Love My Dokter Husband

Love My Dokter Husband
DATANG KE RUMAH KIRAN


__ADS_3

Kiran berusaha membendung air matanya, agar tidak tumpah-meski nyatanya hati itu, tengah berkecamuk saat ini. Meskipun sakit karena terlalu mencintai, tapi keteguhan hatinya yang sudah tidak mau terlalu mencintai Rangga-sudah bulat, walaupun hubungan keduanya kian dekat, dengan sikap Rangga yang mulai baik padanya.


Duduk sendirian dalam mobil, larut dalam apa yang dia pikirkan.


Suara pintu yang terbuka, mengalihkan dan juga membuyarkan lamunan panjang Kiran.


Hanya lirikan mata yang dia berikan pada Doni, yang sudah melabuhkan tubuhnya di kursi kemudi.


Tidak menyapa, ataupun bersuara-wanita berusia dia puluh enam tahun itu, lebih memilih diam, dan kembali menggapai suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja itu.


Netra mata pria berusia dua puluh delapan tahun itu dia alihkan pada kca spion, guna menatap Kiran-yang sedari tadi hanya diam membisu. Dan dia yakin, kalau istri Tuannya itu tengah bersedih dengan sikap Ibu kandung, dari Rangga.


"Nona..." panggil Doni pelan, dan itu berhasil mengalihkan tatapan Kiran.


"Aku baik-baik saja, tidak usah khawatirkan aku."


"Jangan perdulikan Nyonya Besar. Bukan anda saja yang mengalami hal seperti ini, tapi Dokter Rani juga. Nyonya sering terlibat cek-cok mulut dengan Dokter Rani, saat dia masih hidup. Jadi tidak usah diperdulikan sikapnya itu!"


Tersenyum palsu, dengan mata yang menerawang.


"Seandainya saja dia tahu kalau seperti apa pernikahan aku, dan Tuanmu-Rangga, pasti dia akan segera meminta aku, untuk meninggalkan Mas Rangga, atau malah sebaliknya."


"Tuan mencintai anda, Nona.." ujar Doni, dan itu sangat menggelitik untuk Kiran, seban merasa tidak mungkin. Mana mungkin Rangga mencintainya, karena yang Kiran tahu kalau di hati pria itu, hanya ada mendiang istrinya.


"Apa yang kamu katakan barusan, membuat aku sangat ingin tertawa..Sebab yang terjadi sebenarnya, aku sangat mencintai Tuamu, tapi dia hanya mencintai mendiang Dokter Rani saja."


Suara pintu terbuka, yang datang dari Rangga-membuat perbincangan kecil itu, seketika Doni, dan Kiran jeda.


"Apa yang kalian bicarakan? Sebab saat aku datang, kalian langsung menutup mulut."


"Kami tidak membicarakan apa-apa, Tuan!"


" Jalankan mobilnya, sebab aku ingin bertemu dengan Devan, sebelum kita menuju perusahaan."


"Dan bagaimana dengan Nyonya Besar, Tuan?"


"Dia masih di dalam."


"Apakah..." Menjeda, saat Rangga menyela ucapannya.


"Kalau melayani ucapan Mama tidak ada habisnya, jadi biarkan saja."


"Baik Tuan.."


Doni melajukan kendaraannya pelan, ke luar dari dalam area rumah Rangga. Dan terdengar suara yang memekkikkan telinga, yang Doni yakin kalau itu, suara dari Ibu kandung Tuannya.

__ADS_1


"Rangga.....Ranggga......" Suara panggilan Mama Dilla, begitu menggema, namun tidak diperdulikan oleh Rangga sendiri.


Rangga mendesahkan napasnya berat, dan lagi-lagi pria itu harus menghadapi sikap Ibunya, yang sangat sensitif mengenai pendamping hidupnya. Tidak dengan mendiang istrinya Rani, maupun Kiran.


Mengalihkan tatapan matanya, dan menatap pada Kiran yang sedari tadi mendiamkannya, sejak kedatangannya. Menyentuh tangan istrinya, membuat Kiran terkesiap.


"Lepaskan tanganku Mas..."


"Apakah kau tidak lelah, dari tadi terus memiringkan wajahmu ke sana? Apakah lehermu, tidak merasakan sakit?"


"Tidak!" sarkas Kiran.


Rangga mengukir senyum tipis di wajah, menatap pada Kiran yang terlihat kesal padanya.


"Jangann perdulikan ucapan Mama."


"Aku juga memang tidak perduli! Toh, Rumah tangga kita akan berakhir juga nantinya. Jadi buat apa, aku haru memusingkan ucapan Mama!


Kata-kata yang terucap dari bibir Kiran, sangat mengusik-hingga genggaman tangan itu, semakin saja Rangga eratkan, dan itu serasa menyakitkan untuk wanita mudai itu.


"Lepaskan tanganku Mas.." pinta Kiran, dengan berusaha melepaskan genggaman tangan Rangga, yang begitu kuat.


"Bagaimana kalau aku tidak mau!"


"Kau egois!"


Apa yang Rangga katakan, membuat Kiran yang sedari tadi terus mengeluarkan protesnya, dan juga berusaha melepaskan genggaman tangan itu, akhirnya luluh, dan memilih menyerah.


Kemabali diam, dan membiarkan Rangga terus menggenggam tangannya sepanjang perjalanan mereka.


