
Wajah tampan Rangga, Semakin saja mengkerut, saat kesakitan, semakin dia rasakan pada lengannya. Barisan jari-jarinya berbaris kian rapat, kala memeluk erat tepian ranjang- dengan begitu kuat, ketika seorang Dokter wanita, berusaha mengeluarkan tima panas dalam lengannya.
"Tidak bisakah kau melakukannya dengan pelan, Dokter?! Apakah kau pikir ini, tidak sakit?!" Memerah sudah menyelimuti wajah tampan Rangga! Saat rasa itu, sudah bercampur marah.
"Ini juga sudah hampir selesai, Tuan! Karena tidak mungkinkan! Kita membiarkan tima panas ini, bersarang dalam tangan anda,"
"Aw...!" Rangga seketika mengiris kesakitan, ketika tiba-tiba saja Dokter mengkorek isi dagingnya, berusaha mengeluarkan peluru itu- hingga genggaman tangan sebelahnya pada pinggiran ranjang -semakin kuat, dan itu terlihat jelas dari wajah tampannya yang semakin banyak. Setelah dia berusaha menahan sakit pada lengannya, akhirnya pria itu dapat bernapas legah,
Wajah itu seketika melegah, ketika sebuah tima panas yang sedari tadi bersarang dalam lengannya sudah berada di luar.
Menghembuskan napas leganya. Wajah yang tadi menegang, kini berangsur kembali melunak, dengan barisan jari yang mulai memberi sela.
"Apakah kau tidak bisa pelan sedikit, Dokter?! Karena aku masih hidup. Jadi bisa merasakan sakit." Kesal kembali menyelimuti wajah Rangga, ketika tiba-tiba saja Dokter wanita itu, sedikit tidak hati-hati.
"Maafkan saya, Tuan! Maaf," Senyuman kecil, dengan wajah yang pucat pasih.
Perdebatan kembali yang terjadi antara Rangga, dan Dokter wanita itu, kini tak terdengar lagi. Hanya hening, saat Dokter wanita itu menyelesaikan tugasnya. Suasana hening seketika terbelah, kala tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka dengan bunyi yang keras.
"BRAAK!" Dan itu seketika mengalihkan tatapan beberapa pasang mata, yang tengah berada di dalam ruangan.
"Devan..." gumam Rangga pelan, ketika mendapati keberadaan sahabat istrinya.
Wajahnya terlihat panik. Dua kakinya melangkah panjang, dengan tubuh yang masih berbalut jas putih.
"Aku baru mendengar kabar, kalau kau tertembak. Dan bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik-baik saja?" Dua mata Devan menatap penuh Rangga, yang wajah yang terlihat tenang.
Rangga terkekeh. Bagaimana dia mendapati wajah panik Devan, yang yang terlihat begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Aku baik-baik saja. Dan kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Karena seorang Rangga Wijaya, tidak akan mati dengan muda."
"Mana mungkin aku tidak khawatir padamu. Rani baru saja meninggal, sekarang kau justru tertembak. Jelas saja, aku khawatir." sahut Devan, dengan sorot mata kesalnya.
Sang Dokter wanita telah menyelesaikan tugasnya. Rangga segera beranjak dari bed hospital, kala luka tembak itu sudah tertutup rapat dengan ferban.
__ADS_1
"Terima kasih, Dokter!"
"Sama-sama, Tuan!"
Dua kakinya melangkah pelan, melangkah ke luar dari dalam ruangan, beriringan bersama Devan. Tubuh itu segera dia daratkan- pada sebuah kursi panjang, yang berada di depan ruangan.
"Ada yang menginginkan kematianku. Dan aku sangat meyakini, kalau dia adalah orang yang sama, yang sudah membuat Rani mengalami kecelakaan." Matanya menerawang jauh, kala memory tentang sang istri! Kembali melintas dalam ingatan pria itu.
Raut wajah biasa, seketika berubah serius- ketika sorot mata itu menatap dalam, pada suami sahabatnya! Yang terlihat tenang saat berucap pada Rangga.
"Jadi maksudmu, kecelakaan yang menimpah Rani, bukan kecelakan murni?" Mata Devan semakin membulat, karena terkejut mendengar apa yang baru saja disampaikan Rangga Wijaya.
"Iya.." jawabnya pelan.
Suasana hening seketika menyelimuti kedua pria itu, saat tidak saat tidak ada yang berbicara diantara keduanya. Keduanya disibukkan dengan apa! Yang membenani isi pikirannya. Menerawangkan dua matanya, hingga orang yang berlalu lalang di depan nya, seperti tak terlihat. Dan kedatangan Doni tiba-tiba, memecahkan lamunan kedua pria itu.
"Selamat malam, Dokter Devan!" sapanya Doni, ketika mendapati kebersamaan Dokter Devan, bersama Tuan mudanya.
"Apakah kau sudah menyelesaikan semua, administrasinya?"
"Sudah, Tuan! Saya sudah menyelesaikan semua pembayarannya."
