cinta pada bayangan istri nya.
"Aku mencintaimu, Rani! Selamanya, hanya kau wanita yang mengisi hati ini." Melabuhkan sebuah kecupan, dan berlalu dari dalam kamar.
Tak ada beban di wajah, saat satu persatu sepasang kaki itu, melewati anak tangga menuju pada lantai bawa. Dua kaki itu, sudah Rangga pijakkan pada lantai dua. Berhenti, dan mengalihkan tatapan mata itu pada kamar Kiran, yang masih tertutup rapat.
Gejolak rasa berhasil mengusik hati itu, yang membuat api kecil mencuat lagi dalam dirinya. Cukup lama dia memandang kamar itu, dan kembali melanjutkan langkah nya, menuruni anak tangga.
Samar-samar Rangga mendengar suara Kiran di ruang makan, yang makin kian terjelas saat dua kaki itu semakin membawanya dekat dengan ruang makan.
"Jadi Nona bekerja di toko, bunga?" tanya salah satu pelayan, yang tengah menghidangkan roti panggang di atas meja.
"Iya. Apa lagi sebentar valentine, pasti banyak orang yang akan memesan bunga, untuk dikirim pada kekasihnya," seru Kiran, yang nampak begitu bersemangat.
"UHUUK...UHUUK..."Rangga berpura-pura batuk, hanya untuk memberitahukan kedatangannya pada mereka, terutama pada Kiran yang berada di ruang makan itu.
Senyuman yang sedari tadi terpatri di wajah cantik Kiran, memudar seketika dengan datangnya Rangga, hingga membuat suasana yang sedari tadi dipenuhi dengan kehangatan musnah ntah ke mana.
"Pagi Tuan.." sapa Pelayan muda itu, dengan sebuah senyuman pada Rangga.
"Pagi. Apakah kamu sudah tidak memiliki pekerjaan lagi? Hingga kerjamu hanya bergosip saja."
Raut wajah Pelayan muda itu, memucat seketika dengan apa yang Rangga ucapkan padanya. Senyum memaksa, dan berlalu pergi dari ruang makan itu setelah berpamitan pada Tuannya.
"Maafkan saya, Tuan! Kalau begitu saya permisi dulu, Nona!"
Tak ada yang berbicara antara keduanya, setelah perginya Pelayan muda itu. Rangga sengaja mengalihkan pandangannya pada Kiran, tapi justru Kiran memalingkan wajahnya cepat seolah mengganggap Rangga sama sekali tidak terlihat.
Bunyi notifikasi pesan menyapa pada gawai milik Kiran, yang dia simpan di atas meja, dan itu langsung mengalihkan tatapan Rangga.
Memerah di wajah tampan pria itu, kala melihat Kiran tersenyum, saat membalas pesan, yang ntah datangnya dari siapa. Dan Kiran yang semakin tidak memperdulikan kehadirannya, membuar Rangga semakin dilanda api amarah.
"Ini Tuan..Sarapan pagi anda!" Ucapan Bibi Ijah yang baru saja datang, dan itu berhasil mengalihkan tatapan Rangga.
__ADS_1
Raut wajah Rangga nampak memudar, saat mendapati sarapan paginya, yang tidak seperti kemarin lagi. Dan itu memancing emosi Rangga, apalagi Rangga masih saja menyimpulkan senyuman di wajah-nya.
"Kiran!!" teriak Rangga begitu menggema, hingga membuat Bibi Ijah yang juga berada di sana begitu kaget.
Kiran sangat terkeju. Karena wanita itu sama sekali, tidak pernah melihat sikap Rangga seperti ini. Takut, dan juga gugup tapi berusah ditepisnya, dan berani menghadapi amukan pria yang berstatus suaminya.
"Ada apa kamu Mas?! Kesalahan apa yang saya lakukan? Hingga membuat kamu berteriak seperti itu!"
Rangga menyeringai rendah, menghunuskan dua mata itu pada Kiran, yang sama sekali tidak terlihat takut padanya.
"Apakah kamu sudah melupakan kehadiran kamu di rumah ini?!" tanya Rangga penuh emosi.
"Aku sangat sadar, kalau aku adalah PENGHUNI SATU TAHUN, di rumah seorang Rangga Wijaya."
"Apa yang kamu inginkah?! Apakah kamu ingin aku membalas cintamu?! Dan memperlakukan dirimu begitu istimewa, seperti aku memperlakukan Rani?!"
"Tuan...Saya mohon, jangan bicara seperti itu pada Nona Kiran!" seru Bibi Ijah, yang melihat mata Kiran sudah nampak berkaca-kaca.
Rangga memberi senyuman mencemooh-nya pada Kiran, yang sudah menangis.
