
Jika kau bertanya, hal yang paling bahagia apa? Yang pernah kurasakdalam hidup. Maka jawabannya , adalah saat ini. Di mana aku bisa meluapkan rasa yang selama ini begitu menyiksaku, pada pria! Yang sudah tak membuatku tak enak tidur, dan tak enak makan. Aku bisa merasakan getaran cinta yang begitu kuat, dalam diriku saat tubuh kami berhimpitan. Tapi kenyataan yang jika aku tersadar, dan itu membuatku sakit, aku jatuh cinta pada pria- yang jelas- jelas sama sekali tidak mencintaiku. Dan mungkin ini yang dinamakan takdir. Takdir cinta pertamaku.
Rona bahagia terlihat jelas di wajah cantik Kiran. Lingkaran tangannya semakin dia eratkan! Saat rasa hangat, semakin menjalar dalam tubuhnya.
Rangga segera menarik diri dari pelukan itu, setelah beberapa menit, dirinya pun ikut hanyut dalam pelukan yang Kiran berikan padanya.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memelukku?" Rangga mengeraskan suaranya, dan menajamkan kedua matanya pada Kiran.
Sorot matanya sayu, akan cinta yang penuh di dalam kedua mata itu. Amarah, dan tatapan tajam yang Rangga berikan, sama sekali tidak berperangaruh pada gadis itu. Bola matanya menelusuri setiap jengkal tubuh pria itu, memastikan keadaannya baik-baik saja, atau tidak.
"Apakah ada yang masih sakit, Mas? Katakan padaku."
"Kalau aku tidak baik-baik saja, tidak mungkin aku berada di depanmu, kenapa kau begitu bodoh...!" Seringai rendah pada Kiran, yang terlihat begitu mengkhawatirkannya.
Doni, Dian, dan Devan terus melemparkan pandangan mereka pada Kedua Rangga, dan Kiran, yang sudah terlihat layaknya sepasang kekasih.
Berbeda dengan Dian, dan Doni yang bisa menerima, akam apa yang mereka saksikan? Devan! Yang merupakan rekan seprofesi dari Rangga, seketika diliputi tanda tanya yang teramat sangat, melihat kedekatan Rangga dan mantan pasiennya
Dua matanya memicing, menatap setiap gerak-gerik Rangga, dan Kiran yang layaknya pasangan.
"Apakah kalian memiliki hubungan, lebih dari pertemanan?"Sorot matanya menatap, dengan penuh selidik.
Rangga seketika memalingkan wajahnya, pada Devan. Mengetahui arah pembicaraan dari Devan, membuat pengusaha kaya itu segera menjawab cepat, agar Devan tidak berpikir buruk tentangnya.
"Ini tidak seperti, yang kau pikirkan." Dengan menekan kata-katamya. Arah pandangnya berpaling pada kiran, yang hanya diam membisu. Menggapai tangan gadis itu, dan membawa menjauh dari mereka, tanpa meminta persetujuan dari gadis itu.
Ketiga pasang mata itu pun ikut berpaling pada Rangga, dan Kiran yang sudah menghilang di balik tembok.
__ADS_1
Dian menghembuskan napas panjangnya. Kegusaran seketika menyelimuti gadis itu, bagaimana dia mengingat sikap Rangga, yang sedikit kasar pada Kiran. "Semoga saja, dia tidak mengeluarkan kata-kata, yang menyakiti hati sahabatku." bathin Dian penuh harap, seraya terus menoleh pada balik tembok di mana arah yang Rangga, dan Kiran tuju.
"Kau sahabat dari Kiran, kan?!" tanya Devan tiba-tiba, yang seketika mengalihkan tatapan Kiran.
"Iya, Dokter! Saya sahabat dari Kiran, mantan pasien anda."
"Apakah mereka berdua, sudah menjalin hubungan sebelum kematian, Rani?"
"Tidak!" jawab Dian cepat.
Dan arah pandangnya berpaling pada Doni, kala tidak mendapati jawaban yang membuat dia puas.
"Apakah kau bisa menjelaskan ini juga, Doni? Sebab yang ku tahu, kalau Rani, dan Rangga begitu sangat saling mencintai." Kerutan semakin menumpuk di dahi Devan, saat wajah itu semakin menampakkan rasa penasarannnya.
"Saya juga tidak tahu, Dokter! Karena setahu saya, Tuan Rangga adalah laki-laki setia, dan hanya satu wanita yang dia cintai, yaitu mendiang Dokter Rani. Saya juga bingung, melihat apa! Yang baru saja saya saksikan. Karena seperti yang kita tahu, kalau Tuan Rangga mengenal Nona Kiran, belum lama juga."
