Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
RENCANA DELLA


__ADS_3

Suara pintu yang terbuka, mengalihkan tatapan seorang Rangga, dari layar ponselnya, yang sedang melakukan panggilan VC, dengan Rangga.


" Tuan..." panggil Doni,dengan langkah kaki yang dia ambil, masuk ke dalam ruang kerja.


Mendapati raut wajah tak biasa dari Sekretarisnya, Rangga meyakini kalau ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan Doni padanya. Hingga panggilan VC yang sedang dia lakukan dengan istri, Rangga memutuskan untuk mengakhirinya.


"Kiran... Nanti baru kita lanjut lagi," ujar Rangga dengan langsung mematikan panggilan VC-nya, tanpa meminta persetujuan dari sang-istri.


"Ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang penting?" tanya Rangga, dengan melemparkan tatapan penuh selidiknya pada Doni, yang melangkah mendekat ke meja kerjanya.


Bukannya menjawab apa yang Tuan-nya tanyakan, Doni justru melangkah dalam diam, seraya meletakkan ponselnya menghadap pada Rangga.


"Apa ini?" tanya Rangga, dengan melemparkan tatapan penasaranm pada Sekretarisya itu.


"Coba anda nonton Tuan, maka anda akan tahu."


Tak lagi bertanya, saat ucapan Doni yang kian membuat dirinya semakin dilanda rasa penasaran. Gawai yang berada di atas meja kerja dia jankau, dan mengklik sebuah icon di dalam layar HP itu.


Raut wajah biasa Rangga, seketika berubah serius, saat mendapati Della teman masa SMA-nya, tengah berbincang dengan seseorang yang masih sangat dia kenal, yaitu MR CORISOON.


"Bagaimana mereka berdua bisa saling mengenal?" tanya Rangga, dengan tatapan sebagai isyarat meminta jawaban, pada Sekretarisnya-Doni.


"Hal itu-lah, yang membuat saya juga penasaran Tuan, bagaimana seorang Della bisa mengenal MR. CORISOON."


Rangga mendesahkan napasnya berat, hal yang yang baru saja dia tahu, seketika sangat mengusik pikiran pria itu. Bagaimana bisa sahabat masa SMA-nya itu? Mengenal seorang CORISON.


"Mungkinkah ada sesuatu di antara mereka Tuan?" tanya Doni, yang membela dunia lamunan Tuan-nya.


Bukan menjawab apa yang Sekretarisnya tanyakan? Rangga justru berbicara perihal ulang tahun Della, yang akan di-adadakan dua hari lagi.


"Dua hari lagi Della berulang tahun, dan dia mengundangku."


"Ulang tahun?" Menyeringitkan keningnya, menatap intens Bosnya, setelah mendengar apa yang dia katakan.


"Iya."


Raut wajah Doni nampak berubah resah, setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan, oleh Tuannya itu.


"Tuan...Maafkan saya sebelumnya."


"Ada apa?" Dengan tatapan nampak jauh lebih tajam, dari sebelumnya, mendengar ucapan Doni yang tidak dia mengerti.


"Tuan pernah mengucapkan selamat ulang tahun pada Nona Della, saat Tuan tahu wanita itu berulang tahun lewat IG, storynya. Dan kalau tidak salah, saat itu Nona Della berulang tahun pada bulan NOVEMBER.


Apa yang bari saja disampaikan Doni, seperti kembali menarik Rangga, dalam dunianya yang sebenarnya.


Membungkam cukup lama, saat memaksakan memory itu, untuk memastikan kebenaran ucapan Sekretarisnya. Cukup lama dia membungkam, akhirnya dia baru menyadari kalau Della akan berulang tahun, pada bulan NOVEMBER nanti.


Mendesahkan napasnya yang dalam, dengan seringai licik di wajahnya.


"Aku tidak tahu, apa yang dia rencanakan, dan bagaimana bisa dia berkenalan dengan CORISOON. Tapi aku yakin, pasti ada sesuatu yang tidak beres di sini."


