
Tubuh itu seketika menghentikan lanjut langkahnya, saat mendapati teman baiknya, Kira! Baru saja menyelesakan teleoponenya. Menhembuskan napas beratnya, saat sebutan Mas! Dian dengar, diakhir perbincangan mereka. Dan sangat meyakini, kalau sahabat baiknya itu baru menyelesakan teleponenya- dengan Rangga Wijaya.
"Kau baru saja selesai menghubunginya, lagi?!" Wajahnya sedikit memerah, yang mewakili rasa kesal yang tengah dia rasakan.
"Maaf," jawab Kiran menunduk, dengan wajah memucat.
Dua mata Dian berputar mengeliling ke segalah arah, memandangi seisi kamar, dalam rumah kontrakkannya. Arah pandangnya kembali berpaling pada Kiran, yang diam membisu, setelah tadi dia melontarkan pertanyaan, yang membuat sahabatnya tak berkutik.
"Apakah, kau begitu mencintainya?" tanya Dian tiba-tiba, yang memecahkan kesunyian yang melanda dalam kamar.
"Maafkan aku.Tapi sungguh-sungguh, benar-benar mencintanya."
Dian menghembuskan napas panjangnya. Mendengar jawaban yang ke luar dari bibir Dian, membuat dada itu kian sesak. Sebab dengan lugasnya, Kiran mengakui perasaan cintanya pada seorang Rangga Wijaya! Yang jelas-jelas tidak mencintainya. Walaupun dia menentang keras perasaan cinta Kiran, pada pengusaha itu! Tapi siapa yang bisa menghalangi cinta, ke mana dia mencari tempatnya. Tak ada yang berbicara diantara mereka, masing-masing larut- dalam isi pikirannya sendiri. Kiran begitu diliputi rasa bersalah- akan cintanya pada seorang Rangga wijaya, memilih membungkam mulutnya, hingga membuat kamar semakin dikuasai kesunyian.
"Aku tidak pernah mempermasalahkan kau jatuh cinta pada siapa pun, selama pria itu bukan suami orang. Tapi dengan Rangga!" Menjeda kalimatnya sejenak, sebab sangat tidak menyetujui kalau Kiran, harus jatuh cinta pada pria itu. "Aku sama sekali sulit untuk menerimanya. Karena aku tahu, dia sama sekali tidak mencintaimu. Dia selalu saja berkata kasar padamu. Dan kau pun tahu, kalau Tuan Rangga, sangat mencintai Dokter Rani. Kau pun tahu, bagaimana kemesraan pasangan Suami~Istri itu, saat Dokter Rani masih hidup."
Wajah Kiran memucat. Buliran bening seketika menetes dari kedua sudut matanya. Kata-kata yang baru saja ke luar dari bibir Dian, seraya belati yang menancap di jantungnya.
"Aku sangat tahu diri, Dian! Tapi aku sama sekali tidak bisa menahan rasa ini!" lirih Kiran menunduk.
"Tapi bagaimana, kau bisa mencintainya tiba-tiba? Sementara kalian belum lama kenal, Kiran!"
Detakan jantung kembali berdetak. Wajahnya kembali menengada, menatap intens pada Dian dengan genangan air mata yang kian menumpuk, pada pelupuk matanya." Kau mungkin tidak percaya, jika aku mengatakan ini."
Sepasang mata Dian menyipit, dengan sorot mata menatap dalam pada sahabatnya- mendengar ucapan Kiran yang sulit dia cernah.
"Apakah ada yang tidak, ku ketahui?"
"Jantung,"
Keningnya mengkerut. Satu kata yang ke luar dari bibir Kiran, membuat Dian semakin dilanda rasa penasaran.
__ADS_1
"Iya, jantung. Aku rasa karena jantung ini, yang membuat aku tiba-tiba saja, mencintai Tuan Rangga."
Dian terkekeh. Jawaban Kiran, serasa menggelitik untuk gadis berambut sebahu itu. Bagaimana bisa? Kiran memberi alasan padanya, menurutnya sangat tidak masuk akal. Jatuh cinta pada seseorang, karena mendapatkan donor jantung."Ha...ha...ha...Kamu jangan ngacoh, deh, Kiran! Mana ada seperti itu. Bukankah di dunia ini, bukan kamu satu-satunya orang, yang mendapatkan donor jantung?"
Kiran mendengus kesal. Tawa sahabatnya baik nya itu, membuat raut wajah yang tadi menenggelam, seketika menampakkan wajah yang tengah menahan kesal. Karena siapa yang percaya akan hal ini? Bukankah ini memang sangat aneh?! Bagaimana bisa? Seseorang akan jatuh cinta pada orang yang dicintai pendonor, usai melakukan transpalasi jantung.
"Terserah kau mau percaya, atau tidak. Karena aku tidak akan pernah memaksamu, untuk percaya padaku. Tapi aku minta padamu, jangan pernah mengomentari perasaanku, pada Tuan Rangga." Nada tegas, dan berlalu begitu saja dari kamar saat Dian tak jua menghentikan tawanya itu.
****
Keheningan melanda suasana dalam mobil. Saat mobil mewah yang membawa pengusaha kaya, Rangga Wijaya! Membela jalan di tengah keramaian lalu lintas kota Jakartaz di malam hari. Alunan musik Jaz yang terputar dalam mobil itu, membuat Rangga, dan sekretarisnya-Doni! menikmati dunianya masing-masing, tanpa ada yang berbicara. Rangga menerawangkan dua matanya, menatap keindahan kota Jakarta- yang terlihat kian mempesona, saat lampu-lampu yang menghiasi sepanjang jalan, mulai menampilkan cahayanya.
