
Rian mendesahkan napasnya panjang, usai pria itu mendengar apa yang baru saja Kiran katakan. Kalau nyatanya dia mencintai seorang Rangga Wijaya, tapi nyatanya pria itu, sama sekali tidak mencintai dirinya. Memandang, dan terus memandang pada Kiran yang mengukir senyuman, namun senyuman itu hanya mewakili sebuah luka yang dia rasakan.
Diam, dan akhirnya Rian kembali berbicara. Kala ada satu hal yang sangat membuat pria itu sangat penasaran. Kalau memang Rangga tidak mencintainya, bagaimana keduanya bisa menikah?
"Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu. Kau mengatakan, kalau kau mencintai Rangga, dan sayangnya cinta itu tak mendapatkan balasan. Terus bagaimana, kalian berdua bisa menikah?" Kalau memang Rangga sama sekali, tidak mencintaimu." Raut wajah itu sangat menunjukkan rasa penasarannya, kala dia melontarkan pertanyaan.
Mendesahkan napasnya dalam, sebelum menjawab apa yang Rian tanyakan.
"Aku rasa pernikahan kami berdua, hanya untuk membalas budi."
Kening Rian mengkerut. Sorot mata pria itu, nampak jauh lebih tajam, setelah mendengar jawaban yang terucap dari bibir Kiran.
"Balas budi?? Apakah Rangga pernah menolongmu? Ataukah membantumu dalam hal keuangan?" Beruntun pertanyaan Rian lontarkan, saat rasa penasaran semakin pria itu rasakan.
Lagi-lagi wajah itu melukis sebuah senyuman, namun hanya untuk menutup sebuah luka di hati.
"Aku berhutang nyawa, Rian!"
"Berhutang nyawa?" Raut wajah Rian begitu sangat terkejut, kala mendengar apa yang baru saja Kiran katakan.
"Iya. Dan bagaimana kami bisa menikah, sangat panjang penjelasannya."
Diam, dengan tubuh yang langsung bersandar pada sandaran kursi. Cukup lama Rian menenggelamkan tatapannya pada Kiran, kala diri itu hanyut dengan kisah yang Kiran ceritakan padanya.
Netra matanya teralihkan pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan, dan merasa dirinya sudah terlalu lama bersama Kiran.
"Kita akhiri perbincangan kita sampai di sini saja, lagi pula pengunjung tokonya sudah mulai banyak."
"Baiklah,"
"Sebentar aku akan menjemputmu, dan kita lanjutkan obrolannya."
"Oke, dan kalau begitu hati-hati di jalan."
Kiran masih setia memijakkan tubuhnya di sana. Tatapan mata gadis itu terus dia arahkan pada Rian, yang sudah berlalu pergi dengan mobil mewahnya.
Memastikan mobil milik Rian sudah benar-benar menghilang dari pandangannya, Kiran memutuskan untuk masuk kedalam. Baru saja dua kaki itu mengambil beberapa langkah, Kiran dikejutkan seruan seseorang.
"Ternyata kamu tidak puas, dengan hanya mendapatkan Rangga saja. Sekarang, kamu malah merayu pria yang lain."
__ADS_1
Suara yang terdengar, membuat Kiran sangat yakin kalau ucapan itu ditujuhkan untuknya. Membalikkan wajah itu, dan sedikit kaget kala mendapati saudara tirinya Adisty.
"Kak Adisty," gumamnya pelan.
Seringai rendah membingkai di wajah cantik Adisty, mendapati raut wajah Kiran yang berubah seketka, saat wanita itu mendapati keberadaannya.
"Kau sangat pintar Kiran! Bisa menutupi semua kebusukanmu, dengan wajahmu yang polos itu."
"Aku tahu, hal yang membuat kau membenciku, mungkin karena kau tidak jadi menikah dengan Rangga Wijaya. Kalau memang kau masih mengharapkannya, aku dengan senang hati membuka ruang untukmu. Tapi yang jadi pertanyaannya, apakah Rangga mau menyambut hadirmu?"
"Kau!"
"Aku hanya berbicara yang sebenarnya Kak Adisty!" ucap Kiran dengan mengukir senyuman manisnya, yang membuat amarah kian membuncah dalam diri Adisty.
"Kau lihat saja! Rangga suatu saat pasti akan mendepakmu, dalam hidupnya!" ujar Adisty dengan nada, yang berapi-api.
Kiran mendesahkan napasnya yang dalam. Sesak seketika begitu menghimpit dada wanita itu, karena nyatanya setelah satu tahun pernikahan mereka, Rangga akan menceraikan dirinya.
