
Awan biru kembali membentang di atas sana, dia terlihat begitu cerah, dengan sinar matahari yang kembali menyapa, dengan kembali hadirnya hari yang baru.
Burung-burung bernyanyi merdu, mendendangkan siulannya, dengan suara mereka yang indah, dengan terik sang mentari yang sudah tinggi.
Kiran menghela napasnya yang panjang, menghirup udara pagi hari yang begitu sejuk, kala dua kakinya dia langkahkan ke balkon kamar, dengan Baby Angga dalam gendongan.
Senyum terus terpatri di wajah Ibu muda itu, menatap sang putra yang tertidur pulas, dalam dekapannya. Bayi mungil itu menggeliat kecil, sedikit membuka matanya kemudian dia pun kembali memejamkan matanya. Kiran tersenyum, menyentuh lembut kulit bayi mungilnya, dengan senyuman yang hangat di wajah. Dia begitu bahagia, dengan apa yang Tuhan berikan dalam hidupnya. Tidak pernah disangkah bagi seorang Kiran Larasati, kalau dirinya akan kembali menikah dengan suami dari seorang Dokter, yang dulu merawat sakitnya.
Kiran begitu tenggelam dengan apa yang dia pikirkan, hingga tiba-tiba saja sepasang tangan kekar yang melilit di pinggangnya, membuat dia sedikit kaget.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Rangga, dengan wajah yang sudah berada dibelakang telinga Kiran, hingga hembusan napas pria itu, sangat terasa di kulitnya.
"Memikirkan semua, yang telah aku lewati dalam hidupmu."
"Benarkah?"
"Iya. Sebab aku tidak menyangkah, kalau aku akan jatuh cinta padamu, bahkan memiliki anak bersama-mu."
"Kau menyesal, karena telah jatuh cinta padaku? Sebab sekarang aku sudah menemukan jawabannya, apa yang membuatmu jatuh cinta padaku."
"Tidak Mas..Aku sama sekali tidak menyesal. Walaupun diawalnya, aku harus menahan kesakitan karena kau menolakku mentah-mentah."
"Dan aku minta maaf, dengan kesalahan yang aku lakukan dulu. Jujur, saat itu di dalam hatiku, hanya ada Rani."
"Semuanya sudah terjadi Mas, dan tidak perlu minta maaf."
Rangga kemudian, membimbing istrinya menuju sebuah kursi panjang, yang terletak di balkon kamar itu. Pasangan suami-istri itu duduk berdampingan, sembari memandang keindahan pagi.
__ADS_1
"Dia sepertinya sangat lelap dalam tidurnya," ujar Rangga, sembari menatap putranya yang benar-benar terlelap dalam tidurnya.
"Iya Mas. Tapi sempat aku ganti popoknya, dan kini tidur lagi." Dan hening beberapa menit menyelimuti pasangan suami-istri itu, dan Kiran kembali berbicara. "Mas..Kapan-kapan, kita pergi ke makam Dokter Rani."
Raut wajah Rangga berubah serius, setelah mendengar apa yang barusaja istrinya, katakan.
"Kau serius?" tanya Rangga memastikan.
"Iya Mas, aku sangat serius. Aku ingin berziarah ke makam Dokter Rani."
"Baiklah, kalau memang tubuhmu sudah sedikit kuat, kita akan ke makam Rani."
Kiran tersenyum, dan begitu pun juga dengan Rangga yang membalas senyuman istrinya. Terlihat jelas kebahagian yang terpancar dari wajah pasangan suami-isttri itu, dengan kehadiran Baby Angga, yang kian melengkapi kehidupan mereka.
Bayi mungil dalam gendongan Kiran menggeliat, membuat senyuman bahagia kembali terpancar dari wajah Kiran, dan Rangga dengan ekspersi menggemaskan bayi mungil itu.
"Dia sangat mengemaskan. Aku sudah tidak sabar, ingin mengajak anakku bermain bola, mengajakku traveling, dan melakukan banyak hal," ujar Rangga, yang membayangkan jika anak laki-lakinya besar nanti, Baby Angga akan menemani dirinya melakukan banya hal.
****
Penjara
Duduk pada salah satu kursi, sembari memainkan ponselnya. Sedikit lama Devan menunggu di ruangan itu, berharap bisa bertemu dengan saudara kembarnya itu.
