Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
KEBAHAGIAAN MAMA DILLA


__ADS_3

Apa yang baru saja dikatakan oleh putra-nya Rangga, berhasil membuat Mama Dilla tentu saja sangat terkejut. Bagaimana bisa wanita yang berstatus Besannya itu meninggal, sementara baru hampir satu jam lalu, mereka bertemu dan dia sempat masuh sempat mencemarahi wanita itu, karena merasa putranya sangat tidak pantas menjadi bagian keluarga dari Papa Andi, yang memiliki skandal.


"Kamu serius Rangga? Kalau Ibu tiri Kiran, baru saja meninggal?" tanya Mama Dilla. Raut wajah wanita berusia lanjut itu, nampak masih belum bisa mempercayai, apa yang anaknya katakan.


"Buat apa aku berbohong Maa.. Bukankah tadi Mama mendengar sendiri mendengar, apa yang Kiran katakan."


Seolah melupakan apa yang tengah terjadi pada Mama Rati yang baru saja meninggal, tatapan Mama Dilla sekelebat menilik tajam pada putranya, seolah meminta penjelasan dari apa yang dikatakan oleh anaknya barusan.


"Bukankah kamu, dan Kiran tidak bisa bertemu? Karena yang Mama dengar dari Papa, bahkan Ayah Mertuamu akan mengirimkan Kiran ke luar negeri, karena dia sudah tidak mau lagi kau bersama dengan anaknya."


Rangga mendesahkan napasnya yang berat, dengan sekilas menatap sang Bunda, yang masih terus memberi tatapan padanya.


"Tanpa sepengatahuan Papa Mertua-ku, aku dan Kiran masih bertemu."


Mama Dilla terlihat seperti tidak suka, setelah mendengar jawaban yang baru saja terucap dari bibir putranya. Hingga tatapan matanya menukik tajam, seperti akan menerkam putranya sendiri, karena apa yang dilakukan putranya menurutnya sudah sangat merendahkan harga dirinya.


"Kamu benar-benar gila, Rangga! Apakah kamu tidak memiliki harga diri lagi?! Dampai melakukan pertemuan diam-diam dengan Kiran. Jangan katakan, kalau kamu malam mengendap bak seorang maling!" tebak Mama Rangga, dengan tatapan penuh selidik, namun terlihat tajam.


Membungkam sedikit lama, akhirnya Rangga bersuara sebab dia sudah sangat tahu, bagaimana sifat Ibu-nya itu.


"Ya. Aku melakukan itu."


Mama Dilla mendengus kesal. Wanita berusia senja itu begitu murka, setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan putranya barusan. Sebab merasa tidak ada wanita lain lagi dimuka bumi ini, hingga putranya harus melakukan hal itu.


"Apakah sudah tidak ada wanita lain lagi?! Hingga kamu rella melakukan hal itu! Bahkan Papa dari Kiran, dengan terang-terang, menentang hubungan kalian-sejak dia tahu pernikahan kalian yang sebenarnya!" Suara Mama Dilla sudah meninggi dari sebelumnya. Wanita lansia itu nampak sangat tidak terima, dengan cinta buta putranya itu.


"Tapi aku sangat mencintainya, Maa...Aku sangat mencintai Kiran..!" Rangga berucap dengan setengah teriakan, yang sedikit menggema di dalam ruangan yang berukuran hamir dengan kamarnya itu.


Mama Dilla tertawa rendah, mendengar ungkapan perasaan putranya itu. Sebab dia merasa anaknya begitu sangat bodoh! Padahal sudah ditolak oleh Mertuanya.


"Kamu seperti bukan Rangga yang Mama kenal. Bahkan kalau kamu mau, Mama bisa mencarikan wanita yang jauh lebih cantik, bahkan lebih dari segalanya dari Kiran. Kalau memang kamu tidak menyukai Della, tidak masalah, Mama akan mencarikan wanita lain sa.."


"Stopp!" Rangga berkata dengan nada suara yang sangat tegas, hingga membuat kata-kata yang akan terucap dari bibir Mama Dilla terjeda seketika.


"Stop, menjodohkan aku Maa.. Karena hanya Kiran, yang aku cintai saat ini. Apa lagi dia sedang mengandung anakku."


Membulat penuh sepasang netra mata Mama Dilla, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya. Kalau saat ini Kiran sedang mengandung, itu berarti Kiran sedang mengandung Cucu-nya.


"Ki...Kiran sedang mengandung anak-mu Rangga??"