****


Kemacetan yang mereka dapati, dengan padatnya lalu lintas di pagi hari, membuat ketiga sosok dewasa itu, memakan waktu kurang lebih dari dua puluh menit, untuk tiba di kediaman, milik Andi Wirawan.


Kiran langsung membuka pintu mobil, yang diikuti oleh Rangga-suaminya, saat mobil yang dikendarai oleh Doni, sudah terparkir di depan halaman rumah, berlantai dua itu.


"Apakah kau yakin tidak ingin ikut turun, Doni?" tanya Rangga, dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, menatap pada Doni yang masih setia melabuhkan tubuhnya di kursi kemudi.


"Saya akan menunggu anda, dan Nona di dalam mobil saja, Tuan!"


"Baiklah," jawabnya.


Kiran langsung mengambil langkah panjangnya, namun dua kakinya kembali melangkah mundur, saat tiba-tiba Rangga menariknya.


"Apa-an kamu, Mas? Kenapa menarik tanganku?!" Dengan nada yang sedikit kasar.

__ADS_1


"Apakah kamu mau, kalau orang tuamu mengetahui pernikahan kita yang sebenarnya?!"


Kiran membungkam, dan akhirnya wanita berusia dua puluh enam tahun itu membiarkan Rangga, kembali menggenggam tangannya, dan berjalan beriringan ke dalam rumah.


Mama Rati melangkahkan kakinya pelan-menuruni setiap anak tangga, yang akan membawa wanita berusia lima puluh delapan tahun itu, menuju pada lantai bawa.


Sedikit bersemangat langkah kakinya, namun berakhir pelan saat dari jauh dua matanya, mendapati sosok anak tirinya Kiran, dan suaminya Rangga Wijaya. Sangat sesak dada wanita lansia itu, sebab seharusnya yang menempati posisi sebagai istri dari Rangga Wijaya, adalah putrinya Adisty. Sangat marah, tapi berusaha dia redam, dan mengukir wajah itu dengan senyuman seolah dia sedang bahagia, menyambut kedatangan menantu, dan juga anak tirinya itu.


"Nak Rangga....Kiran...Kalian sudah datang?" Senyuman bahagia, dengan melangkahkan dua kakinya menghampiri pada Kiran, dan Rangga.


"Ini Ibu tirimu kan?" tanya Rangga, dengan setengah berbisik di telinga istrinya.


"Iya Mas, dia Ibu tiriku."


Rangga mendesahkan napasnya yang panjang, dengan tatapan mata yang dia arahkan pada Mama Rati, yang sedang melangkah menghampiri pada mereka.


"Wah nak Rangga, Mama sama sekali tidak menyangkah kalau kau mau menempatkan waktumu, untuk datang ke rumah kami." Dan tatapan mata itu, beralih pada Kiran yang sedikit kaget, dengan sikap manis yang ditunjukkan Ibu tirinya itu.


"Dan Kiran, kenapa kau tidak memberitahukan pada Mama? Agar Mama bisa menyiapkan sesuatu untuk kau, dan suamimu,"


Kiran hanya membentuk senyuman palsu, sebab wanita muda itu masih tidak percaya, dengan sikap manis Ibu tirinya.


"Maaf, aku sangat sibuk akhir-akhir ini, jadi baru bisa menempatkan waktu, menjenguk Papa. Dan kami tidak akan lama."


"Ohhh...Papa sedang berada di kamarnya, Nak Rangga! Kau tahu Nak, sejak Papa sakit kami sangat kesulitan dalam hal keuangan. Bahkan untuk sehari-hari saja susah," keluh Mama Rati, dengan menampilkan mimik sedihnya.


Rangga berusaha tersenyum, dengan dua mata yang dia alihkan pada Kiran, yang hanya membungkukkan wajahnya.


"Dasar manita ular! Buat aku malu saja, dengan mengadukan semuanya, pada Mas Rangga. Bukankah sudah aku penuhi semua kebutuhan di dalam rumah ini?" gerutu Kiran dalam hati.


"Nanti baru aku meminta pada Sekretarisku, untuk mengurus semuanya. jadi Mama tidak usah memikirkan hal itu."


Wajah sumringah membingkai penuh di wajah Mama Rati, setelah mendengar apa yang baru saja Rangga katakan padanya.


"Wah..Nak Rangga...Kau memang menantu idaman. Tidak hanya tampan, kaya, tapi juga sangat baik. Dan anak kami-Kiran, sangat beruntung mendapatkanmu."


"Terima kasih," jawabnya tersenyum.


"Ayo Kiran...Kita lihat Papamu!" Dengan langsung memeluk penuh pinggang Kiran, melangkah menuju arah tangga.


"Mas...Apakah Mas serius dengan apa yang tadi Mas, katakan pada Mama Rati?"


"Iya, memangnya kenapa?"


"Mas semua kebutuhan di rumah ini, sudah aku penuhi dengan uang yang kamu berikan."

__ADS_1


"Sudahlah Kiran, jangan diperbesarkan!"


"Kamu saja yang tidak mengetahui, bagaimana sikap wanita itu! Mangkanya sejak Papa menikah dengannya, aku memutuskan untuk tidak tinggal di sini lagi, karena mulutnya itu sangat pintar, memutar balikkan fakta."


__ADS_2