"Maksud anda?"

__ADS_1


"Aku yakin, dia ingin menjebakku, dan kau atur semuanya. Dan aku tetap akan menghadiri acara ulang tahun itu, dan..." ujar Dave, dan Doni hanya mengangguk mengerti.


"Saya mengerti Tuan...Saya akan mencarikan seseorang. Dan dia akan terjebak, dalam permainannya sendiri."


"Bagus!" jawabnya tersenyum.


****


Netra hitamnya, menatap hamparan pemandangan lewat dinding kaca restorant, menyaksikan keramaian lalu-lintas ibu kota, yang cukup ramai, disiang hari Cukup lama keduanya membungkam, hingga pelayan restorant yang datang dengan membawa minuman pesanan mereka.


"Silahkan diminum, jus-nya Nona, Tuan!" ujar pelayan muda itu, dan berlalu meninggalkan Corisoon, dan juga Della, setelah meletakkan pesanan mereka, di atas meja.


Meneguk sedikit saja minuman jus avocado itu, menyegarkan tenggorokan yang terasa kering, dengan suasana hati yang masih buruk, akibat pertemuannya dengan Rangga-tadi.


"Apakah anda-yakin Tuan, kalau rencana ini akan berhasiil?" tanya Della sebagai awal perbincangan mereka.


Senyuman kecil, seraya bersandar pada kursi yang dia duduki. Tatapan matanya begitu tajam, dan sangat memendam sejuta makna, yang tersimpan di dalamnya.


"Aku sangat yakin, kalau dengan rencana ini semuanya akan berhasil."


"Apakah kau yakin, Tuan Corisoon? Setelah kita menjebak Rangga, istrinya akan meninggalkannya?"


"Tentu saja, kau serahkan semuanya padaku."


"Baiklah, aku serahkan semunya padamu."


Kembali hening menyelimuti dua raga beda usia itu, hingga suara nada panjang yang menyapa gawai milik Della, membuat wanita muda itu, mau tidak mau harus meninggalkan restorant mewah itu.


Menjangkau tas kecilnya yang tersimpan disamping kursi kosong yang dia duduki, dan berlalu pergi, setelah berpamitan dengan CORISOON.


"Baiklah,"


Andre yang sedaeri setia berdiri disamping Tuannya, segera mendaratkan tubuh tegapnya di kursi yang Della duduki tadi, setelah memastikan wanita itu sudah berlalu jauh.


"Tuan...Apakah anda yakin rencana ini akan berhasil?"


"Aku sangat yakin. Kau pasang CCTV di kamar itu, dan begitu apa yang kita rencanakan semuanya berhasil, segera sebarkan video itu."


"Aku yakin, kalau Nona Della pasti akan sangat marah. Karena yang dia minta, dia sendiri yang merekamnya."


"Wanita itu begitu bodoh! Dia tidak tahu, kalau aku sudah memanfaatkan dia. Dan aku juga ingin, jangan disamarkan wajah Della, nantinya."


"Baik Tuan..Saya mengerti."


****


Gelap berhasil menyibak senja, kala malam kembali menaungi bumi, dengan hadirnya taburan bintang di atas awan, yang sudah tertutup gelap.


Tubuh polos itu melangkah ke dalam bathube, dengan busa sabun yang sudah menunpuk di dalamnya, ber-aroma therapi bunga mawar, yang begitu menguar di dalamnya.


Rasa lelah, memikirkan apa yang terjadi pada rumah tangganya, dan juga mual yang dia rasakan akhir-akhir ini, membuat tubuh itu terasa lebih rileks, setelah kehangatannya air itu, menyentuh kulit mulusnya.


Segera membuka pintu kamar, saat diri-nya sudah memijak di dalam kamar istrinya. Menyisir setiap sudut ruangan yang tak seberepa luas itu, dan tidak mendapati keberadaan Kiran sama sekali.