"Aku tidak punya waktu untuk melayani omonganmu, sebab aku harus mencari kerja. Dan dari pada hidupmu, hanya dihabiskan untuk memikirkan gagalnya kau yang menikah dengan Rangga, mendingan kau mencari pekerjaan karena uang Papaku, sudah banyak habis untuk membayar uang kuliahmu," ucap Kiran. Langkah kaki dia ayunkan, namun kembali gagal kala Adisty berseru padanya.
"Papamu sedang sakit. Apakah kau tidak ingin menjenguknya?"
"Papa akhir-akhir ini sering sakit-sakitan, dan keuangan juga mulai menipis karena untuk membayar pengobatannya, dan aku datang hanya untuk menyampaikan itu. Jika kau masih menganggap dia sebagai Papamu, aku harap kau menjenguknya," ujar Adisty, dan berlalu dari toko bunga itu.
Lelah wajah itu seketika, dan dia begitu nampak sangat syok. Bagaimana dia tidak mengetahui kabar, tentang Papanya yang sakit.
"Papa sakit? Bagaimana aku sama sekali tidak tahu?" gumam Kiran dalam hati.
****
Seringai jahat, dengan tatapan begitu tajam mengukir di wajah pria itu, kala dua matanya terus dia arahkan pada dua sosok wanita muda, yang baru saja mengakhiri perbincangan mereka.
"Jadi mana yang istri dari Rangga Wijaya? Dan mana yang wanita, yang pernah dijodohkan dengan Rangga itu?" tanya seorang pria berusia senja, yang masih sangat terlihat tampan diusianya yang sudah tidak muda lagi.
"Wanita yang baru saja masuk ke dalam toko bunga itu, bernama Kiran Larasati, dia adalah Istri dari Rangga, dan yang tadi baru saja pergi itu, namanya Adisty, saya tidak tahu nama lengkapnya, tapi yang saya dengar mereka, adalah saudara tiri."
"Ini sangat menarik. Rangga dijodohkan dengan saudara tiri dari Kiran, tapi justru mereka berdualah yang menikah."
"Untuk hal itu, kenapa mereka berdua bisa menikah? Saya belum mengetahuinya Tuan!"
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu ayo kita turun! Aku sangat ingin, mengenal istri dari seorang Rangga."
"Apakah anda yakin Tuan?"
"Aku sangat yakin." jawab lelaki paruh baya itu, dengan langsung menurunkan dua kakinya, berlalu dari dalam mobil.
Senyuman dia ukir di wajah, dengan dua kakinya yang terus dia ayunkan menuju toko bunga. Terlihat penuh misteri sosok itu, kala dua matanya menyoroti.
Mendorong pintu toko, dengan mengedarkan sepasang netra matanya, mencari sosok Kiran. Seulas senyuman dia ukir di wajah, kala mendapati Kiran Larasati yang tengah menata bunga-bunga.
"Ternyata dia cantik juga," gumam pria tua itu, dengan ayunan kaki yang terus dia langkahkan, menuju kearah Kiran.
"UHUUK...UHUUK..." Berpura-pura batuk, hanya sekedar untuk memberitahukan kedatangannya.
Kiran yang sedang posisi berjongkok, langsung meluruskan tubuh itu, kala mendapati sosok pria tua, yang masih terlihat masih tampan. Dan dari cara berpakaiannya, Kiran meyakini kalau pria itu bukan pria sembarangan.
"Selamat pagi Tuan," sapa Kiran ramah.
"Pagi,"
"Anda ingin membeli bunga? Kalau iya, silahkan dilihat-lihat bunganya."
"Saya ingin membeli bunga mawar. Dan bisakah kalian nanti mengirimkan ke alamat saya?"
"Tentu saja bisa, Tuan! Dan kalau boleh tahu, siapa nama anda?"
"MR CORISOON. Dan anda terlihat sangat cantik. Apakah saya boleh menanyakan sesuatu pada anda, sebab wajah anda sangat tidak asing."
Wajah Kiran seketika berubah serius, dengan tatapan mata jauh lebih tajam, setelah mendengar apa yang baru saja pria tua itu katakan.
"Apa yang ingin anda tanyakan, Tuan?"
"Apakah anda istri, dari Rangga Wijaya?"
Kaget! Itulah yang membentuk di wajah Kiran saat ini. Wanita berusia dua puluh enam tahun itu, sama sekali tidak menyangkah kalau ada yang mengenalnya sebagai Istri dari Rangga Wijaya.
"Da..Dari mana anda tahu, Tuan?" tanya Kiran terbata.
"Siapapun pasti mengenal Rangga Wijaya, begitu pun juga dengan saya." Tersenyum menatap dalam Kiran, yang raut wajahnya sudah nampak berubah pucat.
__ADS_1