"Iya Maa...Kiran sedang mengandung anakku," jawab Rangga tanpa menoleh, sang Bunda yang tentu saja raut wajahya sudah sangat sulit digambarkan.


Bahagia yang sangat sulit digambarkan, itu-lah yang terlihat jelas dari raut wajah Mama Dilla saat ini. Berita kehamilan sang menantu, seolah membuat dunia wanita lansia itu berhenti berputar.

__ADS_1


"Kiran.. Sedang mengandung Cucu, Mama, Rangga?"


"Iya Maa,"


Mama Dilla nampak sangat bahagia. Ntah apa yang wanita lansia itu, pikirkan saat ini. Namun dia terlihat sungguh bahagia, sebab sangat sudah lama dirinya mengharapkan kehadiran Cucu, dalam keluarga besarnya.


"Ini berita bahagia Rangga...Kamu harus mencegah Kiran, agar tidak jadi berangkat ke Inggris, dan Mama minta kau segera membawanya kembali ke rumahmu!" Nada yang terdengar antusias-saat berbicara, dan tentu saja aneh untuk Rangga sebab yang dia tahu, kalau sang Bunda sama sekali tidak menyetujui hubungannya dengan Kiran, bahkan sampai mau memisahkan keduanya.


"Apakah Mama tidak salah bicara?"tanya Rangga hati-hati, beruaha mencari keseriusan lewat tatapannya.


Menggenggam tangan kekar putranya, dengan tatapan serius, kala menatap sepasang manik mata anak lelakinya. .


"Kau pun tahu, kalau Mama sangat mengharapkan Cucu selama ini. Dan Mama sangat bahagia, Rangga! Sepertinya sekarang Mama harus memberitahukan berita ini pada Papamu, agar dia mau membujuk Papa Andi, agar mau menerima mu kembali sebagai menantunya" ujar Mama Dilla. Bahagia yang tengah mendera wanita lansia itu, membuat seolah melupakan semua kebencian, dan juga tujuannya selama ini yang ingin memisakan Rangga, dari Kiran. Dua kaki itu segera melangkah menjauh dari putra-nya, guna menjangkau tas GUCCI-nya, yang tersimpan di atas meja kaca. Menggantungkan ke pundaknya, dan segera berlalu dari dalam ruang kerja itu, dengan senyuman yang terus terbit di wajah.


Berlalunya sanga Bunda, ikut mengantarkan tatapan mata Rangga yang terus menatap pada Ibu-nya, yang telah berlalu pergi dari dalam ruang kerjanya, dengan wajah sumringah.


Cukup lama dia membungkam, hanyut dalam dunianya.


"Semoga saja itu benar. Mama sudah bisa menerima kehadiran Kiran, setelah mengetahui Kiran sedang mengandung Cucu-nya." gumam Rangga.


Larut dalam suasana hati dalam keheningan ruang kerja, membela setelah terdengar pesan pendek menyapa pada gawai milik-nya yang tersimpan di atas meja. Menjangkau benda pipih tersebut, dan mengusap layar pada aplikasih hijau- di mana Rangga mendapati pesan pendek, dari Della.


"Besok, jangan sampai tidak datang yaa..Aku tunggu," Dengan memberi emoji senyuman, di akhir ketikan pesannya.


"Baiklah, besok aku pasti akan datang." Balas Rangga, dengan menekan tanda anak panah.


****


Mentari perlahan mulai mengurangi sinarnya, hingga mendatangkan senja yang terlihat begitu indah, yang sebentar lagi akan berganti dengan gelapnya malam.


Berita kehamilan sang menantu, begitu sangat membuatnya bahagia, hingga mampu meredahkan api, dan juga es yang membeku selama ini untuk menerima Kiran, sebagai menantu dikeluarga Wijaya.


Saat sudah memijak di halaman depan rumah Papa Andi, Mama Dilla tak segera melenggangkan kakinya ke dalam rumah, ber-lantai dia itu, akibat memikiran sikapnya pada Kiran selama ini-yang terang-terangan menolak wanita itu. Mendesahkan napasnya yang dalam, membuang keraguan yang membendung untuk menemui sang menantu, dan tentu saja meminta maaf padanya. Beberapa menit dua kaki Mama Dilla memijak di halaman depan itu, akhirnya wanita berusia senja itu, mantap untuk bertemu dengan sang menantu.


Berat akan melayangkan ketukan pada badan pintu, hingga hanya dua ketukan saja yang dia berikan. Cukup lama Mama Dilla berdiam di depan pintu, dan akhirnya pintu itu terbuka, oleh seorang wanita seusianya.


