
Walaupun hati itu masih belum yakin dengan semua ini-tapi dua kaki itu tetap Kiran turunkan dari atas ranjang. Ayunan kaki itu terasa berat bagi Kiran, karena nyatanya semua ini masih terasa aneh untuknya. Saat memijak pada lantai dasar, pasangan suami-istri itu segera mengambil langkah panjangnya, menuju pintu kearah ke luar yang akan membawa keduanya pada rumah kecil. Namun langkah Kiran, dan Rangga mereka jeda, saat terdengar Doni menyeruhkan nama Tuannya.
"Tuan..." panggil Doni, seraya melangkahkan dua kakinya menuju Kiran, dan Rangga.
"Ada apa?"
"Maaf Tuan, saya hanya mau menyampaikan, kalau besok rekan bisnis kita yang baru, mengundang anda untuk makan siang. Dan dia meminta, agar anda juga mengajak Nona Kiran."
Dua alis Rangga bertaut. Rasa penasaran, menyelimuti pria bermanik berperawakan tinggi itu, setelah mendengar apa yang Doni sampaikan.
"Siapa rekan bisnis, kita yang baru?"
"MR. CORISOON."
Sedari tadi tidak memusingkan apa yang dibicarakan Rangga, dan juga Doni tapi rauut wajah itu, seketika berubah penasaran, setelah mendengar Doni menyebut nama laki-laki yang sangat tidak asing di telinganya.
"MR. CORISOON? Mungkinkah, dia adalah pria yang sama, yang biasa selalu mengunjungi tempatku bekerja, dan memberikan aku uang tip?" gumam Kiran dalam hati, tentang sosok CORISOON, yang menurutnya adalah sosok pria yang baik.
"Baiklah, kau atur semuanya. Besok aku akan mengajak Kiran, untuk makan siang bersamanya."
"Aku??" ujar Kiran, dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Besok kita akan makan siang, bersama rekan bisnisku."
"Baiklah," jawabnya pasrah.
"Baik Tuan, kalau begitu, saya permisi dulu, saya akan kembali menghubungi beliau," pamit Doni, dengan dengan berlalu dari pasangan suami-istri itu.
Saat berlalunya Doni, Rangga kembali melanjutkan langkahnya. Namun langkah kaki itu dia jeda, saat mendapati Kiran masih setia memijakkan dua kakinya di sana.
"Mau sampai kapan, kau berada terus di sana?" tanya Rangga. Dan suara pria itu, mampu membela lamunan Kiran, pada sosok yang membuatnya penasaran itu.
"I..Iya Mas," jawabnya terbata, dengan segera mengambil langkahnya, mendekat pada Rangga.
Temaram suasana semakin menyambut keduanya, saat langkah kaki itu kian menjauh dari rumah utama. Beriringan langkah kaki itu, dengan jarak yang begitu dekat. Keheningan melanda, saat Kiran, dan Rangga, sama-sama membungkam. Tanpa sengaja jemari mereka saling bersentuhan, dan itu membuat Kiran segera memberi jarak antara, dia dan Rangga. Masih bingung dengan semua ini, karena nyatanya dia takut akan lebih sedih, saat berpisah dengan Rangga nanti.
"Kau kenapa?" tanya Rangga, dengan melemparkan tatapan herannya pada Kiran, yang tiba-tiba memberi jarak antara kedaunya.
" Ti..Tidak apa-apa Mas..." jawab Kiran terbata.
Sudah berada di depan, Rangga segera membuka gembok rumah itu, setelah mengambil kunci dalam saku celananya.
Keduanya beriringan melangkah, namun Kiran nampak mulai meragu, saat teringat akan betapa buasnya hewan peliharaan suaminya itu.
Melangkah pelan, dan melemparkan dua matanya pada Rangga, yang sudah berada di depan kandang, seraya membelai lembut HARIMAU itu.
Tiba-tiba saja pintu kandang sudah terbuka. Kiran yang tadi sudah melangkah maju, kembali memundurkan langkahnya, saat mendapati hewan buas itu sudah berada di depan kandang.
"Ayo kemari!" panggil Rangga dengan memalingkan wajahnya, menatap pada Kiran yang mengambil jarak begitu jauh dengannya, dan TIGER.
"Ti...Tidak! Apakah Mas sengaja mengajakku ke sini, agar membiarkan aku menjadi santapan hewan peliharaanmu itu?!" tanya Kiran terbata, akibat rasa takut yang teramat sangat.
__ADS_1
Rangga tertawa lepas, setelah mendengar tuduhan Kiran padanya.
"Ha...Ha...Ha...Kalau aku mau menjadikan kau santapannya, mungkin aku sudah memintanya, menerkammu sekarang juga. Tapi ini tidakkan?"
Tegang yang mengusai diri, sedikit menghilang setelah mendengar apa yang Rangga katakan barusan.
"Kemarilah..." panggil Rangga lagi, tapi tetap saja Kiran setia memijakkan dua kakinya di sana.
Rangga tersenyum. Tatapan matanya beralih pada HARIMAU besar itu, sembari mengelus kepalanya.
"Dia istriku TIGER! Ayo sapa dia!"
Mendengar titah Tuannya, perlahan KUCING BESAR ITU mengambil langkahnya, mendekat pada Kiran.
"Mas..." Wajah Kiran semakin saja memucat, saat TIGER semakin mendekat padanya.
"Tenanglah," ujarnya menenangkan.
Kiran pun pasrah. Wanita itu memejamkan matanya dengan sangat kuat, seraya mencengkram erat ujung bajunya, pasrah kalau memang dirinya menjadi santapan TIGER.
