
Embun pagi sudah membasahi bumi, dengan titik-titik bening yang terlihat jelas, di dedaunan hijau, yang terkena pancaran cahaya matahari, kala sang surya berhasil yang meruntuhkan gelap yang semalam menguasai bumi.
Dua kaki jenjangnya melewati setapak-demi setapak anak tangga, yang akan membawa tubuh wanita muda itu, menuju lantai dua rumah mereka.
Kala sudah memijak di lantai dua, Adisty segera melenggangkan dua kakinya, menuju kamar kedua orang tuanya, yang tak jauh dari kamar suadara tirinya, Kiran. Namun langkah kaki itu dia jeda, saat rasa penasaran menyerangnya.
"Sedang apa dia?!" gerutunya, sembari melemparkan tatapan tajamnya, akibat rasa tidak sukanya.
Cukup lama dia memandang, dan memutuskan untuk kembali melanjutkan langkahnya. Namun baru saja tubuh itu berbalik, Adisty dibuat terkejut dengan kemunculan sang Bunda, yang baru saja ke luar dari dalam kamarnya. Dan wanita lansia itu sama sekali tidak menyadari, adanya putrinya di depan.
"Mama..."
Mendengar suara yang menyeruhkan namanya, wajah wanita itu seketika dia angkat, setelah sejak sedari tadi, dia sibuk membenamkan tatapan matanya, ke dalam tas.
"Adisty!" gumam Mama Rati, yang nampak sangat kaget.
Mendapati raut wajah sang bunda, yang sedikit memucat, rasa curiga tiba-tiba hadir dalam diri Adisty. Hingga tatapan mata itu, kini sudah berubah dengan tatapan penu selidik.
"Mama mau ke mana?"
Kian memucat raut wajah Mama Rati, sebab terselip juga kepanikan dalam diri wanita lansia itu.
"Mama!"
"Ya. Mama mau ke mana?!" tanya Adisty, dengan mempertegas nada, diujung kalimat, pertanyaan.
"Mama mau ketemu sama teman Mama." Walaupun wajah gugupnya tak sepenuhnya memudar, namun Mama Rati berusaha meyakinkan putrinya, dengan kebohongan itu.
"Benarkah??" Dengan menyurutkan kedua alisnya, dengan kian mempertegas tatapannya, pada Mama Rati.
"Iya," jawabnya singkat. Juga karen tak ingin berlama-lama dengan putrinya, yang mungkin bisa saja semakin banyak bertanya, Mama Rati memutuskan untuk segera berangkat.
"Mama pergi dulu, teman Mama sudah mengirim pesan, katanya dia sudah menunggu Mama di restorant," pamit Mama Rati, dengan segera mengambil langkah panjangnya, berlalu begitu saja, meninggalkan Adisty yang terlihat begitu menacruh curiga, dengan sikap Ibunya.
Wajah itu ikut berpaling mengikuti perginya sang Bunda, hingga sosok itum benar-benar menghilang dari penglihatannya. Cukup lama dua kakinya memijak di sana, akhirnya Adisty memutuskan untuk menyusul sang Bunda.
Ayunan kakinya nampak sangat cepat, saat dua kaki wanita muda itu, melewati satu persatu anak tangga. Saat dua kakinya sudah memijak di lantai dasar, Adisty segera mengambil langkan panjangnya, sebab tidak mau kehilangan jejak sang Bunda. Dan hal itu ternyata tak luput dari pandangan Bibi Surti, yang terlihat sungguh penasaran.
"Ada apa dengan Nona Adisty? Dia nampaknya sangat terburu-buru, dan bukankah Nyonya Rati juga baru saja ke luar?" gumamnya penasaran. Setelah beberapa menit melemparkan pandangannya, Bibi Surti memutuskan untuk kembali melanjutkan langkahnya, yang sempat dia jeda itu.
Setelah sudah berada di depan kamar, wanita lansia itu langsung melabuhkan ketukan pada badan pintu. Beberapa menit dia menunggu, dan nampaklah Kiran, dengan dain pintu, yang sudah terbuka.
"Bibi.." gumamnya, saat mendapati Bibi Surti berada di depan kamarnya.
__ADS_1
Senyuman menyambut di wajah Bibi Surti, dengan langkah kaki yang segera dia ambil ke dalam kamar.
Minuman yang ada di dalam nampan yang tengah dia bawa, segera wanita tua itu letakkan di atas meja, dan ternyata itu tak luput dari pandangan Kiran, yang penasaran dengan minuman apa yang dibawa Bibi Surti.
"Minuman apa itu Bibi?" tanyanya penasaran, seraya berjalan menuju arah ranjang, dan melabuhkan tubuhnya ditepian.
"Ini minuman lemon, sudah Bibi campurkan dengan sedikit madu, bagus untuk menghilangkan rasa mual, Nona."
Mendengar apa yang dikatakan wanita paruh baya itu-Kiran yang masih merasakan mual, segera menyambar minuman hangat itu.
"Benarkah?"
"Iya. Coba saja, kalau Nona tidak percaya. Dulu waktu Bibi mengandung di awal-awal kehamilan, alamarhum Ibunda Bibi, juga sering membuatkan Bibi, minuman ini, dan itu sangat membantu."
Raut wajah Kiran langsung berubah muram, mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh pelayan rumahnya itu, dan tentu saja akibat kerinduannya pada sang Bunda, yang telah lama pergi.