"Ini tidak seperti yang anda pikirkan. Sahabatku Kiran, bukan wanita penggoda." Dian mempertegas ucapannya, dengan menampilkan wajah kesalnya pada Devan, di mana wajahnya seketika pucat pasih.
Mendapati tatapan Sorot mata Dian! Yang bagai sebilah pisau! Membuat Devan tak bersuara lagi. Membiarkan suasana hening melanda ketiganya, walaupun rasa penasaran itu! Masih menyelimuti Dokter muda itu. Membiarkan suasana itu terus berlarut, hingga tiba-tiba saja panggilan Dian, pada Devan! Memecahkan suasana hening diantara mereka.
"Dokter..." panggil Dian tiba-tiba.
"Ada apa?"
"Aku jarang sekali melihat kau berpakian serba hitam. Tapi saat aku bertabrakan denganmu, waktu itu! Kau terlihat sangat tampan dengan kaos hitammu, dan celana panjang hitammu." ucap Dian tersenyum.
Wajah yang tadi biasa, seketika berubah serius. isi pikiran yang tadi diliputi akan rasa penasarannya- pada Kiran, dan Rangga seketika memecah karena kaget, dengan apa yang Dian katakan.
__ADS_1
"Bertabrakan denganku? Kapan?" Memicingkan dua matanya, dengan tatapan mata menatap penuh gadis berambut sebahu itu.
Tawa lepas seketika ke luar dar bibir gadis itu, mendapati wajah bingung Devan. Dan yang membuat begitu menggelitik untuknya! Karena Devan sama sekali tidak mengingat kejadian, yang baru saja terjadi dua hari lalu.
"Ha....ha.....ha..... Dokter.... Dokter.... aku sama sekali tidak menyangkah, kalau ternyata kau memiliki selera humor yang bagus,"
Devan tersenyum simpul. Ketika Dian terus menertawakan dirinya- akan hal yang sama sekali tidak terjadi. Dan Dokter muda itu, sangat tidak menyukai pakaian hitam. Jika memakai, mungkin karena suatu tuntutan.
"Tapi serius, Nona Dian! Memang sejak kapan kita berdua bertabrakan. Dan sangat jarang memakai baju hitam. Ntah itu kaos, atau pun kemeja."
Dian mengguratkan wajahnya. Kata-kata Devan yang tidak mengingat tabrakan itu, membuat wajah cantik Dian! Memberenggut kesal.
"Baiklah, kalau kau tidak mau mengakuinya. Anggap saja, saat itu aku bertabrakan dengan orang yang menyerupai mu." serunya kesal.
"Benar apa yang dikatakan Dokter Devan, Nona Kiran! Karena setahu aku, Dokter Devan sangat jarang sekali, atau bisa dikatakan hal yang langkah, jika dia memakai kaos hitam, atau pun kemeja hitam." timpal Doni pula.
'Aku memang memiliki saudara kembar. Tapi dia sudah lama meninggal."
Kesal yang sedari tadi menyelimuti wajah Dian, seketika memudar, saat dirinya mendengar penjelasan kedua pria itu, yang membuatnya dilanda rasa penasaran tiba-tiba, akan sosok pria waktu itu.
"Kalau bukan dia! Lalu siapa yang aku tabrak itu? Wajah mereka begitu mirip. Hanya pria yang saat aku tabrak itu, jauh lebih cool dibandingkan Dokter Devan, yang selalu bersikap hangat pada siapun. Dan tadi Dokter Devan bilang, kalau dia memang memiliki kembaran. Tapi kembarannya sudah lama meninggal. Apakah mungkin? Orang yang sudah meninggal, dapat hidup kembali?" Dian membathin, dengan rasa penasaran yang sudah membelenggu diri.
Doni memalingkan wajahnya, menatap pada Dian yang tengah menikmati dunianya sendiri- hingga melupakan keberadaannya, dan Dokter Devan. Menyentuh pundaknya, dan menatap penuh pada, Dian! Yang tersentak kaget, saat jemari Doni berlabuh pada pundaknya.
"Kau baik- baik saja?"
Dian tersenyum palsu, untuk menutupi apa yang membebani isi pikirannya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja." jawabnya tersenyum kikuk, tapi dua matanya mencuri pandang pada sosok Dokter Devan, yang seketika dilanda banyak tanda tanya.