
Mobil melaju dalam keheningan, membela jalan diwaktu yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Tak ada yang saling berbicara, antara Kiran, dan Doni sepanjang perjalan keduanya. Saling membisu, dan tak berbicara. Kiran sesekali meleparkan sudut ekor matanya pada Doni, yang mendapatkan lirikan dari pria itu, lewat kaca spion mobil.
"UHUUK...UHUUk..." Kiran berpura-pura batuk, hanya untuk mengusir suasana kecanggungan, yang tercipta antara keduanya.
Kiran yang duduk di kursi belakang, sengaja mendekatkan duduknya tepat di belakang kursi kemudi, agar lebuh dekat berbicara dengan pria itu.
"Doni..." panggil Kiran pelan, dengan nada suara terdengar berat.
"Ada apa Nona?" jawab Doni, dengan memutar setir mobil kekiri, dan kekanan.
"Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu."
"Apa yang ingin anda tanyakan padaku, Nona?" raut wajah Doni berubah serius, setelah mendengar layangan pertanyaan dari Istri Tuannya.
"Tadi pagi tanpa sengaja aku melihatmu masuk ke luar dari dalam sebuah rumah kecil, yang terletak sedikit jauh dari rumah utama. Dan kalau boleh aku tahu, rumah apa itu?"
Sorot mata Doni nampak jauh lebih tajam, menatap Kiran sekilas lewat kaca spion mobil.
"Maaf Nona, saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda. Kalau anda ingin mencari tahu, itu rumah apa? Alangkah jauh lebih baiknya, kalau anda menanyakan langsung pada Tuan Rangga, sendiri."
Sorot mata Kiran nampak jauh lebih intens, setelah mendengarkan apa yang baru saja Doni katakan. Terbesit rasa curiga dalam diri wanita itu, kenapa Doni tidak mau mengatakan sebenarnya hunian apa itu?
"Kenapa kau tidak mau memberitahukan padaku? Apakah sebegitu rahasianya, atau tersimpan sesuatu yang penting, jadi aku sama sekali tidak boleh mengetahui isi rumah itu?" Akibat rasa penasarannya yang teramat sangat, membuat Kiran menanyakan lagi pada pria berusia dua puluh delapan tahun itu.
"Sekali lagi maafkan saya Nona! Tapi alangkah jauh lebih baiknya, kalau anda langsung menanyakan pada Tuan Rangga. Tapi saran saya, jauh lebih baik kalau Nona tidak usah memusingkan apa sebenarnya rumah itu, dan cukup menjalani kehidupan anda dengan normal."
"Baiklah-baiklah, aku tidak akan menanyakannya lagi." Dan Kiran kembali membungkam bibirnya, dan kembali berbicara.
"Dan apakah Dokter Rani, pernah ke rumah kecil itu?"
"Pernah. Dan dia bersama Tuan Rangga. Karena Tuan Rangga, tidak mengijinkan Dokter Rani, untuk ke sana tanpa ijin darinya."
"Dan kenapa dia tidak mengajakku ke sana, apakah karena aku hanya istri kontraknya?"
"Untuk itu, saya tidak bisa menjawabnya."
Kiran tak bersuara lagi. Hening melanda dalam mobil itu, saat Kiran tak lagi melanjutkan ucapannya. Membiarkan suasana sepi semakin tenggelam, dan tak lama dia kembali bersuara.
"Kalau begitu setelah bercerai dari Tuanmu, bagaimana kalau kita menikah saja Doni? Agar aku dapat mengetahui, isi dalam rumah itu."
Katak-kata yang baru saja terucap dari bibir Kiran, sangat membuat pria berusia dua puluh delapan tahun itu, sangat terkejut. . Hingga membuat mobil yang tengah melaju, Doni hentikan tiba-tiba, yang membuat tubuh Kiran sedikit terpental, dan kepalanya membentur belakang kursi.
__ADS_1
"Apakah kau ingin membuat kita mati Doni?!" Dengan nada sedikit kasar, akibat rasa kesalnya pada pria itu.
"Apakah anda sadar dengan apa yang anda katakan?"
"Aku sangat sadar. Apakah kau pikir, aku sedang dalam pengaruh alkohol? Dan bagaimana? Apakah kau menikah denganku, setelah aku menjadi janda dari Tuanmu?"
"Tidak! Saya sama sekali tidak mau. Karena saya pasti akan mendapat amukan, dari Tuan Rangga."
"Tuanmu tidak mencintaiku Doni, jadi kau tidak perlu takut akan hal itu."
Tatapan iba mengukir di wajah Doni, setelah mendengar apa yang baru saja Kiran katakan.
"Apakah anda sangat mencintai Tuan Rangga, Nona?"
Senyuman kecil Kiran lukis di wajah, tapi nyatanya senyuman itu palsu, sebab hatinya kembali gundah, kala dilontarkan pertanyaan seperti itu.
"Sangat mencintai. Bahkan sangat mencintai, tapi sayangnya cinta itu tak terbalaskan."
