
Kiran begitu terperangah, dengan tak ada kedipan sama sekali, saat dua kakinya sudah memijak di depan halaman perkantoran COMPANY GROUP. Terus melemparkan pandangannya bangunan bertingkat itu, karena begitu kagum dengan arsitektur bangunannya.
"Ternyata ini perusahaan Mas Rangga, dan bangunannya begitu mega. Dan ini membuatku semakin merasa minder, dan tidak pantas berdampingan dengannya. Dan karena aku yakin, mungkin karena merasa tidak sebanding dengan Dokter Rani, yan membuat aku sulit mengjangkau hatinya."
"Ayo Nona!" ajak Doni, yang membela seketika lamunan panjang Kiran.
"I..Iya.." jawab Kiran terbata, karena merasa malu, dengan sikapnya sendiri, dan ternyata itu tak luput dari pandangan Rangga yang sedari tadi memperhatikan sikap istrinya.
"Kalau karayawanku ada yang melihat kelakuanmu itu, pasti mereka akan menertawakanmu!"
"Biarkan saja, toh mereka juga tidak tahu kalau aku adalah istrimu!" jawab Kiran ketus, membuat Rangga begitu meradang.
****
Pintu lift terbuka, saat ketiganya sudah berada di lantai dua puluh. Mengambil langkah panjangnya, beringan bersama Rangga. Mendapati sosok wanita bersama Bos mereka, mengalihkan banyak pasang mata, yang sedang berada di sana. Dan tentu saja itu, memancing rasa ingin tahu mereka.
"Doni...Doni..." panggil salah satu karyawan wanita, setelah mendapati Bos mereka, sudah melintas sedikit jauh dari Sekretarisnya.
Menghentikan langkah kakinya, dengan tubuh yang dia balikkan pada asal suara.
"Kenapa?"
"Siapa wanita yang bersama kalian tadi? Apakah dia karyawan baru di sini?"
Menyeringai rendah, setelah mendengar lontaran pertanyaan dari rekan kerjanya itu.
"Itu istri Presdir kita!"
Membulat sempurna bola mata gadis itu, menatap tak percaya pada Doni.
"Benarkah? Apa kamu tidak salah mengatakannya? Mana mungkin Presdir kita yang tampan ini, bisa terpikat dengan wanita seperti itu?!"
"Terus letak masalahnya di mana? Kalau dia memang dia istri Bos kita!"
"Tidak masalah, hanya sangatlah berbeda jauh dengan Dokter Rani, yang cantik, tinggi, dan berpendidikkan. Dan kalau boleh tahu, Istrinya Bos kita itu kerjanya di mana?"
"Memang penting untuk kamu?!"
"Tidak sih..Hanya saja, tadi Nona Della datang mencari Presdir kita, dan aku rasa Nona Della jauh lebih cocok dengan Bos. Bukankah kamu pun tahu, kalau Nona Della itu, lulusan dari salah satu universitas bergengsi di Amerika?"
"Kenapa tidak sekalian saja kamu bilang, kalau kamu-lah yang pantas menjadi istri dari Presdir kita!" ujar Doni kesal, dengan segera berlalu begitu saja.
****
Kiran mengedarkan pandangan kesegalah penjuru, menatap kagum pada kemewahan ruang kerja suaminya. Tatapan matanya menyapu bersi, meneliti setia sudut ruangan dengan langkah kaki yang terus dia ambil pelan.
"Kalau kamu haus, ada minuman dingin yang tersedia di kamar."
"Iya Mas.." jawab Kiran, tanpa membalikkan wajahnya menatap pada Rangga.
Menghentikan tatapan matanya, saat dua mata itu menangkap sebuah bingkai foto yang terpajang di dalam dinding ruangan.
Mendesahkan napasnya yang panjang, kala goresan kembali menyapa hatinya.
Terus mengintari setiap sudut ruangan, dan menghentikan tatapan mata itu pada meja kerja Rangga. Tangan itu mengulur panjang, saat menemukan sebah bingkai foto dengan posisi yang membelakanginya.