Bersandar malas pada sandaran kursi penumpang. Saat isi pikirannyya, kembali dihinggapi akan tuntutannya Ibunya yang ingin dia segera menikah.
"Apa yang harus, aku lakukan? Mana bisa aku menikahi wanita, yang sama sekali tidak kucintai. Dan aku baru saja mengenalnya." bathin Rangga.
Suasana hening, dan larut dalam pemikiran masing-masing, seketika berubah tegang, ketika arah pandang Doni menangkap sesuatu mencurigakan, lewat kaca spion mobil. Di mana dua orang pengendara motor trel, yang berada di sisi kiri, dan kanan mobil yang terus mengikuti mereka.
"Ada apa?" Tatapan mata Rangga seketika tertuju pada Doni, setelah sedikit lama dia membiarkan dirinya, larut dalam apa yang menjadi beban pikrannya.
"Sepertinya ada yang mengikuti kita, Tuan!"
Raut wajah serius, dengan kembali menegakkan posisi duduknya. Rangga memalingkan wajahnya ke kiri, dan kanan. Dan mendapati dua orang pria, yang mengendarai motor trel di sisi kiri, dan kanan mobilnya.
"Biar aku saja, yang menyetir mobilnya." Bangun dari duduknya, dan mengambil alih kemudi mobil.
"Kencangkan sabuk pengamanmu, karena kita akan bermain kejar-kejaran."
"Ba..baik Tuan," jawab Doni gugup.
Seringai rendah jahat di wajah, saat mobil itu dia kendarai dengan kecepatan di bawah rata-rata. Mendapati mobil yang membawa Rangga Wijaya semakin melaju cepat, membuat kedua pria pengendara motor trel itu, segera menambah kecepatan pada kendaraan roda dua nya.
__ADS_1
Mobil melaju bak hembusan angin cepat, saat Rangga menyelip di antara barisan mobil-mobil, yang melaju dengan rapi sepanjang jalan. Raut wajahnya tetap menampilkan senyuman, senyuman yang mewakili emosi dalam diri. Dan akibat ulahnya itu, yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, membuat adanya beberapa mobil, yang nyaris tertabrak.
"Tuan... Awas mobil di depan...." teriakan Doni yang begitu menggema, saat di depan mereka- ada sebuah mobil yang melintas tiba-tiba. Memutar cepat halaun setir, hingga terjadi kecelakaan yang menimpah salah satu si pengendara motor trel, saat tidak bisa menghindari laju mobil yang melintas di depannya.
"BRAAK!"
Wajah Doni memucat seketika. Napasnya begitu memburu, setelah baru saja dia dan Tuannya terhindar dari kecelakaan maut, yang bisa melenyapkan keduanya.
"Kau baik-baik saja, Doni?!" Seringai renda, dengan cepat wajah memalingkan wajahnya, pada Doni.
"Kita masih hidup~kan, Tuan?!" Doni terlihat seperti orang bodoh, saat dua mata itu menatap pada Tuan mudanya dengan wajah yang penuh ambisi.
" Tentu saja, bodoh! Dan kita perlu menyingkirkan yang satunya lagi." Rangga memalingkan wajahnya memandang ke luar dari dalam mobil, memandang salah satu pengendara motor, masih setia mengikuti mereka. Lajuan kendaraan yang terus melaju kencang, melewati keramaian lalu lintas di malam hari. Jalanan nampak mulai lenggang, kala melewati hutan kecil~ yang berada di tengah kota Jakarta. Mobil yang sedang melaju kencang, seketika Rangga hentikan tiba-tiba, dengan memutar haluan setir yang menghalangi jalan pengendara motor trel itu.
Kecelakaan tak bisa terhindar, saat pria itu gagal menginjak rem motornya - yang membuat motor yang dia kendarai, seketika terjatuh.
"BRAKK!" Tubuh pria itu terpental jauh dari motor, terguling-guling bak gelombang di lautan.
Kilatan api amarah terlihat jelas di wajah tampan Rangga, menatap tajam pada pria pengedara motor- yang berusaha bangun dari jatuhnya. Membuka pintu mobil dengan kasar, dan segera mengambil langkah panjangnya, menghampiri pada pria yang masih menggunakan helm.
"BUUGG!" Tendangan keras segera dia layangkan pada perut pria itu, hingga membuatnya terpental ke belakang.
Dengan kasar Rangga, menarik kra baju pria itu! Dan membuka paksa helemnya. Sekali lagi pria itu mendapati sosok yang tidak dia kenal, saat dirinya berusaha mencari dalang atas kematian istrinya, Rani.
"Katakan! Siapa yang menyuruh Mu, brengsek...!" Tatapan membunuh, saat sorot matanya fokus pada wajah pria itu.
"DOOR!" Sebuah tembakan mengenai pria asing itu, dan membuatnya seketika meninggal di lokasi kejadian, ketika Rangga baru saja akan menginterogasi dirinya.
Rangga berpaling cepat pada asal, datangnya peluru. Dari jauh pria itu mendapati sebuah mobil hitam, dengan seorang pria di dalamnya. Baru saja dia akan mengejar kendaraan roda empat itu, sialnya! Rangga pun, terkena tembakan lengannya.
"DOOR!"
__ADS_1
"Aw...." Dan darah segar seketika mengalir, dari balik kemeja putihnya.