Apa yang baru saja Kiran ucapkan, tak mendapatkan sambutan lagi dari Doni. Pria itu hanya membungkam bibirnya, dan menatap pada Kiran lewat kaca spion mobil, yang tengah menikmati keindahan kota, lewat kaca jendela mobil yang setengah terbuka.
"Kasian Nona Kiran, dia sangat mencintai Tuan Rangga, tapi Tuan Rangga hanya memanfaatkan dirinya, untuk menghindari perjodohan," gumam Doni dalam hati.
Kiran langsung membuka pintu mobilnya. Tapi baru saja dua kaki itu akan dia hentikan, kembali gadis muda urungkan, kala Doni bersuara.
"Nona..Jam berapa anda pulang? Biar nanti saya menjemput anda."
"Tidak usah," jawab Kiran, dengan kembali menurunkan dua kakinya.
"Aku akan pulang dengan sahabatku."
"kiran..." Wajah Kiran langsung berpaling, setelah dia mendengarkan seseorang menyeruhan namanya.
Mendengar suara bariton yang menyeruhkan nama Tuannya, membuat tatapan Doni langsung dia palingkan ke arah luar berusaha mencari tahu siapa pemilik suara itu, Dan di sana, dia mendapati Rian Hardi Winata.
"Rian..." gumam Doni.
Seolah melupakan kehadiran Sekretaris Suaminya, Kiran langsung melangkahkan kakinya menghampiri pada Rian, yang tengah mengayunkan langkah menghampiri padanya.
"Rian..." Senyuman Kiran lukis di wajah, kala mendapati keberadaan pria itu.
"Siapa yang mengantarmu?" tanya Rian, dengan mencoba untuk mencari tahu siapa yang mengantar Kiran.
__ADS_1
"Bukan siapa-siapa, Rian! Dan ayo kita bicara di dalam saja," ajak Kiran, dengan langsung menggandeng tangan Rian, dan berlalu menuju tempat kerjanya.
Doni menghela napasnya yang panjang. Sedikit sesak di dada pria itu dia rasakan, melihat bagaimana kedekatan Kiran, dan anak dari pengusaha kaya itu.
"Nona Kiran, bahkan langsung mengabaikan aku, begitu adanya Rian," gumam Doni, dan kembali melajukan kendaraan roda empat itu.
Kiran melabuhkan tubuhnya di salahsatu kursi tunggal, dengan tatapan menatap penuh pada Rian, yang ikut melabuhkan tubuhnya.
"Rian, maafkan aku dengan kejadian semalam. Dan maafkan dengan sikapnya."
"Katakan padaku. Sebenarnya ada hubungan apa, kau dengan seorang Rangga Wijaya?"
"Kau mengenalnya?" tanya Kiran balik, dengan sorot mata jauh lebuh tajam.
"Aku mengenal Rangga Wijaya, sebagai anak dari rekan Papaku, tapi kami tidak pernah terlibat langsung sebuah pertemuan. Dan katakan, ada hubungan apa kau dan Rangga? Maksudku, Rangga Wijaya."
"Maafkan aku," ucap Kiran, dengan wajah sayu yang sudah menunduk.
Dua alis Rian bertaut, dengan tatapan jauh lebih intens, setelah mendengar ucapan Kiran yang membuatnya semakin dilanda rasa penasaran.
"Maaf??"
"Rangga Wijaya, adalah suamiku, Rian.."
Rian nampak sangat terkejut. Terlihat jelas guratan kekecewaan, melukis di wajah pria tampan itu, setelah mendengar apa yang Kiran katakan barusan.
"Suamimu?"
"Iya," jawab kiran pelan.
Rian mendesahkan napasnya yang panjang. Dua mata itu nampak jauh lebih tajam, menatap pada Kiran yang hanya menundukkan wajah, dan tak berani menatap padanya.
"Saat semalam pesta di rumahku, sebelum aku melihat keberadaanmu di rumah, aku terlebih dahulu melihat keberadaan Rangga Wijaya. Saat itu dia bersama teman-temannya, dan ada seorang wanita yang terus menggandeng tangannya. Dan katakan padaku. Sebenarnya pernikahan seperti apa? Yang kau jalani dengan Rangga!" Nada yang terdengar tegas, kala Rian melayangkan pertanyaan.
Wajah yang sedari tadi menunduk, Kiran dongakkan dengan tatapan jauh lebih tajam pada Rian, yang terus menatap padanya.
"Kalau menikah karena cinta, tidak akan seperti itu Kiran! Bahkan kau terlihat menyedihkan di pesta itu."
Kiran tersenyum miris. Ntah kenapa? Kata-kata yang terlontar dari bibir Rian, bak sebuah belati yang tepat menembus ulu hatinya. Sakit, dan sangat sakit, Dan dia memang terlihat menyedihkan di pesta itu semalam, karena sangat menyedihkan.
"Aku sangat mencintainya, bahkan sangat mencintainya. Tapi sayangnya, cinta itu tak terbalaskan."
__ADS_1