"Coba Mama masih ada. Pasti situasi, tidak akan seperti ini," ujarnya pelan, dengan raut wajah yang sudah nampak berubah muram.
Senyuman kecil terukir di wajah Bibi Surti, dengan tatapan hangat, yang dia berikan pada Kiran, dengan menyentuh lembut punggung tangan wanita muda itu.
"Nyonya Besar, Pasti sudah bahagia, di alam sana."
Senyuman kecil dia ukir, dengan tatapan nanar, dan kehangtan kembali menjalar dalam dirinya, saat sentuhan dan kasih sayang Bibi Surti beri untuknya.
"Minumlah, semoga ini bisa mengurangi rasa mual, Nona."
"Bagaimana Nona?"
"Enak Bi! Sepertinya sangat membantu," jawab Kiran tersenyum, dan kemudian kembali meneguk minuman hangat itu.
Beberapa menit keduanya hanyut dalam suasana, akhirnya Bibi Surti bersuara.
"Nona.."
"Yaa.."
"Apakah Nona tidak merasa, kalau Mama Rati memiliki pria lain?"
Tepian gelas yang akan kembali Kiran daratkan, seketika kembali Kiran urungkan, setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan Pelayan rumahnya.
"Maksud Bibi, Mama Rati berselingkuh dari Papaku?" tanya Kiran mempertegas, ucapan pelayan tua itu.
"Iya. Sebab beberapa kali Bibi mendapati dia tengah menelpone, dengan seseorang, dan memanggilnya dengan panggilan sayang, dan juga kalau tidak salah waktu itu, Bibi mendengar dia berkata, kalau suatu saat baru dia perkenalkan Adisty, tapi bukan sekarang."
__ADS_1
Kiran membungkam. Apa yang terucap dari bibir Pelayan rumahnya, berhasil membuat wanita itu nampak berpikir keras, dan juga penasaran.
"Mungkinkah itu Papa Nona Adisty?"
Kiran langsung memalingkan wajahnya pada asal suara, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Bibi Surti.
"Tapi Bibi, bukankah Bibi pun tahu, kalau Papa kandungnya Adisty itu, sudah meninggal."
"Mana kita tahu Nona, kalau Nyonya Rati berkata jujur atau tidak! Bisa saja dia berbohong, agar Tuan mau menikahi dia, karena saat itu Bibi pun tahu, bagaimana kondisi Nyonya Rati, dan Adisty."
Tak mengiyahkan, namun juga dia tak mungkin menampik ucapan Bibi Surti, yang mungkin saja ada benarnya.
"Mungkinkah Mama Rati berbohong pada Papa, kalau Papanya Adisty sudah meninggal?" gumam Kiran dalam hati.
****
Setelah dua kakinya sudah memijak di depan restorant yang didatangi sang Bunda, Adisty segera melenggangkan dua kakinya ke dalam restorant, guna menyusul sang Bunda, yang sudah berada di dalam.
Mengedarkan pandangannya kesegelah arah, dan betapa kegetnya wanita itu saat mendapati sang Bunda, tengah bercipika, dan cipiki dengan seorang pria yang sebaya dengan Ibunya.
Amarah menguar seketika dari pipi Adisty, sebab walaupun Papa Andi bukanlah Ayah kandungnya, tapi selama ini pria itu yang sudah mebesarkannya.
"Oohhh...Jadi seperti ini, yang selama ini Mama lakukan di belakang Papa!" sungut Adisty, dengan setengah teriakan, hingga mengalihkan tatapan para pengunjung restorant yang lainnya.
Mama Rati, dan Jack yang tengah saling melepas rindu, langsung memalingkan wajah mereka pada asal suara, dan betapa kagetnya mereka, saat mendapati Adisty, putri mereka.
" Adisty~" Mama Rati bergumam, dengan wajah yang sudah berubah pucat.
"Adisty~" gumam Jack yang terkejut dengan kemunculan putrinya, namun terselip rasa bahagia dalam diri pria itu, saat bisa berada dekat dengan putrinya secara langsung.
"Jadi ini yang selama ini Mama lakukan! Berselingkuh dengan pria ini!" Adisty nampak geram, dan dia terlihat sangat tidak terima dengan apa yang dilakukan Ibunya.
"Kamu dengar penjelasan Mama dulu, Disty!" ujarnya Mama Rati dengan memelaskan wajahnya, yang nampak sangat frustasi.
"Apa yang mesti dijelaskan! Jelas-jelas Mama berselingkuh!" sungutnya, yang tidak mau kalah.
Saat pertikaian sedang terjadi, dengan suasana api yang benar-benar berkobar dalam diri Adisty, tiba-tiba saja terdengar suara tepuk tangan, yang mengalihkan pandangan ketiganya.
PROK....PROk....PROK...
Tatapan mereka semua teralihkan, dan betapa kagetnya Mama Rati, begitu pun juga dengan Adisty, saat mendapati keberadaan Mama Dilla di sana.
"Nyonya Dilla..." gumam Mama Rati, dengan wajah kagetnya, saat wanita lansia itu, melangkah mendekat pada mereka.
__ADS_1
Dengan wajahnya yang angkuh, dan tatapan mencemoohnya, wanita lansia itu berucap.
"Aku sama sekali tidak menyangkah, kalau putraku Rangga bisa menjadi bagian dari keluarga kalian. Dan semoga saja, jika aku menunjukkan video ini, dia langsung memutuskan hubungan dengan putri kalian itu!" ucapnya penuh kemenangan, dan berlalu begitu saja.