Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
MEMINTA MENANDATANGANI SURAT KONTRAK PERNIKAHAN


__ADS_3

Tidak langsung turun dari dalam mobil-Rangga justru masih betah berlama di dalam, membiarkan Kiran calon istrinya, pergi sendirian. Duduk di kursi kemudi mobil mewahnya, dengan arah pandang menatap lurus ke depan, dan pandangan begitu fokus pada Kiran, dan Devan yang nampak begitu akrab. Pandangan itu, menyimpan sebuah misteri di dalamnya.


"Bukankah Kiran adalah pasien dari Rani? Tapi kenapa dia terlihat akrab dengan Devan? Apakah Devan diam-diam menyukai Kiran?" gumamnya, saat penasaran itu seketika menyelimutinya.


Rangga kemudian terkekeh pelan. Dan dalam dirinya dia merutuki kebodohannya sendiri, saat ada sedikit rasa tidak suka menghinggap di dirinya, melihat kedekatan Kiran, dan Devan.


"Memang apa urusanku?! Lagi pula pernikahan ini hanya berlangsung satu tahun. Dan satu tahun kemudian aku akan menceraikannya." gumam Rangga, dan memantapkan diri untuk menghampiri pada Kiran, dan Devan.


Rangga mengayunkan langkahnya dengan santai. Saat jarak dirinya, dengan Kiran dan Devan semakin dekat, lelaki tampan itu berpura-pura batuk, hanya untuk memberitahukan kedatangannya.


"Uhuk..Uhuk...." Batuk pura-pura Rangga, dengan ayunan kaki terus membawanya pada Kiran, dan Devan.


Wajah Kiran, dan Devan berpaling pada asal suara. Dan wajah itu menampilkan sedikit rasa kagetnya, mendapati Rangga keberadaan Rangga di sana.


"Rangga..." gumamnya. Dan arah pandang itu beralih pada Kiran, yang terlihat santai.


"Kau datang bersama Rangga? Apakah kalian berdua memiliki hubungan?"


Rangga menarik sudut bibirnya. Lelaki tampan itu, langsung mengambil posisi disamping Kiran, dengan begitu dekat.


"Malam Devan.. Bagaimana kabarmu?"


"Malam. Dan bisakah kalian menjelaskan ini padaku? Apakah kau, dan Kiran memiliki hubungan?"


"Aku, dan Kiran akan menikah dua hari lagi."


Wajah serius, dengan tatapan penuh menatap pada Rangga, dan Kiran secarah bergantian. Dan ada rasa tidak percaya, dan menurutnya sangat tidak mungkin, mengingat bagaimana besarnya cinta Rangga, dan mendiang istrinya.


"Apakah kau yakin? Akan menikahi Kiran! Ataukah ada alasan lain, di balik semua ini."

__ADS_1


"Tidak ada alasan apa-apa Dokter Devan! Mas Rangga memang ingin menikahiku," celah Kiran, yang seketika menyela pertanyaan Devan, yang membuat mimik perubahan pada wajah Rangga.


Devan menghembuskan napas beratnya. Dan dalam diri pria itu, timbul keraguan, dan dia begitu yakin, kalau Rangga menikahi Kiran hanya untuk kepentingan pribadinya. Sebab Devan pun tahu, kalau sejak dulu Mama Dilla, sudah sering meminta pada putranya untuk menceraikan Rani, dan menikahi wanita lain hanya agar memiliki keturunan.Tapi karena cintanya yang begitu besar pada Rani, membuat Rangga selalu saja menolak keinginan sang Bunda. Hingga berhembus kabar di luar sana, kalau pengusaha tampan Rangga Wijaya memiliki hubungan yang tidak baik- dengan Ibundanya.


Devan menampilkan senyumnya. Senyum itu, menampilkan arti yang begitu dalam- saat sepasang matanya begitu fokus pada Rangga.


Memegang pundak Rangga, dan mendekatkan wajahnya pada Rangga, dan berbisik pelan di telinga pria itu.


"Aku tidak tahu, ada tujuan apa kau menikahi Kiran. Kau adalah suami, dari mendiang istrimu Rani. Dan aku hanya memperingatkan padamu, jangan sakiti dia, karena Kiran adalah gadis yang baik. Dan jika suatu saat kau mencampakannya, berikan dia padaku." Devan memberi smirk iblisnya, dan segera menarik diri menjauh pada Rangga, yang menatapnya dengan membunuh.


Ada rasa penasaran dalam diri Kiran, tapi gadis itu memilih untuk tidak bertanya. Mengukir senyum tipisnya pada Devan, yang membalas senyumannya.


"Apa yang kalian bicarakan Dokter Devan? Karena kalian, membuatku penasaran."


"Tidak ada. Aku hanya menasehatinya, agar tidak membuatmu kecewa. Dan kalau begitu aku permisi dulu." pamit Devan, dan kembali mengayunkan langkah kakinya.