Tapi sedetik dua matanya terbuka, saat merasakan bulu-bulu halus di kulitnya.
"Mas... Lihatlah?!" Senyuman menyelimuyti wajah wanita muda itu, yang merasa takjub dengan semua ini.
"Bukankah aku sudah bilang padamu?"
Kiran tersenyum, dan dia pun langsung menyambut hewan itu dengan pelukan.
"Tidak!" jawab Rangga cepat.
"Kenapa?" tanya Kiran, yang kembali menggagalkan niatnya saat akan menjangkau ponselnya.
"Tidak semua orang tahu, kalau aku memiliki TIGER. Jadi kau bisa mengerti maksudku kan?"
"Iya Mas, dan maaf."
"Dan simpan ponselmu, dan aku akan mengajakmu ke tempat yang indah, yang berada di tengah hutan ini."
Sangat kaget wajah Kiran saat ini, begitu dia mendengar apa yang baru saja Rangga katakan.
"Apakah aku tidak salah dengar Mas? Apakah kau tidak takut, jika kita bertemu dengan hewan buas di sana?"
Rangga tertawa renyah, serasa menggelitik untuknya, mendengar apa yang Kiran katakan barusan.
"Ha...Ha....Ha...Apakah kau lupa, kalau kita sedang bersama hewan buas saat ini?"
"Baiklah kalau memang seperti itu, ayo!"
"TIGER..Ayo kita pergi ke hutan!" ajak Rangga, pada hewan kesayangannya itu.
****
__ADS_1
Takut, itulah yang Kiran rasakan saat ini. Melangkah dalam kegelapan, melewati pohon-pohon besar, dan suara angin yang terdengar begitu jelas, kian semakin menambah suasana yang mencekam. Tak sedikpun menjauh, Kiran tetap setia mendekatkan dirinya dengan Rangga, saat ketiganya melangkah menyusuri hutan. Semakin masuk ke dalam hutan, dari jauh sepasang netra matanya mendapati cahaya-cahaya, yang terbang ke sana kemari. Akibat rasa penasarannya, dengan apa itu? Kiran semakin mempercepat langkahnya, agar dapat sampai ke tempat itu.
Sebuah padang rumput yang indah, dan juga bunga-bunga yang tumbuh di sana. Dan pemandangan itu kian diperindah, dengan cahaya-cahaya kecil, yang terbang ke sana kemari.
"Kau menyukainya?"
"Ini sangat indah Mas..Bahkan sangat-sangat indah. Kenapa Mas tidak mengatakan padaku? Kalau ada pemandangan seindah ini di tengah hutan."
"Apakah jika, aku mengatakannya kau akan berani kemari?"
"Tidak..Aku pasti takut," jawab Kiran tersenyum. "Dan apakah aku boleh berfoto?" tanyanya kemudian.
"Lakukan sekuka hatimu!"
Tak ingin membuang kesempatan langkah itu, Kiran segera mengabadikan moment itu, dengan kamera ponselnya.
Dan hal itu ternyata tak luput dari pandangan Rangga, yang terus tersenyum menatap pada Kiran, yang tengah mengabadikan moment itu.
Memalingkan wajahnya pada asal suara, dan betapa kagetnya dia, saat melihat seseorang menodongkan senjata kearah Kiran.
"Kiran...Awas..." Dengan menerjang tubuh istrinya, hingga tubuh keduanya, bergulingan di atas rumput itu.
DOOR! Tembakan itu meleset, dan mengenai sebuah pohon besar.
"Tiger...Kejar dia!" titah Rangga, pada HARIMAU miliknya. Mendengar itu TIGER segera berlari kencang, dan saat lebih mendekat dengan sosok itu, dia langsung menerjang, tubuh pria itu.
"Aahhhhh....Tolong...Tolong...." Rintih pria itu. Saat Rangga mendekat, TIGER segera melepaskan mangsanya. Langsung menarik topeng pria itu, namun baru saja dia akan menanyakan, Rangga dibuat terkejut dengan suara tembakan, yang membuat pria itu langsung meninggal.
Memalingkan wajahnya pada asal suara, dan mendapati sosok pria yang bersembunyi di balik pohon. Langsung berlari cepat mengejar pria itu, saat sudah berada di dekatnya-Rangga melompat setinggi mungkin, dan menendang sosok itu, yang membuatnya seketika terjatuh.
"Katakan siapa kau?!"
"Ternyata kau masih memakai hewan ini, untuk melemahkan lawan-lawanmu!"
"Aku bertanya siapa kau?!" Dengan mempertegas kata-katanya.
"Cepat, atau lambat, kau akan tahu siapa aku! Karena aku, akan membalaskan dendamku padamu, dengan caraku sendiri!" Dengan menodongkan senjata, dan bersiap menembak Rangga, namun gagal saat Kiran melemparkan sebuah batu besar, tepat di tangan pria itu.
Senjata yang sudah jatuh, membuat pria itu ketakutan, dan segera berlari menyelamatkan diri. Dan saat TIGER akan mengejarnya, Rangga mencegah.
"Berhenti TIGER!"
"Mas...Kau baik-baik saja?" tanya Kiran, dengan raut wajah khawatirnya.
"Aku baik-baik saja. Dan bagaimana denganmu?!" tanya Rangga, yang tak kalah khawatirnya, dengan keadaan istrinya.
"Aku baik-baik saja Mas..Dan siapa pria itu?"
"Aku masih sangat mengenal suaranya, aku yakin kalau itu Davin."
" Saudara kembar Dokter Devan?"
__ADS_1
"Yaa!"