
Tangan itu terus dia genggam-saat dua kakinya melangkah, walaupun yang si-empunya, terus berusaha melepaskannya.
"Rian...Aku mohon, lepaskan tanganku...Lepaskan tanganku Rian!" Kiran nampak begitu malu. Wanita itu sampai harus menundukkan sedikit wajah-nya, saat semua orang yang mereka lewati, terus melempar tatapan mata mereka pada keduanya.
"Aku hanya akan mengenalkan, kau pada kedua orang tua-ku, Kiran!" Senyum sumringah, dengan langkah kaki yang tetap dia ayunkan.
Salah satu tamu undangan-yang tengah berbincang dengan Tuan Hardi, bersama Istri-nya Sinta, melemparkan tatapannya seketika, saat pria itu, mendapati dari jauh anak dari pengusaha itu melangkah bersama seorang wanita.
"Siapa gadis yang bersama anakmu itu, Tuan Hardi?" tanya pria paruh baya itu, dengan penasaran.
Papa Hardi, dan Mama Sinta langsung mengalihkan arah pandang mereka, ke arah pandang pria itu.
Sontak wajah mereka berubah serius, mendapati putra mereka, berjalan dengan berpegangan tangan, bersama seorang wanita.
"Siapa gadis, yang datang bersama putra-Mu itu, Paa?"
"Ntalah, aku saja baru melihat sosok gadis itu. Tapi sepertinya dia sangat spesial untuk putra kita."
Kiran nampak begitu malu. Wajah wanita itu begitu merona, kala tatapan kedua orang tua Rian, dan juga tamu yang tengah berbincang bersama pasangan Suami-Istri itu, terus menatap padanya.
"Rian..Bolehkah Mama tahu, siapa gadis manis ini?" Mama Sinta membentuk sebuah senyuman, dengan menatap pada Kiran yang hanya menunduk malu.
"Paa...Maa...Kenalkan, ini Kiran, sahabatku."
"Apakah hanya sebatas sahabat?" tanya seorang pria, yang sedang berada di situ.
"Kita lihat perkembangan-nya, Om!" jawab Rian tersenyum.
"Selamat malam Om.. Tante..." sapa Kiran dengan ramah, dan memberi sedikit senyum-nya, pada pasangan Suamk-Istri itu. Jujur saja, wanita itu sangat malu saat ini.
"Malam juga Kiran, kamu tidak perlu malu. Kami justru sangat senang, putraku, mengajakmu ke sini. Karena anak kami ini, sama sekali tidak pernah memperkenalkan seorang wanita pada kami kedua orang tua-nya selama ini, dan seperti nya kau sangat spesial. Iyakan Paa?" seru Mama Sinta, dan lemparan pandangan yang dia arahkan pada Suami-nya.
"Iya. Berarti kau adalah, tamu yang spesial untuk putra kami," timpal Papa Hardi pula, dengan sebuah senyuman hangat di wajah.
Kengatan yang diberikan oleh keluarga Rian, sontak! Memudarkan seketika rasa malu, gugup, yang ada dalam diri Kiran. Gadis muda itu, mengirah kedua orang tua Rian akan menyambutnya dengan tatapan tidak suka, atau menanyakan asal-usul-nya. Dan ternyata sama sekali tidak. Kedua orang tua Rian, sangat berbeda sekali dengan ORANG KAYA, pada umumnya.
Dan itu Kiran bandingkan dengan sikap Suami-nya Rangga, yang terlihat begitu angkuh, dan juga sang Mama Mertua, yang sama sekali tidak menyukainya.
__ADS_1
"Ternyata orang tua dari Rian, sangat-lah baik. Tidak seperti Suami satu tahun ku itu, dan juga Mama-nya yang sangat sombong!" gumam Kiran dalam hati.
"Oh, Iya, Rian! Ayo kita ke podium. Papa akan mengenalkan kau, pada rekan-rekan Papa."
"Baik Paa," jawab Rian. Dan tatapan mata itu Rian alihkan, pada Kiran sahabatnya.
"Aku hanya sebentar. Nikmatilah pesta-nya. Dan Maa.. Aku titip Kiran!"
"Pergilah anakku, Mama akan menjaga-nya dengan baik!" jawab Mama Sinta tersenyum.
Kiran membentuk senyuman palsu di wajah. Wanita muda itu, sama sekali tidak menyangkah, akan terjadi seperti ini. Dan dia sama sekali tidak berpikir, kalau Rian dan keluarga-nya, akan memperlakukan dia dengan istimewa.
"Apakah kau dan Rian, berpacaran?" tanya Mama Sinta tiba-tiba, yang membela lamunan wanita itu.
