
Birunya langit kembali mengudara di atas sana, bersama cahaya matahari yang sudah bersinar terang, kala pagi kembali menyambut. Cuaca begitu cerah hari ini, dengan awan yang tak ada gelap sama sekali. Cerahnya cuaca pagi ini, tak seindah raut wajah sosok gadis cantik, yang sedari tadi menunjukkan wajahnya yang muram.
"Kau baik-baik saja?!" Suara seseorang, berhasil membuyarkan lamunan panjang pria itu.
Mengangkat wajahnya, dengan mendung kian menyelimuti saat dia mendapati keberadaan sahabatnya Dian, yang terus melemparkan tatapan padanya.
" Dia memiliki kekasih, Dian!" lirih Kiran, dan kabut sudah menyelimuti.
"Dia?? Dia siapa?" tanya Dian. Raut wajah gadis berusia dua puluh enam tahun itu, kian dilanda rasa penasaaran- saat tidak memahami apa yang Kiran katakan.
Mencebik kesal, hingga mendung di wajah langsung memudar-saat Dian sama sekali tidak bisa mengetahui, apa yang dia maksud.
"Tentu saja, Mas Rangga Dian! Bukankah kau pun sudah tahu, kalau aku mencintainya?"
"Hel...Loo..." ujar Dian, dengan sedikit mengiramakan, kata HELLO saat berucap pada Kiran. "Apakah kau sudah lupa, pangeran tampan lainnya, yaitu Rian!"
"Aku serius Dian..." lirih Kiran, dengan memelaskan wajahnya.
"Katakan siapa keksihnya. Kita akan mencari tahu!" Nada tegas, saat melontarkan pertanyaan pada sahabatnya itu.
"Semalam tanpa sengaja aku mendapati tulisan nama seorang wanita, di layar HPnya."
Mendengar ucapan yang sangat begitu menarik perhatiannya-Dian langsung melabuhkan tubuh rampingnya, disisi Kiran.
Benarkah? Tapi siapa nama wanita itu?!" tanya Dian, saat diri itu semakin dilanda rasa ingin tahunya.
Menatap sekilas pada Dian, dan kembali menatap lurus ke depan dengan tatapan yang hampa-seolah indanya bunga-bunga itu, tak ada arti di depan matanya.
"Aku mendapati tulisan di layar HPnya, bertuliskan nama..." Dengan menjeda kalimatnya, saat air mata sudah mendung.
"Jangan menangis dulu...Katakan nama wanita siapa, yang dia tulis di layar HPnya."
"KIRAN. Nama wanita itu, sama denganku," ujarnya tegas. Namun kemudian Kiran mendesahkan napasnya yang panjang, saat sesak menghimpit seketika dadanya.
Tawa yang begitu menggelegar lolos begitu saja dari mulut Dian, setelah mengetahui dari sahabatnya, kalau nama yang tertulis di layar HP Rangga, sebuah tulisan nama Kiran.
"Ha....Ha...Ha.... Kenapa kau begitu bodoh Kiran?! Tentu saja itu namamu," ujarnya dengan terus tertawa.
Raut wajah serius, dengan tatapan penuh menatap seketika pada Dian, yang masih terus saja tertawa.
"Kau yakin??"
"Tentu saja...Karena aku yakin, kalau nama wanita itu, adalah kamu!" ujarnya berusaha meyakinkan Kiran.
Tengah asyik berbincang dengan Dian, tiba-tiba saja ada seseorang yang menghampiri.
"Kiran..."
"Ada apa Sisi?"
"Ada seorang pria yang mencarimu?"
Segera bangkit dari duduknya, dan Kiran meyakini kalau itu pasti adalah Doni-sebab pria itu sudah berjanji, kalau siang ini dia akan menjemput Kiran, untuk makan siang bersama Rangga, dan rekan kerjanya yang baru.
"Sepertinya aku harus pulang Dian... Aku, dan Mas Rangga akan makan siang bersama rekan bisnisnya," pamit KIran, dengan langsung menjangkau tasnya, dan melangkah ke luar dari dalam toko bunga itu.
__ADS_1
"Baiklah....Dan hati-hati di jalan." Dengan setengah teriakan, saat Kiran sudah melangkahkan kakinya ke luar dari dalam toko.
****
Saat berada di depan-Kiran segera melenggangkan dua kakinya menghampiri pada sebuah mobil mewah, yang pintunya sudah terbuka. Masuk ke dalam mobil itu, dan menutup pintunya.
