Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
INGIN MENCOBA


__ADS_3

Sebuah mobil mewah memasuki rumah berlantai tiga, milik Rangga diwaktu yang sudah gelap. Dua kaki segera pria itu turunkan dari dalam mobil, setelah mobil mewah yang membawanya sudah berhenti di depan rumahnya.


Dua kaki itu segera Rangga langkahkan, yang akan membawa tubuh itu ke dalam rumah. Baru saja beberapa langkah Rangga ambil, tiba-tiba saja Doni bersuara padanya.


"Tuan..."


Membalikkan tubuh itu kembali pada asal suara, dengan menyahuti panggilan pria itu.


"Ada apa?"


"Apakah anda mau saya mencari informasi, tentang Davin? Untuk memastikan dirinya sudah meninggal, atau belum."


Mendesahkan napasnya sejenak, saat memory itu kembali dihantarkan pada kejadian tadi di lampu merah, di mana Rangga melihat seseorang yang dia yakini, kalau itu adalah Davin, dan bukan Devan.


"Tidak usah! Aku yakin, kalau dia tidak akan sering memunculkan dirinya. Dan aku semakin yakin, kalau dia dalang semua yang terjadi padaku akhir-akhir ini, mungkin juga menjadi orang yang berada di balik kematian Rani. Dan besok sebelum kita ke kantor, kita menemui Devan di rumah sakit. Mungkin saja ada hal yang dia sembunyikan."


"Baik Tuan," jawab Doni.


Usai menyampaikan semuanya pada Doni, Rangga kembali melanjutkan langkah kaki itu, masuk ke dalam rumahnya. Suasana sepi begitu terasa, saat memory itu teringat kembali pertengkaran dia, dan Kiran pagi tadi. Mengedarkan dua mata itu kesegalah arah, dan dari Rangga mata haselnya menangkap sosok Bibi Ijah yang tengah melewati.


"Bibi..." panggil Rangga dengan setengah teriakan, yang membuat langkah kaki itu langsung wanita berusia lima puluh tujuh tahun itu jeda.


Membalikkan Tubuh-nya pada asal suara, dan mendapati keberadaan sang Majikan, sedikit jauh darinya. Bibi Ijah segera mengambil langkah panjangnya, yang membawa tubuh itu mendekat pada Rangga.


"Ada apa Tuan?"


"Apakah kiran berada di rumah?"


"Tentu saja Tuan..Ini sudah jam delapan malam-tentu saa Nona Kiran sudah berada di rumah.Karena dia pung kerja, dijam lima sore."


Memutuskan untuk menyudahi obrolan itu, dan kembali melanjutkan langgkah kakinya.


"Baiklah, aku akan langsung ke kamarku."


"Apakah perlu saya siapkan makan malam?" tanya Bibi Ijah, saat Rangga sudah mengambil beberapa langkah kaki.


Bukannya menjawab apa yang Kepala Pelayannya tanyakan? Rangga justru bertanya balik, pada wanita berusia lima puluh tujuh tahun itu.

__ADS_1


"Apakah Kiran sudah makan?"


"Nona Kiran tadi hanya makan mie saja, dan itu juga disantap sore setelah pulang kerja. Dan saat tadi saya menanyakan apakah saya perlu membawa makanannya ke kamar? Nona Kiran menjawab kalau dia sudah kenyang."


Membungkam, setelah mendengar apa yang baru saja wanita berusia senja itu katakan.


"Mungkinkah dia masih marah padaku, gara-gara keributan kami tadi pagi? Hingga sengaja tidak makan malam, karena tidak ingin bertemu denganku," gumam Rangga dalam hati.


Mendesahkan napasnya yang panjang, dan Rangga kemballi melanjutkan langkah kakinya, setelah berpamitan dengan Bibi Ijah.


"Aku akan ke kamarku, dan tidak usah menyiapkan makan malam, karena malam ini aku juga tidak akan makan" ujar Rangga, dengan mengambil langkahnya.


****


Resah. Itulah yang terlihat di wajah Kiran saat ini. Wanita berusia dua puluh enam tahun itu, nampak tidak tenang, dan sepertinya ada hal yang begitu mengganggu pikirannya.


"Apa aku harus ke kamarnya, dan memohon pada laki-laki itu agar dia mau menemui Papaku?" Membungkam, saat Kiran kembali memikirkan hal itu. " Tapi bukankah itu secara tak sengaja, aku sudah merendahkan harga diriku, di depan pria sombong itu?! Sebab pasti dia akan memandangku rendah, bahkan mungkin juga menertawakan aku, karena kami hanya menikah kontrak!"gumam Kiran. Hening melanda, dengan ******* napas yang dia tarik berat, memikirkan keinginan Ayahnya, yang membuat dia nampak frustasi, "Tapi Papa sangat ingin bertemu dengannya, karena yang dia tahu, kalau pernikahan ini serius, dan juga dia tahu kalau Rangga adalah menantunya. Dan kenapa aku tidak memanfaatkan dia balik? Bukankah dia juga memanfaatkan aku, untuk menghindari perjodohan dengan Kak Adisty?! Tapi disini yang menjadi pertimbangannya, apakah dia mau memenuhi keiginanku, bukankah tadi pagi kami baru saja bertengkar?" Dan memikirkan semua itu, membuat Kiran begitu frustasi. Hening...Dengan raut wajah, yang nampak terlihat begitu gelisah.


