Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
RASA PENASARAN KIRAN


__ADS_3

"Sudah selesai, dan jangan pernah datang kemari lagi, karena luka tembak. Tapi datanglah ke rumah sakit ini, karena hal yang lain."


Sorot mata Rangga seketika menatap dengan intens pada Devan, setelah mendengar apa yang pria itu katakan.


"Maksudmu?"


Senyuman kecil mengukir di wajah Devan, sebelum pria itu, menjawab apa yang Rangga tanyakan.


"Maksudku, datanglah ke rumah sakit ini bersama Kiran. Mungkin memeriksa kehamilan, atau pun dia mau melahirkan."


Sekilas Rangga, dan Kiran saling menatap, tapi dengan cepat pasangan suami-istri itu, mengalihkan pandangan, untuk menghindari kontak mata.


Kiran hanya melukis senyuman yang nyaris terlihat, karena tidak ada yang tahu, bagaimana sebenarnya pernikahan dia, dan Rangga yang akan berakhir satu tahun kemudian.


"Hei! Kenapa kalian berdua diam? Apakah yang aku katakan ini salah? Bukankah pasangan suami-istri, pasti akan memiliki keturunan, setelah mereka menikah."


"Tidak! Tidak ada yang salah!"jawab Rangga cepat, dan sudut mata pria itu, melempar ke arah Kiran yang sedang memperhatikan alat-alat kesehatan di dalam ruangan itu.


"Dan kalau begitu kami pulang dulu," lanjut Rangga lagi, dengan perlahan menurunkan dua kakinya, dari atas ranjang.


Kiran langsung mengambil langkahnya menghampiri pada Rangga, saat sedari tadi wanita itu sengaja menjauhkan diri dengan apa yang Dokter Devan katakan.


"Mari aku bantu Mas," pinta Kiran.


"Tidak apa-apa Kiran, aku bisa sendiri."


"Pegang tanganku, Mas!" Kiran memberi tangannya, saat Rangga berusaha turun dari atas tempat tidur.


"Lenganku yang tertembak Kiran! Bukan kakiku?"


"Maaf, sebab kau begini gara-gara aku."


" Sudah selesai Tuan?" tanya Doni, yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.


"Baru saja. Dan ayo kita pulang!" Dan tatapan mata pria itu beralih pada Devan.


"Dan kau Devan, terima kasih."


"Sama-sama."


****

__ADS_1


Suasana hening tercipta di dalam mobil mewah itu, yang melaju dalam kecepatan sedang membela jalan di malam hari, dengan suasana kota yang sudah nampak sepi.


Tak ada yang berbincang, dari ketIga orang dewasa yang berada di dalamnya.


Masing-masing dari mereka, hanyut dalam dunia mereka sendiri.


Rasa penasaran, yang ingin tahu sebenar siapa Rangga? Membelenggu begitu kuat diri Kiran saat ini. Sesekali sudut ekor mata gadis itu dia lemparkan pada Rangga, yang meringis saat tiba-tiba saja luka itu terasa sakit.


"Mungkinkah Mas Rangga memiliki masa lalu yang kelam? Dan mendengar ucapan Dokter devan tadi, dan juga bagaimana cara Mas Rangga menghadapi musuhnya tadi, aku yakin kalau Mas Rangga sudah terbiasa menghadapi hal itu dalam hidupnya." gumam Kiran dalam hati.


Tatapan mata Rangga melempar kearah Kiran, yang sedari tadi hanya diam membisu, setelah kepulangan mereka dari rumah sakit.


"Apa yang kau pikirkan? Apakah kau memikirkan Rian-mu itu?" tanya Rangga tiba-tiba, yang membela kesunyian di dalam mobil yang tengah melaju.


"Memikirkan dia?" tanya Kiran balik. Wajah wanita itu nampak kebingungan, dengan apa yang Rangga tanyakan, dan hal itu memancing tawa yang melihat raut wajah bingung Kiran.


"Ha...Ha...Ha...Tentu saja kau memikirkan dia. Karena sedang asyik berdansa dengannya, tiba-tiba saja aku menarikmu!"


"Aku memang memikirkan hal itu. Karena apa yang Mas lakukan, tentu saja membuat aku yang akan malu pada sahabatku. Dan aku juga, memikirkan ini!" Dengan mengangkat ponselnya, yang sudah menjadi beberapa bagian.


"Aku akan menggantinya besok, jadi tidak usah memikirkan hal itu."


Kembali diam, dan sama-sama bungkam. Suasana hening yang menyapa, dengan mobil yang terus melaju.


****


Kiran langsung melangkahkan kakinya-masuk ke dalam rumah, tapi langkah kaki itu tiba-tiba dia hentikan, dan berbalik menatap pada Rangga, yang tertinggal di bekakangnya.