__ADS_1
Perasaan was-was diri Kiran, berharap bukan sakit yang dia dapati lagi. Namun semua itu hanya harapan, karena lagi-lagi foto Dokter Rani-lah yang dia temui.
"Sekuat apa pun, aku berusaha menjangkau hatimu Mas...Tetap saja, hanya Dokter Rani yang kau cinta. Apakah tidak bisa, kau membiarkan celah untukku?" Tersenyum miris, dengan mata yang sudah berkabut karena kesedihan.
Suara pintu terbuka yang terdengar, dengan cepat Kiran meletakkan kembali bingkai foto itu.
"Apakah kau ingin makan? Biar aku memesannya sekarang."
"Belum, aku masih kenyang!" bohong Kiran, yang merasa selerah makannya langsung hilang, saat hanya mendapati wajah Dokter Rani, yang menghiasi ruang kerja suaminya. Membalikkan tatapan tubuh itu, dan melangkah menuu kamar yang menjadi satu, dengan ruang kerja Rangga.
Berada di dalam, dia hanya menemui sebuah lemari besar, meja dan juga sebuah sofa panjang. Memalingkan wajahnya, dan mengambil langkah ke tepian bangunan berdinding kaca itu. Menerawangkan jauh tatapan matanya, menikmati keindahan dari gedung bertingkat milik suaminya.
"Sangat indah, dan sangat beruntung wanita yang kelak bisa menjangkau hatinya."
Kiran mengukir indah di bangunan berdinding kaca itu. Menggambarkan sebuah hati, yang hanya dia tulis namanya saja. KIRAN, dengan sebuah anak panah.
"Tidak mungkin aku menuliskan namanya-bersanding denganku, karena hatinya nyatanya bukan milikku."
Terus menarikan jari lentiknya di sana, dan ternyata itu tak luput dari pandangan Rangga, yang ternyata sedari tadi memperhatikan apa yang dilakukan istrinya.
"Apa yang kamu tulis?" Lontaran pertanyaan itu membuat Kiran terkejut, dan saat tangannya akan menghapus kembali gambar itu, dengan cepat Rangga mencekalnya.
"Kiran..." ujar Rangga, saat hanya menemukan nama Kiran di sana.
"Iya Mas. Suatu saat jika aku sudah menemukan pria yang mencintaiku, baru sisi yang kosong ini akan aku tulis dengan namanya." Senyuman kecil, dengan menghanyutkan pada iris hitam Rangga.
"Dan siapa pria itu?!"
"Hanya waktu, yang bisa menjawabnya!" jawabnya tersenyum.
"Jangan pernah berhenti mencintaiku!"
"Aku tidak bisa menjanjikan itu," lirihnya. Tersenyum, dan kembali mengadukan dua matanya, dengan pemilik tatapan tajam itu.
Lama saling menatap, hingga gairah kembali melanda keduanya, saat bibir itu sudah saling bertaut. Ciuman biasa, menjadi ciuman yang begitu menuntut.
"Bisakah kau membawaku ke tempat yang nyaman Mas?" lirih Kiran dengan napas yang mulai berat, saat diri itu telah hanyut, dengan kecupan-kecupan yang Rangga tebarkan di sekitar area lehernya.
Tanpa menjawab, tubuh ramping itu langsung Rangga angkat-membawanya ke arah ranjang, guna kembali melanjutkan kisah mereka.
****
Saat pintu lift terbuka, Devan segera melenggangkan dua kakinya menuju ruang kerja sahabatnya.
Menghentikan langkah kaki sejenak, saat sudah berada di depan meja kerja Doni.
"Doni..." Suara pangggilan yang menyapanya, membuat wajah itu seketika dia angkat.
"Dokter Devan.. Kapan anda kembali dari luar negeri?"