Seketika Kiran beranjak dari duduknya. Memikirkan sang Ayah yang sedang sakit, membuat Kiran melawan egonya untuk untuk harus, bertemu dengan Rangga.


"Sekali lagi, demi Papa..Apapun aku lakukan!" gumam Kiran dengan langkah kaki yang dia ayunkan, menuju arah pintu kamar.


Langkah kaki itu tak Rangga hentikan. Pria bertubuh tinggi itu, tetap melanjutkan langkah kakinya, yang semakin membawanya berada dekat dengan Kiran. Terus melemparkan dua matanya pada Kiran, yang masih membalikkan tubuhnya ke arah pintu.


"Apakah dia masih marah padaku?" gumam Rangga dalam hati. Terus menatap pada Kiran yang sama sekali, tak menoleh padanya.


Hanya melemparkan sedetik tatapan matanya pada Kiran, dan kembali melanjutkan langkah kaki itu menuju lantai tiga.


"Sepertinya dia benar-benar masih marah padaku." Baru beberapa barisan anak tangga Rangga lewati, yang akan membawa dirinya pada lantai tiga. Tiba-tiba saja dua kakinya memijak, dan menyeruhkan nama Kiran. Begitupun juga dengan Kiran, yang menyeruhkan namanya.


"Mas Rangga..."


"Kiran..."


Keduanya sama-sama gugup. Saat sama-sama bersuara, menyeruhkan nama masing-masing. Sedikit gugup wajah itu, saat mendapati Kiran memakai dres dengan sedikit menampilkan dadanya, dan itu membuat hayalan Rangga pada kenikmatan payudara istrinya, kembali melintas.


"Mas..." panggil Kiran, yang ikut membela lamunan panjang pria itu.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Aku ingin bicara denganmu. Apakah boleh?"


Tidak menjawab, justru Rangga menyampaikan keinginannya pada Kiran.


"Layani aku malam ini!" pintaaya tegas.


Kata-kata dari bibir Rangga, membuat Kiran begitu kesal. Menghembuskan napasnya panjang, berusaha meredam emosi itu."Kenapa?! Apakah kau tidak mau?" Menautkan dua alisnya, menatap dalam pada Kiran.


"Di mana kita akan melakukannya?!"


"Di kamarku!"


Sedikit kaget, dengan sorot mata jauh lebih tajam setelah mendengar apa yang baru saja Rangga katakan.


"Apakah Mas yakin?" tanya kiran hati-hati. Karena bukankah di sana adalah kamar dia, dan mendiang istrinya Rani-dan juga ada beberapa bfoto keduanya di kamar itu.


"Ya. Aku ingin malam ini, kita melakukannya di kamarku!" jawabnya tegas.


Kiran mendesahkan napasnya yang panjang, dengan mengiyahkan ucapan Rangga.


"Baiklah..Sedikit lagi aku akan ke kamarmu."


"Dan ingat, geraikan rambutmu! Karena kau terlihat kampungan, kalau rambutmu dikuncir seperti itu!" Senyuman nyaris tak terlihat di wajah Rangga, dengan kembali melanjutkan langkah kaki itu.


Apa yang Rangga katakan, berhasil membuat Kiran kaget, juga membuat emosi tiba-tiba meluap dalam diri wanita bermanik hitam itu.


"Dasar! Untung saja demi Papaku, kalau tidak aku tidak sudi menundukkan harga diriku di depanmu, pria sombong!" gumam Kiran kesal.


Kiran membuka lemarinya. Iris hitamnya menelusuri setiap pakaian, yang tertata rapi di dalam lemarinya.


"Bukankah tujuan aku ke kamarnya, hanya untuk melakukan itu? Dan juga membujuknya, untuk menemui Papa. Berarti aku harus memakai busana yang sedikit seksi, dan memberi servise yang memuaskan buat Mas Rangga malam ini, agar dia mau memenuhi permintaanku," gumam Kiran dengan sedetik keheningan. "Tapi bukankah aku baru satu kali melakukan, mana mungkin aku pintar dalam hal itu?" Hening, dengan berpikir keras. "Ahhh...Aku nonton saja film itu saja di internet, mungkin saja aku akan lebih jago dalam memuaskan Mas Rangga setelah menontonnya," Seringai jahat, dan menjangkau ponselnya yang tersimpan di atas ranjang.


Menonton berbagai gaya yang ada di dalam film dewasa itu, membuat Kiran-yang baru saja melakukannya, termangap-mangap.


"Apakah sebentar aku harus di atas?" Dan dia terus menontonnya, dengan intens.

__ADS_1


Bergidik, kala melihat adegan yang menurutnya sangat menjijikan.


"Masa aku harus memasukkan punya Mas Rangga ke dalam mulutku? Baru mendekatkan wajah saja, sudah membuatku mau muntah!" gumamnya. Tapi kemudian Kiran kembali termenung. "Tapi...Hahh! Kenapa jadi susah begini?" gumam Kiran dengan wajah frustasinya.


__ADS_2