"Doni di mana Tuanmu?"
"Mas Rangga, sudah menunggu kita di sana Nona!"
"Dan sekarang kita akan ke mana?"
"Kita akan ke boutique, dan juga salon-setelah itu baru kita ke restorant."
"Baiklah..." jawab Kiran memelas, dengan langsung menyandarkan tubuh itu, pada sandaran kursi.
****
Dua jam kemudian.
Rangga melenggangkan kakinya menuju sebuah arah restorant. Namun ayunan kaki itu dia hentikan, saat pria itu mendengar suara yang sangat tidak asing untuknya.
Membalikkan badannya pada asal suara, dan sedikit kaget-saat dua matanya mendapati keberadaan sang Bunda, dan juga Dilla yang tengah melangkah menghampiri padanya.
"Dilla...Bagaimana dia bisa bersama Mama?" gumam Rangga, dengan tatapan mata yang terus dia arahkan, pada dua wanita beda usia itu.
"Mama... Dilla..." ujar Rangga. "Bagaiamana kalian bisa bersama?" tanyanya kemudian.
"Dilla mengajak Mama makan siang, dan berbelanja. Ini baru namanya, wanita yang baik! Memang istri kamu itu!" Dengan mimik kesal.
"Aku akan janji makan siang, dengan rekan bisnisku."
Mama Dilla segera memalingkan wajahnya kearah gadis itu, saa Della hanya diam membisu.
"Ayo kamu tunggu apa lagi?! Bukankah kamu bilang, ingin mendekati Rangga?!" ujarnya berbisik.
"Iya Maa.." jawabnya tersenyum. Sudah mendapatkan uang, tentu saja Della mau tidak mau, harus mendekati Rangga. Apa lagi mendapati mantan kekasihnya, yang kian terlihat tampan. Rangga yang sedang mengedarkan pandangannya menunggu mobil yang membawa istrinya, dibuat terkejut saat Dilla menggandengnya.
"Dilla...Apa yang kamu lakukan? Lepaskan tanganku?!" Dengan nada suara, yang sedikit tinggi.
"Bisakah kau bersikap manis padaku?! Bahkan saat di pesta itu, kau selalu bersamaku!" Dengan mimik kesal.
"Iya Rangga...Dilla ini adalah teman dekatmu, dan selama ini dia selalu saja ingin bertemu denganmu. Masa kamu tega, bersikap begitu padanya?" sungut Mama Dilla.
"Bukan begitu Maa... Aku hanya..."
"Hanya apa?? Kamu hanya takut sama istrimu? Bukankah waktu di pesta itu, kamu meninggalkan dia begitu saja!"
"Benarkah?" Mata Mama Dilla membulat lebih penuh saat mendenagar apa yang Della katakan. Dan dia pun merasa bahagia.
"Iya Maa...Waktu di pesta, Rangga begitu sangat manis padaku," ujarnya tersenyum, dengan semakin mengeratkan gandengan tangannya pada Rangga.
Sebuah sedan mewah berwarna merah marun memasuki area restorant, di mana Kiran-dan Rangga akan melakukan makan siang bersama, rekan bisnis dari Rangga.
Mobil yang sudah terparkir segera Kiran lebarkan daun pintunya, diri itu segera ke luar dari dalam mobil-mengedarkan pandangannya kesegalah arah, dan betapa kagetnya-Kiran, saat mendapati Rangga, Ibu mertanya, dan seorang gadis yang terlihat begitu mesrah dengan suaminya. Dua kaki itu mengambil beberapa langkah, agar mempertegas dua matanya kalau wanita yang dia lihat itu, adalah wanita yang bernama Dilla.
__ADS_1
Remuk seketika hati Kiran-baru saja dia melayang, dengan ucapan Dian-kalau Rangga mencintainya, sekarang dia bagai sebuah layangan yang diterbangkan setinggi mungkin, lalu dihempaskan ke bawa. Air mata nyaris tumpah, sekarang dia yakin kalau ternyata Rangga hanya mempermainkan perasaannya, agar dia sakit saat mereka bercerai nanti.