****


Bak di sambar petir, dan itulah yang terlihat dari raut wajah Dian, sahabat baik dari Kiran itu. Gadis dengan rambut sebahu itu nampak seperti orang bodoh, saat Kiran menyampaikan kalau dia dan Rangga akan menikah besok.


"Apakah aku tidak salah dengar?! Bagaimana bisa, pria itu tiba-tiba akan menikahimu, Kiran! Kau'pun tahu, bagaimana sikapnya selama ini padamu. Sering ber'ucap kasar, dan bersikap dingin padamu."


"Aku tidak perduli akan hal itu. Yang jelas aku sangat bahagia, karena Mas Rangga sebentar lagi akan menjadi milikku. Hanya milik Kiran Larasati." Rona bahagia terlihat jelas di wajah Kiran. Mengingat dirinya yang begitu mencintai seorang Rangga Wijaya. Alih-alih besar harapannya, agar Rangga mau menerimanya. Tapi ini di luar dugaannya, justru kini pria itu mau menjadikan dia istri. Walaupun timbul keraguan, tapi Kiran berusaha menepisnya, yang dia tahu-dia akan menjadi Nyonya dari pria yang begitu dia cintai.


Dian masih nampak tidak terima. Dan dirinya adalah salah satu orang yang menentang pernikahan ini, walau dia tahu- sahabatnya begitu mencintai Rangga Wijaya.


Melabuhkan tubuhnya di samping Kiran, yang duduk di tepian ranjang kecilnya.


"Aku mohon...Batalkan pernikahan ini...Aku takut kau akan kecewa. Dan aku juga khawatir, kalau orang tua Tuan Rangga tidak dapat menerimu.." Disty menatap penuh pada Kiran. Dan diri gadis itu, sangat mengharapkan Kiran membatalkan pernikahannya dengan.

__ADS_1


"Aku tahu, kau melakukan ini karena kau begitu menyayangiku. Tapi aku sangat mencintai Mas Rangga, Dian! Dan kaupun tahu itu, bagaimana selama ini perjuanganku untuk mendapatkannya. Dan dia adalah sumber kebahagianku, jadi aku mohon biarkan aku bersamanya. Biarkan hati ini, menemukan tempat yang semestinya. Karena cintaku, hanya pada Mas Rangga..." Sepasang mata Kiran menatap dalam pada sahabatnya, berharap Dian tidak memintanya untuk membatalkan pernikahannya, dengan Rangga.


"Terserah kau saja. Setidaknya, aku sudah berusaha menasetimu." Wajah datar, dan berlalu begitu saja dari kamar Kiran.


Dua matanya melempar jauh, mengikuti sosok Dian yang telah berlalu pergi. Ada rasa sesal di dalam dirinya, karena harus membuat sahabat baiknya itu kecewa. Tapi cintanya yang begitu besar pada Rangga, membuat dia harus mengecewakan orang-orang disekitarnya. Termasuk keluarganya, dan dia tahu, mereka akan semakin membenci dirinya, karena sudah menganggap merebut pria itu-dari saudara tirinya Adisty.


"Maafkan aku, Dian...Maafkan aku." gumam Kiran.


****


Esok Hari. Kediaman Rangga Wijaya.


Gelap telah kembali menghinggapi bumi, setelah mentari kembali menyembunyikan senyumnya. Sorot matanya melempar jauh ke depan- menatap keindahan awan gelap, yang bertabur jutaan bintang, dan bulan yang menyinari. Walaupun ada rasa kecewa dalam dirinya- di mana semestinya malam ini adalah resepsi pernikahan mereka, tapi dia harus menelan rasa kecewa, saat Rangga mengatakan tidak ada resepsi dalam pernikahan mereka.


"Semoga saja...Ini benar-benar pernikahan terakhirku." gumam Kiran, penuh harap.


Suara ketukan pintu terdengar tiba-tiba, memecahkan lamunan saat diri itu, tenggelam di dalamnya.


"Masuk...Pintunya tidak dikunci." seru Kiran, dari dalam kamar.


Suara pintu terbuka. Ruangan yang sedikit gelap, tak mampu memperjelas wajahnya. Dan hanya terdengar suara langkah kaki yang menggema, dari sepasang sepatu pantofelnya. Detakan jantungnya kian memacu cepat, saat mengingat ini adalah malam pertamanya dengan Rangga sebagai sepasang suami istri.


"Mas Rangga...." Senyuman, dengan wajah merona saat dua mata itu saling beradu. Senyuman itu seketika memudar, mendapati sebuah map merah dalam genggaman pria itu.


Rangga yang sudah menyadarinya, tidak ingin bicara lagi.


"Tanda tangan di dalam surat itu. Setelah satu tahun kemudian, aku akan menceraikanmu. Karena pernikahan kita ini! Hanya pernikahan kontrak." Rangga berbicara dengan santainya, dan melemparkan map merah itu di atas sebuah sofa panjang.


****

__ADS_1


Ntar, baru aku revisi. Dan maaf, jika masih salah. Maklum nulisnya make HP, alatnya masih dalam perjalanan.


__ADS_2