"Dua hari lalu, dan kemarin asistenku mengatakan kalau Bos-mu sedang mencariku. Dan apakah Bos-mu, sedang berada di dalam?"
"Masuk saja Dokter..Tuan Rangga, sedang berada di dalam ruang kerjanya."
"Baiklah, aku akan menemuinya sekarang," ucap Devan, dengan langkah kaki yang segera dia ambil.
__ADS_1
Membuka pintu ruangan-namun dia tak mendapati keberadaan Rangga sama sekali.
"Di mana dia?" gumam Devan. Melangkah menuju arah kamar, ketika meyakini kalau Rangga berada di dalam sana. Namun langkah kaki itu dia jeda, saat mendengar erangan kenikmatan yang terdengar dengan sangat jelas, dari dalam kamar.
"Sial! Sepertinya, aku datang disaat yang tidak tepat!" gumamnya, dengan segera mengambil langkah ke luar dari dalam ruang kerja.
Doni yang mendapati kembali, keberadaan Dokter Devan, seketika dilanda rasa penasaran.
"Dokter kenapa anda kembali? Bukankah Tuan Rangga, sedang berada di dalam? Dan kenapa wajah anda pucat seperti itu?"
"Bisakah kau memberikanku air? Tiba-tiba saja, aku seperti berada di padang pasir!"
"Minumlah punyaku. Belum aku sentuh sama sekali."
Tanpa biacara, Devan langsung meraih segelas air putih itu, dan meminumnya hingga tandas.
"Anda sepertinya sangat kehausan. Apakah Dokter berjalan kaki, saat ke sini?!" ejek Doni.
"Apakah kau pikir profesiku, sebagai seorang Dokter, membuatku tak sanggup membeli mobil?!" tanyanya balik, dengan wajah yang terlihat kesal.
"Maaf.." jawab Doni, dengan memberi senyum tanpa dosanya.
Segera melabuhkan tubuh itu di kursi, dengan wajah yang masih terlihat memucat.
"Apakah istri Tuanmu, sedang berada di sini? Maksudku Kiran!"
"Iya. Nona Kiran, sedang berada di sini."
"Pantas saja. Tapi kenapa harus di siang bolong?!"
"Apa maksud anda Dokter? Saya tidak mengerti. Dan kenapa Dokter kembali ke luar?"
"Tuanmu, sedang mengarungi lautan, yang belum pernah aku datangi."
"Maksudnya??" tanya Doni balik, yang tidak mengerti dengan ucapan Dokter Devan.
"Kau sangat bodoh! Aku yang tidak pernah berpacaran saja, bisa mengetahui! Kenapa kau yang sudah pernah bermain bersama wanita saja, sama sekali tidak tahu?!"
Doni tertawa rendah, dan sekarang dia tahu apa yang dimaksud dengan ucapan Dokter Devan.
"Makanya segeralah mencari pasangan Dokter, karena sekali anda sudah merasakannya, pasti anda ingin kembali merasakan. Dan kalau Dokter mau, sebentar malam kita pergi saja ke klup malam, di sana banyak gadis-gadis cantik, dan ada yang memasang dengan tarif rendah, hingga puluhan juta rupiah, tapi tentu saja itu yang cantik, dan bodynya pasti aduhai!"
"Apakah aku pikir aku ini pria pendosa sepertimu?! Yang suka menjajahkan dirinya kesembarang wanita?!" sengitnya, yang membuat wajah Doni berubah pias.
****
Beberapa jam, dan beberapa kali melakukan penyatuan dengan Kiran, kini Rangga sudah kembali berpakaian rapi, setelah membersikan dirinya.
"Bersiikan dirimu, aku akan memesan makanan untuk kita."
"Mas...Bisakah aku meminjam kemejamu?"
"Pakai saja pakaian wanita, yang di dalam lemari."
"Tapi..."
__ADS_1
"Itu bukan milik Rani, baju-baju itu memang sengaja aku siapkan untukmu," lanjut Rangga, dengan langkah kaki yang segera dia ambil.