"Kamu tega Mas...Kenapa begitu kamu bersikap manis padaku? Apa artinya pelukan itu? Apa artinya kamu mengajakku ke taman itu, apa artinya nama Kiran yang kamu tampilkan di layar HPmu? Kalau nyatanya, semua itu hanya semu. Bahkan denganku, kamu tidak pernah teratawa seperti ini." Hati Kiran kian hancur, saat melihat tawa lepas Mama Dilla, Della, dan juga Rangga.
"Nona Kiran..." seru Doni dengan menghampiri pada istri Tuannya.
Tak mendapatkan sambutan, Doni ikut melemparkan tatapannya mengikuti arah perginya tatapan Kiran, dan betapa kagetnya dia, saat mendapati adanya Dilla di sana, yang tengah menggandeng mesrah Tuannya.
"Nona itu..." ujar Doni, namun cela oleh Kiran.
"Itu sama sekali tidak pernah berpengaruh padaku, Doni! Dan aku sama sekali tidak perduli dia mau menjalin hubungan dengan siapa pun, karena tinggal sembilan bulan lagi kami akan bercerai. Dan ayo!" Kiran mengambil langkahnya, deangan mantap. Walaupun nyatanya sakit, tapi dia tidak ingin terlihat lemah di depan Mama Dilla, Della, dan juga.
"Siang semuanya... Siang Mama Mertua...Dan siang juga buat Mba-nya..." Nada ramah, kala dia melontarkan sapaan, dengan senyuman sinisnya.
"Kiran..." Rangga segera melepaskan gandengan Della, saat mendapati kedatangan istrinya.
"Cih..Dasar laki-laki brengsek! Dia pikir aku buta apa?!"
"Oohh ya Kiran... Kamu pasti belum kenalkan wanita cantik ini siapa?" ujar Mama Dillla tiba-tiba.
Dan tatapan matanya, beralih pada Della yang tersenyum malu-malu.
"Dilla, kamu kenalan dong sama Kiran!" ujar Mama Dilla kemudian.
Segera mengambil langkahnya, dan mengulurkan tangannya, pada Kiran.
"Kenalin aku Dilla, dan aku adalah mantan teman dekat Mas Rangga."
"Dilla! Apa yang kamu katakan!" bentak Rangga.
"Bukankah dia hanya mengatakan yang sebenarnya?!" bentak Mama Dilla, yang nampak tidak terima dengan kata-kata kasar putranya.
Kiran tersenyum. Sakit tapi, berusaha dia tidak tunjukkan.
"Oh...Aku ingat..., bukankah Mba yang waktu di pesta malam itu kan? Saat aku sedang bersama suamiku, Mba dengan tidak tahu malunya datang, dan Langsung menarik tangan suamiku, tanpa minta ijin dulu pada istrinya!"
"Kiran! Apakah kamu tidak bisa lebih sopan!" bentak Mama Dilla, yang sudah tersulut emosi.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya Mama...Dan apakah aku salah?" tanya Kiran, dengan mengukir senyuman, dan itu kian memancing emosi Mama Dilla, dan Della. Dan tatapan matanya beralih pada Doni, yang sedari tadi hanya membungkam. "Doni sepertinya di sini sangat panas..Ayo kita masuk!" ajak Kiran dengan langsung melangkahkan kakinya, ke dalam restorant.
Doni tersenyum kikuk, dan dia memilih untuk mengikuti langkah Nonanya.
"Tuan..Nyonya Besar, Nona Della saya permisi dulu," pamitnya tersenyum, dengan langkah kaki yang segera dia ambil.
Rangga mendesahkan napasnya panjang-sembari terus melemparkan tatapan matanya pada Kiran, yang sudah berlalu pergi. Sangat berbeda dengan Rani, yang hanya bisa diam-istrinya yang sekarang-malah dengan berani melawan ucapan Ibunya.
"Rangga!" seru Mama Dilla.
"Yaa..." jawabnya pelan, dengan wajah lesuhnya saat mendapati amukan sang Bunda.
"Pokoknya Mama tidak mau tahu, kamu harus menceraikan wanit itu!" sungut Mama Dilla. Dan tatapan matanya beralih pada Della, yang hanya membungkam. "Ayo Della...Kita pergi dari sini!" ajak Mama Dilla, dengan langsung menarik tangan gadis itu, dan berlalu dari tempat itu.
****
MAAF YAA...NAMA WANITA PENGGODANYA, AKU UBAH-BIAR GAK BINGUNG, SAMA NAMA IBUNDA DARI RANGGA.
__ADS_1
NAMANYA, AKU GANTI DELLA.