__ADS_1


"Di mana dia?" gumam Rangga, dengan langkah kaki yang terus dia ambil, mencari keberadaan istrinya.


Mendengar suara nyanyian kecil di dalam kamar mandi, Rangga tersenyum, kala meyakini kalau itu adalah suara istrinya.


"Apakah dia lupa, kalau malam ini dia memintaku untuk datang?" gumam Rangga dengan langkah kaki, yang dia ambil menuju kamar mandi. Pintu kamar mandi yang kebetulan tidak terkunci, memudahkan seorang Rangga, untuk masuk ke dalam.


Tonjolan dada, yang sedikit menguar, dengan salah satu kaki yang dia bentangkan di atas bibir bathube, menjadi pemandangan yang luar biasa untuk Rangga.


"Mas Rangga..." ujar Kiran, yang sedikit kaget-saat mendapati Rangga, sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.


Senyuman menggoda, dengan menatap lekuk tubuh sang istri, yang terpampang nyata, dan tentu saja sangat menggoda imannya, sebagai laki-laki dewasa.


Satu tangan Kiran sudah ingin menjangkau handuk kimononya, guna untuk menutup tubuhnya yang polos. Namun ternyata Kiran kalah cepat, saat Rangga mencegah tangannya.


Duduk berjongkok ditepian bathube, sembari mengelus pundak mulus Kiran, seraya menyapu bersih tatapan itu hingga ke dada istrinya.


"Kenapa Mas menatapku seperti itu?" tanya Kiran dengan wajah herannya, saat mendapai tatapan aneh suaminya.


"Kiran..." Suara parau, akibat gairan yang mulai menanjak, dan tentu saja membuat dia mulai tak berdaya.


"Yaa.."


"Kau tahu, karena ingin cepat-cepat bertemu denganmu, Mas belum sempat mandi."


Membulatkan matanya tak percaya. Dan kemudian wajah itu dia majukan, menghirup aroma wangi dari tubuh suaminya.


"Tapi kamu tidak berbau yang tidak enak Mas," ujar Kiran penuh selidik.


"Buat apa aku berbohong Kiran..." balas Rangga, dengan tatapan memelasnya, bagai seekor anak kucing, yang tengah meminta makan.


"Ya sudah kalau Mas belum mandi, aku akan ke luar. Dan aku akan menyiapkan air hangat, buat Mas."


"Tidak!" jawabnya cepat.


Menautkan kedua alisnya, menatap bingung pada Rangga.


"Terus mau-nya Mas gimana?"


"Kita mandi bersama."


"Apa??" Kaget wajah Kiran. Namun lebih lanjut dia akan mengeluarkan protesnya, Rangga sudah melepaskan semua pakaian pada tubuhnya, dan masuk ke dalam bathube itu.


"Ingat Mas! Aku sedang hamil, usia kandunganku masih sangat muda!" lanjut Kiran memperingati.


"Kita akan pemanasan saja, atau kamu membantu aku melepaskannya, apa kamu tidak kasian pada suamimu ini?"


"Melakukan apa Mas?"


Rangga menyeringai rendah, menatap wajah polos sang istri, yang tidak mengerti apa yang dia, maksud-kan.


"Tanpa harus melakukannya, kamu bisa membuat Mas mencapai puncaknya. Dan kemarikan tanganmu, dan kamu harus membuat seperti ini," pinta Rangga dengan senyumannya yang nakal, dan meraih tangan Kiran mengarah kemiliknya, yang sudah sangat menegang.


"Mas...Tapi aku tidak bisa.." lirih Kiran, dengan wajah memelasnya.

__ADS_1


"Kamu tinggal mendengar, apa yang Mas titahkan! Oke.." Dengan langsung mencium bibir istrinya, dan menggerakkan tangan Kiran naik turun. Kiran yang semula kaku, perlahan mulai mengerti apa maksud sang suami, hingga keduanya dapat memancai puncak, tanpa harus melakukan penyatuan


__ADS_2