"Tidak Tante! Kami hanya bersahabat," jawab Kiran cepat, berusaha melunturkan dugaan Mama Sinta pada dirinya, dan Rian.
Mama Sinta membentuk senyuman kecil di wajah. Dan dia sangat yakin, kalau putra-nya menyukai sahabat wanita itu.
"Tapi sepertinya putra Tante, suka sama kamu. Dan semoga saja, kamu juga mempunyai perasaan yang sama."
"Tante..Jangan mengharapkan itu, karena aku sudah memiliki Suami, walaupun itu hanya satu tahun, " gumam Kiran dalam hati.
****
Tatapan orang-orang yang berada di dalam acara pesta itu, seketika berpindah arah saat mendapati sang pemilik pesta, dengan seorang laki-laki muda naik ke atas podium.
"Wah..Ternyata anak dari Tuan Hardi Winata, sangalah tampan!" seru salah satu pria, yang sedang bersama Rian.
Tatapan mata pria itu seketika dia alihkan dengan begitu intens. Tatapan mata biasa, kini lebih dia fokuskan, saat mendapati sosok yang pernah dia lihat sebelumnya, dan itu mengusik isi pikirannya.
"Jadi ini, anak Tuan Hardi Winata yang sama sekali tidak terekpos itu. Tapi tunggu..." Saat Rangga berusaha, memaksakan ingatannya, untuk kembali mengingat anak Tuan Hardi Winata yang sama sekali tidak asing untuknya.
"Sepertinya pria ini, yang aku lihat bersama Kiran, waktu itu. Dan tadi, Kiran menyebutkan nama Rian, saat memanggilku. Mungkinkah, Rian yang ini?" gumam Rangga dalam hati.
Tatapan mata-nya mengedar kesegalah arah, dan nampak sedang mencari seseorang.
"Kau mencari siapa, Rangga?" tanya Dilla yang sedari tadi, sibuk bergelayut manja dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Tidak! Aku sedang tidak mencari siapa-siapa!" jawab Rangga membingkai senyuman palsu.
Tanpa Rangga sadari, sedari tadi ternyata Kiran memperhatikannya. Kecwa yang teramat sangat, karena pria itu jauh lebih perduli pada sahabat-sahabatnya, dan tidak memperdulikan diri-nya, sama sekali.
"Dasar laki-laki brengsek! Tidak punya hati! Dia membuat aku semakin saja, membencinya!" maki Kiran dalam hati.
Usai memberi kata sambutan, dan memperkenalkan putra-nya Rian pada tamu undangannya, Papa Hardi, dan Rian kembali menuruni tangga, menghampiri Mama Sinta, dan Kiran.
"Kamu sangat keren, anakku!" Mama Sinta tersenyum. Wanita itu nampak begitu bangga, pada putra semata wayangnya itu.
Suara musik, melantun di dalam acara itu. Rian membungkukkan badannya tiba-tiba, dan mengulurkan tangannya pada Kiran, yang membuat wanita itu sangat kaget.
"Mau kah, kau berdansa denganku Nona?"
Kaget, dengan apa yang Rian lakukan. Ingin menolak, karena memikirkan dirinya, yang berstatus sebagai Istri dari seseorang. Tapi kala memikirkan PERNIKAHAN KONTRAK itu, dan sikap Rangga yang sudah sangat keterlaluan pada-nya, membuat Kiran akhirnya melabuhkan tangannya, pada Rangga.
Senyuman terus membingkai di wajahnya, saat melangkah ke arena dansa.
Mama Sinta melangkah kakinya, menghampiri pada Papa Hardi, yang terus melemparkan tatapan matanya, pada putra mereka, dan Kiran.
"Apakah kalau Kiran menjadi menantu kita, kau menyetujuinya Paa?"
Papa Hardi membentuk senyuman kecil, dan dia pun menjawab apa yang ditanyakan oleh Istri-nya.
"Sangat setuju, seperti-nya Kiran adalah wanita yang baik."
"Aku pun juga Paa..Mama juga menyukai-nya."
Tepuk tangan memecah di dalam pesta itu, saat Rian Hardi Winata, , yang merupakan pewaris tunggal dari kekayaan Hardi Winata, membawa seorang wanita cantik, ke arena dansa.
"Tuan..Bukankah itu Nona Kiran?!" seru Doni tiba-tiba.
Wajah Rangga berpaling ke arena dansa. Pria itu sangat terkejut, bahkan sangat-sangat terkejut saat mendapati Istri-nya Kiran, berdansa dengan Rian, dan mereka terlihat begitu bahagia.
"Wah.. Tuan, sepertinya Nona Kiran tidak akan menjada lama, setelah berpisah dari anda," ucap Doni dengan setengah berbisik.
***
__ADS_1