"Bukankah pantas aku berkata seperti itu?! Untuk pemimpi seperti dia?!"
Kiran mengusap air mata-nya, cepat. Hati itu, bagai di belah pisau yang tajam, kala kata-kata Rangga begitu menyakiti hatinya.
Rangga mendesahkan napasnya berat. Simpulan dasi yang sudah sempurna melilit di kra baju-nya, dia longgarkan saat terasa begitu sesak.
****
Kiran menyayunkan langkah kaki itu dengan pelan, menelusuri trotoar yang akan membawa gadis muda itu, menuju jalan utama dengan air mata yang tak henti-hentinya menetes. Tiba-tiba saja wanita itu melonjak kaget, saat sebuah kendaraan berhenti tepat disampingnya.
"Rian!" seru Kiran seraya menyentuh dadanya, akibat kaget yang teramat sangat.
Rian tersenyum. Tapi seketika senyuman itu memudar, ketika mendapati mata Kiran sembap, dan masih ada air mata di pipi itu.
"Kamu baru habis menangis?" tanya Rian, dengan memberi tatapan penuh selidiknya.
Menyadari akan hal itu, dengan cepat Kiran mengusap air matanya, dan berusaha mengukir senyuman di wajah.
"Aku tidak menangis!" jawab Kiran cepat.
Rian mengulum senyum hangat di wajah, menatap pada Kiran yang lagi memberinya senyuman.
"Ayo naik! Aku antar kau ke tempat kerja!"
"Tapi Rian!" seru Kiran, yang berusaha menolak keinginan gadis itu.
__ADS_1
"Ayolah...Please..." Dengan menampilkan mimik sedih di wajah, berharap Kiran dapat menerima ajakannya.
"Baiklah," jawab Kiran tersenyum, dan segera mendaratkan tubuhnya di atas kursi motor itu.
Rian melajukan kendaraan roda dua dengan kecepatan sedang, saat melewati keramaian lalu lintas yang terlihat begitu padat pagi ini.
"Rian..." panggil Kiran tiba-tiba.
"Ada apa?"
"Kalau boleh aku tahu, di mana kamu tinggal? Dan kenapa kamu tidak bekerja? Bukankah kamu sudah selesai kuliah?"
"Setelah aku melamar kerja! Aku akan melamar kamu!"
"Ngacoh!"
"Memang salah! Sekarang aku tidak berani melamar kamu, karena aku masih nganggur. Dan aku rasa, kamu sudah tahu kalau sejak dulu aku suka sama kamu."
"Nanti baru kita bahas itu!"
"Baiklah, tapi setelah aku mendapatkan kerjaan, kamu tidak boleh menolakku!" seru Rian, dengan langsung melajukan kendaraannya dengan cepat, hingga membuat Kiran yang berada dalam posis yang tidak siap, mau tidak mau membuat Kiran langsung memeluknya.
****
Detik memutar begitu cepat, yang menghantarkan waktu menuju menit, dan jam yang tidak terasa sudah memunculkan waktu disiang hari.
Dua mata yang tertuju pada layar laptopenya, memudar seketika, dan berbebalik arah saat tiba-tiba saja, mendengar suara pintu terbuka.
"Mama..." seru Rangga, yang tidak menyangkah akan kedatangan sang Bunda.
Mama Dila melemparkan senyuman di wajahnya, dan langsung melabuhkan tubuh itu disalah satu sofa.
"Katakan ada apa, Mama kemari?" Rangga langsung melontarkan pertanyaan pada sang Bunda, seraya mematikan laotopenya.
"Sampai kapan pun, Mama tidak akan pernah menganggap Istri-mu sebagai menantu Mama. Apalagi Istri-mu itu, adalah anak pembangkang! Juga susah di atur. Buktinya dia memilih tinggal di luar, agar mungkin lebih bebas, dari pada tinggal serumah dengan orang tuanya."
Rangga mendesahkan napasnya berat, seraya melemparkan tatapan matanya, nanar pada sang Bunda.
"Maa...Menantu seperti apa yang seperti apa yang Mama mau? Dulu Rani, Mama sama sekali tidak menyukai dia! Dan sekarang juga, Kiran. Bukankah Kiran itu, anak dari sahabat Papa? Jadi menurutku, sama saja."
"Kalau Adisty yang kamu nikahi, Mama akan setuju, tapi tidak dengan wanita itu! Nikahilah wanita lain, dan berikan Mama cucu."
Sesak, tapi berusaha Rangga pedam rasa kesal itu.
"Aku akan memberikanmu Cucu, tapi itu hanya dengan Kiran! Jadi jangan memaksaku!" seru Rangga tegas.
__ADS_1