"Ada hal, yang masih ingin aku bicarakan dengan Doni," ucap Rangga, mendapati Kiran yang menghentikan langkahnya, dan berbalik menatapnya.


"Baiklah, kalau begitu aku masuk dahulu," jawab Kiran, dengan ayuna kaki yang kembali dia lanjutkan.


Doni segera mensejajarkan langkah kakinya dengan Rangga, setelah mendengar ucapan Tuannya tadi.


"Ada apa Tuan?"


"Aku tidak tahu, siapa yang melakukan hal ini padaku. Tapi aku yakin, kalau orang yang melakukan hal ini padaku, adalah orang yang membenciku di masa lalu, hingga Rani pun jadi korban."


"Saya akan mencari tahu, Tuan! Tapi bukankah orang yang begitu membenci anda adalah saudara kembar, Dokter Devan?"


"Memang. Dari dulu, dia yang paling membenciku. Tapi dia sudah meninggal. Dan kita pun, mengikuti acara penguburan jenasahnya."

__ADS_1


"Benar sekali Tuan! Tapi sekarang ada hal yang menjadi beban pikiranku."


"Aku sudah tahu, apa yang kau pikirkan. Dan aku pun mengkhawatirkan hal itu," jawab Rangga, yang kemudian hanyut dalam apa yang tengah dia pikirkan.


"Kau beristirahatlah, aku akan segera kembali ke kamar."


"Ada apa-apa hubungi saya Tuan!" seru Doni, saat pria berusia tiga puluh tahun itu, sudah mengambil beberapa langkah, menjauh dari-nya.


Satu persatu anak tangga Rangga lewati, saat pria itu akan menuju kamarnya yang berada di lantai tiga. Langkah kaki itu dia hentikan seketika, saat berada di lantai dua, Rangga mendapati Kiran masih setia berada di depan kamarnya, dan gaun yang pesta itu masih juga membalut tubuhnya.


"Apa yang kau masih kau lakukan di sini? Apakah sedari tadi kau berdiri di depan kamarmu? Dan belum masuk sama sekali?" tanya Rangga, yang mencoba untuk menebak.


Wajah gugup menyelimuti wajah Kiran, sebab yang dituduhkan Rangga sangatlah benar. Rasa bersalahnya pada Rangga, membuat Kiran memutuskan untuk menunggu pria itu, di depan kamarnya.


"Aku...Aku..."


"Masuklah, tidak usah memikirkan apa-apa. Ponselmu besok, sudah kembali ada," celah Rangga, dengan melanjutkan langah kakinya menyusuri anak tangga.


Kiran menampilkan wajah tidak percayanya, mendengar kata-kata yang baru saja terucap dari bibir seorang Rangga, yang memintanya untuk tenang.


"Apa?? Dia bilang tidak usah memikirkan apa-apa? Dia baru saja tertembak, dan dia berbicara seolah tidak ada yang terjadi," gumam Kiran dengan terus melemparkan pandangan pada Rangga, dan kemudian melangkah masuk ke dalam kamar.


****


Kian merangkak naik gelap yang menyelimuti, membawa para penghuninya semakin hanyut dalam alam yang indah. Suasana sepi yang terasa, dengan udara dingin yang kian menyeruak.


Berbalut daster floral tubuh Kiran, menggantikan dengan gaun indah yang sudah tak utuh lagi .


Gelisah yang menyelimuti diri, membuat sepasang mata indah gadis itu, itu tak mampu dia pejamkan dipenghujung waktu yang sudah menghantarkan pada tengah malam.


Berbagai hal tengah dia pikirkan, saat ini.


Bagaimana jika nanti Rangga mengganti bajunya? Bukankah tangannya yang satunya terluka? Dan bagaimana kalau Rangga ingin memakai pakaian, atau melakukan hal yang lain?


Langsung bangun dari tidurnya, dan memutuskan untuk menghampiri pria itu di kamarnya.


"Aku tidak perduli dengan apa yang dia pikirkan tentangku, karena aku juga sudah tidak mengharapkan cintanya lagi."


Beberapa kali ketukan Kiran berikan pada badan pintu, tapi tak ada sambutan dari dalam kamar. Dan setelah mempertimbangkannya matang-matang, akhirnya gadis itu memutuskan untuk segera membuka pintu kamar, tanpa meminta ijin dari sang pemilik.


Pintu kamar yang sudah terbuka, disambut dengan pemandangan yang membuat tatapan mata itu, tak ada kedipan sama sekali. Rangga sudah membuka kemejanya, walaupun lengan kanannya masih menggelantung pakaian itu. Bukan hal itu-lah, yang kini menjadi perhatian Kiran, tapi sebuah tato bergambar HARIMAU, yang melukis indah di punggung pria itu.

__ADS_1


"Kiran..Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu masuk ke dalam kamarku?" Kiran terkesiap seketika, setelah dicecar berbagai pertanyaan dari Rangga.


__ADS_2