Bangkit dari duduknya. Menghembuskan napas panjangnya, berusaha menghilangkan kesedihan yang melanda diri, hinggga wajah tampan itu kembali menampillkan sosok angkuhnya.
"Baiklah, Devan! Sepertinya aku harus segera pulang. Dan kalau ada waktu, datanglah ke kantor ku. Agar kita melanjutkan obrolannya."
"Tentu,"
****
Dua kaki Kiran, segera mengambil langkah panjangnya, saat ayunan kaki itu- melangkah dengan cepat ke dalam rumah sakit.
Dian menggeleng pelan. Melihat reaksi berlebihan sahabatnya, membuat Dian hanya bisa menghembuskan napas kesalnya.
__ADS_1
"Dia benar-benar sudah dibutakan cintanya, pada Rangga Wijaya. Dan semoga saja! Sampai di sana, Tuan Rangga tidak mencemooh dirinya." gumamnya pelan,dan kembali melanjutkan langkah kaki itu.
Suasana rumah sakit nampak lenggang, diwaktu yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dua belokan terlewati, ketika dua kaki itu menuju ruangan bedah- yang semakin mendekat padanya.
"Sedikit lagi, sudah sampai." seru Kiran tiba-tiba. Tapi langkah kaki itu seketika terhenti, dan juga kaget, saat tidak mendapati keberadaan Dian, di sampingnya. "Di mana dia?" Bola mata Kiran mengedar ke segalah arah, mencari keberadaan sahabatnya.
Kiran memutar bola matanya malas, ketika dari jauh! Mata itu baru mendapati keberadaan Dian, yang baru berbelok arah dari balik tembok.
"Kenapa kau lama sekali?! Kau membuatku nampak seperti, orang bodoh!" Wajahnya memberengut kesal, setelah meluapkan kata-kata dengan nada sedikit tinggi pada teman baiknya itu.
Dian memberi senyum mengejek, mendapati wajah Kiran yang terlihat menegang, membuat gadis berambut sebahu itu, memberenggut wajah kesalnya.
"Tuan Ranggamu itu masih hidup, Kiran! Bukan sudah meninggal... Jadi kau tidak perlu tergesa-gesa seperti itu,"
"Tapi bukan berarti, kau berjalan seperti keong, Dian! Karena kita dalam suasana genting! Dia terluka... Dan bukan luka kecil, tapi karena luka tembak.." seru Kiran pelan, berusaha memadamkan rasa kesal teman baiknya.
"Ya...ya...ya...Kalau begitu ayo! Kita temui, Mas Ranggamu itu."
Cinta memang bisa mengalahkan segalanya. Walaupun kondisi tubuhnya belum sepenuhnya pulih, pasca ke luar dari rumah sakit! Tapi itu tidak menjadi penghalang bagi Kiran, untuk segera menemui Rangga Wijaya.
Dua pasang kaki itu, kembali melanjutkan langkahnya - melewati lorong panjang-yang semakin membawa keduanya pada Rangga Wijaya. Berbeda dengan Dian yang melangkah dengan santai, Kiran masih saja menampakkam wajah gusarnya, dengan ayunan kaki kian dia percepat. Ayunan kaki Kiran seketika dia hentikan, saat dari jauh dia mendapati keberadaan Rangga Wijaya.
"Mas, Rangga.." gumamnya pelan, dengan sorot mata melempar jauh, pada Rangga yang tengah berbincang-bincang bersama Devan. Dua matanya menelusuri seluruh tubuh Rangga, dan menghembuskan napas leganya- saat mendapati keadaan Rangga dalam keadaan baik-baik saja. "Terima kasih,Tuhan! Karena kau masih melindunginya." gumamnya pelan, dan kembali melanjutkan langkah kaki itu.
Rangga, dan Devan menganyunkan langkah dengan pelan, ketika kedua pria itu melewati lorong sembari berbincang-bincang kecil. Tak sengaja arah pandang Devan berpaling ke depan. Memicingkan bola matanya, dengan sorot mata intens ketika mendapati keberadaan mantan pasiennya.
"Kiran...." gumamnya pelan.
Gumam-man kecil Devan, terdengar oleh Rangga. Wajahnya seketika berpaling pada arah pandang Devan. Dua alisnya bertaut, dengan sorot mata dia tajamkan, saat mendapati keberadaan Kiran yang semakin dekat padanya.
Ayunan kaki Kiran yang mengayun dengan cepat, semakin membawanya pada pria pujaannya. Rasa khawatir yang dia rasakan pada Rangga, membuat dirinya tidak berpikir, pantas atau tidaknya! yang dia lakukan saat ini. Sorot matanya menatap penuh pada Rangga, menelusuri setiap inci wajah pria itu, saat dua pasang mata itu sudah bertatapan. Dan tanpa meminta persetujan dari Rangga, Kiran segera mendaratkan tubuhnya, pada dada bidang itu. Merona sekejap merangkak naik pada wajah tampan, Rangga! Mendapati wajah melongo Dian, Doni, dan Devan, yang kaget dengan pemandangan di depan mata mereka.
"He..hei! Apa yang kau lakukan, padaku??"
__ADS_1