Melihat tampilan biasa wanita di depannya, Mama Dilla meyakini kalau itu adalah Pelayan rumah di rumah Papa Andi.


"Maaf...Kalau boleh tahu, Nyonya cari siapa? Karena Tuan Andi-dan Nona Disty, masih berada di pemakaman, Nyonya Rati baru saja meninggal, dan hanya Nona Kiran saja yang berada di rumah."


Senyuman hangat seketika terbit di wajah wanita lansia itu, kala mendengar, kalau menantunya Kiran sedang berada di rumah.


"Saya Ibu Mertua Kiran, dan saya ingin bertemu dengan menantu saya. Saya datang ke sini, mau mengantarkan buah, dan juga susu hamil untuknya," jawab Dilla tersenyum.

__ADS_1


Mendengar kalau wanita di depannya adalah Ibu Mertua dari Kiran, Bibi Surti segera mempersilahkan wanita itu untuk masuk ke dalam rumah.


"Silahkan masuk Nyonya...Dan Maafkan saya!" ujar Bibi Surti dengan menepikan tubuhnya, membiarkan Mama Dilla dapat masuk.


Suasana rumah tampak sepi, dengan suasana duka yang sangat begitu terasa, di dalam rumah yang tak terlalu besar itu.


Tubuh tuanya, Mama Dilla labuhkan disalah satu kursi tunggal, sembari menatap sebuah figura, yang menggelantung di dingding, di mana berisi gambar kiran saat masih kecil, yang berada dalam pelukan Ayahnya.


"Siapa yang datang, Bibi?" tanya Kiran dengan langkah kaki, mengayun melewati, satu per-satu anak tangga. Namun raut wajah itu berubah terkejut, bahkan nampak sangat tidak percaya, ketika mendapati sang Ibu Mertua di dalam rumahnya.


"Mama.." gumam Kiran pelan, namun bisa terdengar oleh Mama Dilla, yang terus tersenyum padanya.


Senyuman hangat mengukir di wajah Mama Dilla, dengan beranjak bangkit dari duduknya,.


"Kiran..."


Memikirkan perselisihannya dengan sang Ibu Mertua, tentu saja membuat Kiran sedikit was-was, hingga saat sang Ibu Mertua tersenyum padanya, hanya ditanggapi dengan raut wajah datarnya, pada wanita tua itu.


"Untuk apa Mama..."


"Maafkan Mama!" Mama Dilla menyela, ucapan menantunya.


Menyerngitkan keningnya, mendengar kata MAAF yang terucap dari sang Ibu Mertua, yang menurutnya serasa mustahil.


"Maaf??" tanya Kiran, dengan menatap penuh Mama Dilla.


Mama Dilla memberanikan dirinya mendekat pada Kiran, hingga kini jarak keduanya begitu dekat.


"Iya. Mama minta maaf."


"Aku sedang tidak bermimpi-kan?" tanya Kiran, yang masih terlihat ragu dengan ucapan Ibu Mertuanya, sebab selama ini hanya sang Ibu Mertua-lah, yang menentang keras hubungannya dengan Rangga.


"Tidak Kiran...Kamu sedang tidak bermimpi. Mama datang kemari ingin minta maaf, dan Mama harap kamu mau memaafkan kesalahan Mama selama ini padamu."


Kiran membungkam. Wanita berusia dua puluh enam tahun itu, tak langsung berbicara. Dan dia pun, tak mungkin menolak permintaan Mama Dilla, karena bagaimana pun, wanita lansia itu adalah Ibu kandung-suaminya, apa lagi, dia dapat melihat raut penyesalan di wajah Ibu Mertuanya itu. Membungkam dalam hatinya, akhirnya senyuman itu terbit di wajah wanita muda itu.


"Iya Maa...Aku mau memaafkan Mama," jawab Kiran, dengan membalas senyuman itu.


Rona bahagia membingkai penuh di wajah Mama Dilla-yang nampak sangat bahagia, saat Kiran mau memaafkan semua kesalahannya.


Menggandeng mesrah Kiran, membawa Kiran pada sebuah kursi tunggal, di mana wanita tua itu meletakkan barang-barang bawaannya.


"Mama ada membawakan susu hamil untuk kamu, dengan berbagai rasa!" ujar Mama Dilla, yang nampak sangat antusias. Dan itu membuat Kiran mengerti, kalau calon anaknya inilah yang membuat hati sang Ibu Mertua, yang begitu keras akhirnya luluh.

__ADS_1


__ADS_2