Tiba-tiba saja suara pintu terbuka, yang mengalihkan pandangan Dokter muda itu, menuju asal suara, dan mendapati kedatangan saudara kembarnya itu, Devan segera menghentikan kegiatan memainkan ponselnya, dan menyimpankan kembali benda pipih itu, ke dalam saku celana-nya.
"Buat apa kau datang menemuiku?!" Nada yang terdengar kesal, kala pria dengan beberapa tato pada bagian tubuhnya melayangkan pertanyaan pada Devan.
__ADS_1
Devan menghela napasnya yang panjang, sembari menghirup udara, mendengar pertanyaan saudara kembarnya, yang sedikit membuat dada itu terasa sesak.
"Apakah aku, tidak boleh menjengutk saudara-ku sendiri?" tanya Devan, yang masih terlihat tenang, walau Davin menanggapinya penuh emosi.
"Katakan padaku. Tujuan apa, kau datang kemari?!" Dengan intonasi suara yang masih sama.
"Aku hanya minta, berhentilah membenci Rangga. Sebab semuanya sudah berakhir. Aku juga sama sekali tidak menyangkah, kalau kau dalang dibalik kematian sahabat baikku. Kau sudah dibutahkan oleh api dendammu, sampai tidak bisa melihat, kenyataan yang sebenarnya."
"Kenyataan sebenarnya bagaimana?! Kenyataan, kalau Rangga-lah yang menyebabkan kematian kekasihku."
Devan mendesahkan napasnya yang dalam, mendapati sikap keras kepala saudara kembarnya itu. "Kau sudah dibutakan oleh cintamu, sampa tidak bisa mana cinta tulus, yang sebenarnya. Rosella sama sekali tidak mencintaimu, dia mendekatimu, hanya agar bisa bersama Rangga, karena pria yang dia cintai hanya Rangga, tapi justru Rangga memilih Rani."
Davin yang tidak terima dengan ucapan saudaranya yang menurut-nya sudah menjeelek-jelekkan mendiang kekasihnya itu, langsung menarik kra baju Devan, dan menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Jangan berbicara sembarangan Devan! Jangan buat aku melupakan, kalau kau adalah saudaraku!" sungutnya, dengan kemrahan yang terlihat jelas di wajahnya.
Devan tetap bersikap tenang, bahkan pria itu hanya menanggapi dengan senyuman. Menggengmam tangan Davin, dan melepaskan dengan tangan pria itu, dari kra baju-nya.
"Seperti yang sudah kubilang padamu, kalau kau sudah dibutakan oleh cintamu, pada Rosella, padahal wanita itu hanya memanfaatkanmu. Dan aku rasa jika kau melihat ini, maka kau akan percaya. Surat ini adalah surat dari Rosella untuk Rangga, dan Rangga memberikan padaku. Dan aku rasa kau harus membacanya, agar kau bisa mengetahui kenyataannya yang sebenarnya. Dan aku rasa, aku permisi dulu," pamit Devan, dengan berlalu begitu saja.
Sebuah amplop yang telah usang tersimpan di atas meja. Tak langsung menjangkau, Davin hanya menatapnya berapa lama. Dan karena penasaran dengan isi di dalamnya, pria itu pun membukanya walaupun dengan ragu.
Membuka lipatan kertas bermotif bunga mawar itu, dan mendapati tulisan yang tentu saja masih sangat dia kenal. Dua matanya menelusi setiap tulisan di dalamnya, dan memang benar tulisan itu ditujukan untuk Rangga, dan di dalamnya mengungkapkan perasaanya.
Dan satu di antara tulisan itu adalah, RANGGA KAU ADALAH PRIA YANG SEBENARNYA AKU CINTA, BUKAN DAVIN.
Membaca sepenggal kalimat yang membuat hatinya serasa tertusuk ribuat jarum yang tepat mengenai uluhatinya, Davin tak dapat melanjutkan lagi. Dia terlihat begitu murka, hingga tanpa dia sadari surat itu, sudah menjadi sebuah bungkusan kecil.
__ADS_1
Cukup lama dia menggeman surat itu, dan kemudian melemparkan ke sembarang tempat.
"Bagaimana bisa aku sebodoh ini?! Dan kenapa, aku dibutahkan cintaku pada Rosella?" gumam Davin, sembari mengusap kasar wajahnya.